Khotbah, Ramadhan, Toleransi

Hari itu saya kembali mencetak klise yang tetap awet meskipun telah mengalami cetak ulang bertahun-tahun: mendengar khotbah Jumat. Bagi sebagian orang—mungkin—hal itu serupa pengalaman traumatis, dan lebih parah lagi terjadi satu minggu sekali, kecuali—tentu saja—ketika sedang menjadi musafir sejati atau sengaja memperpanjang jarak sedemikian rupa sehingga tidak merasa bersalah lebih-lebih berdosa menganggap dirinya musafir atau dengan sepenuh hati dan kesadaran total memilih bersidang Jumat di dalam pikiran dan batin. Trauma semacam itu dipicu oleh klise yang semestinya menghasilkan foto dengan nuansa adem ayem marem, adakalnya—bahkan cenderung sering kali—menjelma foto dengan warna-warna tajam yang membuat mata terpicing menahan intensitas terjangan tanpa kompromi benda-benda yang terabadikan dalam kefanaan. Telah menjadi rahasia umum, kemajuan teknologi ternyata tidak selalu sejalan dengan perkembangan alam pikir pemakainya, salah satunya tampak pada pemanfaatan pelantang pada khotbah. Hakikat pelantang adalah benda atau alat untuk melantangkan bunyi atau suara, hanya saja hal itu direduksi sedemikian rupa seolah menjadi sebatas aksesoris yang wajib ada melengkapi mimbar dan berfungsi sebagai gaman—senjata khas pamungkas—sang pengkhotbah. Terlepas dari isi khotbah yang terus-menerus berulang dari waktu ke waktu—pengulangan yang bahkan sampai pada taraf eksistensi narasi—dan mendatangkan kejemuan yang berlarut-larut, sang pengkhotbah—tidak semua tetapi persentasenya dapat dikatakan besar—tampak tidak sadar—atau justru sadar sesadar-sadarnya—tanpa sungkan menggelegarkan suaranya, berteriak-teriak tidak signifikan hanya untuk membuat jamaah tetap terjaga bukan karena mencermati isi khotbah tetapi terkaget-kaget, dan memekakkan telinga para jamaah dengan mengatasnamakan dan berlindung di balik predikat penyampai amanah tanpa bisa—atau mau—mengukur kuat lemahnya suaranya sendiri. Hal itu masih ditambah lagi dengan suara yang kadang cempreng sekaligus dibuat-buat supaya tampak berwibawa kebapakan keibuan—bisa juga dibaca sebagai semacam rasa minder—dengan mencipta intonasi a la pengkhotbah-pengkhotbah lain yang mungkin dianggapnya lebih kondang dengan menjadikan frekuensi kemunculan di televisi—khotbah kok dijual—sebagai tolok ukur. Mereka tidak paham—kali ini benar-benar tidak paham—bahwa suara mereka dapat mengiritasi pendengaraan dan membuat seseorang ­kemrungsung bahkan sebelum menginjak pada pembicaraan tentang dosa dan pahala.

