Nuansa Resah

Prolog

Penceritaan. Kata itulah yang merealisasikan kata cerita. Cerita tidak akan sampai ke siapa pun pembaca tanpa ada penceritaan, tanpa ada yang menceritakan, jurucerita yang mungkin luar biasa, mungkin biasa-biasa saja, atau begitu buruknya hingga membuat jenuh lalu mengantuk. Sebuah cerita yang sesungguhnya mengagumkan bisa jadi membosankan ketika diceritakan dengan bertele-tele, cara yang itu-itu saja, dan mengulang apa-apa yang telah usang. Gagasan-gagasan besar akan kehilangan artinya ketika sang empunya terlalu asyik dengan dirinya sendiri, terus-menerus menggali relung-relung pikirannya yang bercecabang jalin-menjalin serupa labirin gelap pekat tanpa setitik terang yang hanya ia yang tahu jalan keluarnya, mungkin juga masih ditambah dengan bahasa yang belepotan, sehingga gagal berkomunikasi dengan para mitra tuturnya. Sebaliknya, hal-hal sederhana menjadi istimewa, atau setidaknya menggugah, ketika diceritakan dengan sedemikian rupa, membawa udara yang meskipun tidak membawa kesegaran yang menyangat tetapi cukup untuk memasok kehidupan pembacaan. Segala yang remeh-temeh, yang tadinya dianggap tidak bermakna karena telah begitu tidak berjarak, bisa saja menjelma mencengangkan ketika jurucerita menghadirkannya dalam bentuk atau wadah yang tidak biasa.

Cerpen-cerpen di dalam Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu ini sesungguhnya biasa, ada beberapa di antaranya yang bagi saya tampak klise, bahkan melodramatik, semacam hiperealitas negatif, realitas yang jauh lebih buruk daripada realitas. Hanya satu dua yang benar-benar mampu membuat saya terkesan sejak pembacaan pertama, menggoda saya untuk membacanya lagi dan lagi, untuk kemudian mengendap di dalam pikiran saya. Masalah-masalah sosial, kemiskinan khususnya, yang menjadi nafas utama cerpen-cerpen tersebut sesungguhnya bukanlah sesuatu yang asing karena telah begitu kita akrabi, baik secara langsung maupun tidak. Ia bukan lagi asing juga karena telah muncul dalam beragam versi pada dunia sastra kita. Meskipun demikian, sekali lagi, ini bukan sekadar tentang cerita, tetapi penceritaan. Dan melalui penceritaannya, Ragdi F. Daye tetap menawarkan sesuatu.

Solok: Titik Lokal, Titik Awal, Titik Hilang

Seorang bocah. Selembar kertas gambar. Sebatang pensil. Sebilah penggaris. Sekeping penghapus. Lalu kelimanya bekerja sama. Si bocah menekankan ujung pensilnya yang mulai tumpul pada kertas gambar dan mematrikan titik mungil di tengah bidang. Ia mengamati titik itu sesaat. Berhulu pada titik itu, dengan menggunakan penggarisnya ia perlahan menarik keluar sejumlah garis tipis ke segala arah hingga lenyap meninggalkan tepian kertas. Dipandu jejak-jejak samar itu ia menorehkan aneka bentuk aneka benda. Si bocah sedang mempraktikkan teknik perspektif dengan satu titik hilang. Ia pun mengakhiri aktivitasnya dengan menghapus garis-garis samar, juga meniadabekaskan titik mungil yang menghului benda-benda, untuk kemudian membubuhkan warna-warni dan menghadirkan sebuah dunia. Setitik peluh menetes dari wajah si bocah. Begitulah yang terlintas di dalam pikiran saya ketika menjumpai kata Solok pada sejumlah cerpen di dalam kumpulan ini.

Pada cerpen “Perempuan Bawang” Solok hanya berkedudukan sebagai pelengkap pasar. Ia tidak sepenuhnya menjadi setting cerita, tetapi sekadar cabikan singkat guna membangun mood tentang betapa tidak bersahabatnya sebuah pasar tradisional kepada warganya, warga dalam pengertian warga Solok dan warga Pasar Solok itu sendiri. Si ibu penjual harus tergusur karena kedai sewaan tempatnya berjualan akan dijual oleh pemiliknya. Kalimat “Pasar Solok sepi sekali” pada cerpen tersebut dapatlah dianggap sebagai sebuah penanda yang mewakili kondisi sepi secara harafiah maupun metaforis, karena pasar tradisional tidak lagi sehidup masa-masa yang telah. Senada dengan Solok pada “Perempuan Bawang”, Solok pada “Lekuk Teluk” juga memperlihatkan kedudukannya sebagai semacam metafora atas penderitaan. Pada cerpen ini, Solok memang hadir sebagai “tempat kembali”, sebuah tempat yang semestinya memiliki dan menawarkan sesuatu yang berdaya pikat, mendatangkan kerinduan, juga haru yang tentu bukan bersumber pada pengalaman pahit. Hanya saja, Solok ternyata bukanlah tempat yang demikian, ia menjadi tempat kembali karena ada undangan berwujud kabar buruk, ada petaka di sana. Perjalanan kembali pun tidak hadir sebagai sesuatu yang menyenangkan, kebergegasan Ilanur, Adam, dan Kael bukan dipicu oleh kerinduan yang menggebu untuk menjumpai orang-orang terkasih, tetapi lebih berupa semacam keharusan untuk datang guna memperoleh kepastian yang bahkan tidak menawarkan rasa yang mendamaikan di akhir cerita.

