Membaca Novel

Membaca Novel

Bramantio

Beberapa bulan terakhir ini saya berhasil membaca sejumlah novel yang telah cukup lama bertumpuk di meja-buku-belum-terbaca saya; saya menempatkan buku-buku yang telah saya beli tetapi belum saya baca di sebuah meja kerja besar, dan menyusun buku-buku yang sudah saya baca di rak buku. Secara keseluruhan, saya merasa cukup puas, puas, hingga sangat puas dengan novel-novel tersebut. Bahkan salah satunya membuat saya tidak betah berada terlalu lama di luar rumah, menghadirkan sebentuk homesick, hanya karena ingin segera membacanya tuntas; saya selalu merasa tidak mampu membaca fiksi dengan baik ketika berada di ruang publik.

The Book of Lost Things: Cerita-cerita lama memperoleh kesempatan hidup kedua di dalam dunia novel ini. Seorang bocah laki-laki, di tengah kemelut kehidupan keluarga dan masa perang yang melanda negaranya, tanpa sengaja memasuki sebuah celah menuju dunia lain yang ternyata adalah dunia buku-buku cerita yang pernah dibacanya. Hanya saja, tokoh-tokohnya memiliki nasib yang berbeda. Gadis bertudung merah yang pada kehidupan sebelumnya begitu lugu dan memusuhi serigala, berubah menjadi sosok yang berbeda, bahkan sangat di luar dugaan, begitu pula serigala-serigalanya. Snow White bereinkarnasi menjadi sosok yang tidak lagi berperan sebagai objek penderita dan memiliki sifat hubungan yang berbeda dengan tujuh kurcaci pada kehidupan sebelumnya. Meskipun begitu, novel ini tidak sekadar bercerita tentang petualangan seorang bocah laki-laki, tetapi juga memperlihatkan adanya pemahaman baru atas hal-hal di sekitarnya yang mungkin tidak akan terjadi seandainya ia tidak memasuki dunia buku-buku cerita tersebut. Cerita di dalam novel ini pun berakhir sebagai sebuah cerita fantastik murni, bukan marvellous atau pun uncanny.

The Chronicles of the Imaginarium Geographica: Here, There be Dragons: Kematian seorang lelaki, pertemuan tiga lelaki di sebuah ruangan yang pernah menjadi kediaman Sherlock Holmes, dan kedatangan seorang lelaki asing yang membawa Imaginarium Geographica menjadi awal petualangan menembus batas dunia menuju dunia lain. Sebuah peta bernama Imaginarium Geographica menjadi inti sekaligus penggerak keseluruhan petualangan tersebut. Sejumlah tempat yang selama ini hanya ada di dalam mitologi dan tercantum di dalam peta tersebut terancam lenyap oleh kuasa gelap, dan menjadi tugas ketiga lelaki tadilah untuk menjaga peta tersebut sekaligus mencegah hal buruk terjadi pada dunia mitologi. Novel ini membawa pembacanya menelusuri, mengingat, dan memahami kembali tempat-tempat dan sosok-sosok yang selama ini tidak lebih daripada fantasi. Dengan menjadikan London awal abad kedua puluh sebagai titik awal, novel ini menjalin sejumlah ruang dan waktu “lain” dengan tetap memerhatikan titik awalnya sebagai pijakan. Tidak jarang muncul kejutan di sepanjang pembacaan, kejutan yang tidak disebabkan adanya hal-hal yang twisted dan sebagainya, tetapi lebih pada semacam interpretasi ulang atas hal-hal yang selama ini telah diketahui. Pembaca yang cermat dan memiliki seperangkat pengetahuan tentang mitologi, kehidupan akademik, dan dunia sastra Eropa tentu akan menikmati novel ini dengan lebih baik, sekaligus mungkin juga berhasil memahami tentang hal-hal di balik novel ini.

