Hellboy II: The Golden Army: Dari Cerita Pengantar Tidur, Unus Mundus, Hingga Refleksi Nasib Bumi

Tujuh tahun yang lalu ketika saya menyaksikan Hellboy—ya, Hellboy yang perdana, bukan yang kedua—kali pertama, saya mendapati sebentuk pesona yang tidak saya peroleh dari film-film lain dengan sosok-tidak-biasa—bolehlah disebut superhero untuk memudahkan—sebagai karakter sentral pada periode sebelumnya, semasa, maupun sesudahnya. Pesona yang tidak hadir melalui Hellboy yang wujudnya—berwarna merah-hampir-darah-daging-segar, memiliki sepasang bekas tanduk, berekor, bertangan kanan godam-batu, potongan rambut bergaya Samurai, slengean, penggemar cerutu, sekaligus penyayang kucing—lebih tepat disebut antihero atau supervillain, bukan pula melalui segala efek buatan yang membangun keseluruhan cerita dan memanjakan mata melambungkan imajinasi, tetapi lebih pada bagaimana sejumlah unsur magis-fantastis membentuk struktur sebuah dunia komikal-artifisial sekaligus—sesungguhnya—dekat dengan realitas manusia. Bureau for Paranormal Research and Defense dan sejumlah karakter OMG! lain yang hadir—Abe Sapien si hibrida manusia dan ikan yang ketika bertarung ternyata memiliki gaya capoeira, Liz Sherman dengan pyrokinetic-nya yang jauh lebih wah daripada Charlene ‘Charlie’ McGee dan Saint-John Allerdyce, Rasputin si penyihir plontos stylist, Kroenen yang hidup tanpa jeroan dan hanya berupa tubuh berisi pasir dan mesin serupa mekanika jam lengkap dengan tangkai pemutarnya yang memiliki kemampuan olah kanuragan dan tempur kelas wahid, dan Sammael the hellhound yang dibangkitkan dengan butiran-butiran garam airmata para malaikat yang memiliki daya regenarasi meskipun tidak sesuper para vampir dan Wolverine serta mampu menggandakan diri setiap kali mati—juga berhasil menyelinap dengan baik untuk kemudian berhibernasi di dalam ingatan yang sewaktu-waktu bisa saya hidupkan kembali. Tidak heran, ketika Hellboy II: the Golden Army muncul sekitar tiga tahun yang lalu, saya pun tidak melewatkannya, yang kemudian saya tonton lagi berulang-ulang termasuk pada suatu malam di muara tahun lalu.