Solok dengan nuansa yang berbeda hadir pada cerpen “Jarak” dan “Di Solok Aku Akan Mati Perlahan”. Pada cerpen “Jarak”, Solok adalah tanah kelahiran yang kelak disadari oleh Attar, tokoh sentral cerpen ini, tidak menjanjikan apa-apa. Berbekal cerita tentang Iskandar Zulkarnain atau Alexander, yang kemudian melandasi impiannya melanglang jagad, ia pun memutuskan meninggalkan akarnya untuk melakukan perjalanan mengarungi lautan. Bertahun-tahun berlalu, tetapi tidak sedikit pun tebersit di dalam pikirannya untuk kembali ke Solok menjumpai masa lalunya. Bahkan ketika kabar tentang ibunya yang sakit datang menghampirinya, ia tetap berat hati untuk kembali, “Belum saatnya!” katanya. Kata jarak sebagai judul cerpen ini adalah sebuah dual sign, tanda bermakna ganda, karena ia adalah jarak sekaligus mengacu pada tanaman jarak yang muncul di dalam cerita. Sebagai jarak, ia mewakili kondisi yang serbaberjarak antara Attar dan Solok, antara Padang tempat Attar pada saat itu singgah dengan Solok yang meskipun hanya berjarak enam puluh kilometer, tidak kuasa juga didekatkan lalu kemudian dihimpitkan guna mempertemukan Attar dan ibunya. Sebagai tanaman jarak, tanaman obat, ia mewakili derita yang ditanggung Attar karena berada di dalam kebimbangan akut yang tidak tersembuhkan, antara menuruti egonya untuk setia pada sumpah dan keinginannya jatuh dalam godaan menjumpai si ibu yang terkapar sakit. Apabila diperhatikan unsur pembangun strukturnya, cerpen ini mau tidak mau mengingatkan saya pada cerita Malin Kundang. Ada anak laki-laki, ibunya, pengembaraan meninggalkan tanah asal, merengkuh materi, dan pulang. Hanya saja bukan kutuk menjadi batu yang ada di akhir cerita, bukan sebuah final yang tidak perlu dipertanyakan kembali bagaimana kelanjutannya, tetapi sesuatu yang lebih buruk daripada terpuruk dalam beku yang mungkin abadi, yaitu perasaan terbuang, karena “Aku tak punya kampung!” jerit Attar di akhir cerita. Solok sebagai tanah kelahiran yang tidak menjanjikan apa-apa juga dirasakan oleh tokoh laki-laki di dalam “Di Solok Aku Akan Mati Perlahan”. Judul cerpen ini pun secara gamblang telah memperlihatkan kondisi yang demikian. Sebagai konsekuensi atas pemikirannya tentang Solok tersebut, ia pun kehilangan perempuan yang dicintainya. Bukan lantaran perempuan itu tidak lagi mencintainya, tetapi karena mereka memiliki cara pandang yang berbeda tentang “berendam di sungai dan berkubang di lumpur sawah Solok,” tentang “kehidupan dan kematian di Solok”. Dalam kepulangannya ke Solok pada suatu hari, si laki-laki pun harus menghadapi hantu-hantu masa lalu yang berwujud kenangan tentang dirinya dan perempuan itu, juga gambaran kekinian di depan matanya yang senantiasa masih membuatnya tergoda, tepercik cemburu, menanggung perih, dan selarik nelangsa.

Solok juga muncul pada cerpen “Nostalgia”. Pada cerpen ini, lagi-lagi Solok tidak lebih daripada sekadar kilasan, dan kali ini di akhir cerita. Meskipun demikian, berbeda dengan posisi Solok pada cerpen-cerpen sebelumnya yang cenderung berlaku sebagai semacam metafora penderitaan, Solok pada cerpen ini tampak sebagai sebuah titik tempat pengungkapan, penyingkapan rahasia. Solok adalah sebuah “rumah”, sebuah “arah tuju pulang”, juga “tempat keluarga berkumpul di hari raya.” Segala cerita tentang masa lalu yang didengar oleh si narator cerpen ini, melalui suara bapaknya, sesungguhnya adalah sebuah versi lain dari kenyataan yang pernah dijumpainya beberapa tahun sebelumnya. Ada sudut pandang yang bermain di sini, saling mengelabui tanpa sadar bahwa mereka saling mengelabui, dan saling memperoleh massa pengikut guna melegitimasi kebenaran.

Di dalam cerpen-cerpen tersebut, Solok adalah serupa titik hilang dalam teknik perspektif. Ia bukanlah sesuatu yang utama di dalam cerpen-cerpen tersebut, bukan pula sebagai sesuatu yang menjanjikan warna-warni cerah dan membuat mata betah memandanginya mencari apa-apa yang tersembunyi. Ia hanyalah sebuah hulu, pangkal, titik pijak, seberkas kesan, juga masa lalu yang meskipun mengawali apa-apa yang ada pada saat ini dan mendatang, tetap tidak lebih daripada sesuatu yang tidak akan kembali, sesuatu yang jauh, dan kelak menjadi hal yang terlupakan, bukan terlupakan karena ia lenyap, tetapi terlupakan karena ia tidak lagi dianggap bermakna. Sebuah mahapenghapus bernama pemikiran dan perkembangan zaman telah sedikit demi sedikit mengikis titik mungil bernama Solok dari lembaran peta kehidupan manusia-manusia yang sesungguhnya lahir, tumbuh, dan berakar di sana.

Versus: Anak yang Membunuh Orangtua

Pembunuhan. Sebuah kata yang senantiasa bisa dianggap mendua. Pembunuhan dalam pengertian penghilangan nyawa dari badan wadag, atau pembunuhan dalam pengertian pelenyapan sosok yang tidak mesti beraga. Cerita tentang anak yang membunuh orangtua tentu bukanlah sesuatu yang asing. Penyebabnya tidak selalu berkaitan dengan pupusnya rasa kasih anak kepada orangtuanya, tetapi hal-hal lain yang bahkan sampai kapan pun mungkin tidak akan terjelaskan dengan memuaskan.

Sejumlah cerpen di dalam Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu mengusung hal yang demikian, pembunuhan oleh anak atas sosok orangtua dengan penyebab yang mungkin tidak terjelaskan dengan memuaskan. Cerpen “Lekuk Teluk” misalnya. Secara gamblang tampak bagaimana Kael pernah begitu menginginkan kematian bapaknya, “Dia pantas mati!” Pernyataan Kael yang demikian dipicu oleh kebencian pada bapaknya yang pernah menyakiti ibunya, “Bapakku sudah mati. Dia tak akan pernah menyakiti Ibu lagi!” Kematian orangtua, kematian bapak, kali ini adalah kematian sesungguhnya. Memang bukan Kael yang membunuh bapaknya, tetapi sebuah pertikaian di kampung, bapaknya mati ditikam. Meskipun demikian, ada kelegaan pada diri Kael ketika mengetahui bapaknya telah mati, ada perasaan yang bisa jadi serupa dengan perasaan pembunuh ketika mengetahui bahwa lawannya telah tidak lagi menyimpan nyawa di dalam raga, “Dia merasa ada orang yang telah membantunya melampiaskan dendam. Dia puas. Tetapi dia tak tertawa. Hanya diam saja. Di rumah sakit, bapaknya tak mampu meneruskan hidup. Dia menjadi anak yatim. Dia tak pernah menyesal. Dia merasa hal itu adalah sesuatu yang pantas terjadi. Bapaknya memang layak mati daripada membunuh ibunya.” Seorang anak telah membunuh orangtuanya meskipun tidak dengan dayanya sendiri.

