Nyatakan Cinta

Minggu siang bagi saya adalah saat yang paling tepat untuk keliling kota—tentu saja tidak sekadar keliling tanpa tujuan siang hingga malam di atas jalanan menghabiskan bahan bakar—dan memanfaatkan waktu bersama—dengan tambahan –nya selalu terasa lebih manis. Berbeda dengan Sabtu malam yang hiruk-pikuk hingar-bingar untuk ukuran sebuah malam yang menurut mitos berumur lebih panjang daripada malam-malam yang lain meskipun sebenarnya tidak ada bedanya, Minggu siang menawarkan kelengangan yang tidak dimiliki Sabtu malam: jalanan menghadirkan ilusi lebih lapang, semilir angin—meskipun angin kering dan panas—tetap terasa lebih hidup, pepohonan di sepanjang jalur hijau bergerak lebih santai dengan sesekali menggugurkan dedaunan bukan untuk meneguhkan kematian tetapi justru semacam penahbisan lingkaran kehidupan, manusia-manusia lebih menghargai hayatnya dengan lebih banyak tersenyum—kepada orang-orang tercinta, rekan kerja, atau sekadar kenalan dari masa lalu—dan bernafas lamat-lamat, dan waktu seolah melambat sehingga usia Minggu siang tentu lebih panjang daripada Sabtu malam.

Dua minggu yang lalu saya—lebih tepatnya kami—mendatangi sebuah toko material yang menempati sebuah bangunan bereksterior masa lalu dengan satu misi: membeli cat dinding. Seperti halnya supermarket yang selalu menarik bagi kami meskipun hanya berkeliling dari satu lorong ke lorong yang lain, toko material juga menawarkan pesona tersendiri sehingga misi sederhana itu pun baru berhasil kami penuhi setelah sekitar dua kali putaran sempurna jarum pendek pada jam. Pilihan warna jatuh pada blue chiffon yang konon—kata petugas layanan pelanggan dengan wawasan tentang warna-warni dan kombinasinya yang membuat kami terkesan—bisa menghadirkan impresi luas pada sebuah ruangan. Terlepas dari kekononan itu, warna itu kami pilih karena memang sesuai dengan bayangan kami tentang mood yang akan dihadirkan warna itu pada sebuah ruangan dan mood kami pada siang itu. Mungkin juga nama blue chiffon menawarkan impresi tersendiri yang adem untuk blue—berbeda dengan merah yang membara meskipun merah terakota maupun kuning yang tetap menyilaukan penuh energi meskipun sepucat kuning telur yang matang sempurna—dan lembut melayang ringan semriwing untuk chiffon.

Selepas dari toko material, kami meluncur menuju mall favorit yang senantiasa tampak sepi sepenuh apa pun lapangan parkirnya. Di tengah perjalanan tebersit di pikiran saya untuk membelokkan Vito ke gerai keik di tepi jalan tidak jauh dari tikungan—saya kangen strawberry cheesecake-nya, yang kata seorang teman masih kalah enak dibanding gerai keik yang lain yang juga terletak di tepi jalan, hanya saja saya tidak sekadar mencari rasa, tetapi juga suasana dan nuansa. Menjelang tiba di gerai itulah inti tulisan ini terjadi—radio memutar sebuah lagu yang baru berkenalan dengan pendengaran saya siang itu, intronya yang mengaburkan identitas untuk bisa ditebak pada akhirnya luluh oleh suara vokalisnya yang bagi saya selalu terkesan tidak alami semacam falseto hajar-bleh-kebablasan. Lagu itu kemudian memunculkan dua hal di kepala saya. Pertama, ia memiliki pola serupa dengan salah lagu Vierra terdahulu—mungkin juga lagu yang lain yang tidak pernah saya dengar—yang saya lupa judulnya, hanya temponya yang berbeda, kali ini lebih lambat. Kedua, ada yang janggal selepas reffrain: “Sadarkah kau, ku adalah wanita. Aku tak mungkin memulai. Sadarkah kau, kau menggantung diriku. Aku tak mau menunggu.” Tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat itu jika saya hanya menganggapnya sebagai teks semata, tetapi menjadi wagu ketika rangkaian kata-kata itu dihadirkan oleh Vierra: hare gene masih menyibukkan diri dengan siapa yang semestinya ngomong terlebih dulu?

