Kala Venus Bercerita

Samudera purba itu masih menyimpan rapat-rapat ingatan tentang suatu masa ketika sekerling kartika melesat dari balik cakrawala menerpa tubuh cairnya. Samudera purba itu masih mendekap erat-erat ingatan tentang suatu masa ketika seserpih manikam meluncur dari balik mega-mega mendera raga beningnya. Ingatan-ingatan itu pun menjadi milikku ketika pada suatu pagi samudera purba itu mewariskannya melalui gelegak ombak-ombak yang mencium merengkuh menyetubuhi pantai, angin-angin yang menyapa membelai mengoyak nyiur-nyiur, dan burung-burung air yang mengepak melayang mencari benang-benang penyambung hidup.

Sesaat setelah menerpa samudera purba kartika itu mengeluarkan cahaya yang sangat cemerlang membesar menggelegak membentuk sosok yang menamakan dirinya Venus. Ia berenang ke permukaan untuk merasakan nafas duniawi pertamanya. Kecantikan keindahan yang bersarang di dalam dirinya terpancar ke delapan penjuru mata angin menarik segalanya mengenalnya lebih dekat. Sekawanan ikan menghadiahkan cangkang tiram putih raksasa untuk digunakannya berbaring disangga gelombang. Ia begitu menikmati ketelanjangannya yang hangat teterpa mentari yang sinarnya masih berupa tetes-tetes Surgawi dan belum menjelma jarum-jarum Neraka. Meskipun begitu, ada sebersit kegelisahan di dalam dirinya.

“Aku ini anak siapa?” tanyanya kepada siapa saja yang mendengar dan tidak mendengarnya, tapi tak satu pun memberinya jawaban. “Di mana bapak dan ibuku?” tanyanya lagi, tapi tetap tak ada jawaban. Sepasang matanya menitikkan airmata yang menjelma mutiara-mutiara memenuhi cangkang tiram putih raksasa. Ia melihat samudera bergolak dahsyat di kejauhan. Ia ketakutan sehingga airmatanya mengalir semakin deras menyebabkan mutiara-mutiara yang memenuhi cangkang meluber ke laut lalu bergerak pelan terbawa arus hingga menemukan kehangatan di dalam dekapan tiram-tiram kecil. Para saksi kelahirannya pun lari renang terbang belingsatan mencari aman meskipun tidak bersembunyi.

“Berhentilah menangis, wong ayu! Pejamkan sepasang netra elokmu. Kau akan melihat dan mengingat segalanya,” kata sosok rupawan yang menunggang penyu biru raksasa yang tiba-tiba menyeruak dari dalam laut yang tak jauh dari Venus.

“Siapa kau?” tanya Venus.

“Siapa aku? Itu nanti saja. Sekarang pejamkan saja netramu untuk mengetahui asal-usulmu!” katanya.

“Haruskah?” tanya Venus.

Ya sakarepmulah! Terserah! Kaulah yang ingin mengetahuinya, bukan aku,” katanya.

Venus pun memejamkan mata.

“Adakah yang kaulihat dan kauingat?” katanya lagi.

“Itu adalah kudeta pertama dalam catatan sejarah riwayat semesta,” kata Venus, “Oh, laki-laki itu memenggalnya, lalu melemparnya, jauh, sangat jauh.”

“Ya, ya, kau benar, wong ayu. Laki-laki itu kini sedang duduk nyaman di singgasananya menikmati anggur-anggur mabuk termerah terharum terbaik. Ia telah memenggal falus bapaknya sendiri, membuangnya begitu saja, melintasi dirgantara hingga sampai di samudera ini,” katanya.

Venus membuka mata.

“Mungkin laki-laki itu bisa dianggap sebagai seorang feminis pertama ya? Laki-laki itu telah memenggal simbol patriarkhi,” katanya sambil melihat ke sana ke mari. Venus diam saja. “Ah lupakan saja lanturanku itu!,” katanya.

Venus menatapnya.