The Earthsea Cycle: A Wizard of Earthsea: Menjadi seorang penyihir bukanlah sebuah laku yang penuh aksi gegap gempita, tetapi sebuah kehidupan yang sunyi. Hal itulah yang saya peroleh selepas menyelesaikan kalimat terakhir novel ini. Seorang lelaki remaja meninggalkan tempat asalnya menuju sebuah sekolah khusus penyihir dan mendapati dirinya tidak hanya akan menjadi penyihir hebat dan penjaga sebuah wilayah, tidak hanya akan menerima pujian dan mendengar decak kagum, tetapi juga harus menghadapi tekanan besar dari orang-orang di sekitarnya yang sebagian berharap begitu tinggi pada dirinya dan sebagian lagi memandangnya sebagai semacam kegagalan. Novel yang bergerak cepat dari satu masa ke masa berikutnya ini merangkum tahun-tahun kehidupan lelaki tersebut dalam petualangan dan perjuangannya menghadapi bayangannya sendiri. Novel ini akan mengingatkan sebagian pembaca pada novel seri Harry Potter, tetapi sesungguhnya Harry Potter-lah yang semestinya mengingatkan pembaca pada novel ini karena novel ini terbit pertama kali pada 1960-an.

Gargoyle: Sama seperti judulnya, novel ini menceritakan kehidupan seorang lelaki dan pertemuannya dengan seorang perempuan serta keterlibatan mereka di dalam sebuah dunia masa kini dan masa lalu yang dipenuhi gargoyle dan gotesque. Diskusi panjang seputar sejarah kehidupan biara-biara di Eropa memberi fondasi yang kokoh dalam membangun sebuah konstruksi tentang kehidupan-sebelumnya kedua manusia tersebut yang sekaligus menjadi pemicu bagi pembaca untuk terus bertanya-tanya tentang hal-hal di balik cerita-cerita tentang masa lalu, antara meyakini bahwa demikianlah kebenarannya dan memikirkan kemungkinan bahwa itu semua tidak lebih daripada sebentuk kegilaan. Tidak mudah bagi saya untuk membaca novel ini karena realisme yang diusungnya membuat pembacaan saya terus-menerus tanpa bisa dicegah untuk keluar-masuk novel. Meskipun demikian, saya menganggap novel ini berhasil sebagai sebuah cerita fantastik karena ia mampu membuat pembaca terbelah, dan mempercayai dua hal yang saling bertentangan.

The Highest Tide: Kesederhanaan yang istimewa. Kesan itulah yang saya dapatkan sepanjang pembacaan hingga tuntas membaca buku ini. Kehidupan pantai bersahaja diceritakan dengan tidak berlebihan, biota-biota dunia-antara dihidupkan dengan detail yang dapat dipahami tanpa perlu mengerutkan dahi dan memicingkan mata, point of view seorang bocah hadir dengan kadar yang pas sesuai dengan usia dan cara berpikirnya. Meskipun terasa biasa, ada kesan misterius yang terus-menerus dihadirkan dan terasa sejak awal hingga akhir cerita. Misteri yang bukan bersifat hardcore, misteri yang tidak berkaitan dengan hal-hal yang mengerikan, tetapi misteri serupa kesunyian yang sedikit demi sedikit bergerak mendekat dan memberati ruang dan waktu itu sendiri.

Interworld: Dunia paralel menjadi gagasan utama novel ini. Yang membedakan dunia paralel novel ini dengan dunia paralel pada teks lain adalah kehidupan di dalamnya. Pada dunia paralel teks lain, yang membedakan dunia satu dengan yang lain adalah nasib tokohnya: tokoh X pada dunia A adalah ilmuwan, pada dunia B adalah gelandangan, pada dunia C adalah guru, dan seterusnya. Pada novel ini, segala aspek kehidupan tokoh X berbeda antara dunia yang satu dengan dunia yang lain: tokoh X pada dunia A adalah manusia Bumi, pada dunia B adalah serupa werewolf dari planet lain, pada dunia C serupa malaikat bersayap mungil dari planet lain, dan seterusnya. Semua X pun bertemu pada suatu waktu dan bersama-sama memerangi Y.

