Battleship: Invasi Alien dalam Narasi Bersahaja

Battleship (2012)

Pada suatu Sabtu sore yang seolah begitu enggan menginsafi dirinya sebagai sebuah waktu antara menjelang malam karena aura siang sangat kuat menyengat dalam keberlimpahan cahaya, saya memutuskan membeli tiket nonton Battleship. Saya mengalami kegagalan pada kesempatan perdana meskipun tidak berimbas pada kehadiran kekesalan yang membabi buta atau kekecewaan yang mengharu biru karena pada jam tayang yang saya inginkan bulatan-bulatan penanda kursi pada layar loket didominasi oleh merah dan hanya menyisakan beberapa hijau di deretan-deretan terdekat dengan layar yang tentu saja tidak akan mendatangkan kenyamanan sekaligus menguapkan sebagian kesenangan menonton di bioskop. Saya memperoleh kursi yang pas pada pertunjukan yang terjadi tidak kurang dari dua setengah jam berikutnya dan selama durasi itu pula saya memilih mendekam di Starbucks dengan sepasang Toffee Almond Brownies dan Tokyo Danish serta segelas besar kopi-campur-ini-itu-yang-entah-saya-lupa-namanya dingin. Tempat ngopi yang tidak terlalu banyak bersolek itu tidak pernah gagal menghadirkan gelitik kesenangan yang tidak pernah menjelma terlalu meluap-luap tetapi tetap membuat saya kangen untuk kembali lagi dan lagi untuk menikmati racikan kopi dengan nama-nama biasa sekaligus terasa akrobatik sambil duduk anteng atau ngobrol sedikit-sedikit tentang apa saja disertai senyum dan diselingi tawa yang tidak jarang mengundang gagasan-gagasan yang bisa saja tidak akan pernah datang jika saya tidak berada di situ.

Lima belas menit menjelang jam tayang film saya meninggalkan kafe itu untuk kembali ke ruangan redup dengan beberapa titik yang sumringah beraroma gurih hangat berondong yang kemudian saya realisasikan dalam bentuk rasa bagi lidah dengan membeli sekotak berukuran medium yang tentu saja tidak akan berumur sepanjang durasi film. Setelah sekitar dua setengah jam sebelumnya cukup dibuat terkejut oleh dominasi merah pada layar, ketika memasuki studio saya kembali dikejutkan oleh betapa untuk mencapai kursi saya dibutuhkan waktu lebih lama daripada waktu-waktu sebelumnya karena semacam menunggu giliran untuk menapaki anak-anak tangga bergantian dengan penonton lain. Ternyata kejutan kedua bukan yang terakhir karena ada kejutan ketiga dari Battleship sendiri.

Film dibuka dengan menit-menit klise dalam memperkenalkan tokoh sentral. Hal itu sedikit demi sedikit mulai berubah pada rangkaian adegan yang melibatkan burrito sebagai subjek sekaligus objek yang sebenarnya sangat biasa tetapi terasa menyegarkan dan berakhir manis. Dari adegan pembuka yang seperti itu, film mengalir membentuk kelokan-kelokan yang menyenangkan untuk diarungi bahkan ada tikungan-tikungan tajam yang alih-alih mematikan justru melegakan saluran pernafasan dan memberi asupan bagi otak dan kalbu serta sesungging senyum pada bibir dan mata. Performa Taylor Kitsch meskipun masih membawa aura John Carter yang saya tonton beberapa minggu sebelumnya memiliki percikan-percikan yang membersitkan “dia aktor baik” di dalam pikiran saya mampu menjadi salah satu roh yang menghidupi film ini. Hal itu didukung oleh fakta bahwa meskipun tentang invasi alien, Battleship tidak menyajikan klise hampir abadi film genre alien invasion: kepanikan massal, kehancuran skala global dengan menampilkan kota-kota utama Bumi, pidato presiden USA yang inspiratif, armada hi-tech dengan kapabilitas membombardir level dunia-akhirat, scene-scene melodramatis. Sebaliknya, semua hadir dalam skala mikro, wajar, dan manusiawi. Tidak pula ada sosok hero yang superduperwow! hingga memunculkan celetukan “Are you for real?” atau “Seriously?” atau “O crap!”, hanya ada manusia yang berada pada satu titik dengan sejumlah tuntutan sekaligus beban: gagu menghadapi calon mertua sekaligus big boss-nya, kehilangan orang tercinta, memimpin orang-orang yang bahkan lebih hebat dari dirinya, memutuskan yang terbaik.

Yang paling berkesan bagi saya dari Battleship adalah sebuah moment ketika tokoh yang semestinya menjadi motor penggerak sekaligus tungku pembakaran cerita menyerahkan haknya kepada tokoh lain. Kesahajaan itu semakin terasa merenggut dan menebar pesona yang memerangkap perhatian ketika segala teknologi mutakhir berhenti berperan hingar bingar meramaikan layar dan digantikan oleh teknik-teknik klasik yang justru menimbulkan “Kewl!” setidaknya di benak saya: pelampung dan perpindahan air atau apalah namanya. Penemuan salah satu personal kapal perang tentang titik lemah gank alien berdasarkan pengalamannya dengan kadal peliharannya mau tidak mau juga harus diakui menjadi gimmick nakal yang sekali lagi semakin melambungkan kesan manusiawi film ini.

Battleship memberi saya pengalaman serupa dengan ketika saya menyaksikan The Darkest Hour. Di kedua film itu manusia tidak sekadar ditempatkan pada posisi yang serbasulit untuk kemudian meledak dengan begitu dahsyat atau dihadirkan sebagai tidak lebih daripada sosok-sosok fiktif serupa boneka yang hakikatnya memberi penghiburan bagi siapa pun yang menyaksikan sepak terjang mereka. Di kedua film itu manusia hadir sebagai darah dan daging, airmata, raga sebagai ruang bersemayam kekalutan, dan sebuah titik hidup tempat beragam pilihan saling bersilangan. Battleship memang tidak semegah film-film invasi alien sebelumnya, tetapi bukankah hidup sejatinya bukan sakadar tentang kemegahan yang kasatmata? Hidup adalah mahayudha, perang agung, Titanomachy, Ragnarok dalam hening nurani.

~Bramantio


About this entry