IHF 2011

Indonesia Herb Festival 2011

Melestarikan Sekaligus Mempromosikan Kekayaan Herbal Hayati Khas Indonesia

Kegiatan Indonesia Herbs Festival berlangsung tanggal 26 hingga 27 Mei 2011 di Bali. Kegiatan ini mengambil lokasi di dua tempat; pada hari pertama diadakan di Pecatu, New Kuta Beach, dan pada hari kedua diadakan di Museum Ubud. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama beberapa pihak. Inisiatornya adalah PDHMI (Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia) dan Graduate School Trisakti Institute of Tourism. Kegiatan ini didukung pula oleh SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu), Kementrian Pertanian dan PATA (Pasific Asia Travel Association). Adapun kegiatan ini berawal dari sebuah kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan alam, serta potensi herbal hayati Indonesia yang begitu kaya akan manfaat sebagai sarana perawatan kecantikan, pengobatan, minuman dan makanan tradisional. Kegiatan ini sekaligus hendak mempromosikan dan mengkampayekan kekayaan alam Indonesia, yakni ramu-ramuan tradisional sebagai salah satu produk unggulan dan khas bagi pariwisata. Kegiatan yang mengangkat tema The Lesson Learned from Indonesian Herb: Tasty – Healthy – Beauty ini sekaligus bertujuan untuk mengangkat dan memperkenalkan potensi kandungan kekayaan herbal hayati Indonesia kepada masyarakat internasional

***

Sebagaimana kita ketahui, Indonesia adalah wilayah yang beriklim tropis. Pengaruh iklim ini bukan saja potensial sebagai tempat kunjungan wisata, namun di sisi yang lain juga menunjang keanekaragaman hayati,  salah satunya adalah tanaman obat dan rempah-rempah. Sebagai wilayah yang menjadi persilangan budaya global, Indonesia -dalam perkembangannya- ternyata amat potensial bagi pertumbuhan benih-benih tanaman obat dari seluruh dunia, belum lagi jika merujuk langsung pada kekayaan hayati yang memang sudah ada sejak awal.

Kalau kita ingat kilas balik sejarah, Indonesia merupakan salah satu tempat yang potensial untuk perdagangan internasional sejak zaman dahulu. Walau kemudian karena kekayaan alam ini jugalah yang menjadi salah satu alasan bagi bangsa asing untuk menggeruk dan menjajahnya dalam kurun waktu yang tak sebentar. Namun biar begitu, ada hal-hal yang tidak dapat diambil dari Indonesia, yakni kekayaan ramu-ramuan tradisionil dan kulinernya. Kedua hal ini disadari atau tidak menjadi ciri khas yang terus terbawa hingga kini.

Melalui festival ini hal tersebut hendak dibangkitkan kembali melalui tiga kategori pendekatan: Tasty – Healty – Beauty. Ketiga hal ini merupakan satu paket kombinasi yang mampu mengangkat serta mempromosikan kekayaan khas Indonesia ke dalam jajaran pariwisata dunia. Dalam rumusan 5W+1H, kekayaan Herbs  ini dapat dimasukan ke dalam pertanyaan what to do (as well what to enjoy). Sebagaimana kita ketahui, selain mencari suasana “wisata”, para wisatawan juga mencari apa saja yang khas dari tempat tersebut. Kekhasan ini dalam wilayah marketing merupakan faktor pembeda yang memiliki nilai keunggulan untuk dijual.

Lebih jauh, dalam paradigma pengembangan pariwisata sekarang, mulai muncul kesadaran untuk mengintegrasikan apa-apa saja yang khas dari satu wilayah wisata ke dalam paket wisata yang ditawarkan. Hanya saja yang sering luput dari perhatian adalah kekayaan hayati yang terwujud dalam ramu-ramuan dan citarasa kuliner. Keluputan ini bisa jadi datang dari asumsi bahwa para wisatawan hanya ingin menikmati suasana dan mengunjungi situs-situs wisata yang ada, sehingga yang ditekankan di sini lebih pada hospitality serta perencanaan perjalanan wisata dan pengembangan daerah wisata. Namun jika ditelisik lebih jauh, kekayaan hayati olahan yang khas ini dapat diintegrasikan ke dalam paket wisata. Tentunya dalam bentuk yang telah dikemas sesuai tuntutan pemasaran. Dalam kaitannya dengan hal ini, IHF 2011 menggandeng para pakar marketing kelas dunia semacam Koppler dan Hermawan Kertadjaja yang teori-teori pemasarannya banyak dipakai juga dalam bidang pariwisata.

