Kita dan Teknofilia

Kita dan Teknofilia

Yesaya Sandang

Abad ini adalah abad teknologi. Kecepatan laju perkembangan teknologi tersebut kian tak terbendung, dan kita tidak dapat mematikan tombol laju perkembangannya. Namun pada saat yang bersamaan, meningkatnya kecepatan dan sebaran kemajuan teknologi -serta kaitan antara tatanan teknologi dan tatanan sosial- akan membawa perubahan diberbagai area kehidupan. Ini berarti ketika kemampuan teknologi kita meningkat, akibat dan dampaknya juga ikut meningkat, entah disadari atau tidak.

Teknofilia

Terkait dengan laju perkembangan teknologi, ada sebagian kalangan yang memandang teknologi ibarat kekasih yang dipuja-puja tanpa cacat dan cela -sebentuk imakulata- sehingga masa depan bersamanya tidak perlu dikuatirkan. Mereka ini kali pertama disebut oleh Neil Postman sebagai Teknofilia atau Pencinta Teknologi (Postman, 1993).

Kaum teknofilia menyakini bahwa inovasi teknologi merupakan obat mujarab yang mampu menyembuhkan berbagai persoalan manusia. Bagi mereka, kemajuan dan inovasi teknologi yang lebih baru akan selalu lebih efisien dan lebih baik. Lantas, segala sesuatu yang telah usang akan ditinggalkan karena temuan-temuan baru akan mengalahkan yang lama.

Kaum teknofilia juga percaya bahwa kelak dunia akan semakin ditentukan dan diatur oleh inovasi-inovasi teknologi. Siapa yang menguasai teknologi termuktahir dialah yang akan memiliki keunggulan. Sebuah kenyataan yang kita terima luas dewasa ini.

Lebih jauh, kamu teknofilia berasumsi bahwa pada dasarnya teknologi senantiasa ada pada posisi netral, karena ia sepenuhnya hadir untuk melayani tujuan dari para penggunanya. Dengan kata lain, sejauh mana bermanfaat atau tidaknya sebuah inovasi teknologi ditentukan oleh penggunanya sendiri.

Oleh karena itu bagi kaum teknofilia tantangan untuk terus meningkatkan keunggulan teknologi menjadi tujuan pada dan bagi dirinya sendiri, lepas dari pertimbangan yang jauh lebih luas. Dampak-dampak sosial, psikologis, hingga aspek legal dapat ditangani kemudian, diurus sendiri oleh mereka-mereka yang menggunakannya.

Menggunakan secara Bijak

Dewasa ini bisa jadi gagasan kaum teknofilia telah mendominasi dunia kehidupan kita sehari-hari, tanpa pernah kita menyadarinya. Bukankah heboh-heboh belakangan ini seputar pembobolan akun surat elektronik, penipuan berbasis teknologi dunia maya, hingga yang paling anyar tentang beredarnya video-video pribadi figur publik bisa dikatakan sebagai salah sekian dari banyaknya persoalannya yang ditimbulkan lewat inovasi teknologi informasi dan komunikasi? Persoalan-persoalan yang harus kita pecahkan sendiri.

Lantas apakah kemudian kita menjadi teknofobia? Saya kira jawabannya tidak. Karena sekalipun hari-hari ini dampak-dampak dari inovasi teknologi kian meresahkan, namun kita sendiri masih memiliki kemampuan untuk secara arif dan bijaksana menggunakan setiap teknologi yang ada.

Perhatian kita sekarang tidak bisa hanya tertuju pada perkembangan dan inovasi teknologi belaka, melainkan juga pada sebuah upaya sadar untuk mengidentifikasi dampak serta memberi makna terhadap kehadiran setiap inovasi teknologi tersebut.

Hal ini menuntut kesadaran bahwa dibalik setiap kehadiran teknologi muktahir terdapat tanggung jawab yang besar. Kita tidak dapat terlena begitu saja dan latah untuk sekedar mengikuti setiap inovasi teknologi tanpa pertimbangan yang mantap.

Sedangkan disisi yang lain, subjek pengguna serta pranata hukum dan sosial perlu cepat tanggap dalam mengantisipasi inovasi-inovasi yang akan segera hadir. Disini peranan dunia pendidikan dalam rangka membekali subjek pengguna teknologi menjadi krusial.

Menghadapi laju perkembangan teknologi tentunya menuntut kearifan. Kearifan yang tidak menerima inovasi teknologi begitu saja sebagai sekadar cara yang baru dalam melakukan berbagai macam aktivitas. Karena pada akhirnya setiap persoalan yang hadir berpulang kembali pada diri kita sendiri.


About this entry