Agora FTI UKSW

Knowledge Sharing Sebagai Agora Fakultas

 Semenjak akhir tahun 2011 lalu PUSLIT FTI telah meluncurkan suatu kegiatan rutin bulanan yang diberi nama Knowledge Sharing (KS). Sebagaimana diungkapan oleh Kapuslit (Johan Tambotoh.S.E.,MTI), KS merupakan salah satu wadah yang disiapkan agar suatu kultur diskursus akademik dapat berkembang di FTI-UKSW. Pada kesempatan KS perdana yang dibawakan oleh Danny Zacharias.SH.,MA, diungkapkannya bahwa KS ini dapat dijadikan semacam Agora (bahkan ia mengusulkan nama ini sebagai identitas KS). Namun apa Agora itu? dan apa hubungannya dengan KS dan kultur diskursus akademik?   Suatu pertanyaan yang menarik untuk ditelusuri penjelasannya.

 Kata agora merupakan kata yang asal muasalnya hendak menjelaskan suatu tempat berkumpul (pertemuan) seluruh warga di Yunani kuno yang disana dimungkinkan terjadinya  pembahasan terbuka terkait beragam hal dalam kehidupan warganya. Dalam perkembangannya agora juga berfungsi sebagai tempat bertemunya warga untuk melakukan transaksi ekonomis.

 Secara fisik tempat ini mengandung karakter-karakter yang unik dari bentuk demokrasi masyarakat Yunani kala itu. Melalui agora para warga dimampukan secara bebas dan setara untuk berpartisipasi dalam dialog-dialog dengan sesama warganya. Ditempat inilah mereka dapat berinteraksi secara intens, berdebat, berdiskusi  hingga memutuskan apa yang baik bagi kepentingan mereka bersama. Oleh karena itu didalam agora mesti terdapat seperangkat aturan dan panduan-panduan etis, seperti: keputusan diambil secara konsensional, bukannya lewat paksaan, ini berarti hirarki dan kekerasan tidak (selalu) mendapatkan tempat didalamnya. Dengan kata lain, para warga yang terlibat didalamnya terikat dan mengikatkan dirinya dalam suatu ruang kebersamaan demi kepentingan bersama pula.

 Dewasa ini konsep agora memiliki nama lain yakni, ruang publik (public sphere). Ruang Publik merupakan konsep yang dewasa ini popular dibahas oleh ilmu-ilmu sosial, teori-teori demokrasi hingga ke diskursus politik pada umumnya. Kata ruang public sendiri sering dibarengi dengan kata diskursus (discourse) yakni percakapan ataupun komunikasi baik tertulis maupun lisan. Dengan demikian, konsep ruang publik mengandaikan partisipasi seluruh warganegara secara komunikatif (bukan manipulatif ataupun destruktif).

Mengikuti penjelasan Habermas misalnya, ruang publik di sini dipahami sebagai sebuah domain dimana segala sesuatu yang terkait dengan opini publik dapat dibentuk. Lebih lanjut, akses terhadap ruang publik ini secara prinsipil diandaikan terbuka bagi seluruh pihak. Ini penting karena dalam ruang publik masing-masing pihak yang terlibat menjadi satu untuk membentuk gagasan-gagasan yang bersifat publik.  Dengan demikian pihak yang ada dalam ruang publik adalah para warga yang berurusan dengan persoalan-persoalan yang umumnya dihadapi secara bersama-sama.

Dalam ruang publik, kebebasan berbicara, berpendapat, dan berpartisipasi dalam perdebatan soal-soal yang menyangkut beragam aspek kehidupan bersama dijunjung tinggi. Kepublikan yang terjadi di dalam ruang publik dengan sendirinya mengandung daya kritis terhadap proses pengambilan keputusan serta tema-tema lainnya yang bersinggungan dengan berbagai macam area terkait. Dengan kata lain, karena ini merupakan isu yang berhubungan dengan diri masing-masing warganya, maka setiap warganya pun mesti terlibat didalamnya; caranya melalui komunikasi.

 Karena ruang publik mencakup area-area di mana diskusi bebas dapat terjadi dan pembahasan yang bersifat publik dapat dimungkinkan, maka sejatinya ruang publik adalah ruang sosial yang diproduksi oleh tindakan komunikatif, dimana para person terlibat dalam deliberasi dialogis mengenai isu-isu publik. Dengan demikian ini tentunya berbicara area-area seperti kafe, tempat nongkrong, kelompok diskusi atau debat, dan organisasi.

Nah, sekarang kembali pada ide berdirinya KS. Bertitik tolak dari serangkaian keterangan tersebut, maka kalau KS hendak diniatkan untuk menjadi suatu wadah diskusi antara sesama warga FTI, disini KS mestinya dimengerti dalam arti ia terbuka untuk seluruh civitas akademik FTI. Tema-temanya pun mesti beragam, utamanya yang terkait dengan keseluruhan kompleksitas kehidupan akademik yang ada di FTI.

Namun yang perlu diperhatikan disini adalah ciri apa yang secara khusus mengikat para warga FTI, yakni ciri akademisnya. Sebagai suatu magistrorum et scholarium dan universitas scientiarum maka ruang publik dalam kampus mesti memperhatikan cara pendekatan pembahasan serta tema-tema dengan ciri khas semacam ini. Dengan demikian KS sebenarnya dapat tumbuh sebagai salah satu wadah yang turut membangun kultul akademis bagi para warganya (sharing of knowledge and ideas). Kalau pada model agora Yunani dimungkinan terjadinya pertukaran argumen hingga transaksi ekonomis, maka dalam model agora akademik mesti dimungkikan terjadinya pertukaran ide dan gagasan hingga transaksi intelektual yang tujuannya diarahkan pada kepentingan bersama seluruh civitas dan FTI sendiri sebagai suatu institusi.

Sebagai suatu rintisan yang dimotori oleh PUSLIT FTI, bolehlah dikatakan disini bahwa dengan berjalannya KS dapat membuka jalan bagi suatu kehidupan akademik yang lebih baik (baca: dinamis) bagi seluruh warga FTI. Namun perlu diperhatikan beberapa catatan kritis mengenainya, yang pertama adalah soal konsistensi, baru kemudian seiring berjalannya waktu tema-tema yang dibahas didalamnya mesti memang memiliki nilai urgensi bersama dalam frame kelangsungan hidup FTI sebagai sebuah institusi. Lalu perlu diperhatikan juga keterlibatan aktif dari seluruh civitas akademika FTI (dosen, mahasiswa, staff/pegawai, laboran). Harapannya lewat KS ini, FTI UKSW mampu menjadi semakin solid dan menghasilkan ide-ide yang kritis, kreatif dan inovatif bagi perkembangan institusi yang kita cintai bersama ini.

~Yesaya~


About this entry