Relasi yang serupa antara Kael dan bapaknya hadir di dalam cerpen “Bibir Pak Gur Bengkok.” Cerpen ini tentang satu hari di dalam kehidupan Pak Gur, seorang guru yang telah bertahun-tahun mendedikasikan hidupnya, bukan hanya dalam mengajar tetapi juga mendidik. Sebuah peristiwa di kelas yang mengguncang jiwanya hingga membuatnya mengeluhkan diri sendiri “Aku telah gagal!”, disusul dengan ban sepeda motornya yang kempes, hingga kejutan dari anak laki-lakinya, merupakan sebuah bentuk pembunuhan psikologis yang dialami Pak Gur. Sebagai orangtua bagi anak dan muridnya, ia menganggap dirinya sudah cukup dalam memberi sekian banyak didikan dan ajaran kepada mereka, “[D]ia merasa cukup berhasil dalam bekerja. Sudah duapuluh tahun lebih. Semuanya berjalan baik-baik saja,” disertai harapan ada pemahaman yang sedikit demi sedikit lahir dan tumbuh pada diri para bocah itu. Hanya saja, kenyataan berkata lain. Tidak selamanya keberhasilan dapat dikur dengan keselarasan antara yang diberikan dengan yang diterima dan diserap untuk kemudian diamalkan. Bagi Pak Gur, anak dan anak didiknya sudah seharusnya mengikuti arahannya dengan patuh tanpa perlawanan. Ia pun dengan tidak bijaksana memberi penilaian sepihak tentang anak-anak didiknya yang bertingkah-polah tidak seperti yang diharapkannya, “Murid-murid yang dihadapinya semakin liar seperti bukan anak orang. Dia merasa amat heran, apakah para murid itu tidak punya orang tua di rumah yang mendidik mereka tentang etika dan sopan santun.” Kondisi yang demikian mencapai puncaknya ketika Pak Gur menampar salah satu anak didiknya hingga mulutnya berdarah. Hari itu pun menjelma serupa neraka bagi Pak Gur, dan mencapai keraknya di akhir cerita ketika ia menjumpai anaknya sendiri, “Di dalam kamar, dilihatnya anak laki-lakinya sedang tersandar teler dengan mata merah separuh terkatup. Dua orang lain menggelimpang nyaris telanjang di atas ranjang.” Pak Gur pun, lebih-lebih dengan statusnya sebagai guru, tewas mengenaskan oleh perilaku anak dan anak didiknya.

Pembunuhan lain terjadi di dalam cerpen “Jarak” dan “Rumah Lumut”, kali ini hadir dengan cara yang subtil, dan yang menjadi korban adalah para ibu. Seperti telah saya bicarakan pada bagian sebelumnya, “Jarak” adalah cerita tentang anak laki-laki yang meninggalkan ibunya demi mewujudkan impiannya. Attar yang merasa bahwa dirinya telah terbuang, dapat dikatakan telah melakukan pembunuhan terhadap masa lalunya, termasuk kepada ibunya sendiri. Masa lalunya yang suram di tanah kelahirannya, dengan segala bentuk konflik yang berakar dari kehidupan orangtuanya, telah membuat Attar enggan untuk kembali berlabuh, atau sekadar singgah sejenak, di kampung halamannya. Ia lebih memilih menjaga dan mempertahankan jarak yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun antara diri dan tanah kelahirannya daripada kembali pulang yang mungkin bahkan tidak akan membuatnya menemukan kedamaian. Berita tentang ibunya yang jatuh sakit pun tidak mampu menggerakkan hati dan kakinya untuk bergerak mendekat. Yang tampak bagi saya, berita tersebut justru mendatangkan kembali kegalauan bagi diri Attar, ada semacam tabir antara diri dan masa lalu serta tanah kelahirannya yang berhasil ditenunnya selama masa pengembaraannya, yang sedikit demi sedikit mulai retak oleh kabar dari kampung. Attar telah memilih membunuh masa lalu dan ibunya bukan semata-mata karena ia memang ingin melakukan hal itu, tetapi merupakan semacam respon atas pengalaman pahitnya di masa lalu yang bekas rasanya tidak akan benar-benar hilang. Cerita tentang ibu yang terbunuh kembali hadir pada cerpen “Rumah Lumut”. Sama halnya dengan ibu Attar, Mak Leha juga ditinggal pergi oleh kesembilan anaknya, Bachtiar, Marwah, Syafei, Azyumardi, Rahmi, Syahril, Fatma, Nurmala, dan Rozehan. Mereka tidak pergi tanpa alasan, mereka pergi merantau. Keputusan mereka merantau pun sedikit banyak dipengaruhi oleh kultur setempat yang tampak memberi nilai lebih pada orang-orang yang merantau, “Karatau madang di ulu, babuah babungo balun. Ka rantau bujang daulu, di kampuang baguno balun.” Di kampung belum berguna pada akhir kalimat tersebut tampak menjadi alasan seorang pemuda sebaiknya merantau. Konsekuensinya, anak akan terpisah dari orangtuanya, dan kelak mungkin akan melupakan orangtuanya. Hal itulah yang dialami oleh Mak Leha. Yang dijumpainya dari waktu ke waktu bukanlah ketukan di pintu dan pelukan hangat oleh anak-anaknya yang pulang dari rantau, sebuah perjumpaan kembali yang tentu kaya cerita hidup, tetapi hanyalah kalimat-kalimat yang tidak lebih panjang daripada yang bisa diwadahi oleh sepetak kertas yang tertangkup di dalam amplop. Kalimat-kalimat tersebut pun hanya memuat kabar tentang belum terpuaskannya si anak di tanah rantau, dan janji kembali pulang yang tidak pernah pasti. Hal yang demikian dapat dianggap sebagai bentuk pembunuhan sosok Mak Leha sebagai orangtua oleh kesembilan anaknya. Pengalaman terbunuh oleh anaknya pada akhirnya menyebabkan pergeseran pemikiran pada diri Mak Leha. Hal tersebut terjadi ketika Mar, perempuan tetangganya, berkunjung ke rumahnya dan membicarakan keinginannya untuk merantau, ““Kalau saya ikut pergi ke Malaysia apa bagus, ya?” kata Mar. “Menurutku tak usah saja. Apa kau yakin dengan merantau hidupmu akan lebih baik?”” balas Mak Leha. Dengan demikian, Mak Leha yang pada awalnya tampak begitu menyarankan anak-anaknya merantau, berubah menjadi orangtua yang mencegah orang lain merantau, karena ia tidak lagi memiliki keyakinan bahwa tanah orang atau tanah seberang menjanjikan kehidupan yang lebih baik, bisa jadi ia juga tidak lagi mau terbunuh untuk ke sekian kalinya, bahkan oleh tetangganya. Kedua cerpen tersebut, khususnya “Rumah Lumut”, tidak sekadar tentang cerita orang-orang merantau, orang-orang yang meninggalkan dan ditinggalkan, tetapi juga tentang sebentuk kritik atas sebuah kultur bernama merantau. Merantau sesunggunya bukanlah sebuah realitas satu sisi. Ia tidak cukup hanya dipahami sebagai sebuah tindakan pencarian kehidupan yang lebih baik, tetapi dapat pula dipandang sebagai semacam langkah pelarian, lebih-lebih jika si perantau menjadi enggan kembali ke tanah kelahirannya setelah merengkuh manisnya materi di tanah rantau. Pelarian demi memenuhi hasrat, dan meninggalkan jauh-jauh kondisi setempat yang sebenarnya masih mampu menyediakan pemenuhan kebutuhan. Pelarian dari tanah kelahiran yang mungkin sebenarnya justru memerlukan anak-anaknya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Cerita tentang anak yang “membunuh” orangtuanya tidak perlu selalu dipahami sebagai sesuatu yang negatif karena hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar, sesuatu yang alami. Orangtua yang terlupakan oleh anaknya pun sesunggunya bukanlah korban kekejian karena demikianlah hakikat orangtua, melahirkan dan membesarkan anak, untuk kemudian ditinggal pergi, dilupakan, dan mati dalam sepi. Bagi saya, tidaklah tepat jika dikatakan bahwa anak berhutang budi kepada orangtuanya, anak harus membahagiakan orangtuanya. Justru sebaliknya, orangtualah yang berhutang kebahagiaan kepada anak, seperti bayangan kata-kata seorang Yanti yang ada di dalam cerpen “Perempuan Bawang,” “Aku pun berhak untuk menikmati hidupku yang muda, bukan? Ibuku menderita. Aku lebih lagi. Aku letih dan biarkan aku sejenak merasa senang dengan orang yang kusukai.” Tidak seorang anak pun dapat memilih orangtua, dapat memilih keluarga macam apa tempat mereka dilahirkan. Ketika seorang anak lahir, menjadi kewajiban orangtuanyalah untuk membahagiakan si anak. Tidak sedikit orangtua berkata kepada anaknya bahwa “Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtua.” Tetapi tampaknya faktanya tidak demikian, kalimat tersebut pada umumnya berubah menjadi “Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtua, selama kebahagiaan anak seperti yang diharapkan dan diinginkan orangtua,” seperti yang dirasakan dan dialami tokoh laki-laki di dalam cerpen “Lelaki Kayu”, “Nasehat [sic!] itu memang telah bertubi-tubi disumpalkan ke telingaku. Oleh kakak-adik, ayah-ibu, dan sanak-keluarga yang lain. Perempuan itu tak pantas untukku. Tapi hatiku sekeras kayu yang menjadi dinding dan tonggak rumah. Bertambah alot tahun demi tahun oleh hawa tandus yang dikuarkan ayahku.” Kondisi yang demikian pada akhirnya menjadikannya tidak sekadar sebagai pembunuh orangtua, tetapi sekaligus sebagai pemusnah rumahnya sendiri, sebuah tempat yang sebenarnya menyimpan kehangatan telah menjelma penjara sekaligus neraka baginya, “Seolah kita telah sama-sama paham bahwa pengakhir siang di pantai ini lebih baik diisi tanpa bicara tentang segala sesuatu yang sama sekali tidak menyenangkan, rumah misalnya.”

