Dokter

“Kamu kelak ingin menjadi apa?”

“Dokter.”

Ingatan saya mengembara ke masa-masa yang telah ketika saya masih menjadi bagian dari dunia anak-anak, dan terus membentang ke masa-masa yang belum lama berselang hingga saat ini, di sini ketika saya menulis semua ini di pagi perawan menjelang azan subuh. Ingatan tentang dialog antara dua manusia, dewasa dan bocah, atau bocah dua-duanya. Yang jelas, saya bukan salah satunya, karena saya tidak pernah bercita-cita menjadi dokter dan tidak pernah bertanya tentang cita-cita para bocah yang mungkin bahkan tidak tahu apa-apa tentang yang mereka katakan mengingat sebersit kekecewaan yang sering kali dimunculkan oleh jawaban klise bertajuk dokter. Tentu saja ada jawaban klise lain yang menduduki tiga besar, seperti pilot dan insinyur. Bagaimanapun, keduanya tidak mampu menyaingi dokter. Itu dulu, entah sekarang. Mungkin akan ada jawaban klise lain.

Tidak jarang saya bertanya-tanya tentang yang ada di dalam pikiran bocah-bocah itu ketika dengan enteng sekaligus begitu mantap menjawab “dokter” sebagai gambaran diri mereka di masa depan. Sepanjang pengalaman saya, betapa pun keras saya berusaha mengingat, tidak ada satu pun kepingan waktu yang menawarkan pemahaman tentang yang melatarbelakangi para bocah bercita-cita menjadi dokter. Tidak pula ada sosok yang begitu menginspirasi kami untuk mengikuti jejaknya. Ketika teman-teman saya memiliki cita-cita yang demikian, serial E.R. belum tayang di televisi, lebih-lebih Grey’s Anatomy dengan McDreamy dan McSteamy-nya, yang ada hanyalah Gray’s Anatomy yang tentu saja hanya menarik bagi dokter tulen dan sebagian orang yang tentu saja bukan anak-anak. Atau mungkinkah realitas yang demikian sekadar taksadar (unconcious) yang menyeruak ke permukaan serupa hantu perempuan bergaun tidur putih yang mencoba meloloskan diri dari kegelapan sumur tua di film The Ring? Tidak ada inspirasi, tidak ada motivasi, hanya sebentuk naluri purba untuk membantu sesama meloloskan diri dari jerat penyakit dan intaian maut yang sejatinya tidak terhindari. Sebuah ideal yang belum mengenal dan bersentuhan langsung dengan uang sebagai sesuatu yang realistis. Tanpa memikirkan ini-itu. Tanpa mempertimbangkan kemampuan otak yang berbeda-beda bagi setiap orang untuk menghafal sejumlah nama organ, penyakit, dan obatnya yang bisa saja membuat lidah keseleo. Tanpa membayangkan tekanan tidak kenal ampun yang mungkin hadir di ruang kuliah, praktikum, rumah sakit, kamar jenazah. Bermandi peluh bersimbah darah menyaksikan tangisan mendengar jeritan menghirup anyir. Dan mungkin juga bermuara pada kegilaan temporer atau permanen dan menjadi objek pengamatan para kolega sendiri. Tidak pula memikirkan ulang tentang fakta bahwa dokter adalah profesi paling angkuh dalam sejarah riwayat manusia.

Saya yakin Anda para pembaca tentu mengetahui arah pembicaraan saya. Jika pun tidak, dalam beberapa saat ke depan pasti memahaminya. Berikut ini adalah ilustrasinya:

Ilustrasi 1

Seorang laki-laki paruh baya dengan kemeja biru kotak-kotak renik, jas putih berpotongan khusus, bercelana hitam, dan bersepatu cokelat mengilap turun dari mobil. Setelah meyakinkan dirinya bahwa keempat pintu mobilnya terkunci dengan baik, ia melangkah menuju pintu utama rumah sakit. Tidak jauh dari tempatnya memarkir mobil, sosok yang serupa, tetapi lebih muda, juga turun dari mobil. Mereka saling mengenal,

“Pagi, Dok!” yang lebih muda menyapa, sambil membenahi dasinya.

“Pagi!”

Ilustrasi 2

Namanya Luna. Nama akhirnya tentu saja bukan Maya, tetapi Tic. Luna Tic. The hottest nurse in her generation. The sexiest hospital person. McBootylicious. Ia berdiri bersandar pada dinding. Berkali-kali ia melihat jam dinding bundar di dinding yang berseberangan dengan dinding tempatnya bersandar. Berkali-kali pula ia melihat ke arah pintu dengan sepasang mata Bambi-nya yang kata orang lebih indah daripada milik Anne Hathaway. Femme fatale. Innocent Siren. Miss I’m-gonna-satisfy-you-any-position. Durga Umayi. Penantiannya hampir berakhir ketika ia mendengar bunyi sol sepatu menapaki lantai dengan irama yang dikenalnya. Penantiannya benar-benar berakhir ketika laki-laki itu memasuki ruangan dan tersenyum kepadanya.

“Dokter!” ia bergegas menyongsong laki-laki yang berusia delapan tahun lebih tua darinya.

“Luna.”

“Lama sekali.”

“Saya harus mengantar anak saya ke sekolah. Maaf membuatmu menunggu.”

Ia hanya tersenyum simpul. Penuh makna.

Ilustrasi 3

Sepasang suami istri duduk cemas di ruang tunggu rumah sakit. Ribuan tahun telah berlalu sejak mereka memasuki ruangan itu. Begitulah yang mereka rasakan. Bukankah memang senantiasa demikian adanya waktu? Melayang lesat ketika ada bahagia raya dan merayap malas ketika ada duka lara. Seorang perempuan melangkah mendatangi mereka.

“Bagaimana anak kami, Dok?” kata si ibu.

It was death, he chose life,” katanya, menyitir film The Hours.

It is time for you to live,” kata si ayah latah menyitir film, kali ini Awake, “once again, my son.”

Selain dokter, adakah profesi lain yang menjadikan dirinya sebagai panggilan? Dunia dokter seolah tidak mengenal panggilan Pak, Bu, Mas, Mbak, Kak, Dik, Bang, Jeng. Dunia dokter seolah yang paling menginsafi salah satu filosofi Shakespearean: apalah arti sebuah nama. Dunia dokter seolah menjadi profesi yang begitu dekat dengan manusia dan kemanusiaan, tetapi tidak lagi manusiawi. Sad but true.


About this entry