The Lovely Bones: Judul novel ini mungkin bagi sebagian pembaca menghadirkan kesan semacam cerita detektif, ada usaha untuk menemukan katakanlah pelaku pembunuhan. Novel ini memang mengandung pembunuhan, korban, dan pembunuh. Tetapi, novel ini bukan tentang usaha untuk mengungkap pembunuhan tersebut. Novel yang diceritakan langsung melalui narasi tokoh, sesungguhnya tidak lagi menghadirkan kejutan-kejutan berkaitan dengan terungkapnya satu per satu teka-teki di seputar pembunuhan. Novel ini lebih berupa usaha si tokoh untuk merunut kembali peristiwa pembunuhan yang telah sepenuhnya diketahuinya sekaligus menjadi sebuah arena bagi keluarganya untuk memperoleh pemahaman bahwa apa pun yang terjadi kehidupan terus berjalan. Munculnya sudut pandang yang berbeda dalam menceritakan cerita pembunuhan juga menjadi daya tarik tersendiri novel ini. Pembaca yang hanya berharap akan menemukan ketegangan seperti halnya ketika membaca cerita detektif tentu akan kecewa. Bagi saya, novel ini merupakan semacam perenungan atas kehidupan dan kematian, jiwa kejahatan, arti keluarga dan orang-orang tercinta, serta usaha untuk berdamai dengan masa lalu.

The Malice Box: Secara umum, novel ini memiliki gagasan yang luar biasa tentang bakal-kiamat. Hanya saja, saya merasa narasinya cukup sulit untuk diikuti. Seorang laki-laki mendapat kiriman yang kelak diketahuinya menjadi salah satu kunci penentu bakal-kiamat, ia pun melakukan pencarian ke seluruh penjuru kota atas kunci-kunci lain. Masa lalu dan masa kini saling silang untuk memberi penjelasan tentang latar belakang para tokoh dan awal terjadinya peristiwa bakal-kiamat. Sejumlah referensi yang memerlukan penelusuran lebih lanjut oleh pembaca hadir di dalam novel ini, dan saya pikir hal itulah yang menjadikan novel ini cukup sulit untuk diikuti. Permainan teka-teki dengan memanfaatkan kata dan tanda mengingatkan saya pada novel-novel Dan Brown, khususnya The DaVinci Code. Nuansa terorisme mengalir kental dari awal hingga akhir novel. Segala bentuk keseruan novel ini bagi saya mengandung hal-hal yang lebih daripada itu. Tragedi kemanusiaan yang selama ini telah mewarnai perjalanan sejarah manusia sesungguhnya bersumber pada hal yang sama, begitu pula muaranya.

Manjali dan Cakrabirawa: Pada sampul depan novel ini tertulis “Seri Bilangan Fu”, dan memang demikianlah adanya. Novel ini boleh dikatakan semacam spin-off Bilangan Fu. Saya sengaja menyatakan “semacam spin-off” karena sesunggunya hingga akhir pembacaan saya atas novel ini, saya tidak bisa memastikan letak cerita novel ini di dalam dunia Bilangan Fu. Tokoh-tokoh sentral di dalam Bilangan Fu kembali hadir di dalam novel ini dengan nuansa yang berbeda, seolah kehilangan bobotnya, kehilangan kedalamannya. Secara keseluruhan, seperti halnya Bilangan Fu, ada cerita yang menarik di dalam novel ini, tentang rahasia, teka-teki, dan misteri, juga tentang sejarah Manjali dan Cakrabirawa. Bagaimanapun, saya menganggap novel ini pada akhirnya seolah meruntuhkan bangunan megah dan kokoh yang telah dihadirkan di dalam Bilangan Fu. Manjali dan Cakrabirawa bagaikan anak yang membunuh orangtuanya sendiri.


