Hampir Martir

Sesaat menjelang kepergianku: Kataku kepadamu: Ini semua bukan tentang Neraka dan Sorga. Tapi kejujuran. Serupa kalbu yang terbebas dari belenggu.

Mungkin perlu durasi sepanjang selamanya untuk menyamarkan lalu melenyapkan citra yang kaugambar di dalam ingatanku dan kaugetarkan di permukaan jasadku.

Aku pun tak kuasa untuk tak mengabadikan hangat erat jemarimu pada jemariku pada suatu pagi nyaris buta seolah kita telah saling mengenal untuk kemudian terpisah sejak tarikan nafas pertama pascakelahiran.

Satu yang pasti kini: Kuingkari pesanku kepadamu: Jangan tumbuhkan rasamu melintasi ruang dan waktu malam itu.

Apa pun yang terjadi di antara kita pada masa yang akan. Kau selalu di kalbu. Karena kalbu tak kenal manipulasi. Karena kalbu tak seperti peranti mekanik robotik yang memungkinkannya menghapus berkas sebesar semesta raya. Karena kalbu ada untuk menyimpan kehidupan tak peduli apakah itu berarti duka atau bahagia.

~ Bramantio


About this entry