Di dalam cerpen-cerpen yang mengusung pernyataan “anak yang membunuh orangtua,” hadir pula kerinduan akan kebebasan, keinginan untuk membebaskan diri dari apa-apa yang selama ini begitu membelenggu, membelenggu dalam pengertian apa pun. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, sebelum bertatap muka dengan belenggu-belenggu lain, orangtua adalah belenggu pertama bagi kebebasan anak, bagi kebebasan manusia dalam menemukan diri dan kemanusiaannya. Selama anak belum melepaskan diri dari orangtua, baik secara fisik maupun psikis, ia masih berada di dalam koridor yang dibangun orangtuanya, ia masih bergerak ke sana ke mari di dalam sebuah taman bermain yang dibangun orangtuanya lengkap dengan beraneka peranti permainan dan mungkin hantu-hantu yang bersembunyi dalam gelap di baliknya, ia masih sekadar anak panah yang secepat apa pun lesatnya tetap mengikuti arah bidik orangtua sebagai busurnya, ia masih berada di dunia antara dengan satu kaki di lingkaran orangtua dan kaki yang lain di lingkaran yang diciptanya sendiri. Sesungguhnya akar ada sekadar menopang tubuh yang tumbuh, bukan mengarahkan ke mana dan bagaimana ia hidup.

Tidak sekadar tentang anak yang membunuh orangtua, cerpen-cerpen di dalam Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu juga menghadirkan sejumlah versus dalam bentuk lain. Pada cerpen “Perempuan Bawang”, meskipun mereka tidak saling berhadapan secara frontal untuk kemudian saling menjatuhkan, relasi antara Yanti dan ibunya adalah sebuah relasi yang tidak harmonis. Yanti tidak sepenuhnya mendapatkan kebebasannya sebagai remaja, haknya untuk menikmati hidup dengan caranya sendiri sebagai remaja, karena ia harus senantiasa melibatkan pikiran tentang ibunya yang bersusah-payah berjualan bawang di pasar. Ketika ia sebenarnya bisa merasa senang, ia justru merasa bersalah hingga menyerukan “Ya, Tuhan! Tak sepatutnya aku di sini!” Perasaan tidak pantas seperti yang dialami Yanti, sebuah ketidakpantasan yang sesungguhnya hanya ada di dalam pikirannya sendiri, juga dirasakan oleh tokoh perempuan pada cerpen “Di Solok Aku Akan Mati Perlahan.” Ia merasa tidak pantas dicintai hanya karena ia perempuan kampung, perempuan desa, sedangkan laki-laki yang menaruh hatinya adalah seseorang yang telah mengakrabi kehidupan kota dan pemikiran yang tidak sekadar berkaitan dengan sawah dan kerbau. Pada cerpen ini pun juga hadir relasi yang menempatkan desa dan kota sebagai dua hal yang meskipun pada kenyataannya saling mengisi, tetap merupakan dua hal yang saling berlawanan dan tidak terdamaikan, sebuah kondisi yang pada akhirnya mampu mengoyak rasa cinta dan merenggut kebahagiaan yang mungkin hadir pada masa yang akan.

Pertentangan antara dua sisi juga tampak pada cerpen “Lereng”. Yang terlibat di dalam kondisi tersebut adalah seorang suami dan istrinya. Pemicunya pun sebenarnya sederhana, yaitu kekhawatiran si istri pada aktivitas suaminya sebagai pencari sarang lebah untuk memperoleh madunya, yang bisa jadi membahayakan nyawa si suami karena harus menelusuri lereng yang berbahaya, dan kecemburuan si istri pada suaminya yang disangkanya menemui seorang janda seusai meregang nyawa mengumpulkan madu, “Aku tahu. Kau mendatangi perempuan janda itu lagi. Aku dapat mencium bau tubuhnya pada tubuhmu. Kau sampai ketinggalan botol airmu.” Hingga akhir cerita, si istri tidak pernah memperoleh penjelasan dari suaminya tentang kebenaran, hanya pembaca yang tahu tentang hal tersebut. Cerpen ini juga tampak menghadirkan versus antara masa lalu dan masa kini. Dua hal tersebut selalu menjadi dilema bagi si suami. Segala sesuatu yang dilakukannya pada masa kini merupakan semacam konsekuensi dari pengalaman pahit di masa lalunya. Ia tidak pernah sepenuhnya hidup bebas, tidak pernah sepenuhnya bisa menikmati manisnya madu yang diperolehnya dengan bertaruh nyawa, karena anaknya yang telah mati terus-menerus menghantuinya dalam bentuk kenangan, yang kemudian menemukan wujud pada diri anak si janda, dan membuat dirinya bersitegang dengan istrinya. Relasi yang tidak harmonis antara dua masa tersebut juga tampak pada cerpen “Seorang Laki-laki dan Boneka”. Pengalaman traumatik dan kehilangan yang begitu besar telah menjadikan tokoh laki-laki di dalam cerpen ini menjadi seorang yang hidup di dalam dunia yang diciptakannya sendiri. Ada tegangan antara mewujudkan kembali bayangan-bayangan tentang perempuan yang selama ini dipersepsinya dengan keliru sebagai hasil didikan bapaknya, memunculkan sosok-sosok ideal sesuai dengan pemahamannya yang berakar pada masa lalunya, dengan kenyataan yang dihadapinya. Dunia ciptaannya di satu sisi dapat dianggap sebagai usahanya untuk berdamai dengan masa lalu, tetapi di sisi lain tidak lebih daripada caranya untuk melarikan diri dari kekinian.

