Apakah Harus Ada Mall (Lagi) di Salatiga?

Apakah Harus Ada Mall (Lagi) di Salatiga?

Ada sesuatu yang menarik di Salatiga hari-hari ini. Sesuatu yang tidak terlalu menyita perhatian publik. Sesuatu tersebut adalah rencana pembangunan mall di bekas bangunan eks Kodim 0714 Salatiga. Tanpa mengesampingkan polemik seputar kecagaran bangunan yang ada, saya hendak mempertanyakan sekaligus menggugat rencana pembangunan mall tersebut. Mengapa pembangunan mall (lagi) di Salatiga perlu digugat? Bukankah dengan kehadiran mall maka diharapkan roda perekonomian akan berputar lebih baik, dan -tak lupa jawab klasik- membuka lapangan pekerjaan? Atau bukankah dengan kehadiran mall, Salatiga akan memiliki daya tarik tersendiri untuk didatangi banyak orang dari wilayah sekitarnya? Apalagi jika pertanyaan tersebut kita ajukan bagi sebagian besar generasi muda saat ini. Mereka tentu tidak akan menolak kehadiran mall, bukankah justru disana “taman bermain”mereka. Namun saya kira ada beberapa catatan penting yang perlu kita pertimbangkan terkait persoalan ini, Ketimbang menerima begitu saja pernyataan-pernyataan tersebut.

Mall=Surga Konsumerisme

Kehadiran mall di kota seperti Salatiga, tak ayal, merupakan bentuk salin tempel dari paradigma pembangunan yang dipraktekkan di kota-kota besar dewasa ini. Asumsinya, “kemajuan” yang terjadi di kota besar mampu disalin di kota yang “belum maju” seperti Salatiga. Namun kemajuan macam apa yang sebenarnya kita hadapi dengan hadirnya mall tersebut. Apakah konsumerisme adalah salah satu bentuk kemajuan?

Konsumerisme –sebagaimana kita ketahui- merupakan salah satu problem yang mesti kita hadapi seiring hadirnya pusat-pusat perbelanjaan ala kota-kota besar. Manusia memang dalam perilaku sehari-harinya senantiasa berhubungan dengan konsumsi. Hanya saja dalam konsumerisme, perilaku konsumsi tidak lagi ditujukan untuk sekedar memenuhi kebutuhan demi kelangsungan hidup. Melainkan dilakukan demi kebutuhan-kebutuhan lainnya yang sebenarnya tidak terkait langsung -atau bahkan tidak ada kaitannya sama sekali- dengan kelangsungan hidup manusia. Disini hasrat (akan uang dan benda-benda) memiliki peranan besar.

Hasrat memiliki kerentanan terhadap banyak hal. Termasuk didalamnya rentan terhadap bujuk rayu, kecemasan, emosi dan manipulasi. Konsumerisme persis secara telak menyasar hasrat sang manusia. Sehingga kita dapat dibuat mengkonsumsi mana kala kita berhasrat akannya dan bukan karena kita memang membutuhkannya. Parahnya lagi, pengalaman mengkonsumi turut meneguhkan banyak simbol-simbol yang semu, seperti status sosial, identitas, citra hingga eksistensi diri. I shop therefore I exist, demikian kredo konsumerisme.

Menyadari akan hal ini, kepentingan ekonomi kapitalis (baca:pebisnis) dengan sigap justru menghadirkan benda-benda konsumsi, lengkap dengan memanipulasi pengalaman yang dapat merangsang hasrat. Para pebisnis lebih perduli pada bagaimana menghasilkan uang yang banyak -dengan memanipulasi emosi dan pikiran konsumen- daripada perduli dengan keadaan konsumen itu sendiri. Di lain sisi, tingkat konsumsi yang tinggi juga berbanding lurus dengan tingkat pembuangan yang tinggi. Dengan kata lain, ia turut berkontribusi terhadap problem lingkungan yang hari-hari ini menjadi salah satu problem genting lainnya.

Alternatif Lain.

Keterangan ini sebenarnya memupuskan alibi; bahwa kehadiran mall akan membawa banyak manfaat bagi masyarakat. Sebaliknya, ia justru hanya membawa manfaat bagi pebisnis, dan meninggalkan persoalannya buat kita urus sendiri.

Mall tentunya bukan satu-satunya solusi bagi pembangunan dan kemajuan suatu kota. Terdapat beragam ide-ide alternatif lain yang mampu menampung berbagai macam aspek pembangunan, misalnya taman budaya. Melalui taman budaya, kita dapat membuka keran budaya tandingan terhadap kultus konsumersime, sekaligus memfasilitasi ruang publik. Sembari mempertahankan kecagaran bangunan yang ada, model taman budaya juga bisa didesain untuk menopang area perekonomian. Melihat konteks kota Salatiga, model taman budaya juga dapat dikembangkan menjadi daya tarik tersendiri.

Namun yang terlebih penting adalah; merembugkan ide-ide alternatif semacam ini bersama-sama berbagai elemen masyarakat. Dan darisana berupaya menciptakan suatu sinergi antara berbagai macam kebutuhan melalui perluasan wawasan. Sayangnya, inisiatif dan ide-ide alternatif semacam ini absen dari perhatian pemerintah kota. Alih alih memikirkannya, pemerintah kota justru secara terang-terangan mendukung penuh segala upaya pebisnis. Kalau sudah begini mau jadi apa kota kita?

Yesaya Sandang


About this entry