Ruang Kuliah Sebagai Laboratorium

Ruang Kuliah Sebagai Laboratorium

Yesaya Sandang

Menarik bagi saya menyimak tulisan bernas yang dihantarkan oleh Neil Rupidara terkait tema filsafat pendidikan pada edisi Scientiarum terdahulu (Rekonstruksi Filsafat dan Praksis Pedagogi di UKSW). Menurut hemat saya Neil berhasil mengungkapkan secara jernih pentingnya rekonstruksi basis filsafat pendidikan, secara khusus di lingkup pendidikan tinggi. Inti gagasannya adalah; pergeseran paradigma pendidikan dari “menyuap dan memuntahkan”, menjadi “aktif membentuk dan mengaplikasikan”. Lebih lanjut Neil juga mengusulkan semacam pendekatan sistemik kelembagaan untuk mewujudkan hal tersebut. Secara garis besar saya bersepakatan dengan gagasannya tersebut. Dalam posisi itulah tulisan ini ingin memberikan peneguhan sekaligus menambahkan beberapa elemen yang menurut saya penting untuk diulas. Pada saat yang bersamaan, tulisan ini bisa juga dibaca sebagai timpalan terhadap tulisan Satria Anandita sebelumnya (Fakultas Kebebasan, juga dapat dilihat di Scientarum.com).

***

Sampai pada ukuran tertentu, pendidikan (khususnya pendidikan tinggi) memang bukan hanya soal transfer pengetahuan, melainkan juga soal membentuk dan mengembangkan pengetahuan. Hal ini seiring sejalan dengan salah satu tujuan pendidikan (tinggi) itu sendiri, yakni untuk menghasilkan manusia-manusia yang mampu merespon tantangan jamannya serta turut berperan serta secara aktif dalam dinamika masyarakat yang terus berubah. Pendidikan disini merupakan suatu tindakan aktif demi kelangsungan suatu peradaban (civilitation). Selaras dengan hal tersebut kita kerapkali mendengar ungkapan-ungkapan semacam, pendidikan yang membudaya bukan membuaya (Driyarkara), dan pendidikan yang memanusiakan manusia (O.Notohamidjojo).

Berangkat dari sini kita dapat menemukan relevansi dari apa yang dituliskan oleh Neil Rupidara; bahwa hakekat dari suatu sistem pendidikan adalah untuk mempromosikan pembelajaran (learning), bukan hanya pengajaran (teaching), dan pengajaran yang dimaksud pun memiliki makna sebagai tindakan yang membebaskan dan secara langsung memfasilitasi pembelajaran (lihat tulisan Neil Rupidara, Rekonstruksi Filsafat dan Praktik Pedagogi di UKSW).

Dengan demikian hal ini memerlukan pemahaman; bahwa peserta didik bukanlah objek pasif yang hanya terjebak dalam siklus datang, duduk, dengar lalu pulang (dan lupa). Dan pula insan-insan pendidik juga bukan hanya sekedar tandon pengetahuan yang siap untuk memuntahkan isinya, (walau tetap tidak dapat dipungkiri bahwa tuntutan untuk terus mengakumulasi dan berolah ilmu pengetahuan merupakan salah satu kewajiban dari seorang pendidik sepanjang hayatnya). Karena hanya dengan demikian kedua-duanya mampu menjawab tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Sampai disini ideal semacam ini memiliki daya tarik tersendiri, namun persoalannya kemudian bagaimana hal tersebut dapat diterjemahkan kedalam ruang-ruang perkuliahan? Karena dalam pandangan saya lingkup paling “mendesak” untuk mengimplentasikan transformasi praksis pedagogis pertama-tama ada di ruang perkuliahan.

***

Disini saya hendak menjawab pertanyaan tersebut dengan mengajukan sebuah gagasan yang mungkin sudah lazim kita dengar atau bahkan lakoni, yakni ruang kuliah sebagai laboratorium. Ibarat sebuah laboratorium, ruang-ruang perkuliahan harus dihidupi dalam semangat menemukan dan menghasilkan pengetahuan. Dengan kata lain, inti dari gagasan ini adalah; ruang kuliah dilakoni sebagai suatu wadah bersama untuk memproduksi pengetahuan. Disini kemudian peran dosen tentunya adalah sebagai mitra belajar sekaligus fasilitator laboratorium tersebut. Dimana mahasiswa diarahkan untuk menempuh serangkaian proses menuju kepada penemuan dan menghasilkan pengetahuan dari sudut pandangnya langsung.