Berkaitan dengan dosa dan pahala, telah menjadi klise pula bahwa sepanjang Ramadhan ini bermunculan segala bentuk perbincangan tentang dosa dan pahala. Pahala menjelma hitungan matematis—lebih pada kuantitas daripada kualitas—yang adanya seolah-olah tidak untuk direngkuh sendiri tetapi dieksplisitkan hingga hampir riya, parade pamer kebajikan, dan menyerupai sebuah arena pacu penuh peluh. Ramadhan seolah kehilangan keistimewaannya karena menjelma bulan yang serbaberlebihan. Puasa tidak lagi personal dan menjadi sesuatu yang dianggap layak dipamer-pamerkan dengan banyaknya akun jejaring sosial yang memasang status “Puasa hari ini lancar” atau “Puasa bawaannya lemes mulu”—ya eyalaaah, semua orang tahu puasa bawaannya lemes karena kurangnya asupan biang energi, supaya fresh minum saja es teh manis. Tarawih digeser derajatnya menjadi nyaris wajib dengan berkata-kata “Kok kamu ga tarawih sih?”—kadang diawali “Ihhh…” yang bernuansa merendahkan dan menganggap hina—atau “Tarawihmu sudah bolong berapa?” atau “Woooi… waktunya tarawih, jangan online terus!” Sudah semestinya manusia saling mengingatkan dalam kebaikan, tetapi tidak perlu disertai anggapan implisit bahwa orang-orang yang memilih jalan kebaikannya sendiri secara otomatis sebagai buron yang tersesat. Selain derajatnya digeser, tarawih pun menjadi semacam latihan di salah satu ruang fitness center. Bagaimana tidak, dua puluh rakaat sering kali selesai dalam waktu kurang lebih tiga puluh menit. Nyatanya banyak imam yang tampaknya lupa bahwa—sebagai salah satu rukun sholat—alfatihah semestinya dibaca dengan tepat yang tidak mungkin terpenuhi jika tempo pembacaannya selesat kereta api lepas tanpa masinis pada film Unstoppable. Lagi-lagi tidak ada kekhusyukan, lagi-lagi tentang mencapai garis akhir secepat-cepatnya tanpa memedulikan yang ada di antara takbiratul ihram rakaat pertama dan salam rakaat terakhir. Membaca kitab suci pun tidak terlepas dari perlakuan berlebihan, kehilangan kesyahduannya, bahkan secara tidak langsung memaksa yang tidak seiman untuk turut menyimaknya dalam ketidakmengertian akibat pelantang yang baru berhenti bekerja menjelang tengah malam untuk kemudian disambung menjelang subuh—saya membayangkan rasanya mungkin seperti dipaksa makan seloyang strawberry cheesecake berdiameter empat puluh centimeter ketika sedang diet ketat atau meminum selusin milkshake cokelat lengkap dengan satu skup es krim vanilla mengambang di atasnya padahal mengidap diabetes. Hal-hal yang membatalkan puasa juga mengalami ekspansi sehingga sedikit-sedikit keluar kata-kata “Puasamu batal lho” tanpa bisa membedakan antara yang membatalkan puasa dengan mengurangi pahala puasa. Mereka yang dengan entengnya menilai keberhasilan atau kegagalan orang lain dalam menjalankan ibadah seolah lupa—betapa mengagumkan manusia, Tuhan pun direduksi—bahwa penentuan pahala dan dosa adalah sepenuhnya hak Dia Yang Mahaluas. Hal senada juga terjadi pada berbuka puasa yang kesahajaannya sebagai pembatal puasa dilenyapkan begitu saja untuk digantikan dengan es campur ini-itu—yang tidak lagi memperlihatkan komposisi warna yang manis, yang penting kemampuannya untuk membunuh haus hingga membuat kelempoken—dan karnaval lauk-pauk—selera Nusantara dari Sabang sampai Merauke—yang kemudian tandas oleh rasa dahaga dan lapar kalap yang dengan berat hati harus diakui sebagai nafsu. Ironis. Seharian mati-matian menahan diri mengekang nafsu, menjelang malam harus kalah—atau mengalah dengan penuh suka cita—pada yang terbangkitkan oleh paduan rasa dan aroma yang berpose menantang di atas meja makan yang kenikmatannya—sedahsayat apa pun—sejatinya hanya berumur sepanjang lidah.

Hal-hal tentang khotbah dan Ramadhan tersebut membawa saya ke titik yang lain: toleransi. Selama ini kita mungkin memahami toleransi sebagai sebatas yang selama ini kita pahami, sebagai tidak lebih daripada tindakan pembiaran disertai penerimaan yang otomatis dan hampir pasrah. Toleransi seolah hanya dititikberatkan pada objek, bukan subjek, seseorang (subjek) membiarkan orang lain (objek) melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan kerangka berpikir subjek, objek boleh bertindak ini-itu, dengan “boleh” sebagai kata kunci. Hanya saja, jika ditilik lebih dalam, toleransi semestinya juga membebankan sesuatu kepada objek untuk mengimbangi subjek, kebebasan berekspresi objek toleransi dibatasi oleh “selama tidak merugikan orang lain (subjek),” dan merugikan di sini tentu tidak sebatas pada hal-hal material tetapi termasuk kebebasan. Hal itu tidak pernah benar-benar terjadi selama objek toleransi—dalam kaitannya dengan khotbah dan Ramadhan—masih dengan entengnya mengafirkan dan menjejalkan keyakinannya—melalui pelantang yang suaranya bisa terdengar hingga radius beberapa kilometer tanpa pilih-pilih gendang telinga siapa yang dimasukinya—kepada subjek yang menoleransi aktivitasnya. Ini bukan tentang benar dan salah mempertahankan keyakinan, tetapi tentang bagaimana menjaga perasaan pihak lain yang memiliki keyakinan berbeda. Kedamaian tidak mungkin mewujud secara nyata hingga inti selama masih ada beban mental mehanan bara dalam sekam demi menjadi pribadi-pribadi yang toleran. Baik subjek maupun objek perlu untuk membuka diri dan merendahkan hati untuk sama-sama mengamini: biarlah yang personal tetap personal dan tidak perlu dibawa ke ranah publik. Saya pun berharapa suatu hari nanti klise yang saya cetak akan menghasilkan foto dengan nuansa adem ayem marem.

~Bramantio


About this entry