Immortal

Segala salib dan air suci tak akan kuasa menghentikanku. Sinar matahari pun tak akan sanggup menguburku dalam kegelapan malam. Tapi, kini segalanya telah usai. Kau mengabaikan kata-kataku. Aku pun harus mencari seseorang. Untuk memutus lingkaran samsaraku.

Masih segar dalam ingatanku. Bagai darah pada luka yang merekah. Pertemuan pertama kita. Kau berjalan menuntun anakmu di kegelapan malam. Di bawah payung hitam yang salah satu ujungnya tak lagi menyatu dengan rangkanya sehingga sesekali berkelepak ketika diterpa angin. Hujan telah reda dan hanya menyisakan gerimis halus yang tak pernah jatuh tegak lurus langit dan Bumi. Jalanan nyaris bersih dari hiruk-pikuk. Gelap yang tak pernah senyap. Tidakkah kau takut pada hantu-hantu yang bergentayangan? Tidak, katamu dengan mantap di kemudian hari. Kau lebih takut pada manusia-manusia. Manusia-manusia nyata. Bukan manusia-manusia maya. Aku menyapamu. Tanpa kata-kata. Tanpa lambaian tangan. Aku tak melihat ketakutan di sepasang mata sayu lelahmu. Tak seperti orang-orang yang kujumpai pada kesempatan-kesempatan sebelumnya. Yang terkejut. Pucat pasi. Menjerit. Lari tunggang-langgang. Atau langsung jatuh pingsan. Anakmulah yang justru bersembunyi di balik tubuhmu. Mendekap rokmu erat-erat. Mengintip dengan sebelah mata. Tidakkah kau merasakan sesuatu yang lain pada waktu itu? Mungkinkah hanya anakmu yang merasakannya? Indera anak-anak selalu lebih peka. Bukan karena mereka masih suci seperti kata orang-orang, tapi karena mereka belum terjejali oleh omong-kosong duniawi. Aku menawarkan diri untuk mengantarmu pulang. Begitu saja. Tanpa perkenalan. Tanpa basa-basi. Berjalan bertiga di bawah bayang-bayang cecabang pohon yang bergetar malas merasakan dingin. Aku melihat yang tak kalian lihat. Makhluk-makhluk seperti aku yang bergerak seiring angin. Tanpa bunyi. Tanpa desis. Merapat di dinding berlumut. Menunggu di dalam gelap lorong-lorong sempit. Merayap di tubuh-tubuh pohon. Hingga akhirnya berdiri tepat di belakangmu. Memeluk lembut. Melenakan. Menghembuskan nafas yang tak hangat. Dan menancapkan rasa itu dalam-dalam. Kenikmatan yang penghabisan.

Yang kausebut rumah hanyalah sebuah kamar. Tak besar. Di ujung jalan. Rumah-rumah. Tanpa jeda. Tanpa sela. Aroma asap rokok para penjaga malam. Lenguh tertahan menanti untuk meledak. Cericit tikus-tikus yang berlarian menyambung hidup tanpa duka. Kerik jangkrik-jangkrik yang sekadar memenuhi takdir. Kelepak sayap para sahabat. Lampu kuning redup menyala sepi di tiang uzur. Kau menempati kamar itu selama satu tahun terakhir. Sejak kau terusir dari rumahmu. Sejak kau bekerja sendiri untuk hidup kalian berdua. Kau bercerita tentang suamimu yang hilang. Tanpa pesan. Tanpa jejak. Kau yakin suamimu tak lari bersama perempuan lain. Aku sendiri tak yakin. Suamimu berangkat sebelum jam enam pagi. Minum segelas kopi pahit. Seperti biasa. Mengemudikan truk barang ke luar kota. Lalu kembali ke rumah sebelum malam benar-benar kelam. Tapi, selalu ada perkecualian. Malam itu suamimu tak pulang. Kelak kau pun mengetahui dari orang-orang bahwa truk yang dikemudikan suamimu pun raib. Beberapa hari sebelumnya ia mengatakan padamu hidupnya tak lagi aman. Ada yang selalu mengawasinya. Entah memang benar demikian. Entah hanya perasaannya. Pembebasan lahan adalah akar permasalahannya. Suamimu adalah yang paling lantang menolak. Tidakkah ia tahu risikonya? tanyaku padamu waktu itu. Kalau ia mencintai kalian berdua, ia seharusnya tak melakukan hal itu. Justru karena ia mencintai kami ia melakukan hal itu, katamu. Tapi kini kau sendiri. Tidak apa-apa, katamu, setidaknya aku tahu ada seseorang yang pernah berjuang sampai mati untukku dan anakku. Aku iri pada suamimu. Aku iri pada kalian.