Konflik di dalam sebuah cerita tentu saja tidak senantiasa berkaitan dengan dua hal atau lebih yang saling dihadapkan untuk kemudian diadu hingga muncul keputusan menang, seri, atau kalah. Konflik bisa saja hadir di dalam satu yang berkecamuk luar dalam hingga ada perubahan arah yang mendadak, sebuah proses yang pelan dan memakan banyak waktu, atau sekadar semacam kedipan perlahan pada sepasang mata yang lelah memandang. Meskipun demikian, yang hadir pada sebagian besar cerpen di dalam Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu ini adalah konflik yang membenturkan hal-hal secara kasat mata. Konflik terasa begitu nyata. Yang fisikal dan material tampak lebih berkuasa daripada yang psikis dan spiritual. Yang banal terasa lebih kental daripada yang subtil. Terasa begitu masyarakat kita. Terasa begitu Indonesia.

Liyan: Saling Silang Pelabelan

Liyan. Sebuah konstruksi. Yang diciptakan untuk kemudian dilekatkan pada sesuatu. Serupa label pada benda-benda. Hal inilah yang juga banyak saya jumpai pada cerpen-cerpen di dalam kumpulan ini. Bentuk yang paling samar dari pelabelan liyan tampak pada cerpen “Perempuan Bawang”. Salah satu narator cerpen ini berujar, “Begitu sate siap, dengan geram kuhidangkan di meja kalian. Ingin sekali aku melepongkan sate itu ke mukamu, juga ke muka laki-laki yang rambutnya seperti baru kena tumpahan kunyit itu.” Rangkaian kata terakhir pada kalimat kedua tersebut memperlihatkan munculnya sebuah penilaian terhadap fisik seseorang. Rambut laki-laki itu, yang apabila dilihat dari sudut pandang lain adalah sebuah bentuk trend, sebuah kondisi yang sadar diri pada perkembangan mode, ternyata dalam sudut pandang si narator tidak lebih daripada semacam kondisi “baru kena tumpahan kunyit”. Membandingkan sesuatu dengan sesuatu adalah hal wajar. Meskipun demikian, ketika di dalam perbandingan tersebut muncul kesan yang berat sebelah, sebuah penilaian yang katakanlah sejak awal telah disarati oleh kecemburuan, pada akhirnya akan menghasilkan penilaian negatif. Bentuk kenegatifan yang bukan karena sesuatu itu negatif, tetapi karena dipengaruhi oleh hasrat untuk menegatifkan sesuatu. Hal serupa juga muncul di dalam cerpen “Bibir Pak Gur Bengkok”, seperti talah saya sebut pada bagian sebelumnya. Dengan menyatakan “Murid-murid yang dihadapinya semakin liar seperti bukan anak orang,” Pak Gur telah memberi label negatif pada murid-muridnya, lebih-lebih pada orangtua murid-muridnya. Murid-murid dianggapnya bukan anak orang, dan otomatis orangtua murid bukan orang, bukan manusia. Sebuah kesembronoan, kesimpulan yang emosional.

Sosok liyan yang lebih eksplisit muncul pada cerpen “Rumah yang Menggigil”. Sejumlah kalimat di dalam cerpen ini telah secara jelas memberikan penjelasan tentang kondisi si perempuan, “Tapi dia cuma seorang Ros yang rusak.” Penempatan ros dan rusak dalam kalimat yang demikian semakin mempertajam keliyanan Ros. Hal tersebut masih ditambah dengan “yang tersisa kini hanya kulit berkerut-kerut merah muda dan wajah seperti hantu dengan sepasang bibir sempit dan mata yang terbudur.” Setelah rusak, ia pun dianggap seperti hantu. Kondisi fisik Ros yang demikian sebenarnya disebabkan oleh laku si ayah menyiramkan bensin ke tubuhnya lalu menyulutnya dengan melemparkan korek api. Ros sebagai perempuan liyan kemudian dipertemukan dengan liyan lain, seorang laki-laki yang oleh warga setempat tidak lagi dianggap ada setelah melakukan tindak pencabulan, “Berbulan-bulan setelah mendekam di tahanan, orang-orang tak juga bisa memaafkan laki-laki setengah abad itu. Seolah-olah dia sudah tamat sebagai manusia. Sama seperti atas dirinya. Setelah petaka itu, bagi orang-orang dia sudah musnah terbakar. Tak ada yang percaya bahwa dia masih ada dan hatinya tak ikut hangus. Tak ada yang percaya bahwa dia tetap manusia. Perempuan. Di mata orang-orang dia hanyalah sesosok artefak. Termasuk keluarganya. Bagi mereka dia hanya penunggu rumah yang patut dikasihani dengan makanan dan hiburan yang cukup.” Ros menjadi liyan karena perbuatan bapaknya, laki-laki tua menjadi liyan karena perbuatannya sendiri, namun keliyanan keduanya tidak ada bedanya, mereka tidak lagi dianggap sebagai manusia, mereka tidak lebih daripada benda, artefak. Kondisi tersebut tampaknya juga merupakan semacam gambaran atas manusia pada umumnya yang cenderung pukul rata dalam memandang sesuatu, melihat banyak hal hanya melalui satu sisi tanpa mempertimbangkan bahwa ada banyak dimensi pada setiap sesuatu. Kondisi yang demikian sekaligus semakin menekankan bahwa masa lalu memiliki peran yang begitu penting dalam kehidupan manusia, ada akar yang berawal di sana dan menopang tubuh yang ada kini dan mendatang, sekaligus hantu-hantu yang menolak diam di sana dan terus mengikuti hingga masa-masa yang jauh.

