Kompatibel-Kompromi-Komitmen

Untuk kesekian kalinya ia mendengar cerita klise tentang tali yang putus paksa. Semakin klise karena tali itu tidak putus karena kedua ujungnya dihentak dengan sekuat-kuatnya berulang-ulang hingga bagian tengahnya lama-kelamaan menjadi getas lalu putus, tetapi karena ada kekuatan dari luar yang serta-merta memotongnya dengan gunting rumput berkarat yang bahkan tidak layak pakai.

Suatu siang ia menyapa seorang kawan melalui Yahoo! Messenger. Bahkan sebelum mencapai entri kelima, si kawan mengetik bahwa tidak ada lagi “cerita cinta.” Siang itu mereka tidak bisa banyak bertukar kata karena masih ada urusan lain. Seusai si kawan menutup akun YM, ia pun tidak bisa berpura-pura untuk tidak tertegun selama beberapa saat. Lagi-lagi alasan seperti itu yang muncul sebagai semacam pembelaan yang seolah dapat dibenarkan dalam hal putusnya tali. Betapa sayang, betapa malang.

Sekitar sepuluh jam kemudian, mereka melanjutkan pembicaraan, kali ini melalui telepon. Ada cerita yang meskipun tidak terlalu panjang dan tidak begitu mengharu-biru, tetap mendatangkan kembali riak-riak nuansa yang bahkan lebih kelam daripada malam tanpa bintang dan tidak kuasa untuk ditabiri oleh senyum yang terkesan santai.

Hingga hari ini, ia sering bertanya-tanya mengapa masih banyak orang yang seolah menganggap bahwa sebuah hubungan cinta tidak hanya cukup antara dua orang, dan merasa harus melibatkan pihak-pihak lain. Tidak jarang, sebuah hubungan yang sejatinya telah begitu solid, sebuah pencapaian yang tidak mudah setelah melampaui sekian lama kebersamaan di dalam surga dan neraka dunia, di antara godaan malaikat dan bisikan setan, ternyata dengan mudah kandas bahkan gugur dengan begitu mudah oleh sebuah kekuatan keji yang semestinya tidak berhak menentukan jalan hidup orang lain. Jika merunut sejarah pemikiran masyarakat kita, realitas yang demikian tidak hadir begitu saja.

Konsep “berbakti kepada orangtua” menjadi salah satu faktor yang cukup sering muncul berkaitan dengan putusnya tali. Berkaitan dengan hal itu, baik orangtua dan anak tampak telah memiliki kesepakatan dalam memahami “berbakti kepada orangtua.” Hanya saja, “berbakti” di sini kehilangan esensinya sebagai tindakan yang didasarkan pada kesadaran personal untuk menghadirkan sebentuk perasaan positif kepada objek bakti. “Berbakti” telah berubah bentuk menjadi semacam “membayar hutang,” dalam hal ini hutang anak kepada orangtua, yang diawali dengan semacam indoktrinasi bahwa setiap anak harus membayar kebaikan orangtuanya. Betapa pamrih, betapa keliru. Tidak semestinya orangtua mewajibkan anaknya untuk berbakti, termasuk menanamkan pemahaman kepada anaknya bahwa mereka harus berbakti.

Apabila seseorang mau sejenak membuka diri dan pikirannya, akan muncul pemahaman bahwa sesungguhnya orangtualah yang “berhutang” kepada anak, bukan sebaliknya. Tidak semestinya orangtua mengharapkan sesuatu dari anak mereka. Segala bentuk kebaikan orangtua yang tercurah kepada anaknya memang sudah seharusnya demikian, kewajiban yang semestinya disadari sejak mereka memutuskan untuk memberi nafas kepada sebentuk jiwa. Dengan begitu, anak yang berbakti sesungguhnya adalah serupa bonus bagi orangtua, bukan semacam hak: “Maxima debetur puero reverential” (kasih sayang yang berlimpah wajib diberikan pada anak).