Dalam pemahaman semacam ini setiap partisipan dalam ruang kuliah turut andil dalam proses menemukan. Disatu sisi dosen justru dituntut lebih aktif  dalam memfasilitasi proses menemukan dan juga mengarahkan, ketimbang menjadi sang mahatau dan berorasi di dalam laboratorium tersebut (yang sering-sering menjadi praktek dominan dengan berbagai macam justifikasi).

Disini hemat saya kita dapat belajar dari metode berfilsafat Socrates, yakni seni kebidanan. Maksudnya, sama seperti seorang bidan dalam proses persalinan yang hanya membantu seorang ibu melahirkan bayinya, demikian pula Socrates ingin membantu orang lain untuk memperoleh wawasan dan pengetahuan dengan mencari dan mendapatkannya sendiri (Tjahjadi, 2004).

Pergesaran paradigma yang diusungkan oleh Neil dengan demikian dalam sudut pandang saya perlu di terjemahkan kedalam pemahaman ruang kuliah semacam ini. Namun apakah ini cukup memadai sampai disini? Ada dimensi yang menurut saya juga krusial untuk diperhatikan kalau kita mau mengupayakan pergesaran ini, yakni soal kebebasan.

***

Mengapa kebebasan? Karena cita-cita lain dari pendidikan adalah membebaskan dan mencerahkan manusia, maka disini kebebasan itu sendiri penting untuk kita pertimbangkan. Dalam pandangan saya kebebasan adalah prasyarat/praandaian menuju transformasi pedagogik, dan gagasan ruang kuliah sebagai laboratorium membutuhkan setidak-tidaknya sugesti kebebasan.

Saya menyebutnya sebagai sugesti karena kebebasan yang saya maksud tidak hendak terjebak pada dua kutub ekstrik mengenai kebebasan, yakni kebebasan absolut dan determinisme absolut. Dimana yang pertama mengamini bahwa kebebasan mutlak dalam diri manusia dan menolak segala bentuk kausalitas turunan dan universal, sedangkan yang terakhir justru menolak adanya kebebasan dalam diri manusia karena bagaimanpun ia akan selalu terbelenggu.

Dengan demikian sugesti kebebasan yang saya maksud disini berarti; bahwa ia (kebebasan) seyogyanya berada pada wilayah antara, antara ada dan tiada, sehingga ia ada sejauh kita mau mengadakannya dan ia menjadi tiada sejauh kita meniadakannya. Kebebasan disini tidak lantas hendak mengekslusi pentingnya disiplin dan juga aspek keterarahan. Dengan kata lain, dalam kebebasan sebenarnya sudah tercakup dimensi tanggung jawab dan tingkat kedewasaan tertentu (ingat kita sedang bicara pendidikan tinggi disini).

Dalam gagasan ruang kuliah sebagai laboratorium, mahasiswa memerlukan sugesti kebebasan, karena  pada akhirnya hal ini akan mendorong tindakannya untuk aktif dalam proses menemukan dan menghasilkan pengetahuan. Disisi sebaliknya dosen juga perlu menyadari bahwa mahasiswa memerlukan sugesti semacam itu, sehingga ia akan memfasilitasi mahasiswa untuk memproduksi pengetahuan dari sudut pandangannya. Hanya dalam keadaan bebaslah (dan juga setara) setiap partisipan dalam ruang perkuliahan dapat  betul-betul menjalani proses tersebut secara otentik dan penuh gairah.

Sugesti kebebasan dalam diri setiap partisipan ruang kuliah akan memampukan mereka untuk menemukan motivasi diri yang memadai, dan kemudian setiap bagian dalam proses tersebut dapat dijalani dengan sadar diri. Hal ini juga dapat memberi pemahaman yang lebih baik bagi mahasiswa, karena ia akan melihat setiap bagian dalam proses belajar di ruang kelas sebagai proses yang tersubjektivikasi.

Sugesti kebebasan juga dibutuhkan untuk mensuburkan rasa keingintahuan. Karena melaluinya akan tercipta situasi yang dialogis, yang dua arah, alih-alih monologal satu arah. Ketiadaan sugesti kebebasan hanya akan membangkitkan rejim otoriter pengetahuan. Tak heran kemudian kita mendapati minimnya minat penelitian mahasiswa. Karena penelitian yang otentik dimulai dari keingintahuan. Jika keingintahuannya tidak ada, jangan harap ada penelitian yang hadir secara otentik.