Selain pelabelan liyan pada manusia, Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu memuat pula cerpen yang memberikan label liyan pada hal-hal lain. Pada cerpen “Nostalgia” misalnya, pada muara cerita muncul pernyataan “Kalau bukan karena perang itu, Nak, tak akan pernah ada jembatan, jalan, dan sekolah-sekolah di sini […] Tetapi sayang, sejarah menganggapnya pemberontakan, padahal kami hanya menyampaikan aspirasi kami yang seolah hanya anak tiri. Perang saudara memang pahit.” Yang menjadi liyan di sini adalah sejarah. Memang demikianlah pada umumnya liyan, ia tidak pernah dianggap benar atau kebenaran, ia hanyalah semacam titik-titik lain di luar lingkaran utama, di luar self, yang ada atau tiadanya tidak dianggap penting. Dalam kaitannya dengan sejarah, yang menjadi self hanyalah sejarah yang ditulis, diakui, dan ditahbiskan oleh pihak pusat, sedangkan sejarah yang lahir dari sudut pandang berbeda, atau katakanlah dari mata rakyat, dianggap hanya sebagai sejarah alternatif, sejarah sampingan, liyan. Hal yang demikian seolah memperlihatkan bahwa ternyata tidak sedikit orang yang lupa bahwa sejarah tidak lebih daripada rekonstruksi, yang tentu tidak akan mampu menyamai apa-apa yang ada di masa lalu, sehingga tentu saja tidak ada kebenaran tunggal, karena setiap sejarah adalah serupa perspektif. “Nostalgia” yang berisi cerita tentang sebuah keluarga yang berkumpul pada suatu malam pascagempa ternyata tidak sekadar tentang situasi pascagempa, tetapi juga tentang kritik atas keindonesiaan yang seolah hanya dibangun oleh kuasa pusat, bukan oleh keseluruhannya, kebenaran utama hanya ada di pusat, wilayah lain tidak lebih daripada kebenaran tandingan yang sudah semestinya diliyankan, dibungkam.

Pelabelan tidak selamanya terjadi satu arah. Yang dilabeli bisa jadi juga melekatkan label pada yang melabeli. Sebuah saling silang pelabelan. Hal tersebut salah satunya tampak pada cerpen “Di Solok Aku Akan Mati Perlahan”. Cerpen yang diceritakan oleh dua narator ini pada awalnya tampak sebagai sebuah cerita yang menempatkan pihak yang satu lebih tinggi daripada pihak yang lain, pihak yang satu memiliki kuasa yang lebih besar daripada pihak yang lain. Tokoh laki-laki yang telah beranjak dari kampungnya, mendiami kota, dan memacu diri dalam menempuh pendidikan, diakui atau tidak, tampak begitu mudah meliyankan tanah kelahirannya. Ia pun berusaha menarik perempuan yang dicintainya untuk lebih menjadi dirinya yang telah menjelma kota daripada diri perempuan itu sendiri yang sesungguhnya lebih memilih tetap menjadi kampung. Segalanya tidak berhenti sampai di situ karena si perempuan di dalam pikirannya pun telah meliyankan si laki-laki, menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lagi terjangkau olehnya, tidak lagi setara dengannya. Pada akhirnya, yang pada awalnya seolah tampak sebagai kesadaran atas identitasnya, si perempuan justru jatuh pada sebuah situasi yang meliyankan dirinya sendiri, menganggap dirinya lebih rendah dan tidak pantas hidup bersama laki-laki yang dicintainya. Lagi-lagi saya melihat hal ini sebagai realitas di masyarakat yang tidak jarang di satu sisi memandang dan menilai rendah orang lain, sesama Indonesia katakanlah, dan begitu menyanjung bahkan menghamba pada kuasa-kuasa asing. Situasi meliyankan diri sendiri, meliyankan kaum atau golongan sendiri, juga tampak pada cerpen “Kubah.” Cerpen yang bertempo lebih cepat daripada cerpen-cerpen lain di dalam kumpulan ini tersebut merupakan sebuah cerita seputar kehidupan di sebuah masjid, cerita tentang relasi antara pengurus masjid dengan warganya. Masjid seolah tidak lagi menjadi milik semua umat, ada pagar yang dibangun oleh pengurus untuk membatasi umat memasuki masjid kapan pun mereka mau hanya karena ada emas di kubah masjid tersebut. Pengurus masjid meliyankan warga, warga pun meliyankan pengurus, hingga masjid menjelma tidak lebih daripada sebuah arena perdebatan material, simbol kemegahan spiritual yang kosong melompong.

Di antara para liyan yang berlalu-lalang di dalam Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu, si anjing pada cerpen “Seekor Anjing yang Menangis” adalah juaranya. Si anjing adalah sosok liyan yang benar-benar tidak berdaya. Sebelum memasuki perannya sebagai saksi pembunuhan ia telah terlebih dulu menjadi korban, “Ia seekor anjing yang sangat setia. Setiap hari, ia suka sekali mengiringi setiap anggota keluarga itu pergi ke ladang, ke sungai, atau ke mana pun meninggalkan rumah. Kadang ia mengantar jauh sampai ke jalan raya kecamatan dan akan pulang bila sudah dihardik atau dilempari. Sering pula ia dipukuli dengan sapu bila bandel masuk ke rumah […]”. Sebagai saksi atas pembunuhan perempuan pemeliharanya, ia tidak bisa berbuat apa-apa, “Sebenarnya, anjing betina yang berkurap di sekitar punggung dan pantatnya itu ingin bercerita pada si lelaki peladang dan kedua anaknya. Tetapi ia tidak mampu karena mereka tidak memahami bahasanya.” Usahanya untuk memandu kedua anak perempuan itu pun hanya menemui jalan buntu, mereka tetap tidak mampu memahami maksudnya dan mengungkap kebenaran tentang nasib ibu mereka. Di akhir cerita, anjing itu pun mati tragis, “Laki-laki itu terus menyepak dan membentaknya. Ketika kesabarannya habis, dia menyambar sebatang kayu yang tersandar di dinding rumah, lalu menghantam kepala si anjing hingga binatang yang berkurap di sekitar punggung dan pantatnya itu tak bisa lagi bersuara.” Anjing di dalam cerpen ini dapat dianggap sebagai representasi liyan di mana pun. Mereka ada sekaligus tidak ada. Segala tindakan mereka hanyalah angin lalu, tidak akan mengubah keadaan. Bahkan ketika mereka tidak melakukan apa pun yang bisa dianggap mengancam, ketika mereka hanya menggonggong, mereka tetap dilenyapkan.

Dua Sisi: dari Sosial ke Personal

Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu tidak sekadar berisi hiruk-pikuk dan sesak nafas masalah-masalah sosial dan orang-orang terasing. Ia juga mengusung sejumlah cerpen yang bersifat lebih personal. Meskipun demikian, bukan berarti cerpen-cerpen tersebut menjadi kurang menyesakkan.

