Recently Publish

Berpikir Paradoksial (Upaya Melengkapi Kontradiksi)

Penulis: Yesaya Sandang

Alkisah ada seorang pemuda yang bersikukuh untuk menerapkan keseluruhan pemahaman keagamaannya dalam keseluruhan praktek kehidupan manusia. Baginya segala hukum dan aturan yang terkandung dalam kitab suci agamanya adalah yang paling sempurna karena ia bersifat Ilahi(divine).

Alhasil, ia tak lagi mau mempercayai hukum-hukum tempat dimana ia berpijak kini, selama hukum itu bukan hukum yang ia sebut Ilahi tadi.  Baginya, hukum buatan manusia selalu mengandung cacat, dan oleh karena itu ia tidak perlu ditaati bahkan harus diganti dengan hukum Ilahi yang menurutnya paling sempurna itu. Yang paling sempurna mengalahkan yang tidak sempurna. Pemuda ini jelas kelihatan mempertentangkan secara ekstrim antara yang Ilahi dan manusiawi. Ia memilih untuk yang satu dan menolak yang lain. Baginya memilih yang satunya berarti menolak yang lainnya.

Sekilas, pemuda ini nampaknya amat mengindahkan suatu prinsip bernalar yang biasa dikenal sebagai prinsip non- kontradiksi, walau bisa jadi ia tak tahu apa sebenarnya prinsip bernalar yang sementara ia gunakan dan apakah prinsip itu memang dapat diterapkan begitu saja dalam setiap aspek kehidupan.

Dalam logika Aristoteles (seorang filsuf yang banyak meletakan fondasi prinsip-prinsip bernalar yang tepat, lurus, dan teratur) kita menemukan suatu prinsip yang dikenal sebagai prinsip non-kontradiksi. Prinsip tersebut menyatakan bahwa suatu benda tidak mungkin “sesuatu” dan sekaligus “bukan sesuatu itu” dalam hal yang sama pada waktu yang sama. Dengan kata lain, mustahil bagi suatu benda untuk menjadi hitam dan sekaligus putih, “A” dan sekaligus “-A”. Ungkapan simbolik  tersederhana prinsip ini adalah: “A bukan –A” atau “A ? -A”.
Menurut Aristoteles, suatu filsafat pertama (metafisik) mesti didasari pada suatu prinsip pertama dimana prinsip (hukum) utamanya adalah non-kontradiksi. Aristoteles menyatakan bahwa tanpa prinsip tersebut (non-kontradiksi) kita tidak dapat mengetahui apapun yang kita ketahui. Menurutnya pula, prinsip non-kontradiksi merupakan prinsip yang mesti kita indahkan dalam penyelidikan ilmiah, penalaran dan komunikasi. Pembahasan Aristoteles mengenai prinsip non-kontradiksi ini dapat ditemukan dalam karyanya Metaphysics IV (Gamma) 3–6.

(Selengkapnya baca di Majalah BASIS, Nomor 09-10, Tahun ke-60, 2011. Klik tautan di bawah ini untuk menuju form pemesanan)

+PESAN SEKARANG+

diambil dari:  http://www.majalahbasis.com/index.php/article/detail/161


About this entry