Paulo Freire dalam Pedagogi Hati pernah menulis begini, adalah peran dari pendidik progresif untuk membantu dan menantang setiap elemen keingintahuan agar kedua-duanya (peserta didik dan pendidik) sama-sama bersikap kritis (Freire,2001). Ini berarti bahwa peran dosen diharapkan dapat membantu para peserta didik, agar mereka dapat menemui jalannya masing-masing untuk menuju keingintahuan epistemologis yang lebih ketat pikir, dan sekaligus menantang mereka dan dirinya sendiri agar dapat tetap kritis. Sehingga dengan demikian, sugesti kebebasan yang saya maksud diatas juga mesti dimiliki oleh para dosen. Artinya, dosen pun mesti sadar bahwa ada derajat kebebasan yang sebenarnya ia miliki untuk berkreasi dalam berinteraksi belajar bersama mahasiswa.  Dosen disini tidak lagi hanya berkanjang pada pola-pola lama yang terus menerus diulang-ulang tanpa diperiksa kembali. Sebagaimana ditandaskan oleh Neil Rupidara -dalam satu kesempatan korespondesi kami- “dekonstruksi ini (baca: pola-pola lama) penting, karena budaya kita masih menempatkan sang dosen sebagai yang utama. Jadi kalau dosen tidak membebaskan diri dari budaya kolot itu, si mahasiswa bakal tidak punya ruang bebas.”

Jika kelas dijalani dengan paradigma dan disertai  sugesti semacam ini, maka diskusi-diskusi dalam kelas dapat menjadi lebih segar dan hidup. Tugas-tugas bukan lagi menjadi suatu beban melainkan sebagai bagian dari proses yang dihayati dengan gairah.

***

Kita kadangkala menuduh bahwa mahasiswa yang kurang motivasi belajar, atau memang mahasiswa yang sudah darisananya begitu. Mahasiswa pun mengeluhkan bahwa dosennya killer dan tidak asik. Namun, untuk barang sejenak pernahkah kita memeriksa ulang metode perkuliahan yang kita lakoni? Apakah kita pernah mencoba mengupayakan pergeseran paradigma?

Disini saya memiliki pandangan yang agak berbeda dari Satria Anandita (lihat tulisannya Fakultas Kebebasan). Satria menurut hemat saya hendak membakukan energi kebebasan kedalam satu pendekatan desain sistemik tertentu. Harapannya sistem tersebut  mampu menampung energi semacam ini, dan dari sana kemudian mampu memfasilitasi insan-insan didik dalam memperoleh pengetahuan. Desain sistemik semacam ini memang menarik dan perlu kita pikirkan lebih lanjut. Namun dalam pandangan saya -dengan tidak menafikan perubahan pada elemen sistemiknya- kita perlu terlebih dahulu memulainya dari ruang kuliah, bagaimanapun sistem yang sedang berjalan. Pendekatan sistemik tanpa pergeseran paradigma yang substantif sifatnya, hanya akan berujung pada persoalan yang sama.

Sebagai penutup saya hendak mengulang kata-kata JJ Rousseau dalam Du Contract Sociale, “Manusia pada dasarnya bebas, tapi ia terbelenggu dimana-mana”. Pertanyaan sekarang, apakah justru dunia pendidikan tinggi malah menjadi salah satu belengu itu? Atau sudahkan dunia pendidikan yang kita lakoni sungguh-sungguh hadir untuk membebaskan dan mencerahkan? Adakah pertanyaan-pertanyaan ini masih terbesit dalam benak kita selaku civitas akademika Satya Wacana ? Jika kita tidak lagi sungguh-sungguh mempertanyakan hal ini, jangan heran jika lantunan lagu milik Pink Floyd (Another Brick In The Wall) masih terus bergema hingga hari ini dikalangan generasi muda.

We don’t need no education
We dont need no thought control
No dark  sarcasm in the classroom
Teachers leave them kids alone
Hey! Teachers! Leave them kids alone!
All in all it’s just another brick in the wall.
All in all you’re just another brick in the wall.

Catatan:

Terkait dengan soal derajat kebebasan dalam dunia pendidikan, ada sebuah essai dari Bertrand Russell yang menarik. Dapat dilihat di http://www.zona-pellucida.com/essay-russel.html . Saya ucapkan terima kasih kepada saudara Neil Rupidara atas catatan dan masukan pada versi awal tulisan ini.


About this entry