Iklan, Perempuan, Cantik untuk Orang Lain

Beberapa minggu terakhir saya cukup sering menyalakan televisi meskipun adakalanya hanya saya jadikan semacam pertunjukan film bisu bukan hitam putih dengan penonton tunggal yang sangat tidak khidmat menekuri rangkaian dua puluh empat gambar per detik yang menjalin cerita atau menjadi semacam bebunyian ilustrasi pada malam-malam syahdu dan lebih asyik menarikan jemari dengan tempo kadang lambat kadang cepat pada papan ketik laptop sambil mengawasi lahirnya kata kalimat paragraf karangan utuh yang sesekali tentu terpeleset di sana-sini untuk dibangkitkan kembali melalui aborsi dan pengembangbiakan kembali hingga menghasilkan individu yang bahkan tidak saya bayangkan sebelumnya, menulis bisa jadi semacam menempeli tulang belakang dengan organ-organ yang tidak saya ketahui jumlah pastinya dan hanya kurang lebih begini kurang lebih begitu sehingga bentuk akhir fisik kreasi pun tidak jarang menghasilkan seulas senyum sureal. Selain berhasil menyaksikan beberapa episode serial Korea setelah kali terakhir saya menyaksikan genre serupa entah berapa tahun yang lalu yang senantiasa menghadirkan kesan bahwa hidup seringan bulu dihembus angin secerah langit tanpa awan tidak peduli betapa besar gelombang yang menghantam pantai yang berbeda dengan impresi yang dihadirkan serial serumpun dari Jepang dan Taiwan, pengalaman pembacaan saya pun bertambah dengan sebuah tayangan singkat penuh sugesti dalam durasi tidak lebih daripada tiga puluh detik bernama iklan produk kecantikan yang membuka ingatan saya tentang produk serupa yang telah entah berapa kali hadir sebelumnya. Ada pola-pola yang berulang yang terkadang membuat saya berpikir tentang tidak adakah cara lain untuk menyampaikan sebuah pesan yang diharapkan dapat diterima sebagai sebuah kebenaran atau menggeser titik ketidaktahuan atau keraguan ke arah persetujuan atau setidaknya ingin iseng mencoba atau akan sepenuh hati setia. Produk yang semestinya ditujukan untuk perempuan ternyata tidak sepenuhnya untuk si pemakai tetapi bergerak bahkan melompat sedemikian rupa nyaris terbang untuk kemudian hinggap pada landasan final berlabel kepuasan orang lain. Pada suatu masa ketika hal-hal yang berkaitan dengan keperempuanan dan kesetaraan dalam hal ini-itu dibisikkan digumamkan diucapkan bahkan diteriakkan lantang hingga tidak jarang memekakkan telinga dan membuat sebagian pendengar jemu ternyata masih ada yang menghadirkan perempuan sebagai sekadar manekin yang tidak pernah tampak jelek setiap memeragakan sesuatu. Perempuan dalam iklan memakai produk untuk menjadi lebih cantik yang pada akhirnya hanya untuk menarik perhatian dan memuaskan lelaki. Perempuan dalam iklan melihat kecantikan yang dimilikinya masih dengan mata lelaki. Perempuan dalam iklan berusaha menjadi lebih cantik tidak sepenuhnya untuk dirinya sendiri. Perempuan dalam iklan serupa dengan Evil Queen dalam semesta Snow White yang terus-menerus meragukan dirinya sendiri, merasa terancam oleh perempuan lain, dan senantiasa lebih memercayai cermin sebagai pihak kedua dengan mengajukan pertanyaan “Mirror, Mirror on the wall, who’s the fairest of them all?

~Bramantio


About this entry