Lebih lanjut, “kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtua” ternyata tidak selamanya benar. Dalam situasi orangtua yang masih menganggap bahwa anak adalah “milik” mereka, hal tersebut tidak pernah terjadi. Ada orangtua yang sebenarnya mengetahui bahwa anaknya bahagia dengan jalan yang mereka pilih, nyatanya dengan semena-mena menghancurkannya dengan alasan klise “untuk kebaikanmu, nak,” mungkin maksudnya kebaikan dari Hongkong. Betapa bebal, betapa dangkal. Tidak ada yang paling memahami yang terbaik untuk seseorang selain orang itu sendiri. Tidak semestinya pula seseorang hidup hanya untuk memuaskan orang lain. Yang baik atau terbaik bagi seseorang, orangtua misalnya, belum tentu juga baik atau terbaik bagi orang lain, utamanya anak mereka yang secara kasatmata merupakan generasi yang berbeda dari mereka dan memiliki alur berpikir serta kehidupan yang juga berbeda. Yang terjadi pada masyarakat kita sering kali adalah “kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtua, selama kebahagiaan anak sejalan dengan gagasan, bayangan, impian orangtua.” Secara otomatis, jika anak memiliki jalan kebahagiaannya sendiri yang nyata-nyata sangat bertolak belakang dengan gagasan, bayangan, dan impian orangtua, kebahagiaan itu pun menjelma malapetaka, aib, dan bahkan dengan mudahnya akan memunculkan “anak durhaka, kau!” dan surga pun menguap di bawah telapak kaki ibu.

Gagasan tersebut pada dasarnya berurat akar dalam tradisi panjang paternalistik garis keras yang premis mayornya adalah semua orangtua adalah orang yang tidak bisa salah dan yang paling mengetahui apa yang paling baik bagi sang anak. Dengan begitu, hal ini berujung pada pemaksaan kehendak dalam berbagai macam bentuk. Alih-alih dilibatkan dan diajak untuk bertukar pendapat serta pandangan, orangtua selalu saja menolak dibantah dan diajak berdialog. Jika tidak, tidak… jika harus, harus… dan akan ada sanksi yang mengikuti. Parahnya, sanksi yang mengikuti justru ada yang semakin membuat sang anak kian menderita. Namun pertanyaannya sekarang, benarkah orangtua tidak dapat salah? Tidak adakah cara lain untuk mengedepankan maksud “baik” orangtua daripada memaksakannya?

Di sisi lain, gagasan tersebut juga mendapat kontribusi dari tafsir yang kurang tepat dari suatu pemahaman metafisik yang lazim kita dengar: “Hormatilah ayah ibumu supaya lanjut usiamu di muka bumi ini” dan “Orangtuamu adalah wakil Tuhan di bumi ini untuk anak-anaknya.” Dua kata-kata sakti ini paling sering dijadikan andalan untuk menakut-nakuti sang anak. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah sama menghormati dengan tunduk karena terpaksa dan mesti terus membebek? Jika begitu, apa bedanya hormat dengan takut? Pada titik inilah kerap terjadi campur baur pemahaman antara keduanya, mirip dengan kredo Machiavellian: “Lebih baik ditakuti daripada dicintai,” atau dalam kata-kata Kaligula: “Oderint dum metuant” (mereka boleh membenciku asal mereka takut padaku).

Dalam gagasan metafisik ini terdapat pula lubang hitam menganga yang dapat menjerumuskan seseorang pada klaim kebenaran sepihak ketika nama Tuhan mulai dibawa-bawa. Anak dihadapkan pada konstruksi superego yang jauh melampaui bahasanya, sehingga ia mau tidak mau akan segan walau sebenarnya orangtuanya bukan Tuhan itu sendiri, ia hanya wakil, dan hal ini niscaya dapat mengerdilkan pemahaman ketuhanannya, hingga kelak konstruksi ego besar (Tuhan) itu akan mengalami sengkarut antrophomorfisme (Tuhan yang diproyeksikan melalui pengalaman kefanaan kita sebagai manusia, melalui orangtua misalnya). Dengan demikian, orangtua pun harus mahfum dalam menempatkan dirinya sebagai “wakil”, bukan sebagai Tuhan itu sendiri, karena sebagai manusia ia pun tidak luput dari khilaf dan keterbatasan visi.