Sejak saat itu aku sering menghabiskan waktu bersama anakmu. Menemaninya kala malam. Kau tak perlu lagi menitipkannya ke salah satu temanmu. Atau mengajaknya ke tempat kerjamu yang tak layak bagi anak-anak. Ajeb, ajeb, kata anakmu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengangkat telunjuk kanannya di depan wajah. Aku tahu maksudnya. Kami tak banyak bicara. Tanpa televisi. Tanpa radio. Anakmu selalu sibuk dengan buku gambar dan krayon-krayonnya. Aku selalu sibuk dengan pikiran-pikiranku sendiri. Tentang kau. Tentang anakmu. Tentang diriku sendiri. Keabadian. Rasa lapar. Leher itu. Darah. Segelas susu bisa menenangkanku. Juga anakmu. Dengan sedikit gula. Aku pun pergi sebelum kau tiba.

Satu kali aku pernah tertidur. Di atas karpet butut dan sedikit apak tempat aku biasa menemani anakmu. Ada lubang-lubang kecil di permukaannya. Entah dimakan kutu. Entah dimakan bara rokok. Rokok siapa? Aku tak menyadari kedatanganmu. Ketika aku bangun, kau telah memindahkan anakmu ke tempat tidur kalian. Di sudut kamar. Merapat pada dinding-dinding kusam. Di bawah langit-langit keruh. Kau mendekap anakmu. Apakah kalian memimpikan hal yang sama? Kehidupan yang lebih baik? Seorang suami? Seorang ayah? Sebuah rumah yang sebenar-benarnya rumah meskipun tak besar? Aku mendekati kalian. Sebagian wajahmu tertutup oleh rambut. Aku merapikan rambutmu. Aku melihatnya. Lehermu. Begitu jenjang. Begitu putih. Tanpa cela. Tanpa noda. Hanya bayangan kenikmatan. Darah. Aku mengelus lehermu. Darah. Aku mendekatkan wajahku ke lehermu. Darah. Aroma yang begitu kukenal. Darah. Kucium satu kali. Darah. Lalu berhenti. Cermin retak di seberang tempat tidur menghentikanku. Aku selalu merasa lemah setiap berjumpa cermin. Karena cermin tak pernah berdusta. Kau membuka mata. Tanpa kaget. Tanpa panik. Kau justru membelai wajahku. Aku masih beku. Kau mengikuti arah mataku. Kau pun melihatnya. Aku memandangmu. Tepat di sepasang mata sayu lelahmu. Kau tersenyum.