***

Pada sesi yang dibawakan oleh Dr. Hasanuddin  Ibrahim (Direktur Jenderal  Hortikultura Kementerian Pertanian) dan Prof. Murdijati Gardjito (seorang ahli pangan dari UGM) terungkaplah bahwa kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia amat beragam. Kekayaan alam ini pada satu sisi melahirkan langgam kekhasan mulai dari citarasa kuliner berkelindan dengan kultur masyarakat setempat. Di sisi yang lain terdapat manfaat yang besar dalam setiap kearifan lokal tersebut. Hanya saja kemudian seiring dengan berjalannya waktu dan masuknya segala sesuatu yang bersifat impor, hal tersebut lambat laun mulai ditinggalkan (walau tidak sepenuhnya). Coba saja kita lihat dewasa ini di Indonesia, apa-apa saja yang kita konsumsi sebagian besar terpengaruh dari pola instan,cepat saji, hingga gaya hidup “modern”.

Prof. Murdijati juga menandaskan, bahwa lewat pola makan cita rasa khas Indonesia, kita sebenarnya sudah mampu untuk mencapai pola hidup yang sehat, bukan hanya kelezatan yang diutamakan, apalagi keserbainstanan. Namun ia juga mengingatkan bahwa hal ini perlu dilengkapi dengan pengetahuan mengenai gizi seimbang. Ia memberikan contoh mengenai pola makan nasi di masyarakat Indonesia, “kalau belum makan nasi, sama saja belum makan”. Padahal menurutnya pola ini (makan nasi sehari bisa sampai tiga kali) dapat menyebabkan penumpukan karbohidrat yang pada akhirnya dapat memicu terjadinya penyakit-penyakit degeneratif semisal diabetes mellitus. Hal ini sebenarnya dapat saja diimbangi (untuk mengatakan tidak diubah sepenuhnya) dengan pola-pola makan lain yang juga khas Indonesia, seperti ubi, jagung, dan sumber-sumber energi potensial lainnya.

Di sini menurutnya dibutuhkan peran serta berbagai kalangan untuk melakukan kajian-kajian lintas disiplin yang mampu untuk memberikan penjelasan yang memadai bagi masyarakat. Di lain pihak, pemerintah juga mesti memberikan semacam perlindungan terhadap segala macam usaha yang hendak memaksimalkan pola khas masyarakat Indonesia tersebut serta mempromosikannya secara lebih optimal (alih-alih kita terus mengimpor segala sesuatu yang belum tentu lebih baik). Baru kemudian dari sana secara pariwisata dapat lebih dioptimalkan dan dapat menjadi fokus serta trademark wisata Indonesia. Dengan kata lain, kalau kita sendiri tidak terbiasa dengan pola khas Indonesia, tidak seyogyanya kita mau menyuruh orang lain untuk menikmatinya.

Pada sesi ini terungkap beberapa poin penting sebagai berikut:

  1. Indonesia sarat  potensi kekayaan alam khas dalam wujud berbagai macam olahan. Namun persoalannya sekarang adalah fokus masih saja diarahkan pada pengembangan ekonomi yang lebih dominan pada sumber daya alam habis pakai. Padahal masih banyak potensi sumber daya alam (kekayaan hayati) yang terbarukan yang dapat dioptimalkan melalui berbagai macam bidang (termasuk pariwisata).
  2. Seiring dengan berjalannya ide promosi kekayatan hayati khas ini, masih diperlukan penelitian dari hilir ke hulu yang sarat dengan inovasi serta interlinking dengan bidang pariwisata itu sendiri.
  3. Mesti ada perubahan paradigma dalam masyarakat mengenai pemahaman citarasa kuliner/konsumsi yang lebih mengedepankan citarasa lokal dikombinasikan dengan pengetahuan kelengkapan gizi.

***

Pada sesi yang dibawakan oleh Mooryati Soedibyo (pendiri Mustika Ratu) dan Windy Yang (Spa Lady dari Taiwan) dibahas secara simultan mengenai peranan herbs dalam bidang pariwisata, khususnya pada area health dan beauty. Kedua narasumber ini merupakan pelaku dalam bidang kesehatan dan kecantikan yang menggunakan produk-produk herbal khas. Sebagaimana kita ketahui, Mooryati Soedibyo merupakan tokoh nasional yang giat mengampayekan serta memodifikasi kekayaan herbal khas Indonesia ke dalam produk-produk modern hingga ke mancanegara. Menurut Mooryati, tanaman/tumbuh-tumbuhan untuk kepentingan kesehatan dan kecantikan yang tadi disebut herbal biasa disebut (dikenal) sebagai jamu di Indonesia. Baik herbal maupun jamu didapatkan dari bahan organik, yaitu bahan yang berasal dari tanaman hidup. Lebih lanjut ia memaparkan, terdapat +/- 8 ribuan jenis tanaman yang belum dimanfaatkan secara ortimal bagi kebutuhan kesehatan, pengobatan, kecantikan, aroma therapy, kuliner (makanan), bumbu rempah-rempah, dan lain-lain. Semua ini dapat dikaji lebih dalam melalui 2 model studi yang digunakan sebagai referensi:

a) referensi empirik (empirical study), yaitu studi berdasarkan pengalaman yang dilakukan melalui percobaan kepada masyarakat, melalui  proses panjang (ratusan atau bahkan ribuan tahun), dan b) referensi dari penelitian klinis (clinical trial), yaitu studi yang dilakukan pada sejumlah pasien untuk meneliti suatu kelainan kesehatan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Herbal setiap negara memiliki kandungan bahan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, pengertian herbal di negara maju, untuk suplemen dan kosmetika terdiri atas bagian tanaman semak-semak seperti daun-daunan, bunga-bungaan, dan biji-bijian yang sifatnya non-woody.