“Tidak perlu kaucari-cari orangtuamu karena sesungguhnya kau bukan anak siapa-siapa. Seperti aku, kau tidak pernah merasakan berenang-renang di dalam kehangatan rahim seorang ibu, kau juga tidak akan merasakan kasih sayang lengan-lengan kekar seorang bapak,” katanya.

“Apa maksudmu?” tanya Venus.

“Duh, wong ayu, betapa aku menyayangkan adamu yang ayu-ayu tapi bodo, cantik tapi tolol. Tidak bisakah kau merangkai peristiwa-peristiwa itu lalu menyimpulkannya dalam sebuah akhir cerita yang mungkin manis atau pahit?” katanya sambil tersenyum masam.

“Jadi, aku adalah falus itu?” kata Venus tak pasti.

“Bingo!” katanya.

“Bagaimana bisa?” tanya Venus.

“Oalah, untuk yang satu itu aku rela dianggap bodo. Aku tidak bisa menjawabnya,” katanya, “Segalanya bisa terjadi apabila Sang Hyang Tunggal menghendakinya. Kunfayakun. Rak ya wis to? Ya sudah kan?” katanya sambil sedikit mengangkat bahu dan kedua tangannya.

“Lalu siapa kau?” tanya Venus.

“Oh, ya, ya, perkenalkan, aku Kala. Kala tok, tidak perlu diimbuhi, ditambahi cakra, jengking, atau menjing, karena aku tidak memiliki cakra, tidak sedang njengking, dan tidak memiliki menjing karena aku bukan keturunan Adam,” katanya sambil bergerak bersama penyu biru raksasa mendekati cangkang tiram putih raksasa Venus.

“Kau tak seperti aku,” kata Venus sambil bergantian menilik tubuhnnya sendiri dan tubuh Kala yang sama-sama telanjang.

“Oh, ya, ya, tentu saja. Aku lanang, kamu perempuan,” kata Kala.

“Tadi kaukatakan aku sepertimu. Apanya?” tanya Venus sambil terus memerhatikan tubuh telanjang Kala.

“Akan kuceritakan, asalkan kau berhenti memerhatikanku seperti itu. Ora ilok, tidak pantas, wong ayu,” kata Kala sambil meraih rumput-rumput laut untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Venus pun tak lagi memerhatikan Kala dengan cara yang sama.

“Begini ceritanya. Beberapa saat yang lalu seorang laki-laki yang menjabat sebagai presiden bangsanya tak bisa menahan nafsu syahwatnya dan memaksa istrinya untuk meladeninya dan menggelinjang di antara mega-mega. Ora dhuwe isin! Tidak punya malu! Karena istrinya menolak, benih laki-laki itu luput dari sasaran, lalu mencelat sampai ke samudera ini. Jadilah aku,” kata Kala, “Dengan begitu, kita sama.”

“Yang membuat keributan di sana tadi kau, kan?” tanya Venus.

“Ya, ya, itu aku. Karena aku tercipta dari yang sepenuhnya nafsu, begitu sadar aku hidup, aku pun langsung merasakan lapar yang amat sangat. Wong luwe rak kudu mangan to? Lapar hanya bisa diobati dengan makan. Aku pun melahap ikan-ikan yang berenang-renang ingin tahu di sekitarku,” kata Kala sambil tersenyum.

“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Venus.

“Seandainya aku diperbolehkan memilih, aku akan bercinta habis-habisan denganmu yang begitu cantik, lentik, molek, semok. Mengkono kuwi wis lumrah. Yang seperti itu sudah jamak, kan? Ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan berada di dalam sepi sendiri, apa lagi yang akan mereka lakukan selain bercinta habis-habisan?” kata Kala sambil menaik-turunkan sepasang alis tebalnya dan tersenyum.

Venus juga tersenyum dan pipinya yang bertulang-tinggi memerah.

“Jadi, kau mau bercinta denganku? Sorga ing donya! Surga dunia! Tapi, sayangnya, kita telah memiliki takdir kita masing-masing,” kata Kala.

“Aku tak peduli!” kata Venus.

