Marta, Lori, Selina: Eksistensi dan Implikasi Karakter Pendukung dalam Mekanika Cerita

Dalam sejarah-yang-masih-terus-ditulis-dan-direvisi menyaksikan film-berdurasi-maksimal-tiga-jam dan serial televisi, karakter pendukung selalu menarik minat saya bahkan tidak jarang menebar pesona melebihi karakter sentralnya. Ketika eksistensi karakter sentral begitu menghisap perhatian hingga tidak menyisakan ruang bagi karakter lain, ini wajar karena statusnya sebagai tokoh sentral tentu memiliki konsekuensi menanggung beban hidup seluruh film. Tetapi, ketika seorang tokoh berstatus pendukung mampu mencuri perhatian dalam jatah-tampilnya-di-depan-layar yang bisa jadi hanya berdurasi belasan menit, ini mengagumkan. Senantiasa segar di dalam ingatan saya bagaimana Judi Dench sebagai Elizabeth II menghadirkan kerenyahan-canggung-yang-menyebabkan-gelak-tertahan-dan-wooot? dalam beberapa scene Shakespeare in Love. Hal senada juga saya peroleh melalui performa-yang-menghantui Viola Davis sebagai Mrs. Miller dalam Doubt dan scene perdebatannya dengan Meryl Streep sebagai Sister Aloysius Beauvier menjadi semacam duel fatalistik tanpa percikan darah namun nurani remuk redam. Keenigmatikan Eva Green sebagai Vesper Lynd memberi kontribusi besar dalam Casino Royale dan melengkapi James Bond urakan versi Daniel Craig sekaligus menambah bobot dramatik film ini. Performa bitchylicious Emily Blunt di The Devil Wears Prada sebagai Emily Charlton dengan aksen British-menggemaskan-hingga-membuat-seseorang-ingin-menampar-nya yang di atas kertas-konvensional semestinya terhitung antagonis atau setidaknya semi-antagonis justru menghembuskan kesenangan tersendiri bagi saya. Megan Mullally dengan performa komikalnya sebagai stylish alkoholik psikotik Mrs. Keep-Your-Distance with big boobs Karen Walker dalam serial Will & Grace menjadikannya karakter pendukung yang benar-benar membuat saya ngakak dan adakalanya tidak bisa menahan diri untuk memutar kembali adegan yang sama beberapa kali untuk memperoleh ngakak yang bahkan kualitasnya tidak berkurang. Dan tentu saja karakter pendukung favorit saya, Julianne Moore sebagai Laura Brown dalam The Hours yang kedepresifannya mengalir begitu rupa melewati batas dimensi layar bioskop dan televisi hingga membuat saya turut merenungi makna kehidupan dan kematian.

Pengalaman serupa meskipun dengan ornamen berbeda saya peroleh selama beberapa bulan terakhir dalam siang sore malam nonton di bioskop dengan sekotak-ukuran-sedang berondong gurih-asin dan sebotol air mineral. Performa Rachel Weisz sebagai Marta Shearing dalam The Bourne Legacy cukup mengejutkan saya. Awalnya memang tampak biasa karena ilmuwan atau peneliti adalah salah satu peran tipikal yang sebagian darinya bisa terwujud hanya dengan bantuan kacamata, mantel putih laboratorium, dan laboratorium dengan segala pernak-perniknya. Kesan seperti ini lambat-laun berbelok arah ketika mendekati pertengahan film dalam rangkaian scene yang begitu fisikal, fisikal bukan dalam pengertian meminimalkan penutup tubuh dan memaksimal eksposisi raga, tetapi fisikal atletis dan hal ini tentu mengejutkan karena… hei, ini Rachel Weisz lho, bukan Angelina Jolie, Jennifer Garner, Michelle Rodrigues, atau Milla Jovovich. Bahkan performa fisikal atletisnya di sini terasa jauh lebih betapa-menggos-menggosnya dibanding performanya di The Mummy dan The Mummy Returns. Scene-nya bersama Jeremy Renner sebagai Aaron Cross bersliat-sliut dengan sepeda motor curian di jalanan sarat manusia dan mesin beroda benar-benar waw! Tanpa Marta, Aaron dengan segala kapabilitas-mata-mata-super-nya tidak bisa berbuat banyak, Aaron pun tidak mungkin bertahan sepanjang film. Separuh nafas The Bourne Legacy ada di performa Weisz.

