The Iron Lady: Personal Memento dan Melankolia Pascakekuasaan

Watch your thoughts for they become words. Watch your words for they become actions. Watch your actions for they become habits. Watch your habits for they become your character. And watch your character for it becomes your destiny! What we think we become. My father always said that and I think I am fine.” –Margaret Thatcher, The Iron Lady

Iron Lady (2011)

Bulan-bulan akhir dan awal menjelang dan selepas pergantian tahun selalu menjadi salah satu masa menyenangkan bagi para moviegoer karena sejumlah film yang dimitoskan baik oleh para kreator maupun kritikus yang berkesempatan menyaksikannya pada screening perdana memiliki kualitas wahid ditayangkan di layar bioskop diiringi hembusan gosip tentang film dan aktor yang akan menjadi jawara di sejumlah festival dan ajang penghargaan beberapa bulan kemudian. Saya menyaksikan salah satunya pada sekuntum Minggu yang kali ini tidak hanya berduet dengan Sabtu menjadi hari merah pelepas lelah tetapi membentuk trio dengan Senin memperpanjang masa rehat bersamaan dengan perayaan Tahun Baru China dari Kelinci Metal melompat ke Naga Aqua yang semestinya jatuh pada awal Februari dan tidak seperti biasanya karena meskipun selimut awan mengawang tetapi tidak membumikan rinai hujan. Ngemall Minggu siang seusai duhur bagi saya selalu lebih baik daripada Sabtu malam yang hampir tidak menyisakan ruang kosong untuk ditangkap mata udara jernih untuk dihirup hidup kelegaan untuk dinikmati raga yang sejatinya ke mall tidak untuk menjumpai lagi hiruk-pikuk manusia-manusia verbal mekanik robotik sepanjang Senin hingga Jumat. The Iron Lady menjadi pengisi siang itu selama sekitar dua jam termasuk sajian pembuka berupa trailer The Hunger Games yang juga tampak menjanjikan tontonan menarik sekitar dua bulan mendatang di dalam ruang teater terbesar di antara ruang teater di gedung itu yang hanya diisi oleh tidak lebih daripada satu setengah selusin penonton.

Pesona Meryl Streep adalah yang pertama-tama membangkitkan keinginan saya untuk menyaksikan performanya dan menggiring saya menyusun rencana dengan menimbang-nimbang jam tayang paling tepat untuk dihabiskan dengan duduk dalam diam tanpa melepas sepasang mata dari layar selama sekitar tujuh ratus dua puluh detik. Saya selalu percaya bahwa cover sebuah karya adalah peletak fondasi yang akan menggoda pembaca untuk tertarik atau tidak untuk membacanya atau mengabaikannya begitu saja yang dalam hal film berupa poster dan trailer. Sebelum menyaksikannya secara langsung saya pun browsing  dan membaca sejumlah ulasan tentang film ini dan menemukan fakta bahwa sebagian besar reviewer menganggap film ini so so meskipun mereka tetap mengakui penampilan prima sang imitator Margaret Thatcher yang kemudian membuat saya bertanya-tanya tentang benar-tidaknya kualitas The Iron Lady hanya sebatas menjual nama Meryl Streep dalam sebuah biopik yang memang senantiasa riskan sebagai tontonan. Pengalaman serupa pernah saya dapat ketika The Devil Wears Prada yang juga diperanutamai Meryl Streep melayar lebar pada 2006 yang bagi saya tidak seburuk kata orang dan justru menyimpan sejumlah perspektif dalam balutan keglamoran para insan fashion serta ketika menyaksikan duet manis miris romantis tragis Hugh Jackman dan Rachel Weisz dalam The Fountain pada tahun yang sama.

The Iron Lady dibuka dengan rangkaian adegan yang teramat sehari-hari dengan fokus pada perempuan sepuh membeli susu di minimarket dan seketika itu juga menghadirkan kesan bahwa film ini bukan tentang sepak terjang Maggie sebagai perdana menteri tetapi lebih pada Maggie sebagai persona. Citra dan dialog yang dihadirkan melalui keremehtemehan-pada-suatu-hari ini terus bergulir dalam keseluruhan film yang terbagi menjadi tiga lapis: Maggie muda, Maggie perdana menteri, dan Maggie pascakekuasaan yang bergerak simultan dan saling menjelaskan. Sejumlah real footage yang memperlihatkan sosok Maggie dan segala konflik yang terjadi selama masa pemerintahannya memang memperkuat kebiopikan film ini tetapi tidak serta-merta mengarahkan saya untuk membaca film ini sebagai semacam biografi Maggie yang mesti ditelusuri keakuratannya dalam kerangka berpikir kesejarahan tetapi tetap menempatkannya sebagai sebuah teks sekaligus sebuah dunia independen yang berawal dan berakhir pada detik pertama dan terakhir durasi film itu sendiri.