Next: Novel ini disebut-sebut sebagai karya terakhir Michael Crichton. Seperti novel-novel fiksi ilmiah M.C. sebelumnya, novel ini pun kaya dengan gagasan yang meskipun tampak aneh, tetapi selalu logis dan memiliki kemungkinan untuk terwujud, atau bahkan memang telah terwujud. Gorila yang bisa berbicara menjadi sentral perdebatan di dalam novel ini berkaitan dengan rakayasa genetika, etika, korporasi, manusia, dan kemanusiaan itu sendiri. Bagi saya, sejumlah pertanyaan besar, termasuk tentang ketuhanan, menemukan ruang diskusi di dalam novel ini.

 

 

The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel: Pada saat itu juga, novel ini menjadi salah satu novel favorit saya. Bagaimana tidak, novel yang di kemudian hari saya ketahui pada akhirnya akan terdiri atas enam buku ini menghadirkan sebuah dunia yang luar biasa. Sejauh ini saya telah membaca novel pertama hingga ketiga, The Alchemyst, The Magician, dan The Sorceress. Novel ini mampu merangkai dan merangkum semua mitologi besar dunia dan menghasilkan sebuah sintesis yang dapat dinikmati dengan lancar. Kehadiran mitologi-mitologi tersebut bermuara pada kejutan-kejutan menyenangkan yang dapat ditemui pembaca sepanjang pembacaan. Fiksi dan nonfiksi menemukan tempat bermain yang membebaskan. Berdasarkan intipan yang saya lakukan, tiga novel berikutnya adalah The Necromancer, The Warlock, dan The Enchantress.

Sejarah Dunia dalam 10 ½ Bab: Seandainya tidak ada kata novel pada sampul mukanya, tentu ada pembaca yang akan menganggap novel ini sebagai kumpulan cerita. Hal yang demikian mungkin saja terjadi mengingat novel yang terdiri atas sepuluh dan “setengah” bab ini memiliki struktur yang tidak lazim. Masing-masing bab bisa saja berdiri sendiri sebagai sebuah cerita independen karena tidak secara langsung saling berkaitan, ditambah lagi dengan teknik penceritaan yang berbeda-beda. Meskipun demikian, bab-bab tersebut bukan berarti memang terpisah secara mutlak karena sesungguhnya ada hal-hal yang menyatukan mereka, yang salah satunya adalah bahtera Nuh. Struktur yang demikian bisa saja menimbulkan perdebatan, yang saya yakin sudah terjadi entah di mana, tentang kata novel yang dilekatkan padanya. Novel ini seolah mempertanyakan kembali definisi novel sebagai katakanlah sebuah cerita panjang yang utuh, seperti halnya ia mempertanyakan kembali sejarah yang selama ini telah begitu kita insyafi meskipun sesungguhnya sejarah tidak lebih daripada fiksi karya para ahli sejarah. Novel ini tidak disatukan oleh tokoh dan alur yang terus berkesinambungan mulai awal sampai akhir, tetapi direkatkan oleh motif-motif yang berulang.

The Spellman Files: Sebuah keluarga detektif, sejumlah kasus, dan jatuh bangunnya generasi. Cerita detektif ini tidak sekadar tentang usaha memecahkan kasus, tetapi di dalamnya juga terdapat cerita tentang usaha pemahaman atas identitas, pilihan dan konsekuensi, keluarga, sejarah keluarga, dan problematik keluarga yang membentuk seorang detektif. Sebuah novel yang pada awalnya tampak ringan, berbelok tajam pada beberapa bagian menjadikannya menyesakkan, mendaki perlahan melewati tebing-tebing curam dan gelap, untuk kemudian melandai bukan karena jalanan tidak lagi terjal, tetapi telah ada pemahaman yang lebih baik tentang banyak hal yang menyangkut kedirian.

