Kelabu

Kelabu
Bramantio

Awal minggu kota ini. Hujan setengah hati terus-menerus membumi nyaris selama satu putaran penuh jarum pendek jam menyinggahi angka-angka. Berawal dari Minggu malam ketika beberapa saluran televisi menayangkan manusia-manusia memprihatinkan yang entah mengapa tidak sadar bahwa mereka memprihatinkan, hingga Senin pagi setengah siang ketika para pekerja meninggalkan rumah untuk menggenapi hari-hari kerja terakhir sebelum padam lebaran. Pagi tadi saya juga ke kampus. Dan hujan setengah hati membuat pagi ini tidak seperti pagi-pagi yang lain. Bagaimana tidak, saya mengalihkan peran sepatu kepada sandal, sekadar antisipasi atas genangan-genangan air yang tidak tahu mau mengalir ke mana dan hanya bisa menanti hingga entah kapan sampai meresap ke pori bumi atau teralihkan oleh gencetan ban-ban kendaraan atau menguap sedikit demi sedekit yang tentu saja tidak terjadi sepanjang hari ini karena bahkan biru pun tidak tersisa di langit, lebih-lebih sapuan sinar matahari, yang tentu saja tidak disukai sepatu tetapi bisa dipahami dengan baik oleh sandal karet. Pagi tadi payung pun kembali mendapat jatah peran untuk sebuah drama pendek berdurasi beberapa menit sepanjang perjalanan dari rumah ke angkot, dan dari angkot ke kampus; saya memilih ke kampus dengan angkot dan meninggalkan Vito, mobil saya, di rumah karena gerimis hanya akan membuatnya rusuh, berbeda dengan hujan deras. Setiba di kampus, tentu saja suasanya lengang. Saat ini memang masa libur semester, dan cuaca pagi tadi semakin memberi alasan banyak orang untuk tidak beranjak dari kediaman. Sesungguhnya saya pun begitu, tetapi ada pekerjaan yang membutuhkan sentuhan saya. Menjadi juru kunci ruang prodi mungkin menjadi salah satu peran yang pagi tadi, juga banyak pagi lain, yang cukup sering saya mainkan. Begitu pula dengan peran sebagai juru saklar lampu. Setelah mengeluarkan laptop dari ransel, yang cukup tidak biasa juga bagi saya karena saya lebih sering menggunakan tas selempang berkapasitas besar, lalu menempatkannya pada posisi terbaik di pantai meja dan menyalakannya, mulailah saya mengini-itukan pekerjaan. Beberapa rekan kerja yang jumlahnya tidak menghabiskan jemari di kedua tangan datang satu per satu. Perbedaan terjadi, tetapi hanya sebatas penambahan jumlah kehidupan, suara detak jantung dan denyut nadi, variasi suara dari pita bunyi, lidah, geliligi, dan bibir yang berbeda, bukan perbedaan pada pengurangan beban kerja; tidak selamanya semakin banyak orang semakin cepat pula pekerjaan mencapai batas akhirnya. Beberapa di antara mereka berujar bahwa hujan di luar tidak lagi setengah hati, tetapi benar-benar telah jemu memyambungkan langit dan bumi. Hal itu tidak berpengaruh apa-apa pada saya, toh saya berada di dalam ruang, toh pekerjaan masih saja ada. Melirik arloji menjadi sebuah rutin yang tidak tertahankan. Hal itu memang tidak menjadikan waktu bergerak lebih gegas atau lebih lambat, tetapi yang namanya tidak tertahankan, bagaimanapun, suka atau tidak, tetaplah tidak tertahankan. Yah apa pun itu, toh pada akhirnya waktu pun tidak bisa mengingkari takdir untuk membingkai pukul 16.30. Dan selesai sudah. Saya pun bisa kembali ke surga mini saya: rumah.


About this entry