Normal

Ini adalah kisah supersingkat tentang filosofi dispenser tiga pancuran. Berawal dari satu hari yang klise. Pagi yang tidak menawarkan apa-apa selain matahari redup tertutup awan hujan yang tidak seorang pun bisa memastikan akan luruh mencair membeceki apa-apa yang datar atau tidak, semilir angin yang menggerakgesekkan dedaunan dan tidak membawa kabar gembira tentang apa-apa dari siapa-siapa di seberang sana, orang-orang yang berlalu lalang sambil menebar aroma muda wewangian yang belum bercampur lelah, peluh, dan jenuh. Ruang kerja sesenyap kuburan harum kamboja di ujung gang buntu. Meja-meja dan kursi-kursi bosan. Vas-vas berisi bunga plastik berwarna pudar berlapis debu. Pendingin udara tanpa pengharum ruangan. Saya duduk di tempat yang sama sejak saya menjadi bagian dari rutinitas ini. Lagi-lagi sebuah klise. Menekuri laptop yang layarnya menyajikan ini-itu produk orang-orang yang hampir semuanya tidak saya kenal. Sebuah dunia yang bergerak dengan caranya sendiri. Ketik. Tunggu. Klik satu kali. Klik lagi. Tunggu. Terbuka. Seret sana seret sini. Klik. Klik. Dan klik… Di tengah-tengah hiruk-pikuk lalu lintas informasi itu, dua kolega saya, laki-laki dan perempuan, berjalan menuju dispenser. Ada pembicaraan yang tidak menarik bagi saya sehingga terlupakan begitu saja dan tidak mampu saya tuliskan di sini. Ada tawa kecil yang mereka bagi tentang sesuatu yang lagi-lagi tidak menarik bagi saya. Hingga…

“Tolong dong. Yang normal saja.”

“Yang normal?”

“Yang biasa.”

Si perempuan meminta tolong si laki-laki menuang air dari dispenser. Dispenser itu memiliki tiga pancuran: panas, dingin, dan yang disebut “normal” oleh si perempuan. Ini menarik bagi saya. Berdasarkan pembicaraan mereka, tanpa perlu mengaitkannya dengan segala bentuk jargon teori ini-itu, dapat disimpulkan bahwa “normal” adalah “tidak panas” dan “tidak dingin”. Dengan kata lain, menjadi “normal” adalah menjadi “biasa saja.” Jadi, yang “normal” tentu saja “tidak istimewa.” Dan hari klise itu pun memiliki nuansa yang berbeda ketika tercetak di dalam pikiran saya.

~Bramantio


About this entry