Kedudukan perempuan sebagai karakter pendukung yang justru menjadi penentu hidup-matinya tokoh sentral dan cerita saya temui sebelumnya di remake Total Recall. Ketika menyaksikan trailer film ini, saya sempat curiga bahwa Kate Beckinsale akan menghadirkan semacam kloning-bukan-vampir Selene dan membayangkan serunya scene gibeng-gibengan antara Kate Beckinsale dan Jessica Biel. Faktanya, performa Beckinsale sebagai Lori Quaid mengatasi performanya sebagai Selene di Underworld, bahkan di Underworld: Awakening yang lebih berdarah-darah kosro dibanding tiga Underworld sebelumnya. Beckinsale benar-benar brutal, tidak ada matinya, dan merupakan personifikasi kelinci-ndableg-Eveready yang tentu saja tanpa kesan imut menggemaskan. Jessica Biel yang sebelumnya memiliki pengalaman sebagai jagoan di Blade: Trinity pun tenggelam begitu saja. Scene adu jotos Beckinsale dengan Colin Farrell sebagai Douglas Quaid di apartemen mereka menjadi salah satu scene terbaik dan memanjakan mata saya. Tanpa Lori yang dihidupkan Beckinsale, Total Recall mungkin sekadar film fiksi ilmiah biasa dengan latar utopia sekaligus distopia dan sebuah wahana gigantik bernama The Fall yang impresif.

Beberapa minggu sebelum Total Recall tayang di bioskop, saya menonton pamungkas trilogi film Batman versi Christopher Nolan The Dark Knight Rises yang menjadi arena bermain Selina Kyle alias Catwoman. Beberapa waktu sebelum karakter ini benar-benar muncul di TDKR, terpilihnya Anne Hathaway sebagai Catwoman mendatangkan pro dan kontra di kalangan moviegoer. Hal ini tentu beralasan karena track record Hathaway yang berkisar pada film-film inosen yang tidak menonjolkan performa fisikal atletis. Saya pun awalnya sempat mengkhawatirkan performa Hathaway, tetapi kemudian berusaha memperkuat keimanan pada Nolan yang pada The Dark Knight mampu mentransformasi Heath Ledger sebagai Joker demoniak dan keimanan pada Hathaway yang bagaimanapun pernah tampil tidak biasa, gelap, dan dengan selapis aura Gotik dalam Rachel Getting Married. Dan memang demikianlah adanya, Catwoman versi Hathaway hadir sebagai karakter yang membumi berbeda dari versi Halle Berry di Catwoman, tidak berlebihan dalam tuturan, dan mengesankan felinitas klasik dalam gerak-geriknya. Kesan seksi sekaligus fatal pun tidak lepas dari performanya dengan fabrik hitam mengilat yang mendekap lekat tubuhnya serupa kulit kedua, kedok gadgety yang justru mempertajam profil wajah dan bibir-merah-merekah-darah-nya, dan sepatu but lengkap dengan high heels metal. So kinky, kata seorang kawan. Saya pun tidak menyangka scene perdana ketika Hathaway menaiki batpod menghasilkan sensasi yang bahkan melebihi scene Megan Fox berpose sexy-naughty-bitchy di atas sepeda motor di Transformers: Revenge of the Fallen. Batpod pun tampak lebih cocok untuk Catwoman daripada untuk Batman. Tanpa campur-tangan Catwoman, baik sebagai medium ambigu yang mempertemukan Batman dengan Bane maupun mendukung Batman di jalur darat dalam rangkaian scene pengejaran seru mencegah terjadinya kiamat bagi Gotham di muara cerita, keheroikan Batman tidak akan terasa menggugah.Seperti halnya Weisz dan Beckinsale, Hathaway memberikan nuansa tersendiri pada TDKR. Mereka menghidupkan karakter pendukung yang eksistensinya kemudian menjadi salah satu komponen utama mesin penggerak cerita.

~Bramantio


About this entry