Panggilan itu terus-menerus terngiang di telingaku. Menghantui jam-jam kehidupanku. Lehermu. Desir sungai darah yang mengalir deras dan bercecabang di baliknya. Kau mengetahui hal itu. Tapi, kau tak pernah menghindariku. Aku masih datang ke kamarmu setiap malam. Menemani anakmu. Beberapa kali aku tak datang. Kau menanyakan alasanku tak datang. Aku tak mengatakan apa-apa. Suatu kali kau menggandeng tanganku. Kita duduk di karpet butut dan apak. Kau menatap jauh ke dalam mataku. Tak untuk mencari yang tersembunyi. Tak untuk menemukan jejak-jejak masa lalu. Aku tak sanggup membalas tatapanmu. Kau meremas lembut tanganku. Kau berkata, tidak apa-apa. Bagimu. Bukan bagiku. Aku semakin tersiksa. Aku ingin meninggalkanmu dan anakmu. Tapi, aku tak sanggup. Aku ingin terus bersama kalian. Aku tak ingin menyakiti kalian. Aku ingin terus menjaga kalian. Aku tak ingin menjadikan kalian seperti aku. Aku ingin mencintai kalian. Ini siksa yang teramat sangat. Melebihi salib. Melebihi air suci. Melebihi sinar Matahari.

Aku pernah disekap di puncak menara. Siksa mahadahsyat. Tanpa rehat. Tanpa ampun. Pintu raksasa berangka salib. Jendela-jendela besar. Jeruji-jeruji yang dialiri air suci. Sinar Matahari seiring pergerakan Bumi. Merayap. Mengerikan. Membakarku luar dalam. Tanpa darah. Tanpa gairah. Hanya makanan-makanan manusia. Pagi dan malam. Diantar oleh anak-anak altar utusan sang Pendeta. Aku memberimu kesempatan kedua, katanya. Ia tak membunuhku. Ia menyiksaku. Beruntunglah manusia-manusia yang bisa membunuh dirinya sendiri. Rantai di kedua kakiku benar-benar membelengguku. Tak bisa kuraih air suci untuk kuteguk. Tak bisa kupatahkan jeruji-jeruji untuk kutancapkan di jantungku. Tak bisa kuceburkan tubuhku seluruhnya ke dalam lautan sinar Matahari. Lama. Aku pun terpaksa berubah. Terpaksa. Dan bebas.

Tak ada yang bisa mengingkari takdir. Demikian pula aku. Siksaan-siksaan di menara tak bisa mengubahku. Kenangan-kenangan menyakitkan itu luntur bersama waktu. Waktu dalam hitungan abad. Aku pun kembali ke takdirku. Mencintai keabadianku. Mencintai darah. Merah yang begitu hidup. Mengembara dengan satu tujuan. Darah. Merayu perempuan-perempuan elok. Darah. Merayu laki-laki rupawan. Darah. Lebih sering tanpa rayuan. Lagi-lagi darah. Terbang. Merayap. Menyelinap. Mengejutkan. Mendekap. Menancapkan. Menghisap. Tak sampai kering. Tak sampai mati. Menghisap sampai mati berarti merayakan kematianku sendiri. Aku tak ingin mati. Aku ingin melakukan pembalasan. Membuat manusia-manusia merasakan yang kurasakan. Merasakan ditinggalkan orang-orang tercinta. Merasakan sepi sampai mati.

Aku kehilangan ibu dan bapakku ketika usiaku begitu muda. Mereka tewas dalam sebuah pertempuran besar yang bukan urusan mereka. Kelurgaku dihancurkan begitu saja. Tanpa bimbang. Tanpa ragu. Aku bertahan hidup dari satu rumah ke rumah yang lain. Mengiba kasih sayang yang mungkin masih tersisa. Mengerjakan apa pun yang bisa kukerjakan. Bertahun-tahun. Hingga aku mencapai titik itu. Titik terlelah. Titik terendah. Hidup tak lagi bermakna. Hidup tak lagi layak untuk diperjuangkan. Aku memilih mengakhirinya. Itu pun gagal. Ia menghentikanku. Pejamkan matamu dan kehidupan baru akan menjadi milikmu, katanya. Aku menurutinya. Sakit mahadahsyat. Saat itu aku berpikir begitulah rasa kematian. Aku membuka mata. Tanpa cahaya. Tanpa warna-warni. Segalanya menjadi hitam, kelabu, dan putih. Kecuali darah. Dan kehidupan baruku pun dimulai. Mencari warna selain hitam, kelabu, dan putih. Merah.