Cerpen “Empat Meter dari Pangkal” hadir dengan warna yang berbeda daripada cerpen-cerpen lain di dalam kumpulan ini. Ia tidak lagi sibuk mengusung cerita tentang kemiskinan atau penderitaan material. Ia justru begitu asyik bermain-main dengan dunia mimpi dan dunia nyata, dunia antara yang tidak memberi kejelasan dan batasan yang saklek. Meskipun demikian, permainannya tidak dapat dianggap ringan, permainannya adalah sebuah bentuk permainan yang tidak melibatkan fisik tetapi psikis, permainan tentang pengekangan hasrat, pengendalian nafsu. Keterpasungan diri dan godaan di depan mata namun tidak terjangkau adalah dua hal yang menafasi cerpen ini. Godaan berupa “sebatang pepaya yang berdiri jangkung dengan buah-buahnya yang lonjong besar” hadir beberapa kali disertai perjuangan untuk mendapatkan pepaya tersebut, juga “segaris senyum berbau pisang” sebagai kepuasan final secara implisit mengacu pada hal-hal yang seksual, keperempuanan berupa pepaya dan kelelakian berupa pisang. Hanya saja, bahkan ketika sosok itu menjumpai akhir yang melegakan, ketika menemui seseorang berkata “Kau telah berhasil mengekang hasratmu” sebagai penanda pencapaian, hal itu ternyata hanya ilusi, hanya akhir yang dibayangkannya. Cerita pun diakhiri dengan ““Apakah aku harus melupakanmu, Kal?” bisiknya lirih. “Apa harus kubuat kau mati?” Sebuah tangan menarik pinggangnya, mengajaknya kembali berbaring di ranjang. Nun di sana, di pucuk malam yang senyap, kau mendingin.” Maka kau di dalam cerita ini tidak lebih daripada masa lalu, sosok yang hanya hidup di dalam relung impian liar seseorang yang telah bersama seseorang yang “mengajaknya kembali berbaring di ranjang,” ia pun pada akhirnya mendingin di pucuk malam yang senyap. Masa lalu lagi-lagi menjadi hantu yang terus membayangi kehidupan seseorang, kenangan yang mungkin manis mungkin pahit bukanlah sesuatu yang mudah untuk disingkirkan, bahkan tidak dapat disingkirkan, karena manusia tidak akan pernah benar-benar dapat menghapus ingatannya, seperti halnya manusia tidak akan pernah benar-benar membebaskan diri dari belenggu hasrat.

Cerpen “Lelaki Kayu” berisi cerita sunyi kebersamaan seorang laki-laki dan perempuan selama beberapa kali senja di pantai. Nuansa resah dan ngelangut di permukaan, sekaligus penuh kecamuk dan tumpah ruah di dalam, membentuk sebuah jalinan sederhana yang bagi saya justru lebih memukul daripada bentuk saling berlawanan secara frontal dan hingar-bingar keterpurukan hidup. Ada kesabaran untuk tidak bergegas membabi buta dalam melangkah yang terasa di dalam cerpen ini. Hal ini kemudian dapat dipahami sebagai strategi penceritaan yang sesuai untuk cerita tentang usaha pencarian diri, tentang menentukan pilihan atas dua hal yang sama-sama tidak mudah tetapi tetap harus dipilih, ada pilihan ketiga yaitu tidak memilih dan itu tetap bukan hal yang bisa dijalani dengan menyenangkan. Agama menjadi isu sentral di dalam cerpen ini. Agama meskipun merupakan sesuatu yang begitu manusiawi, pada kenyataannya sering kali dianggap begitu dahsyatnya hingga tidak lagi manusiawi. Manusia senantiasa bingung ketika dihadapkan dengan pilihan yang berkaitan dengan agama, karena penglihatan manusia tampaknya hanya terpaku pada agama itu sendiri, lebih memuja agama, bukan Tuhan. Gerak lambat cerpen ini pun terbayar dengan akhir cerita yang memuaskan, menimbulkan helaan nafas panjang dan berat, sekaligus tetap tidak memberikan kepastian apa pun. Saya pikir memang demikianlah kehidupan manusia, yang pasti adalah adanya akhir, bukan bagaimana akhir.

Muara yang Cerah: Ada Asa dalam Resah

Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu secara keseluruhan adalah sebuah kumpulan cerpen yang muram. Keresahan tumbuh subur di dalamnya, hantu-hantu menemukan taman bermain yang mengerikan, dan penderitaan tidak pernah kekurangan nutrisi di dalamnya. Meskipun demikian, ada sesuatu di muara cerita yang nuansanya bisa dianggap berbeda dengan bagian hulu dan alirannya.

Muara yang cerah. Saya menulis demikian tidak disertai maksud menyatakan bahwa cerpen-cerpen di dalam kumpulan ini berakhir bahagia, happy ending. Muara yang cerah di sini mengarah pada penceritaannya yang mengejutkan, bukan mengejutkan dalam pengertian memberi sentakan atau tonjokan kasar yang membuat pembaca terjengkang, tetapi lebih berupa tawaran perspektif yang bisa jadi melahirkan senyum kecut sekaligus membuat mata lebih melek.

Akhir cerita pada cerpen “Bibir Pak Gur Bengkok” memberikan kejutan yang mencerahkan bagi Pak Gur, dan saya pikir inilah penyebab “bibirnya bengkok”, seperti yang termuat pada judul. Perilaku anaknya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebaikan yang selama ini dijunjung Pak Gur dapat dibaca sebagai sesuatu yang meskipun negatif di mata Pak Gur tetap mampu memberikan pencerahan baginya, bahwa sebagai manusia ia memiliki keterbatasan, sampai kapan pun ia tidak akan sanggup sepenuhnya menjadikan anak dan anak didiknya seperti yang ia harapkan. Setiap anak, setiap manusia, kelak tentu memiliki jalannya masing-masing yang tidak selalu beriringan dengan jalannya, bisa jadi berseberangan atau bahkan saling bertumbukan. Pencerahan semacam itu juga muncul pada cerpen “Nostalgia”. Di akhir cerita diketahui bahwa yang diceritakan oleh si bapak kepada keluarganya tidak lebih daripada sebuah versi dari suatu peristiwa. Kamaruzzaman yang bagi si bapak telah tewas, ternyata bagi si anak masih hidup dan itulah kebenaran. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa hidup dan matinya manusia adakalanya tidak selalu ditentukan oleh ada atau tidaknya nyawa di dalam raga, tetapi oleh ada atau tidaknya orang lain yang mengenali atau mengingatnya.

Senada dengan kedua cerpen di atas, cerpen “Lereng” pun menghadirkan pencerahan di muara ceritanya. Alasan si suami menikmati setiap pertemuannya dengan anak perempuan si janda terjelaskan di akhir cerita, “Dia hanya ingin bertemu gadis buruk berbau busuk di padang ilalang. Dia hanya ingin bertemu dengan seseorang yang dia bayangkan anak gadisnya yang mati sembilan tahun lalu diseruduk babi luka. Memberinya madu yang diambil tangan seorang ayah dari dahan surian di lereng jurang. Dia bersedia mati bila perlu. Dia ingin menebus kelengahannya yang tak akan dapat dia maafkan sampai kapan pun. Meninggalkan gadis kecilnya di pondok ladang ketika hendak menutup perigi kecil di dekat banda agar tak dikotori anjing pemburu.” Kehidupannya pada masa kini, segala yang dilakukannya, adalah sebuah penebusan atas kesalahannya di masa lalu. Ada usaha untuk menjadi manusia yang lebih baik sekaligus memaafkan dirinya sendiri dan berdamai dengan masa lalu, meskipun tidak selalu bisa dipahami oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk istrinya sendiri.