State of Fear: Pro dan kontra global warming menjadi salah satu gagasan yang diusung oleh novel ini. Saya menikmati perdebatan itu, utamanya pada bagian-bagian yang menyatakan bahwa global warming adalah omong kosong, bukan tentang benar-tidaknya, tetapi tentang adanya opini lain tentang hal yang sama yang selama ini seolah-olah hanya dilihat melalui satu perspektif. Novel ini juga sarat dengan pembicaraan tentang teknologi pengendali cuaca, tentang berbagai macam bencana alam yang kemungkinan besar merupakan hasil konspirasi sejumlah orang atau kelompok yang mendapat keuntungan dari efek bencana tersebut. Teknologi-teknologi mutakhir penghasil gempa dan tsunami pun seolah mendapat ruang pamer di dalam novel yang bertindak sebagai showroom mereka ini.

The Thirteenth Tale: Novel ini diawali dengan narasi tentang sebuah undangan untuk mewawancarai. Cerita kemudian bergerak lambat menuju pertemuan antara si penulis dan si tokoh yang diwawancarainya. Dari titik itulah cerita bergulir ke sejumlah peristiwa demi peristiwa yang mengarah ke sebuah pengungkapan. Cerita tentang sepasang kembar, hantu-hantu masa lalu, dan misteri keluarga mengisi halaman-halaman novel ini menjadi semacam hantu yang menyelinap di sana-sini sepanjang pembacaan. Gerak lambat narasi novel ini pada awalnya cukup mengganggu, cerita seolah tidak bergerak ke mana-mana dan terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Tetapi, seiring pembacaan justru menjadi semacam keunggulannya karena dengan tempo yang seperti itulah kesan kesabaran muncul, dan hal ini menjadi semacam penanda untuk menyiapkan tokoh sekaligus pembaca dalam menghadapi hal-hal yang tidak tampak di permukaan. Novel ini mengingatkan saya pada Atonement, yang kegelapannya tidak disebabkan oleh hal-hal berbau dunia hitam, tetapi oleh rahasia.

Trust: Dilatarbelakangi sebuah aksi pada masa Perang Dunia II dan sepak terjang Nazi, novel ini menjadikan dana perwalian milik keluarga Yahudi yang tidak jelas keberadaannya sebagai ruhnya. Peristiwa-peritiwa kecil di awal cerita mengantarkan tokoh-tokoh novel ini melakukan penjelajahan di beberapa negara Eropa dan Amerika, menelusuri jejak-jejak dari masa lalu yang berselimut kabut, untuk melacak sosok ahli waris dana perwalian yang juga serupa hantu tanpa tubuh. Gambaran tentang dunia perbankan internasional yang mengerikan dihadirkan dengan gamblang di dalam novel, dan bisa jadi akan membuat seseorang berpikir ulang untuk memanfaatkan jasa bank dalam hal-hal tertentu. Sepanjang pembacaan atas novel ini, saya tidak bisa mengabaikan begitu saja bayang-bayang The International yang telah begitu melekat di dalam ingatan.

Ways to Live Forever: Novel ini dapat dibaca sebagai sebuah buku harian seorang bocah yang menginsafi bahwa dirinya tidak akan lama lagi berada di muka bumi. Setiap pembaca tentu bisa menebak akhir ceritanya. Tetapi, bagi saya bukan akhir ceritanya yang menjadi nilai utama novel ini. Akhir tidak lagi penting bagi novel ini. Bagaimana menjadikan waktu-waktu terakhir lebih bernilailah yang menjadi nafas utamanya. Bahasanya yang lugu juga menjadikan novel ini memiliki kesan tersendiri, khususnya tentang bagaimana manusia, kehidupan, dan kematian dilihat melalui sudut pandang dan dipahami oleh pemikiran seorang bocah yang berdiri di garis batas kehidupan dan kematian. Novel ini juga menghadirkan keharuan yang melegakan bagi pembaca. Pada novel ini, lagi-lagi saya menemukan keistimewaan di dalam kesederhanaan.


About this entry