Pikiran semacam ini dalam kondisi sosial politik memiliki pengaruh yang tidak kecil serta mengalami perdebatan yang sengit (lihat misalnya http://plato.stanford.edu/entries/paternalism/). Dalam kajian tentang civil society, perkembangan suatu masyarakat yang menghargai perbedaan, memiliki tingkat penghormatan terhadap pandangan orang lain, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesetaraan (egaliter) mulai terkonstuksi dari keluarga. Tidak heran jika kemudian kita saksikan di dalam suatu masyarakat yang terus-menerus memolakan gagasan paternalistik, kesetaraan, dan penghargaan akan menjadi sangat sumir, karena sejak awal anggota masyarakat tidak terbiasa dengan pengakuan akan kesetaraannya, dihargai pandangan dan pendapatnya.

Lebih lanjut, pola paternalistik, khususnya paternalistik keras, tidak memaksimalkan peran pilihan dan nalar yang bersemayam di dalam diri setiap manusia. Padahal, manusia merupakan rational self-interest yang pada akhirnya mampu mengadakan perlawanan terhadap monarki dan feodalisme sebagai momok utama kesetaraan. Di sini otonomi individu mesti ditekankan agar dengan demikian ia memiliki kekuatan untuk keluar dari setiap keadaan buruk dan masuk ke dalam kesepakatan masyarakat sipil demi memperoleh kehidupan yang lebih baik. Pada titik ini, kebebasan manusia dalam mengambil keputusan itu penting, sehingga hasil dari pengejawantahan kebebasan tersebut secara bernalar harus dihargai alih-alih ditampik dengan memaksakan tradisi yang tetap dilestarikan tanpa pernah digugat atau setidaknya dipertanyakan kembali.

Di lain sisi, pelanggengan pola-pola paternalistik keras akan terus mengkanak-kanakkan manusia dan berhenti pada tahap itu, ia tidak akan pernah dewasa secara utuh. Kedewasaan di sini diartikan sebagai kemampuan dan keberanian untuk menggunakan seluruh sumber daya intelektual yang dimilikinya. Manusia yang belum dewasa adalah manusia yang tidak dapat menggunakan intelektualitasnya tanpa bimbingan dan arahan manusia lainnya. Manusia semacam ini tidak dapat bertindak sesuai dengan pemahaman yang mendasar dari dalam dirinya sendiri atau sejalan dengan pertimbangan rasionya sendiri. Betapa labil, betapa kerdil.

Parahnya kemudian, situasi ini malah membuat manusia belum atau tidak dewasa tadi terkungkung dalam ketakutan dan kemalasan dengan dalih bahwa dengan begitulah ia akan aman, tanpa pernah sadar bahwa ia memiliki potensi untuk mandiri. Padahal, kemalasan dan ketakutan merupakan suatu kendala yang membuat manusia tidak dapat menjadi dewasa. Karena kemalasan dan ketakutan inilah manusia dengan mudah dapat ditaklukkan di bawah kekangan orang lain. Manusia yang tidak dewasa terlalu malas, takut, atau bahkan enggan untuk keluar dari zona aman yang sudah mereka rasakan, zona tempat mereka tidak perlu untuk berpikir dan menggunakan seluruh daya intelektualitasnya, melainkan hanya hidup di bawah arahan orang lain terus-menerus, dan pada akhirnya mereka bahkan menikmati keadaan tersebut (tidak dewasa). Dengan kata lain, jika mereka hidup di bawah arahan untuk terus mengeksklusifkan diri, bagi mereka itu adalah suatu keharusan dan kenyamanan tanpa pernah memikirkan dampaknya bagi dirinya dan orang lain. Hal inilah yang menjadi titik pangkal dari putusnya tali.