Jika pendengar hanya menekankan perhatian pada “Hari ini ku akan menyatakan cinta…,” bagian tersebut memang menampakkan adanya aksi—yang dalam hal ini dapat dibaca sebagai aksi perempuan, diwakili oleh suara Widi—menyatakan cinta, ada semacam pernyataan implisit bahwa perempuan juga bisa ngomong. Hanya saja ceritanya akan berbelok ke arah yang lain jika bagian tersebut dirangkai dengan bagian-bagian yang lain: “Sudah lama ku menanti dirimu. Tak tahu sampai kapankah. Sudah lama kita bersama-sama. Tapi segini sajakah. Entah sampai kapan. Entah sampai kapan.” Bait pertama lagu itu secara jelas menggambarkan sebuah keadaan dalam sebuah hubungan yang berada pada titik limbo—ada kebimbangan dan ketidakpastian yang dilatarbelakangi pihak pertama tidak membuat pernyataan apa pun dan pihak kedua mengharapkan pihak pertama membuat pernyataan, dan semakin runyam karena pihak kedua tidak mau membalik keadaan hanya dengan pertimbangan utama bahwa “[K]u adalah wanita” dan “Aku tak mungkin memulai.” Bahkan pihak kedua mengabaikan segala kemungkinan—yang sebenarnya selalu ada dalam segala sesuatu yang mengenal dinamika—dengan menyatakan “tak mungkin.” Seandainya ia mau melihat dengan cara padang yang berbeda, ia—atau mereka—tidak akan berada pada posisi “menggantung.” Pernyataan cinta pun akan lahir dengan lebih tulus tanpa disertai “Aku tak mau menunggu terlalu lama.” Tentang laki-laki yang harus memulai terlebih dulu bagaimanapun tampak tidak adil karena—secara tidak sadar dan tidak langsung—membebankan tanggung jawab yang lebih besar kepada laki-laki untuk mengawali sebuah langkah besar. Segala macam tradisi yang selama ini menjadi pedoman perilaku tidak selamanya wajib diamini—dan mausia perlu menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi kata “melestarikan”—karena sudah menjadi hakikat menusia untuk terus mengalami perubahan yang mau tidak mau adakalanya terjadi melalui mempertanyakan kembali, merombak konstruksi awal, bahkan menghancurkan nilai-nilai warisan generasi sebelumnya.

Yang membuat seseorang menghadapi kesulitan menyatakan cinta tampaknya adalah adanya formula yang berlaku di benak mereka: dengan menyatakan perasaan, secara otomatis ia akan mempunyai seseorang yang bisa dilabeli partner in love. Ketika seseorang menganut formula itu secara saklek dengan prinsip pokok’e, ia menolak kemungkinan akan adanya penolakan—yang tentu saja selalu berjalan beriringan dengan penerimaan—sebagai respon atas pernyataan cinta. Alih-alih perasaan ikhlas, nuansa egoislah yang mendominasi “momen nyatakan cinta,” dan seseorang seolah lupa—atau bahkan pura-pura amnesia—tentang “yang baik untuk seseorang belum tentu baik untuk orang lain,” termasuk dalam hal memberi dan menerima cinta.

Saya selalu meyakini bahwa hakikat menyatakan perasaan—dalam konteks tulisan ini adalah perasaan cinta—adalah menyatakan perasaan, bukan tentang respon atas pernyataan tersebut. Bisa dibayangkan bagaiman jika seseorang menunda-nunda menyatakan cinta—lebih-lebih hanya karena ia berpikir “Gue kan cewek” atau pertimbangan lain yang sifatnya sekadar memperumit hal-hal sederhana—dan mereka pun tidak pernah bersama dalam sebuah hubungan yang diharapkan. Lalu suatu hari—katakanlah sepuluh atau dua puluh tahun berikutnya—mereka bertemu lagi—mungkin keduanya sudah bersama orang lain—dan dialog ini terjadi—di sebuah balkon pada suatu malam akhir tahun atau di kursi beton sebuah taman berdanau penuh angsa atau di antara ombak yang melemah menyapu pasir putih pantai kala senja sekarat:

            “Ada yang ingin kubicarakan.”

         “Apa?” sambil memandang wajahnya dari samping disertai tanda tanya besar tidak kasatmata yang menggantung di da-lam kepalanya.

            “Sebenarnya sejak dulu aku menyukaimu.”

            “…”

            “Ya, aku mencintaimu,” menatapnya rapuh.

            “Kau tahu aku sudah bersamanya. Mungkin cintamu padaku lebih basar daripada cintanya, tapi itu tidak akan mengubah apa pun. Aku tidak akan meninggalkannya sampai kapan pun.”

            “Aku tahu,” katanya lirih, “Aku tahu.”

Betapa pahit, karena ia tahu bahwa mereka mungkin akan lebih bahagia daripada saat itu jika bertahun-tahun yang lalu ia mau jujur pada dirinya sendiri dan menyatakaan perasaannya.

Nyatakan cinta sekarang juga. Tidak perlu menunggu sampai segalanya berlarut-larut terlalu jauh tanpa kepastian yang jelas bahkan mencapai garis akhir bernama terlambat dan hanya menyisakan sesal yang mungkin terus terbawa sampai mati.

-Bramantio


About this entry