Seperti film perdananya, The Golden Army dibuka dengan sebuah film pendek berupa sepenggal cerita masa lalu Hellboy. Pola narasi yang sama ini ternyata menghasilkan efek berbeda dengan Hellboy: tidak sekadar menghadirkan kembali cikal-bakal kekinian untuk memberikan bekal pengetahuan kepada pembaca, tetapi memberikan semacam fondasi sekaligus landasan pacu bagi cerita pada bagian-bagian selanjutnya. Latar perayaan Natal—lengkap dengan salju yang menyiratkan dingin-namun-intim dan lampu-lampu yang mengisyaratkan keriaan-tidak-sampai-meledak—menjadi penghantar manis bagi cekcok hangat dan manis antara bapak dan anak angkat tentang “waktunya mematikan televisi”, “menggosok gigi”, lalu “tidur”. Bagaimanapun, tidur tidak akan lengkap tanpa sebuah cerita-gerbang-menuju-mimpi bagi seorang anak. Berawal dari ketidakpercayaan si anak terhadap keberadaan Santa Claus, melalui sebuah buku—tebal, arkhaik, yang dari wujudnya pembaca bisa menangkap kesan sihiriah purba—yang dibacakan sang ayah mengalirlah sebuah cerita: masa-masa awal Bumi, perjanjian antara manusia dengan ras-ras lain—manusia menguasai kota, ras-ras lain berhak atas alam belantara—yang kemudian dilanggar oleh manusia, perang mahabesar, korban entah-berapa-banyak berjatuhan dari kedua kubu, terciptanya Golden Army oleh goblin tunggal yang langsung mengingatkan saya pada Prometheus si jenius-perancang-agung Olympus, dan pembagian mahkota Bethmoora menjadi tiga; cerita dalam cerita dengan teknik, tujuan, dan efek serupa di kemudian hari saya jumpai di Harry Potter and the Deathly Hallows bagian I tentang The Tale of the Three Brothers. Bagian pembuka The Golden Army yang demikian memberi saya semacam peringatan sekaligus payung—tidak untuk dibuka lalu dipakai menelungkup, tetapi menganga terbalik untuk menampung tetes-tetes hujan—bahwa The Golden Army sedikit-banyak mengusung pernyataan politik yang lebih kasatmata daripada pendahulunya. Perbedaan tersebut diperkuat dengan pemakaian tone yang berbeda: di mata saya, Hellboy adalah monokromatik biru sendu kelabu, sedangkan The Golden Army adalah sintesis merah, jingga, kuning, hingga emas dengan warna-warni yang lebih riuh, bahkan api biru Liz Sherman di Hellboy berubah menjadi kuning di The Golden Army; saya pun berharap, seandainya kelak ada film ketiga, api Liz berwarna putih yang selain memperlihatkan adanya evolusi pada kemampuan pyrokinetic-nya, sekaligus—dalam bayangan saya—warna paling tepat untuk api pada tataran terpanasnya.

Sekuen-sekuen awal The Golden Army—senada dengan hall gedung BPRD yang dipenuhi benda-benda magis di Hellboy—menghadirkan artefak-artefak berusia entah-berapa-abad dalam sebuah galeri lelang. Pada bagian inilah Nuada si pangeran-yang-hilang kembali menyeruak ke dunia atas; selama ini ia hidup di gorong-gorong lembab becek bawah tanah semacam menyusun rencana menghimpun kekuatan dalam keterasingannya setelah diusir oleh sang raja-ayah dari kaumnya karena tidak memercayai janji-janji manusia. Aksi pertama Nuada—dengan bantuan Mister Wink, nama yang lucuk untuk cyclops brutal—adalah melepas para tooth fairy—makhluk biru imut bersayap pemakan yang-mengandung-kalsium, semacam redefinisi atas peri gigi yang selama ini selalu dirindukan oleh anak-anak yang baru mengalami pupak dan menyimpan kepingan giginya di bawah bantal—sekaligus mempertemukan benang-takdirnya dengan benang-takdir Hellboy dan kawan-kawan hingga mencapai final showdown di semacam imitasi Neraka megah dan sengkarut mesin pemanasnya di rahim Bumi. Satu kali ia menegaskan bahwa ia tidak datang dari kebudayaan yang hilang, tetapi dari kebudayaan yang terlupakan—yang tentu saja akan diingat kembali dalam film ini.

The Golden Army bukanlah awal, tengah, dan akhir klimatik, tetapi rangkaian iklan terselubung tentang manusia. Relasi Hellboy dengan ayahnya yang tampak begitu hangat—meskipun tetap diwarnai dengan ketidaksesuain pendapat—kontras dengan kehidupan Nuada: ia diasingkan oleh ayahnya hanya karena tidak memercayai janji-janji manusia dan lebih memilih berjuang membela kaumnya dengan caranya sendiri termasuk dengan merealisasikan kebangkitan-kedua Golden Army sekaligus menggantikan manusia sebagai ras dominan di muka Bumi. Jika dibaca lebih jauh, baik Hellboy-Profesor Broom dan Nuada-Raja Balor merepresentasikan relasi generasi tua dan generasi muda yang terus-menerus ada sepanjang sejarah manusia, di satu sisi saling mendukung untuk menciptakan kehidupan dan dunia yang lebih baik, di sisi lain saling bersaing-tanpa-kompromi hingga salah satunya lenyap seperti Raja Balor yang dibukakan pintu kematiannya oleh Nuada.

