Nol Bukan Kosong

Dalam keseharian seseorang, pertanyaan “Berapa nomor teleponmu?” atau permintaan “Bagi nomor teleponmu dong,” merupakan hal yang biasa terjadi. Jawaban atau respon atas hal itu pun biasa: “Kosong delapan….” dan segala variasinya tergantung operator penyedia layanan telekomunikasi. Sekilas memang tidak ada masalah dengan hal itu—lagipula jika toh ada masalah tidak lagi signifikan ketika ia telah menjelma kelaziman dan diamini oleh para pendukung “Kosong delapan…”—tetapi jika dicermati ada yang janggal. Selama ini tampaknya ada penyamarataan nol dengan kosong—termasuk dalam mengisi kolom atau borang untuk menyatakan tidak ada—dengan sewenang-wenang, padahal nol jelas berbeda dengan kosong. Kosong adalah tidak berisi—meskipun pengertian sederhana ini bisa kembali dipertanyakan jika dilekatkan pada ruang karena bisa jadi segala yang tidak kasatmata tidak diperhitungkan sama sekali oleh kosong. Ditilik dari posisi kosong yang demikian, kedudukan nol adalah di kutub yang lain dengan jarak tidak terukur. Kosong senantiasa kosong dan tidak memiliki kuasa melakukan apa pun selain menjadi dirinya sebagai penanda ketiadaan yang kasatmata. Berbeda dengan kosong, nol adalah penanda yang memiliki energi besar untuk mengadakan sekaligus meniadakan: tambahkan satu nol setelah satu, akan hadir sepuluh; tambahkan enam nol setelah dua, akan hadir dua juta, dan seterusnya; kalikan nol dengan sebesar-besar satuan, yang muncul tentu hanya nol. Satu menggenapkan, nol mengembangkan menggelegarkan mengejutkan.

~Bramantio


About this entry