The Road (2009)

The Road

The Road

The Road (2009)

Yesaya Sandang


Ramai gunjing belakangan ini mengenai dampak kerusakan (perusakan) lingkungan mendapat visualisasi yang begitu menggoda simpati dalam sebuah film yang berjudul The Road (2009). Cerita tentang dampak yang dibawa oleh perubahan alam yang amat drastis diletakkan dalam framing perjalanan ayah dan anak menempuh batas akhir dari kehidupan mereka di muka bumi yang nyaris tamat.

Memang tidak secara jelas digambarkan bagaimana situasi itu terjadi. Namun, di sana digambarkan betapa kondisi alam tidak lagi bersahabat. Siklus musim amat tak menentu, mengubah pola kehidupan umat manusia, dan konfigurasi sosial pun mengalami perubahan. Tak terbayangkan pada suatu masa ketika kita tidak lagi mampu mengkonsumsi alam, tidak tertutup kemungkinan memangsa manusia, bahkan menimbunnya untuk disantap, menjadi suatu kelaziman. Persis inilah yang coba digambarkan dalam film ini.

Film yang diperankan oleh Viggo Mortesen (trilogi The Lord of The Rings, Psycho) ini diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama dari seorang novelis Amerika, Cormack McCarthy. Pada intinya, film ini mau mengambarkan mengenai perjalanan dua orang (ayah dan anak remaja) menyusuri puing-puing peradaban manusia yang tersisa dalam alur cerita yang maju mundur. Secara samar digambarkan bahwa pada suatu titik peradaban umat manusia mengalami transformasi yang luar biasa. Perubahan iklim yang sangat cepat merontokkan seluruh poros kehidupan manusia, dan ironisnya kita sering kali tidak menyadari ketergantungan kita pada siklus alam yang kita terima begitu saja).

Bagian awal film bercerita tentang satu keluarga kecil  (ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki remaja). Mereka bertiga harus bertahan hidup di tengah-tengah ketidakpastian akan apa yang sedang terjadi di luar sana. Dunia telah berubah dengan amat drastis. Alam tidak dapat diajak kompromi dan pranata sosial telah berubah tanpa terasa. Melalui peristiwa itulah manusia baru tersadar betapa tergantungnya ia pada alam. Segala sosiabilitas yang kita bentuk di muka Bumi ini ditopang kelangsungannya oleh ibu bumi.

Hal inilah yang menurut saya menarik dari film ini. Kita memang tidak akan menyadari bahwa sesuatu itu berharga hingga ia menyentak kita melalui pengalaman yang mengguncang. Kehidupan di muka Bumi ini seakan-akan kita terima begitu saja tanpa pernah menyadari bahwa ia sepenuhnya ditopang oleh sesuatu yang berada di luar diri kita manusia, dan sesuatu tersebut memiliki mekanismenya dan bahasanya sendiri. Adakalanya kita merasa bahwa kita adalah makhluk yang paling superior di antara seluruh makhluk di muka bumi ini (bahkan dari bumi ini sendiri). Namun, ternyata pemahaman ini keliru jika kita menilik fenomena-fenomena alam yang terjadi di sekeliling kita. Dalam kurun beberapa tahun terakhir ini, dunia dikejutkan oleh peristiwa alam yang luar biasa. Peristiwa-peristiwa yang seyogyanya mengoreksi dan menggugah kita untuk lebih mawas diri hidup berdampingan dengan mahluk hidup lainnya di muka Bumi ini.

Film ini selain mengeksplorasi dramatisasi yang menggoda simpati dan refleksi lingkungan hidup juga mencoba untuk menggangkat tema perjuangan hidup. Dikisahkan dalam film ini sang ibu pada akhirnya menyerah untuk sekadar bertahan hidup. Baginya hidup ini bukan hanya soal survivalitas, yang tidak memberi banyak ruang untuk menikmatinya. Akhirnya sang ibu meniggalkan anak dan suaminya untuk mati ditelan dunia yang tak menentu.

Hal ini bertolak belakang dengan pendirian sang ayah, yang ngotot untuk tetap bertahan bersama-sama dengan anak semata wayangnya. Bagi ayah, hidup ini harus terus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan, sampai hembusan nafas terakhir. Dalam sebuah dialog, sang ayah berpesan pada anaknya, “Jangan sampai nyala api itu padam dalam dirimu.” Maksudnya , sesulit apa pun keadaan yang sementara menghadang, janganlah kita sampai menyerah mengarungi hidup ini. Bagi sang ayah, hal ini ditopang dengan semacam imperatif moral, yakni, jadilah orang baik, seburuk apa pun situasinya, dan dua hal ini menjadi semacam kompas bagi mereka berdua dalam mengarungi kehidupan dan perjalanan yang sementara mereka tempuh.

Bagi saya, bagian ini menarik untuk disoroti, karena manusia memang adalah makhluk yang senantiasa memberi dan mencari makna. Victor Frankl, seorang psikolog yang lolos dari camp tahahan NAZI, bahkan berpandangan bahwa pemberian dan pencarian makna hidup mampu membuat seseorang bertahan dari badai yang paling dahsyat dalam kehidupannya. Hal ini berbeda dengan orang yang berhenti untuk memaknai kehidupan, berhenti untuk merefleksikannya, mereka akan mudah menyerah dan jatuh dalam keputusasaan.

Melalui film ini bolehlah dikatakan bahwa refleksi dan pemberian serta pencarian makna kehidupan tetap dimungkinkan betapa pun buruknya kondisi yang melingkupi seseorang. Implikasinya, secara etis orang tersebut tetap dapat menghasilkan putusan-putusan yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata untuk dirinya, tetapi juga orang lain. Di sini saya teringat imperatif moral Kantian yang menyatakan bahwa janganlah kita memperlakukan seorang pun semata-mata sebagai tujuan, melainkan sebagai subjek. Artinya, ketika kita sementara memberi makna terhadap kehidupan ini, kita juga memberi makna terhadap kehadiran orang lain. Secara kontras hal ini ditunjukan dalam film ini jika kita melihat sekolompok orang yang menyerah begitu saja untuk memberi makna terhadap hidupnya dan orang lain. Mereka pada akhirnya jatuh pada putusan untuk begitu saja mengonsumsi sesamanya manusia, bahkan menimbunnya.

Di akhir  film ini dikisahkanlah bahwa sang ayah menghembuskan nafas terakhirnya ketika mereka berdua tiba di pesisir. Akhirnya kematian merengut kita semua, tidak ada manusia yang abadi. Perjalanan yang ditempuh oleh kita semua dalam kehidupan ini akan berujung pada yang namanya kematian. Hanya tinggal sekarang kematian itu mau kita maknai seperti apa???

Silent Dead

In this silent moment I found something so precious

Dead is a wonderfull thing

A silent one

When you finally reach the final destination

The final end

And you just lay down, knowing you will die

Take that final breath and give all away

I think is true

life is just not about what we live here

All the vocabulary that we gave to this life is just temporary

There is something else after this

I know and I believe for sure even though I haven’t die

Look around us

All that things we say as happiness, misery, even humanity is going to end when we die

Hope that someday when I die

the silent dead would come to me


About this entry