Bentuk relasi di dalam The Golden Army tidak sekadar ayah dan anak lelaki, tetapi juga relasi cinta antar-ras. Relasi yang terjalin antara Hellboy dan Liz Sherman sejak film perdana mengalami pendalaman di film ini, termasuk mengalami perdebatan dengan efek destruktif karena cara pandang berbeda atas suatu hal yang menjadikan relasi keduanya manusiawi. Bagaimanapun, sebagai sebuah tim mereka tetap harus bekerja sama secara profesional dan kompak, yang di dalam beberapa adegan dipertegas dengan kemunculan billboard bertulis “A big decision. Let’s make it together.” Bahkan di hadapan The Angel of Death, Liz lebih memilih menyelamatkan Hellboy daripada menghindari kemungkinan kehancuran dunia yang disebabkan Hellboy. Terlepas dari dinamika relasi mereka, Hellboy dan Liz dapat dikatakan meant to be. Bagaimana tidak, Liz seorang firestarter yang bisa berapi-api—secara harafiah, bahkan berhasil menghangusarangkan koloni Sammael di film pertama dan gerombolan berisik tooth fairy di film kedua—ketika berada di sebuah kondisi yang intens berpasangan dengan Hellboy yang—dari namanya—tentu saja antiapi. Hal senada juga hadir melalui relasi yang terbangun antara Abe Sapien dan Nuala saudara kembar perempuan Nuada, keduanya yang tampak kikuk dalam bertutur dan menyampaikan pemikirannya menemukan sosok yang bisa memahami mereka dengan adanya persamaan dalam hal kemampuan psikis dan membaca bahkan menerawang hal-hal hanya melalui rabaan. Dualitas komplementar tersebut sebenarnya tampak gamblang dalam wujudnya yang lain melalui relasi antara Nuada dan Nuala, sepasang kembar yang saling bertentangan sekaligus tidak kuasa mengingkari takdirnya sebagai kesatuan: satu luka, yang lain luka, satu mati, begitu pun yang lain. Jika ditarik lebih ke belakang hingga sekuen-sekuen awal cerita, relasi antara ras manusia dan ras-ras lain—yang kemudian bahkan tersingkir dari yang semestinya wilayah mereka sendiri—juga memperlihatkan dualitas komplementer: Bumi kehilangan keseimbangannya ketika salah satu kelompok penghuninya menjadi lebih dominan dan menghancurkan yang lain.

Tentang kesempurnaan yang terganggu bahkan nyaris hancur-lebur tidak sekadar tampak melalui sejumlah adegan baku hantam yang memakan korban, tetapi juga muncul melalui sejumlah angka. Angka 7 muncul pada cerita tentang Golden Army yang disebut sebagai seventy times seventy slumbering mechanical warriors sebagai simbol penghancur sekaligus kehancuran yang sempurna, yang kemudian dipertemukan dengan angka 7 yang lain pada nomor urut mahkota Bethmoora—sebagai media pengendali Golden Army—dalam lelang yaitu 777. Secara umum, 7 adalah simbol kesempurnaan, yang kemudian menjadi ironi dalam The Golden Army. Selain angka 7, di dalam film ini juga muncul angka 12 dalam tulisan di dinding gedung BPRD sebagai Level 12. Di tempat itulah Johan Krauss—berwujud serupa asap hidup yang terkurung setelan astronot—mereanimasi seekor tooth fairy untuk diinterogasi berkaitan dengan asal kedatangannya. Senada dengan angka 7, angka 12 adalah simbol kesempurnaan dan harmoni, juga penguasa kosmos dan kreativitas; di luar itu 12 adalah simbol 12 penggembala saksi kelahiran Yesus, 12 murid Yesus, 12 zodiak, 12 binatang dalam horoskop China, 12 dewa-dewi utama dalam mitologi Yunani, dan lain-lain. Angka 12 sebagai simbol penguasa kosmos dan kreativitaslah yang memiliki kedekatan dengan sosok Krauss yang kapabilitas psikis dan tubuh ektoplasmiknya memungkinkannya melakukan hal-hal musykil yang salah satunya dilakukannya di Level 12 gedung BPRD. Selain itu, tentu saja angka 51 pada Level 51 gedung BPRD yang mau tidak mau meloncatkan pikiran saya pada Area 51 yang legendaris.