Dua cerpen yang berkaitan dengan agama juga menyajikan akhir yang mencerahkan. Cerpen “Kubah” ditutup dengan “Burung malam melintas. Mengibas-ngibas sayap basah. Segumpal kotorannya jatuh ke kubah masjid Baiturrahmah yang berlapis emas.” Sebentuk sindiran tajam terlontar pada muara cerpen ini. Sindiran pada masjid, sebuah tempat ibadah yang semestinya terbuka bagi semua umat, yang ternyata menutup diri dengan rapat hanya karena tidak ingin kehilangan materi yang tidak akan dibawa mati, kehilangan emas yang melapisi kubahnya. Kotoran burung yang jatuh pada kubah bukanlah bentuk penghinaan pada keagamaan dan ketuhanan, ia justru membuka mata manusia untuk tidak terbutakan oleh materi. Cerpen “Lelaki Kayu” tidak menghadirkan akhir yang sama dengan “Kubah”, tetapi ia tetap menghadirkan seberkas cahaya dengan ““Aku sedang berada di persimpangan jalan.” Walau lindap, aku dapat segera mengenal kedua buku itu. Kutatap matamu. Serta-merta aku melihat kubah-kubah tinggi. Telingaku menangkap jerit azan dan irama genta yang putus-putus. Kau diam. Aku diam.” Menjalani hidup adalah tentang menentukan pilihan, dan pilihan sejatinya tidak selalu berkaitan dengan benar dan salah, tetapi tentang baik dan buruk bagi empunya. Selama ini tidak sedikit orang yang menganggap agama sebagai harga mati, sesuatu yang turun-temurun, menutup ruang untuk dipikirkan ulang. Cerpen tersebut dengan tidak menggebu-gebu membuka kembali diskusi tentang salah satu hal yang mungkin paling sulit untuk dibicarakan: memilih agama. Diamnya kedua tokoh di akhir cerita adalah sebuah bentuk kebingungan yang nyata sekaligus merupakan satu langkah baru, tingkat yang lebih tinggi, dalam memahami diri dan kemanusiaan mereka.

Cerpen “Rumah yang Menggigil” dan “Seekor Anjing yang Menangis” pun menyimpan cahayanya sendiri meskipun ceritanya diakhir dengan sesuatu yang tragis dan kematian. Nasib Ros dan ayah Rasyid adalah sebuah konsekuensi atas pilihan mereka. Yang terpenting di sini bukan konsekuensi, tetapi kemampuan dan keberanian mereka untuk memilih jalan mereka sendiri tanpa terlalu peduli dengan opini orang lain, mereka menemukan kebebasan dalam penderitaan. Hal yang sama juga diperoleh anjing betina yang dipukul mati oleh laki-laki peladang. Kematian tidak lagi dipahami sebagai akhir yang mengenaskan, tetapi kebebasan dari penderitaan yang selama ini ditanggung si anjing.

Muara yang mencerahkan sekaligus berkesan hangat juga muncul pada cerpen “Mungkin Jibril Asyik Berzapin”. Judul cerpen ini secara jelas memperlihatkan ironi. Jibril yang sejatinya menjadi metafora kebaikan dan segala rahmat, ternyata terlalu asyik dengan dirinya sendiri dan melupakan manusia-manusia yang memerlukan uluran tangan, meskipun itu semua hanya terjadi di dalam pikiran tokoh. Sebaliknya, sosok yang pada awalnya tampak sebagai liyan karena ia berasal dari kaum lain, seorang perempuan Tionghoa, justru “memberi bakpao dan sup panas.” Cerita pun ditutup dengan “Mereka berjalan di teras samping rumah Pak RT yang sempit. Ke luar pagar. Berjalan di gang. Memencet bel di sebuah gerbang. Pintu rumah bagus itu terbuka diiringi lampu beranda yang menyala. “O, Soka. Ayo masuk! Ada yang bisa Cece bantu?” Soka merengkuh kepala Baldan yang memeluk kakinya. Sesaat dipandangnya bulan sabit yang pudar di langit. Kemudian diiringinya Cece yang telah masuk ke rumah.”

Melalui penceritaan yang demikian, adanya muara yang cerah pada cerpen-cerpen di dalam Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu, Ragdi F. Daye meskipun menulis tentang kemiskinan, penderitaan, dan keputusasaan, entah sadar atau tidak, tetap menghadirkan harapan. Harapan bisa jadi berupa perubahan ke arah yang lebih baik secara material atau spiritual. Harapan bisa juga berupa lahirnya kesadaran tentang diri dan kemanusiaan. Harapan pun adakalanya cukup dengan hadirnya perasaan ikhlas, penuh, sebuah lingkaran utuh, pada diri sendiri.

Epilog

Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu adalah sebuah mozaik cerita. Cerita yang tidak menghadirkan sebuah pertunjukan yang warna-warni dan gegap gempita, tidak pula mempertontonkan akrobat spektakuler yang membuat berdecak kagum dan bersorak-sorai dengan riuh. Tetapi cerita tentang manusia-manusia resah, para liyan, dan lokalitas yang tampak begitu diakrabi oleh Ragdi F. Daye. Segala klise dan melodrama yang begitu gamblang pada cerpen-cerpen di dalam kumpulan ini adalah serupa kumpulan foto pada sebuah album lama yang betapa pun telah begitu sering dibolak-balik senantiasa menyelipkan sesuatu, senantiasa menyelinapkan perasaan yang khas dalam benak setiap mata yang memandangnya.

Hal-hal yang begitu dekat, pengalaman keseharian yang sepele, juga masa lalu yang setia hadir menyesaki ingatan adalah materi yang sesungguhnya tidak pernah usang untuk ditulis ulang selama disajikan dengan perspektif yang tidak umum, dengan akhir cerita yang mencerahkan. Tidak lagi menjadi masalah di mana ia berpijak, selama ia mampu menginsafi keberpijakannya, seperti si perempuan di dalam salah satu cerpen yang menyatakan: Ingatlah aku yang berlumur lumpur di antara pematang-pematang. Aku perempuan kampung yang kuno, memilih tak beranjak dari tanah darahnya. Aku lebih mencintai sawah yang selalu dirubungi burung-burung ketika padi mulai terbit. Aku terlalu mencintai air pancuran di banda tepian, mencintai Gunung Talang yang setia menjaga, mencintai ibu dan nenekku dan nasib yang mereka turunkan, mencintai segala kesederhanaan hidupku. Aku tak akan pergi, walau kutahu sawah-sawah di sini akan segera habis untuk dijadikan rumah, kantor, toko, atau pasar, walau bareh Solok hanya akan tinggal legenda. Dan pada akhirnya, sesungguhnya manusia yang demikianlah yang mampu menghidupi dirinya sendiri.

~Bramantio

* Esai penutup pada buku kumpulan cerpen Ragdi F. Daye Perempuan Bawang & Lelaki Kayu


About this entry