“Selamat Datang Cinta”: Sebentuk Perayaan Kehidupan

Pada salah satu jam goblok—sebuah rentang waktu yang bisa kurang dari satu jam atau berjam-jam ketika saya terlalu malas untuk memikirkan atau melakukan apa pun dalam pengertian memikirkan dan melakukan “yang sebenarnya”—saya memasukkan sejumlah kata dan frasa kunci suka-suka dalam kolom cari Youtube—itu pun dengan jemari yang bahkan mengeksekusi perintah—atau bolehlah disebut permintaan—otak dengan setengah hati. Salah satu frasa kunci menghasilkan sejumlah—baik yang berhubungan secara langsung dengan frasa kunci tersebut maupun sekadar semacam hubungan melalui pihak ketiga yang kadang bisa memicu reaksi what the…?!—rekam jejak yang terhimpun dalam semesta Youtube. Saat itulah saya menemukan sebuah klip video yang sebenarnya sudah cukup berumur—menurut kabar, lahir 2007—tapi baru saya ketahui eksistensinya: “Selamat Datang Cinta” AB Three.

Sejak kepergian—cieeeh, kepergian—Lusy, struktur AB Three sebagai trio sedikit-banyak mengalami perubahan—yang awalnya sopran, mezzosopran, dan alto—ah sok tahu kali nih orang—yang pada awalnya masing-masing dimainkan oleh Nola, Lusy, dan Widi tidak lagi menempati porsinya dengan penuh karena Cynthia dan Nola kadang memainkan nada yang sama—menurut telinga saya sih—dan Widi pun bahkan pada beberapa bagian memainkan sopran. Bagaimanapun, bagi saya, AB Three—atau sekarang Be3—adalah salah satu penyanyi dengan vokal terbaik dalam sejarah musik Indonesia. Apa pun itu, tulisan ini tidak akan berbicara banyak tentang siapa dan bagaimana AB Three, tetapi lebih tentang klip videonya—itu pun tidak akan panjang.

Kesan pertama yang dimunculkan oleh klip video ini adalah: liburan banget! Secara sepintas, bagi kacamata umum, klip video ini seolah tidak memiliki kaitan dengan liriknya. Jika memerhatikan judul dan aransemen musiknya, mungkin sebagian besar “pembaca”—pendengar dan penonton—memiliki bayangan tentang rangkaian gambar yang semanis gula-gula dalam sebuah wadah kaca bernama romantisisme yang mendayu-merayu, tetapi yang hadir justru rangkaian gambar seringan arumanis merah jambu yang dinikmati sambil tertawa lepas bersama teman-teman sambil sesekali diselingi celetukan “Lo tau ga seh?” atau “Lucu deh!” atau “Maksud loh?” atau “Ya engga laaah. Please deh!”: dibuka dengan nyiur dan pantai yang ditingkahi Matahari, dilanjutkan dengan adegan menggambar-entah-apa pada pasir pantai, dan selanjutnya… liburan!—bermain air tapi ogah basah, berkejaran dengan susah payah karena sebagian kaki terendam ombak, dan sadar kamera bahkan seolah saling berebut giliran tampil yang hampir kekanakan. Saya pun tidak menyangka klip video yang sederhana ini justru menarik.

Terlepas dari wardrobe yang beberapa materinya tampak tidak cocok dengan setting pantai dan mood liburan, klip video “Selamat Datang Cinta” adalah salah satu yang paling jujur yang pernah saya tonton. Cynthia, Nola, dan Widi tampak tanpa beban dan bebas menjadi diri mereka sendiri. Scene-scene bermain air dan berkejaran—khususnya yang menampilkan mereka dalam hampir siluet karena posisi kamera nyaris bertentangan tegak lurus dengan arah cahaya—memunculkan kesan tersendiri: kekinian sekaligus mengingat masa lalu dan “menggambar” masa depan, kebersamaan yang terjalin dan terjaga entah telah berapa lama, kebebasan dari kemelut duniawi, dan segala rasa yang dihadirkan oleh cinta itu sendiri. Melalui klip video ini “Selamat Datang Cinta” memperoleh sebuah interpretasi: Cinta tidak sekadar relasi, kebahagiaan, atau patah hati. Cinta adalah sebentuk perayaan kehidupan.

~Bramantio


About this entry