Relasi antar-ras—atau dalam bentuknya yang lebih luas dapat disebut antardunia—memperoleh penegasan ketika cerita bergerak ke Troll Market yang di dalamnya terjadi interaksi berbagai macam makhluk beragam bentuk dan ukuran seolah mereka tidak memandang satu sama lain sebagai the others dengan strata bertingkat. Kondisi yang demikian sebenarnya telah diisyaratkan oleh ukiran pada gerbang yang menghubungkan pasar dan dunia luar: Unus Mundus, satu dunia, yang jika ditelusuri lebih jauh mengacu pada sebuah frasa yang diperkenalkan kembali oleh Jung, gagasan tentang realitas-bawah tempat segala sesuatu hadir dan kembali. Hal tersebut kemudian dapat memunculkan pemahaman bahwa The Golden Army—juga Hellboy—adalah sebuah unus mundus yang menghadirkan dua dunia—yang kita tempati dan tempat makhluk-makhluk magis-fantastis—sekaligus menyatukannya, dan hal itu bukanlah sesuatu yang superduperajaib karena realitas senantiasa tidak berkaitan dengan yang ini saja, tetapi juga yang itu, tidak hanya di sini, tetapi juga di situ dan di sana yang mungkin hanya sejarak kita dengan diri kita di dalam cermin.

Setelah diperlihatkan melalui rangkaian adegan cerita dalam cerita di awal The Golden Army, ketidakseimbangan di permukaan Bumi—atau boleh dikatakan sebagai Bumi yang sekarat—tampak pada rangkaian sekuen yang semacam penceritaan kembali Jack and the Beanstalk, tentu saja dengan perubahan besar: sebutir kacang—saya lebih senang menyebutnya kacang daripada Elemental Egg, karena bukankah tetumbuhan tidak bertelur?—sebesar kuncup mawar yang hampir merekah dilempar oleh Nuada untuk kemudian melompat-lompat mencari air dan meraksasa sebagai Dewa Hutan—the last Elemental—yang tidak berumur panjang pascakelahirannya. Rangkaian sekuen pertempuran antara Hellboy dan si kacang ajaib tidak serta-merta menghasilkan adegan-adegan seru, tetapi justru membersitkan kemirisan karena memunculkan wacana tentang endangered species yang menjadi salah satu global environmental issues akhir-akhir ini, lebih-lebih ketika pascakematiannya si kacang ajaib menjelma hamparan hijau belantara Surgawi dengan sebuah mahkota bunga yang meledak mendayu menerbangkan entah-berapa-banyak bebijian putih. Kematian si Dewa Hutan di tengah kota semakin memperkuat hal tersebut. Bagian inilah yang di awal tulisan saya katakan sebagai pernyataan politik yang lebih kasatmata daripada yang muncul di Hellboy, dan relasinya dengan seluruh cerita menghadirkan The Golden Army yang secara jelas mendedahkan isu-isu mutakhir.

Genre adalah bentuk atau semacam wadah yang tentu bisa diisi dengan hal-hal yang bahkan bisa jadi tidak dibayangkan akan muncul pada media tersebut. Hellboy II: The Golden Army secara umum masuk ke ranah genre film superhero. Meskipun begitu, film ini tidak sekadar tentang hitam, putih, dan abu-abu yang berkaitan dengan karakter-karakter sentralnya. Tidak pula sekadar cerita pencarian jatidiri manusia-manusia yang dianggap freak oleh sebagian besar manusia lain. The Golden Army bermain di arena yang lebih luas bernama refleksi nasib Bumi sepanjang sejarah manusia.

~Bramantio


About this entry