The Darkest Hour: Alegori Krisis Energi Global

Another alien invasion movie. Itulah yang tebersit di dalam pikiran saya ketika menyaksikan trailer The Darkest Hour beberapa bulan yang lalu, dan secara otomatis sebuah pertanyaan mengikutinya: hal baru apa yang ditawarkannya? Hal ini tentu saja mengingat film-film serupa memiliki pola seperti halnya Goggle V atau Power Rangers yang tidak peduli awal dan tengahnya, akhirnya pasti si robot raksasa jagoan melawan lalu memusnahkan monster gigantik hasil aksi sulap sang pawang antagonis atas perintah big boss antagonis. Bagaimanapun, scene-scene yang memperlihatkan semacam perpaduan listrik dan api yang menghangusabukan apa pun yang bersentuhan dengannya menghadirkan kesan tersendiri; serupa dengan yang pernah dihadirkan oleh ledakan asap biru jejak Nightcrawler—si mutan biru dengan fisik menyerupai gambaran umum setan namun sangat religius dengan kemampuan teleportasi yang meskipun tidak sedahsyat Hayden Christensen dan Jamie Bell di Jumper namun tetap waw!—ketika lenyap di satu titik untuk muncul di titik lain, atau lintasan asap putih pijar gesit para Auror—mengimbangi lintasan asap hitam para Deatheater—dan binatang-binatang yang tercipta dari mantra Patronus. Hal menarik lain yang muncul dalam trailer adalah latar tempatnya yang langsung mengingatkan saya pada trailer lain yang muncul pada waktu berdekatan, yaitu Rusia yang juga menjadi titik awal pergerakan cerita Mission: Impossible: Ghost Protocol—yang terbaik dari franchise M:I sejauh ini karena tampak paling manusiawi dan tidak berlebihan dalam hal hi-tech gadget dan dinamika pergerakan kameranya, dengan dukungan Josh Holloway di adegan pembuka yang singkat namun berkesan dan aksi kocak-tanpa-bermaksud-melucu Jeremy Renner, serta—tentu saja—pesona si superjangkung Burj Khalifa di Dubai dan si putih-biru futuristik BMW Vision di Mumbai.

Saya pun pada akhirnya menonton The Darkest Hour pada sebuah Minggu sore di sebuah mall dengan arsitektur yang membuat saya merasa berada di dalam sebuah rumah superbesar yang entah mengapa senantiasa sepi dari hiruk-pikuk pengunjung; seingat saya mall itu paling ramai dengan parkir penuh ketika film Hollywood kembali ditayangkan di Indonesia setelah sempat mengalami status quo dan ditandai dengan Harry Potter and the Deathly Hallows bagian I. Beberapa saat setelah penampakan perdana si alien, muncul sebuah simpulan di pikiran saya bahwa film ini tidak mengambil jalur yang ditempuh oleh Independence Day atau War of the Worlds yang kaya adegan bakuhantam skala besar, tapi mengikuti jejak Cloverfield atau Signs yang lebih menekankan pada sisi psikologis sekelompok manusia dalam menghadapi sekaligus menerima sesuatu di luar logikanya, dan memang demikianlah adanya film ini: peristiwa demi peristiwa hadir dengan wajar, kesan ngelangut yang muncul begitu saja melalui sepinya Moscow pascaserangan awal yang mengingatkan saya pada adegan Tom Cruise berdiri sendiri lalu berlari di jalanan kosong Times Square dalam Vanilla Sky, tokoh-tokohnya pun datang dan pergi silih berganti membentuk semacam rangkaian para atlet lari estafet yang mengoperkan tongkat-nasib-kita dalam sebuah perjalanan—atau bolehlah disebut pelarian-penyelamatan-diri—selama kurang lebih satu jam tiga puluh menit, bahkan ada adegan-adegan yang dibiarkan apa adanya tanpa musik latar yang menjadikan visualisasinya lebih terasa horor seperti yang tidak jarang saya jumpai dalam film-film horor Jepang: penonton tidak diberi peringatan dini tentang sesuatu yang akan muncul entah dari kegelapan—baik tiba-tiba seolah meneriakkan boo! maupun berangsur-angsur mengambang sambil tersenyum nauzubilah!—atau berseliweran cuek seakan tidak sadar bahwa kehadirannya membuat si pemilik mata yang menyaksikannya berpikir “lebih baik gue mati aja deh!”, seperti semacam bunyi statis tiii…iiit sebagai penanda bagian yang disensor tapi dengan implikasi mimpi-buruk-tapi-nyata-banget bagi si tokoh yang terpaksa harus berhadapan dengan si hantu tanpa punya pilihan untuk menjadi lebih berani atau berlari lebih lesat menghindari jangkauan kematian.

Secara sepintas, The Darkest Hour masih memunculkan klise pencarian sumber energi baru oleh alien sebagai motif cerita. Meskipun begitu, motif ini tidak sekadar semacam starter cerita untuk kemudian berbelok bahkan membuka jalan cerita baru yang lebih memperlihatkan aksi heroik umat manusia—dengan satu dua tokoh yang tampak cool dan seolah mati rasa karena tidak takut apa pun—dan bagaimana mereka bersatu menghadapi para alien, tetapi tampak lebih kasatmata daripada yang ada di film-film serupa dan terus terasa hingga akhir cerita. Hal tersebut jika dirangkai dengan wujud para alien yang menyerupai listrik yang menggempur sejumlah kota-kota utama Bumi akan mengingatkan penonton—setidaknya saya—pada salah satu permasalahan mutakhir yang dialami umat manusia: krisis energi global. Hadirnya sekelompok remaja sebagai tokoh sentral film ini juga berkaitan langsung dengan posisi film sebagai alegori krisis energi global sebagai semacam warisan generasi terdahulu dan menjadi mimpi buruk sekaligus tanggung-jawab generasi sesudahnya. The Darkest Hour tidak lagi sebatas serangan alien yang mengeksplotasi energi Bumi, tetapi tentang umat manusia dalam menghadapi masa tergelapnya sebagai generasi yang berada di ambang kian melompongnya rahim Bumi.

~Bramantio