“O, o, o, kau tidak bisa begitu. Aja rumangsa ayu terus bisa sakarepmu dhewe. Jangan karena merasa cantik lalu bisa berbuat sesukamu. Kelak kau akan bertemu Vulcan. Ya, ya, Vulcan. Dialah yang akan menjadi pasanganmu, bukan aku,” kata Kala.

“Tapi, aku telah jatuh cinta kepadamu,” kata Venus.

“Lhadalah, durung-durung kok wis tiba tresna. Belum-belum kok jatuh cinta. Cinta atau nafsu?” kata Kala sambil tersenyum dan menepuk-nepuk dagunya dengan ujung telunjuk dan jari-tengah kanannya, “Tidak bisa kubayangkan akan seperti apa anak kita. Ibunya berasal dari falus, bapaknya berasal dari mani. Mengko gek dadi memedhi. Bisa-bisa jadi sosok menakutkan.”

Venus membuang muka.

Aja nesu, jangan marah, wong ayu, mengko cepet tuwa. Kalau memang itu benar-benar cinta, biarlah ia tetap hidup di dalam hatimu hingga kelak kita terlahir kembali. Sesungguhnya aku pun telah jatuh cinta kepadamu. Tapi, jalan kita memang berbeda. Kita beruntung karena telah mengetahui semua ini sejak awal sehingga tidak membiarkan perasaan kita berlarut-larut yang justru akan mendatangkan kesengsaraan. Bukankah mencinta tidak harus memiliki?” kata Kala.

“Kau salah besar dengan berkata seperti itu. Cinta harus memiliki karena tak mungkin mencinta jika yang kaucinta tak kaumiliki. Mungkin maksudmu mencinta tak harus bersama,” kata Venus dengan nada kesal.

“Oh, ya, ya, kau benar, wong ayu,” kata Kala sambil mengangkat kedua ibu jarinya di depan dada.

“Jadi, kau akan pergi? Ke mana?” tanya Venus.

“Ya, ya, aku akan pergi. Ke sebuah ruang yang tak punya waktu,” kata Kala.

“Di mana itu?” tanya Venus.

“Entahlah. Tapi, aku yakin akan menemukannya,” kata Kala mantap.

“Bagaimana denganku?” tanya Venus.

“Oh, itu bukan urusanku. Kau memiliki banyak kelebihan yang bisa kaumanfaatkan. Tapi, ingat, aja nganti bablas! Eling marang Sang Hyang Tunggal,” kata Kala.

“Aku yakin aku tak akan menyalahgunakannya,” kata Venus.

“Yakin? Tenan ta? Aku melihat masa depan yang penuh kepedihan karena ulahmu,” kata Kala.

“Itu tak mungkin,” kata Venus.

“Mungkin saja, wong ayu. Kelak ulahmu melahirkan perang besar yang menghancurkan sebuah bangsa,” kata Kala.

“Itu tak mungkin,” kata Venus sambil menggeleng-geleng.

“Tentu saja mungkin, bahkan pasti. Mau tahu alasannya? Karena kau perempuan. Karena perempuan menggenggam nafas kehidupan dan bara kematian di dalam keindahannya. Itu saja,” kata Kala.

“Jika begitu, bunuhlah aku sekarang!” kata Venus.

Ora bisa, wong ayu. Tidak bisa. Yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi adalah sebuah maharencana. Meskipun aku ingin membunuhmu, aku tetap tak sanggup melakukannya. Aku tak memiliki daya untuk menghancurkan. Aku adalah waktu yang hanya bisa menambahkan usia pada segala yang ada, menjadi saksi peristiwa-peristiwa besar dan kecil, mengingatnya baik-baik, dan mungkin mengulangi peristiwa-peristiwa itu,” kata Kala.

“Aku tak ingin jadi jahat,” kata Venus mengiba.

“Kita ini hanyalah wayang-wayang yang apa dan bagaimananya terserah sang Dalang. Jadi, tidak perlu kau kelak mengutuki dirimu sendiri karena lakumu. Anggap saja kau telah menjalankan amanat sang Dalang dengan sebaik-baiknya,” kata Kala sambil mengelus tubuh penyu biru raksasa lalu bergerak menjauh ke cakrawala meninggalkan Venus.

~Bramantio


About this entry