Alih-alih diperlakukan terus seperti anak kecil dan tidak pernah dibawa pada kedewasaannya, bukankah manusia dengan segenap potensi yang ada dalam dirinya lebih baik diarahkan kepada suatu tahapan dari ketidakdewasaan menuju kedewasaan, atau memang kita (atau orangtua kita) menginginkan manusia dan masyarakat yang terus tidak dewasa, tak matang? Jika ini maunya, jangan harap masyarakat kita akan mampu dan memiliki kekuatan untuk mengatasi problem-problem multidimensional yang tengah dihadapinya.

Setelah menelusuri jejak sejarah pemikiran ke sana-ke mari ia akhirnya kembali pada permasalahan cinta yang menjadi pokok perenungan di awal. Ia mencoba merumuskan sebuah trinitas yang tidak saling mengungguli, tetapi saling mengisi sebagai hakikat hubungan dua manusia: kompatibel-kompromi-komitmen. Tiga hal ini terinspirasi dari segitiga cintanya Sterngerg, namun dengan penerjemahan yang sedikit berbeda. Pada Sternberg tiga komponen tersebut adalah Passion-Intimacy-Commitment dengan penjelasannya masing-masing (lihat misalnya http://en.wikipedia.org/wiki/Triangular_theory_of_love), sedangkan pada pokok perenungannya ia hendak fokus pada tali yang putus tadi sehingga muncullah trinitas versinya.

Setiap hubungan cinta diawali dengan suatu bentuk ketertarikan: perjumpaan, percakapan, penampakan, interaksi, dan hal-hal lainya yang sepenuhnya terindera. Tidak dapat dipungkiri bahwa penginderaan adalah salah satu medium ketertarikan awal suatu hubungan. Judge the book by its cover tidak selamanya keliru, bahkan memang demikianlah adanya realitas, mata terlebih dahulu menangkap eksistensi, baru kemudian bisa memahami esensinya. Ada pula faktor-faktor lain yang mendorong kedua pihak untuk saling merapatkan diri, sebut saja kesempatan atau peluang. Dari sinilah dimulainya kedekatan yang semakin intens antara keduanya. Pada fase ini, aspek kejiwaan mulai tersingkap, siapa mereka sebenarnya mulai saling terkuak. Komunikasi mulai terjalin. Idealnya, pada fase ini kedua saling membuka diri pada level kualitas yang tidak lagi terindera sehingga darinya mulai dapat terbaca kompatibiltasnya. Penting untuk diingat pada fase ini, kejujuran adalah kata kunci signifikan. Jujur mengenai siapa diri masing-masing dan segenap aspek eksternal yang melingkupinya. Tanpa kejujuran, suatu hubungan hanya akan mengundang potensi keretakan yang kelak merembet ke mana-mana dan dapat berakibat fatal bagi salah satu pihak atau bahkan keduanya. Dengan kata lain, kedua pihak harus menjadi diri sendiri yang sebenarnya, sehingga dapat mengukur sejauh mana kompatibilitas pasangannya. Dan dari sana setiap pihak dapat merumuskan derajat kompromi macam apa yang harus dicapai sebelum masuk ke dalam komitmen jangka panjang.

Setelah kompatibilitas otentik tercapai, seiring sejalan intensitas atau keintiman yang semakin tinggi, baru kemudian dapat diupayakan bentuk-bentuk usaha apa yang dapat melanggengkan hubungan. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai kompromi. Kompromi akan semakin mudah diupayakan jika dibalut dengan keintiman yang konstan. Kompromi di sini juga berarti mau mengupayakan mencari titik temu serta mencari jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapi. Pada tahap ini, setiap pihak semestinya mulai mereduksi makna pasangan ideal dan berpikir ke arah yang lebih realistis. Sejatinya sebuah hubungan tidak ditentukan oleh seberapa banyak persamaan antara kedua pihak, tetapi lebih pada bagaimana keduanya mengompromikan perbedaan sekaligus menginsafi bahwa setiap individu hadir dengan keunikannya masing-masing. Akan selalu ada tarik-ulur dan tawar-menawar untuk menemukan kesetimbangan. Pada tahap ini pula berlaku filosofi wadah dan tutup. Setiap pihak semestinya mau dan mampu menempatkan dirinya sebagai wadah, bukan tutup. Jika seseorang bertindak sebagai tutup, ia cenderung membatasi ruang gerak yang ditutupnya, ada pengekangan terhadap salah satu pihak yang secara otomatis memaksa pihak tersebut untuk tidak menjadi dirinya sendiri. Sebaliknya, ketika seseorang berperan sebagai wadah, ia akan memberi ruang bernafas yang cukup lapang bagi pihak lain. Betapa murup, betapa hidup. Ruang di sini tentu tidak dipahami dalam pengertian tidak terbatas, karena konsekuensi dari setiap hubungan adalah adanya keterbatasan. Semembebaskan apa pun, di dalam setiap hubungan tentu ada ikatan-ikatan yang tidak selalu berupa hitam di atas putih, yang disebut komitmen.

