Teori Mie (Sekadar Perspektif Lain): Antara Diskursus Kultural dan Kritik Sosial

Noodle Theory

Ada semacam asosiasi yang diterima secara luas bila kita berbicara mengenai mie. Asosiasi tersebut biasanya jatuh pada dua hal, yang pertama Asia (ketimuran) dan yang kedua, instant. Yah, mie adalah salah satu kebutuhan/konsumsi pokok yang merupakan bagian tak terpisahkan dari beberapa kebudayaan di Asia  (benua yang kerap disebut sebagai wilayah Timur). Sebut saja China, Jepang, dan Korea yang kemudian merembet ke banyak kebudayaan lainnya. Walau kemudian dalam perkembangannya, asosiasi mengenai mie mengalami pergeseran menjadi sesuatu yang memiliki konotasi instant.

Sejauh teramati, dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan kebangkitan salah satu kekuatan besar di Timur, yakni di Negeri Tirai Bambu. Sebagai salah satu negara dengan tradisi komunis yang cukup panjang, China–semenjak era Deng Xiao Ping dengan kebijakan open door yang pertama kali diinisiasi pada tahun 1978–telah membuka diri bagi kehadiran berbagai elemen baru. Dan kini kita saksikan China tengah menggeliat layaknya Naga yang sedang bangkit dari tidur panjangnya.

Dari aspek perekonomian misalnya, China kini menjadi salah satu negara yang mesti diperhitungkan sepak terjangnya. Tiongkok bahkan boleh dikatakan berhasil menggabungkan apa yang selama ini dianggap mustahil oleh sebagian kalangan, yakni tradisi komunis dengan kapitalisme. Ia telah menjelma salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Dengan jumlah penduduk (baca: Kelas Pekerja) yang besar, China memiliki sumber daya manusia yang tumpah-ruah untuk diberdayakan. Sehingga bukan sesuatu yang aneh jika dari segi kuantitas produksi ia memiliki keunggulan. Ambil contoh sederhana, coba tengok di sekeliling kita dan perhatikan seberapa banyak perkakas atau barang-barang yang memiliki tulisan made in china.

Dan bukan saja dari sisi kuantitas, China sekarang juga sementara mengembangkan dan turut bersaing dalam urusan kualitas, hal ini nampak jelas dari pengembangan teknologi tinggi yang sedang dilakukannya. China kini merupakan salah satu negara yang mengembangkan teknologi informasi-komunikasi, mikroprosesor, teknologi luar angkasa dan juga nuklir.

Ada sesuatu yang menarik di balik fenomena ini. Ketika China–yang merepresentasi kultur timur–mulai menggeliat dan menunjukan sepak terjangnya, banyak kalangan memperbincangkan bahwa ada semacam gerak balik pendulum peradaban global dari Barat ke Timur. Bahwasannya kini peradaban Asia tengah dilirik, bahkan hendak diteropong secara lebih saksama mengenai hal ihwal apa yang sebenarnya tengah terjadi dengannya.

*

Sejauh terpetakan, pikiran Timur selalu di-vis a vis-kan dengan pikiran Barat. Pikiran Timur yang senantiasa mencari keselarasan dengan semesta dianggap berseberangan dengan pikiran Barat yang justru senantiasa mempersoalkan semesta.

Pikiran Timur secara distingtif lebih menekankan intuisi daripada akal budi, di mana pusat kepribadian adalah hati yang mempunyai pertimbangannya sendiri. Ia bekerja melalui simbol-simbol sebagai ungkapan konkret akan banyak hal dalam realita semesta. Tujuannya adalah untuk mencapai kebijaksanaan.

Di sini pikiran manusia merupakan instrumen dari alam semesta, sehingga pikiran tinggal mengafirmasi kenyataan hidup, di mana nilai hidup yang tertinggi berasal dari dalam. Dengan demikian, keharmonisan dengan alam adalah upaya terus-menerus dari dalam diri. Sedangkan pada alam pikiran barat lebih ditekankan metode pengetahuan berdasarkan akal budi, dan tujuan belajar adalah untuk menguasai ilmu. Begitu ilmu telah dikuasai alam pun dapat dikuasai. “Knowledge is Power” begitu kredonya.

*

Agaknya belakangan ini bagi dunia Barat ada semacam eksotisme tertentu dari ketimuran yang mengundang mereka untuk mengintip alam pikirnya. Eksotisme ini menyembul dalam suatu bentuk pertanyaan; bagaimana alam pikiran timur mampu mendamaikan ilmu pengetahuan dan ide mengenai kemajuan dengan keselarasan hidup?

