Milkobama

Charming Baker in NYC, courtesy of Pat Magnarella and Earshot Media

This is the diary of hate. Begitulah pembuka film The End of the Affair karya Neil Jordan, yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Graham Greene. Sejak kali pertama menyaksikan film itu, saya berkeinginan bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang diawali dengan kalimat serupa. Keinginan yang demikian tidak muncul lantaran The End of the Affair adalah salah satu film dan novel favorit saya, tetapi lebih dikarenakan kalimat pembuka film itu berhasil memberikan hantaman yang mengesankan di awal sekaligus merangkum keseluruhan cerita.

Tulisan ini tidak memiliki hubungan langsung dengan film dan novel itu. Tulisan ini adalah bentuk pemaralelan kehidupan seorang tokoh di dalam film, yang dulu pernah ada, dan seorang tokoh di dalam kehidupan, yang masih ada dan tentu kelak tiada. Saya hanya memanfaatkan The End of the Affair sebagai pijakan awal untuk menghasilkan kalimat berikut: Ini adalah tulisan tentang liyan dan bahasanya.

Ada sesuatu yang terasa mengganggu ketika detik-detik perdana merangkai menit-menit pembuka film Milk karya Gus van Sant. Saya pernah mengalami hal serupa ketika menyaksikan The Hours karya Stephen Daldry. Hanya saja, gangguan pada Milk tidak disebabkan oleh narasinya seperti pada The Hours, tetapi oleh visualisasinya. Sebelum Milk, saya pernah menyaksikan karya lain van Sant, Good Will Hunting dan Elephant, dan sesungguhnya saya begitu ingin menyaksikan The Last Days. Kedua karya yang saya sebut pertama, mungkin yang terakhir juga demikian jika didasarkan intipan saya atas trailer-nya, tampil dengan visualisasi, atau bolehlah kita menyebutnya sinematografi, yang bersih, yang menghasilkan efek dramatik melankolik pada Good Will Hunting dan dramatik setanik pada Elephant. Efek dramatik juga sangat terasa pada Milk dalam bentuknya yang dramatik vulgar. Beberapa bagian film yang berupa footage realistik menghembuskan nuansa mencekam pada film ini. Belum lagi sekuen-sekuan yang memperlihatkan Harvey Milk yang berada di ruang temaram merekam isi relung pikirannya. Mereka serupa tanda-tanda yang disebar di sana-sini yang kelak bermuara pada akhir yang tidak seperti kisah Cinderella dan tokoh-tokoh fiktif lain yang hidup bahagia selama-lamanya di dunia mereka yang tidak mengenal kiamat.

Tidak ada tempat bagi liyan. Begitulah yang dibisikkan Milk. Seorang lelaki yang ingin menjalani hidupnya apa adanya ternyata harus membayar begitu mahal, bahkan hanya untuk meraih kemanusiaannya.

Yang menarik, pada saat Milk muncul ke permukaan diiringi puja-puji di sana-sini oleh manusia-manusia lain pemegang kuasa menyematkan bintang satu hingga empat bahkan lima, sosok lelaki nyata juga mengalami takdir senada. Tentu saja senada hingga saat ini, entah pada masa-masa mendatang.

Barack Obama begitu membius dunia dengan pesonanya sebagai, kata Yesaya Sandang, pengusung politik pengharapan. Apa pun itu, Milk dan Obama adalah lelaki-lelaki penguasa bahasa pembisik nurani. Nurani yang nyaris kehilangan harapan, terus-menerus menjerit dalam diam, dan mengingkan perubahan untuk kehidupan yang lebih baik. Mereka adalah lelaki-lelaki liyan yang hidup dalam sebuah dunia yang setiap bentuk pencapaian mutakhirnya diiringi oleh kandasnya kemanusiaan sebagai hakikat manusia, sebuah distopia yang bahkan lebih kelam daripada distopia terkelam para pemimpi dan jurucerita dari masa ke masa.

Bahasa menjadi salah satu kunci kecemerlangan Milk dan Obama. Statusnya sebagai liyan juga menjadi faktor signifikan keberhasilan mereka. Bahasa dan keliyanan pula yang pada akhirnya memandu peluru kematian merenggut hayat Milk. The affair has reached its tragic ending. And indeed that was the story of hate. Akankah hal yang sama terjadi pada Obama suatu hari nanti entah di mana?

~Bramantio


About this entry