Indonesian herbal supplement (jamu/kosmetika) memiliki kandungan yang lebih lengkap karena ramuannya terdiri atas akar, kulit, dahan, kekayuan, daun-daunan, bunga-bungaan, biji-bijian dari bunga, buah-buahan, dan rempah-rempah. Dengan demikian, pengertian herbal Indonesia memiliki perbedaan kandungan dan khasiat yang lebih sempurna (typical distinguishes). Menurut Mooryati, ramuan herbal Indonesia berkhasiat dua arah (double effect), sebagai contoh: temulawak (Curcuma xanthorrhiza), dapat diminum sebagai jamu kesehatan, menambah nafsu makan, membersihkan darah (blood purifying effect), namun juga bisa dipakai sebagai bahan kecantikan (antijerawat). Untuk perawatan aroma therapy, akar wangi (lorosetu) digunakan sebagai campuran minyak untuk pijat dan baik untuk mereka yang menderita rematik. Tetapi bila dibuat kosmetika, sebagai minuman teh akar wangi, dapat mengobati rematik. 

Ketika Massage di SPA pelanggan sering diberi minuman wedang pala bagi mereka yang mengalami susah tidur (insomania), namum demikian, bila klien SPA dipijat dengan aroma therapy minyak pala, dia juga ternyata cepat tidur dengan pulas. oleh karena itu para leluhur kita mengajarkan hidup dan merawat diri secara holistik, yaitu kita tidak hanya merawat fisik kita saja supaya sehat (physical welness), tetapi kita juga menjaga kesehatan pikiran kita (mental well being) yaitu supaya menjaga ketenangan batin kita dengan keharmonisan diri kita dengan lingkungan. Di luar mistik dan kepercayaan mitos, melakukan gaya hidup yang sehat dan dengan menenangkan batin dan pikiran, kita dapat berpikir jernih dan membangun semangat hidup.

***

Pada sesi terakhir yang dibawakan oleh Prof.  Azril Azahari (Vice Director – Graduate School Trisakti Institute of Tourism) disampaikan mengenai “Memperkenalkan Minuman Herbal Indonesia sebagai Welcome Drinks.Welcome drink adalah representasi sambutan hangat dan apresiasi dari pihak hotel. Ini merupakan tanda terhadap pengunjung bahwa di hotel tersebut tamu akan benar-benar dimanjakan dan mendapat pelayanan prima. Maka welcome drink bisa dibilang mewakili ungkapan “kesan pertama yang begitu menggoda.” Minuman selamat datang di hotel merupakan minuman yang mempunyai rasa manis, asam, dan tidak pahit. Biasanya welcome drink  dibuat dari jus buah, soda, dan sirup tanaman herbal yang segar, dan diolah dengan cara dimasak, mixing, muddle, shaking, stirring. Dengan cita rasa khas tersebut, Indonesia sebetulnya kaya akan minuman herbal yang jika diolah, dimasak, dan disajikan dengan tepat sangat memenuhi kriteria sebagai welcome drink yang segar. Beberapa di antaranya adalah bandrek, wedang angsle, dan wedang jahe. Semua minuman herbal tersebut tidak saja tasty (rasa enak), tapi juga healthy (menyehatkan) dan beauty (membuat cantik)

Mengapa dengan Herbal?  Prof. Azahari mencatat paling tidak ada beberapa alasan kunci:

  • Salah satu PILAR kekayaan dunia.
  • Indonesia merupakan salah satu LABORATORIUM  tanaman OBAT terbesar di dunia.
  • Warisan nenek moyang  dari generasi ke generasi.
  • Racikannya menjadi penawar penyakit.
  • Pemakaian jamu sejak zaman dahulu bisa dilihat lewat peninggalan sejarah tulisan-tulisan di daun lontar, prasasti, dan relief candi.
  • Sebagai plasma nutfah asli Indonesia.
  • 80% produksi jamu mengandung temulawak, karena manfaatnya sebagai sebagai pelindung hati dan meningkatkan sistem imun.
  • Lebih 1.200 industri jamu, di antaranya 200 industri besar.
  • 30.000 spesies tumbuhan tropis, di antaranya 7.000 spesies berkhasiat obat.
  • Herbal berfaedah sebagai PROMOTIF (untuk meningkatkan kebugaran) dan sebagai PREVENTIF (untuk pencegahan).
  • Mengonsumsi herbal adalah salah satu cara paling efektif untuk menjaga kebugaran dan kesehatan.