Aku bisa membuatmu abadi, kataku satu kali. Hidup akan menjadi jauh lebih mudah. Yang kaubutuhkan hanyalah darah. Darah. Sesederhana itu. Kita bisa menjadi sebuah keluarga pengembara. Membesarkan anakmu. Anakmu yang mungkin juga akan menjadi anakku. Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tanpa beban. Tanpa ikatan. Menyeberangi lautan-lautan luas. Melintasi dataran-dataran tandus. Menjumpai orang-orang. Memberikan pilihan kepada mereka. Kematian atau keabadian. Melihat perubahan-perubahan besar dan kecil pada wajah Bumi. Melihat kota-kota tumbuh dan hancur. Melihat peradaban-peradaban terbit dan tenggelam. Menjadi saksi sejarah-sepanjang-masa manusia.

Suatu hari kau memutuskan pindah ke kamar lain dengan pemandangan keluar yang lebih baik dari kamar sebelumnya. Tapi, itu justru menjadi awal malapetaka. Kalian pindah ketika aku sedang menyelesaikan urusan di kota lain. Ketika kembali pada suatu senja, aku melihat kau terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Anakmu menangis sesenggukan di sampingmu. Kau melihat ke arahku. Aku berdiri di ambang pintu. Sepasang matamu tak lagi menyimpan bara. Kau tersenyum. Senyum pucat. Ada yang salah, pikirku. Kupanggil namamu. Kupanggil namamu supaya kau mengundangku memasuki kamar barumu. Lupakah kau pada kata-kataku? Atau kau sengaja? Kau memutuskan pindah kamar ketika aku tidak bersama kalian karena kau mengetahui semua itu akan terjadi? Aku tak mampu memasuki kamarmu jika kau tak mengundangku. Aku beteriak berkali-kali supaya kau mengundangku. Tapi, kau tetap saja diam. Kau memalingkan wajahmu dariku. Kau membelai kepala anakmu. Kau menatap langit-langit keruh. Matamu berkedip-kedip lemah. Titik-titik keringat lahir di dahimu. Lalu tubuhmu bergetar. Tanpa erang. Tanpa desah. Matamu pun terpejam. Kali ini tak untuk terbuka lagi. Mengapa kau melakukan semua itu? Aku bisa memberi hidup untukmu. Abadi. Kini usai sudah penderitaan. Bagimu. Bukan bagiku. Para tetangga mulai berdatangan. Mata-mata jelalatan penuh prasangka. Kasak-kusuk. Bisik-bisik curiga. Mungkin kau mati karena ini. Mungkin kau mati karena itu. Siapa pula laki-laki bodoh yang hanya bisa berteriak-teriak di pintu kamarmu. Malang sekali anakmu karena beribu kau. Ingin rasanya kutumpas mereka semua. Mengubah lorong kumuh ini menjadi lebih kumuh dengan genangan darah. Tapi, anakmu mengubah niatku. Sepasang mata besar yang begitu jernih. Tanpa angkara. Tanpa dendam. Ia meraih tanganku. Menggandengku pergi. Berurai airmata. Meninggalkan orang-orang. Meninggalkanmu.

Telah kutemukan seseorang yang akan memutus lingkaran samsaraku. Aku menghubunginya beberapa hari yang lalu. Aku menjelaskan segalanya kepadanya. Aku menitipkan anakmu kepadanya. Aku mendengar anakmu satu kali memanggilku ayah. Tapi, kali ini anakmu tak akan mengubah niatku. Aku sudah terlalu lama menderita. Harus berakhir. Aku siap. Tanpa enggan. Tanpa sesal. Aku tak akan melawan. Dengan senang hati aku akan mengizinkan pasaknya menembus jantungku. Dari abu kembali ke abu. Dari debu kembali ke debu. Demikian pula aku.

~Bramantio


About this entry