Kesan personal alih-alih publik sosok Maggie semakin terasa ketika cerita menghadirkan dementia sebagai semacam karakter pendukung yang membentuk bingkai halusinasi sekaligus perekat antara Maggie dan sang suami. Salah satu momen ketika Maggie sedikit demi sedikit mulai menerima kenyataan tentang sang suami dengan membereskan lemari pakaian dan barang-barang lain pada suatu malam juga terasa personal bagi saya karena mengingatkan saya pada suatu hari ketika membereskan lemari pakaian dan barang-barang lain milik Ibu dan Bapak saya beberapa tahun setelah kepergian mereka yang justru tidak menghadirkan kembali tabir kesedihpiluan atau bahkan airmata tetapi justru menyeruakkan kelegaan serupa hela nafas besar selepas mengusung beban berat. Saya pun masih ingat bagaimana tanggapan orang-orang di sekitar atas yang saya lakukan lalu dengan ringannya seolah menganggap saya anak yang tidak tahu diri karena dengan sukacita menyingkirkan begitu saja hampir segala personal memento orangtua saya. Saya pikir masih banyak yang menganggap bahwa mengenang orang-orang tercinta harus dengan menyimpan baik-baik segala benda-benda yang mungkin kelak aus tersesap masa atau pecah berantakan diterjang anak-anak kurang ajar atau mengendap-ngendap tanpa bunyi tanpa jejak lenyap begitu saja seiring hadirnya kenangan-kenangan yang lebih segar dan muda padahal kenangan sejatinya hanya hidup di dalam ingatan tanpa perlu pengingat sehingga ketika ia berangsur-angsur menyublim maka memang demikianlah semestinya. Seperti Maggie yang memang pada satu titik perjalanan hidupnya butuh mengotakkardussingkirkan jejak-jejak sang suami untuk bisa leluasa menjalani hidupnya lagi sebagai manusia utuh, saya pun melepas personal memento orangtua saya sebagai semacam penanda sebuah fase baru hidup saya yang ikhlas dengan realitas bahwa mereka memang telah tiada dan saya harus melanjutkan perjalanan hanya diiringi oleh ingatan tentang mereka.

Menyaksikan segmen Maggie uzur dan merangkainya dengan segmen ketika ia muda dan berstatus perdana menteri menghadirkan sebentuk pemahaman tentang sosok manusia yang sejak awal pengenalannya atas dirinya sendiri mengambil langkah demi langkah yang tidak pernah mudah yang pada akhirnya membuatnya mencapai sebuah titik yang mendatangkan gelombang perubahan besar bagi banyak orang lalu secara tiba-tiba ia dipaksa menepi ke tubir tebing untuk kemudian melompat menghempaskan diri kembali ke dataran rendah. Menjalani semua itu pastinya tidak mudah bagi siapa pun dan kemungkinan besar kesulitannya akan berlipat ketika yang menjalaninya adalah perempuan lebih-lebih pada masa itu. Bagaimanapun, sejak awal Maggie telah dihadirkan sebagai persona yang tidak mau mengikuti arus sekaligus tidak bermaksud melawan dengan frontal melainkan lebih pada bagaimana semestinya manusia bersikap dan hidup. Dengan pakaiannya yang didominasi warna biru Maggie senantiasa tampil berbeda dari orang-orang di sekitarnya termasuk para lelaki yang entah mengapa selalu tampak keberatan untuk mengakui bahwa Maggie memang super. Citra Maggie yang seperti itu tidak dihadirkan melulu melalui kegegap-gempita-hingar-bingaran meskipun memang ada sejumlah peristiwa berskala mega yang mengharuskan Maggie mengambil keputusan-keputusan krusial yang membuatnya dipuja-puji sekaligus dicaci-maki. Ada lapisan-lapisan subtil yang bermain sepanjang film dan saya pikir bisa menjadi pembelajaran bagi para calon pemimpin atau pemimpin yang sedang segar-segarnya mengelus-elus kursi barunya atau pemimpin veteran yang mulai lupa daratan tempat orang-orang yang semestinya dipimpinnya. Pemimpin tidak sekadar predikat gagah-gagahan yang dilekatkan pada seseorang yang memiliki kemampuan untuk merengkuh massa sebanyak-banyaknya sekaligus menghancurleburkan lawan-lawan politik tetapi semestinya juga mampu melihat makna-makna agung di balik hal-hal renik yang tidak bertujuan menarik simpati tetapi lebih pada memahami kemanusiaan itu sendiri: merenungkan harga sekarton susu yang terus merangkak naik yang meskipun tidak seberapa tetapi merupakan beban bagi rakyat, mengoreksi sendiri kekeliruan-kekeliruan yang dianggap tidak penting berkaitan dengan bahasa dalam jadwal kegiatan yang sejatinya memperlihatkan kesiapan dan ketidaksiapan si jurutulis, menulis surat dengan tulisan tangan satu per satu kepada keluarga prajurit yang tewas dalam pertempuran sebagai ungkapan belasungkawa.

Maggie yang sepanjang sebagian besar hidupnya bergerak dalam sebuah lintasan yang mengharuskannya menjadi persona yang tangguh di kemudian hari kehilangan semua itu dan bahkan menjalani masa tuanya dalam pengawasan orang-orang yang sesungguhnya peduli dan menyayanginya. Segmen Maggie tua di mata saya tampak sebagai melankolia pascakekuasaan yang tidak sekadar pascakekuasaan atas sebuah negara tetapi hampir pula sebagai pascakekuasaan mutlak atas dirinya sendiri sebagai manusia. Hal itu memang sebuah keniscayaan tetapi tetap menghadirkan haru biru yang semoga menjadikan siapa pun yang menyaksikannya semakin menginsafi bahwa segala sesuatu ada masanya dan akan datang suatu masa ketika seseorang perlu melepas masa lalu dan personal memento bendawi bukan untuk melupakannya begitu saja tetapi untuk meringankan setiap langkah seiring sisa waktu yang dimiliki jantung untuk berdetak mengalirkan hidup.

~Bramantio


About this entry