Bukan Putri Salju

Matt Ridley melalui bukunya Genom menyatakan bahwa—secara ringkas, di sini—ada gen untuk hampir semua sifat manusia. Bertolak dari hal itu, mungkin selain gen-gen yang disebut-sebut Ridley, ada juga gen “suka-suka gue” yang dapat ditemui secara kasatmata—tanpa perlu memanfaatkan jasa mikroskop elektron yang tidak lebih rumit daripada sekadar memutar makrometer dan mikrometer untuk menyesuaikan fokus sekaligus tidak bisa ditemui di sembarang tempat atau sewaktu-waktu—pada manusia Indonesia. Tidak sekadar suka-suka gue dalam hal—salah satu yang paling mencolok—berlalu lintas dengan segala bentuk ketidakacuhan dalam berkendara: melawan arus dengan alasan putar baliknya terlalu jauh, menerobos lampu merah meskipun tidak sedang mengejar sesuatu yang berkaitan dengan hidup dan mati, tidak memakai helm dengan alasan jaraknya dekat dan tidak ada polisi di area itu, sengaja tidak menyalakan lampu ketika malam telah menggelap sempurna, tidak memberi tanda kelap-kelip ketika akan berbelok, dan mengabaikan hak para pejalan kaki dan penyeberang jalan. Gen suka-suka gue—atau mungkin bisa juga disebut gen pura-pura imbesil pada kasus tertentu—juga tampak pada penyebutan nama. Salah satu korban sepanjang masa gen suka-suka manusia Indonesia adalah Snow White yang namanya—setelah berhasil menyeberangi samudera puluhan tahun lalu untuk mencari kehangatan negeri tropis dengan bantuan para jurucerita—berubah menjadi Putri Salju. Sebuah kekeliruan mencolok telah diabaikan begitu saja lalu dilupakan untuk dikembalikan ke jalan yang benar: Snow White semestinya tidak menjelma Putri Salju, tetapi Putih Salju. Entah apa yang melatarbelakangi terjadinya hal tersebut dan siapa yang memulainya. Dalam dunia penerjemahan, perubahan-perubahan memang tidak terhindarkan karena memang ada jarak—yang tidak jarang begitu jauh dan tidak terjembatani, seperti pada pemakaian kala—antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Bagaimanapun, sungguh malang Snow White yang harus menerima tanpa bisa memprotes penjajahan tanpa henti atas namanya setelah ia berhasil lolos dari ratu narsisistik—yang terus-menerus bertanya “Siapa perempuan tercantik di dunia?” pada cermin yang tidak pernah berdusta meskipun menghadirkan ilusi—dan apel maut.

~Bramantio


About this entry