Komitmen hadir atas kesepakatan dua pihak yang terlibat di dalam sebuah hubungan, bukan sebatas mengikuti tradisi dan konvensi. Ketika komitmen terbentuk, kedua pihak tidak lagi memiliki alasan sekecil apa pun untuk menarik pihak ketiga ke dalam hubungan mereka sehingga tidak pula ada “Bercanda kok. Dia cuma teman. Jangan dianggap serius” yang keluar dari bibir dan mulut salah satu di antara mereka. Komitmen adalah tentang menghormati, baik menghormati komitmen itu sendiri maupun menghormati pihak pasangan sebagai seseorang yang sebesar apa pun rasa cintanya tetap memiliki nurani yang secara alamiah mampu merasa cemburu, mengendus dusta meskipun tidak terkatakan, dan terluka karena hal-hal sepele. Dengan komitmen, diakui atau tidak, suka atau tidak, setiap pihak pada suatu ketika akan dihadapkan pada pilihan berkaitan dengan antara memilih pasangannya atau teman-teman dan keluarga. Pada sisi inilah seseorang sering kali mengalami dilema, mengalami konflik internal dalam hubungan mereka. Padahal, pada dasarnya mereka sebenarnya tahu siapa yang semestinya dipilih atau menjadi prioritas, dan apa konsekuensi jika memilih yang lain hanya dengan alasan setia kawan atau berbakti kepada orangtua. Lebih lanjut, melalui komitmen sejati, seseorang akan memilih pilihan pertama setiap kali ditempatkan pada situasi dan mendapat pertanyaan ini: “Saat ini kau sudah bersama seseorang. Lalu pada suatu hari kau bertemu seseorang yang hampir sepanjang hidupmu menjadi sosok ideal yang kauharapkan. Apa yang akan kau lakukan? Tetap bersama seseorang yang selama ini telah bersamamu atau beralih ke sosok ideal itu?”

Trinitas kompatibel-kompromi-komitmen tersebut mengandaikan para pelaku sebuah cerita cinta yang memiliki otonomi diri, pribadi-pribadi yang telah mencapai tingkat kematangan (kedewasaan) untuk menentukan sikap. Pribadi-pribadi ini mestinya memiliki pengenalan yang memadai mengenai siapa dirinya, di mana posisinya saat ini, dan antisipasi bentuk-bentuk perubahan diri ke depannya. Di lain sisi, trinitas ini juga mensyaratkan komunikasi yang mengindahkan kejelasan, kebenaran, dan ketepatan.

Pada akhirnya, sebuah hubungan yang ideal bukan tentang penyatuan mutlak dua dunia yang melebur untuk saling meniadakan, tetapi dua dunia yang saling beririsan dan bersinar lebih cerah. Masing-masing pihak telah mencapai keutuhannya sebagai pribadi, baru kemudian memutuskan untuk sepakat menjalani hidup bersama, sehingga tidak akan ada “You complete me” karena mereka telah penuh serupa lingkaran sempurna tanpa jeda, dan yang ada tidak lebih daripada “You make me a better person.

~Yesaya & Bramantio