Bagi sebagian orang yang dilatih dalam pikiran Barat, alam pikir Timur dianggap mampu memberikan keteduhan bagi pikiran. Semacam narkotik bagi jiwa, yang membawa ketenangan tertentu ketika mengkonsumsinya. (Secara satiris keterangan ini tidak sepenuhnya salah. Toh, sebagian besar produksi narkotik dunia memang terdapat di Asia (segitiga emas), walau keuntungannya sebagian besar ada di Barat).

Pikiran Timur bisa menjadi semacam medium Therapy di tengah-tengah hiruk pikuk dunia kehidupan modern yang identik dengan pikiran Barat (baca: modernitas). Tengok saja misalnya, maraknya kelas-kelas Taichi, meditasi, dan hal-hal sejenis–yang memuat alam pikiran Timur–yang diserbu oleh banyak orang modern.  Belum lagi kalau kita merujuk para motivator kini yang jelas-jelas mengambil inspirasinya dari hamparan kebijaksaan timur.

Namun selain eksotisme, alam pikiran Timur pun sebenarnya memberikan pada kita wajah despotisme dan nepotisme. Sebagaimana kita ketahui, China (dan juga banyak negara di Asia) memiliki sejarah militerisme yang kuat dan tingkat korupsi yang tinggi, sampai-sampai kemudian mereka perlu memberlakukan hukuman mati bagi para koruptor. Dengan kata lain, sebenarnya masih terdapat kontradiksi dan perdebatan dalam pikiran Timur itu sendiri.

Biar demikian, toh tidak dapat dipungkiri kalau dewasa ini terdapat kecenderungan gerak balik dari pikiran Barat menuju pikiran Timur. Ketika pikiran Barat–yang sering kali dianggap superior–mengalami kegoncangan dan berujung pada katastrofi, mereka mulai mencari rujukan alternatifnya ke Timur.

*

Hal-hal tersebutlah yang menurut saya secara “menyimpang” hendak dituju oleh Noodle Theory (NT). Lewat NT, Angki hendak masuk pada medan diskursus kebudayaan global dengan menunjukan kebangkitan alam pikiran timur dengan segala kontradiksi dan kompleksitas yang menyertainya.

Kebangkitan ini pertama-tama ia tampilkan dalam frame Sharky dan seri Golden Dragon. Baru dari sana kita temui salah satu kekuatan utama dari kebangkitan itu dalam Tomyam Worker. Lebih lanjut, kontradiksi dan kompleksitas yang diidap olah pikiran Timur ia tayangkan dalam Gun dan Noodle Teritory. Dan sembari berimajinasi, ia memberikan pada cita rasa estetik kita gambaran sedatif alam pikiran Timur lewat frame Therapy. Di sisi yang lain, melalui Superman is Dead Angki sementara menciptakan impresi mengenai alam pikiran Barat yang sedang berupaya mengurai alam pikiran Timur.

Selain itu, dapat kita temui pula pada frame-frame lainnya diskursus kebudayaan dalam langgam yang lebih umum. Bihun Park dan Crayon Sinchan mengandung ekspresi budaya pop yang dibawa dari Timur. Sedangkan Hang the Noodle merupakan gambaran betapa alam pikir Timur tergantung sedemikian rupa, dan tinggal kita memilih lalu mengambilnya untuk kemudian diolah.

*

Pada akhirnya, kekuatan dari rangkaian karya-karya NT ini terletak pada dimensi multiprespektifnya. Pada satu sisi ia berhasil menginisiasi diskursus kebudayaan, namun di sisi lain ia juga mampu memberikan kritik sosial pada tingkat yang paling elementer. NT menjadikan citarasa dan imajinasi estetik turut ambil bagian memasuki ranah diskursif kebudayaan kontemporer dengan cara-cara yang nyeleneh (memungut dan mengolah berbagai fragmen-fragmen yang diletakan dalam satu frame). Dan dari sana ia menghasilkan sesuatu yang lebih menggugah dan membawa kita pada alam reflektif, serta mampu membuat kita dapat mengambil jarak sesaat dari hiruk pikuk dunia yang sering kali memaksa kita untuk melaju dengan cepat. Oleh karenanya, Noodle Theory adalah teori mengenai diskursus kebudayaan dan kritik sosial. Satu-satunya kelemahan dari karya-karya Angki ini adalah, the Noodle Theory is still just a theory, you can’t eat it when you are hungry….  Enjoy….

~ Yesaya

 p.s.:  Karya-karya lengkap Noodle Theory dapat dilihat di sini:

http://www.garisart.com/post/exhibitions/noodle-theory/


About this entry