Problem Prinsip Non-Kontradiksi

Seorang kepala desa sedang memimpin sebuah pertemuan antara dua warganya yang sedang berselisih. Sebut saja nama kedua orang itu Iwan dan Hasan. Iwan datang mengadu kepada kepala desa. Katanya. “Pak Kades. Hasan setiap hari selalu membawa kambing-kambingnya melewati tanah saya dan akibatnya mengacaukan tanaman-tanaman saya. Itu adalah tanah saya, dan ini tidak dapat dibenarkan Pak”. Sembari mengangguk-angguk, Pak kepala desa pun menyahut, “ya..ya..ya.. kamu benar Iwan”. Lalu Hasan pun angkat bicara dan ganti berujar pada pak kades, katanya, “ tapi Pak Kades, melewati tanah Iwan adalah satu-satunya jalan menuju telaga tempat kambing-kambing saya dapat memperoleh minum, tanpa air itu kambing-kambing saya pasti mati. Lagipula sudah menjadi kebiasaan di desa ini kalau setiap pengembala kambing memiliki hak untuk melewati tanah menuju telaga itu”. Terdiam sejenak, pak kades pun menganggukkan kepalanya dan berkata, “ya..ya..ya.. kamu benar Hasan”. Dalam keheningan yang agak aneh, Istri pak Kades yang sedari tadi mendengarkan percakapan tersebut, tiba-tiba berkata pada Pak Kades yang masih terdiam, “tapi Ayah.. mereka tidak bisa benar kedua-duanya kan?”. Pak Kades pun menyahut, “Iya.. kamu juga benar”.🙂

Catatan:

Istri pak Kades sebenarnya sedang memberitahukan kepada suaminya bahwa ia  telah melanggar prinsip non-kontradiksi (suatu prinsip yang menyatakan bahwa suatu benda tidak mungkin “sesuatu” dan sekaligus “bukan sesuatu itu” dalam hal yang sama pada waktu yang sama. Dengan kata lain, mustahil bagi suatu benda untuk menjadi hitam dan sekaligus putih, “A” dan sekaligus “-A”. Ungkapan simbolik  tersederhana prinsip ini adalah: “A bukan –A” atau “A ? -A”) karena Iwan dan Hasan tidak dapat benar pada saat yang bersamaan. Istri pak Kades memang benar. Tapi apakah hanya dengan menyalahkan yang satu dan membenarkan yang lain dapat menyelesaikan masalah diantaranya dengan arif dan bijaksana? Lantas bagaimana solusinya?

Untuk uraian lebih lanjut mengenai upaya mengatasi problem prinsip non-kontradiksi dapat dibaca di:  Yesaya Sandang, Berpikir Paradoksal (Suatu Upaya Melengkapi Kontradiksi), Majalah BASIS, Nomor 09-10, Tahun ke-60, 2011


About this entry