Secara khusus menurut Prof Azahari, Indonesia dapat mempromosikan temulawak sebagai minuman selamat datangnya. Temulawak merupakan jamu yang sangat dikenal di sebagian besar daerah Indonesia.[1] Temulawak merupakan tumbuhan dengan beberapa karakteristik  sebagai berikut:

  • Zat tepung: 48.00 – 59.64 %  tertinggi pada ketinggian 240 m.dpl
  • Kurkumin: 1.60 – 2.20 %
  • Minyak asiri: 1.48 – 1.63 % terendah pada dataran tinggi
  • Dapat tumbuh: 5 – 750/1.000 m.dpl (lebih cocok untuk dataran sedang)

Beberapa hasil hasil kajian  yang berhasil dihimpun Prof. Azahari menunjukan bahwa temulawak memiliki banyak khasiat, seperti:

  • antistroke (Prof. Dr. Sidik, Apt., Universitas Padjajaran)
  • antiplak pada gigi (Prof. Jae Kwan Hwang, Biotechnology Yonsei University)
  • mengobati hepatitis dan radang hati, menyembuhkan radang empedu (Dr. Yaya Rukayadi dan Prof. Dr. J.K. Hwang, Yonsei University)
  • mengatasi gangguan kolesterol tinggi (Prof. Dr. Suwijiyo Pramono Apt., Universitas Gadjah Mada)
  • mengatasi gangguan pencernaan dan menambah nafsu makan(Dr. Yaya Rukayadi dan Prof. Dr. J.K. Hwang, Yonsei University)
  • mengusir radang sendi (dr. Nyoman Kertia, SPPD-KR)

Lebih lanjut, Prof. Azahari mencoba untuk mengklasifikasikan minuman selamat datang khas herbal Indonesia ke dalam 3 kategori:

  1. Hepato drink, dibuat dari rimpang temulawak segar yang direbus  bersama  jahe, kayumanis , pandan, dan gula. Dapat disajikan hangat maupun dingin. Cocok sebagai minuman selamat datang.
  2. Energetic drink, dibuat dari rebusan wedang uwuhan, kapulaga, kayumanis, sereh, cengkeh, dan gula. Disajikan hangat dengan khasiat menambah energi, stamina tubuh, dan menyegarkan.
  3. Immunity drink, dibuat dari  rebusan akar alang-alang, jahe, sereh, kayumanis, cengkeh, dan gula. Disajikan dingin dengan perasan jeruk nipis lebih menambah cita rasa segar dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meredakan panas dalam dan sakit tenggorokan.

Apa yang perlu dilakukan kemudian menurut Prof. Azhari adalah kajian fenotif dan genotatif dengan teknik biologi molekuler DNA & PCR ,dan memulai Gerakan Nasional Minum Temulawak dan Hari Kebangkitan Jamu Nasional.[2]

***

Pada akhirnya, keseluruhan rangkaian acara IHF 2011 ini hendak memulai suatu upaya membangkitkan kesadaran akan kekayaan herbal hayati khas Indonesia. Sebelum ia mampu kita integrasikan ke dalam dunia pariwisata, agaknya pemahaman ini mesti menjadi jamak dahulu dalam setiap masyarakat Indonesia. baru dari sana ia dapat kita tingkatkan ke dalam berbagai macam area, termasuk pariwisata. Sedangkan bagi dunia pariwisata sendiri, kekayaan herbal khas ini bisa menjadi satu kekuatan tersendiri untuk menarik minat wisatawan, tentunya dengan strategi pemasaran yang tepat. Di lain pihak, para pelaku dan pengambil kebijakan dalam dunia pariwisata mesti mulai memperhatikan aspek kekayaan herbal ini dalam setiap perencanaan dan eksekusinya. Dengan demikian kita dapat melestarikan sekaligus mempromosikan kekayaan herbal hayati khas Indonesia.

Denpasar, Bali

28 Mei 2011

~Yesaya


[1] Menurut saya, hal ini masih dapat kita perdebatkan, karena Temulawak bisa jadi merupakan hasil olahan khas yang hanya dikenal di Jawa dan sekitarnya. Bisa saja di daerah lain di Indonesia menyodorkan minuman selamat datang yang merupakan herbal olahan khas daerahnya.

[2] Lihat catatan kaki sebelumnya, pertanyaannya adalah mengapa seluruh Indonesia harus dipaksakan ke dalam satu minuman tunggal di tengah kekayaan kultural dan hayati yang begitu banyak?


About this entry