Rumah, Sendiri, Materi Gelap

ecosalon.com

“Nggak takut tinggal sendiri di rumah?” Suatu hari saya mendapat pertanyaan seperti itu. Satu detik selepas pertanyaan itu meluncur dari rongga mulut si penanya, saya langsung mengernyit. Saya pun tidak menyangka bahwa ternyata pertanyaan seperti itu kembali dilontarkan kepada saya pada waktu lain beberapa kali oleh orang yang berbeda-beda yang tidak jarang berusia cukup jauh di atas saya. Sebenarnya saya mengerti arah pertanyaan itu, tetapi karena tidak ingin meremehkan siapa pun, saya bertanya balik “Takut apa?” Dan memang benar seperti yang saya pahami karena si penanya kemudian menanggapi dengan kurang lebih “You know lah” mungkin sambil berpikir “Bego banget nih orang. Emang dipikirnya takut sama apaan?”

Hingga hari ini ketika saya menerima pertanyaan seperti itu, formula yang sama berlaku dan hasilnya ternyata selalu sama: nggak takut tinggal sendiri di rumah + takut apa = you know lah. Jika ini semacam eksperimen, hasil akhir yang biasanya membuat peneliti merasa senang karena ternyata bisa berlaku umum, ternyata justru membuat saya bertanya-tanya tentang yang sebenarnya berkelindan di pikiran para penanya saya. Di dalam formula itu terdapat sekurang-kurangnya tiga variabel: sendiri, takut, rumah. Variabel takut bersifat khusus karena ia mengacu pada takut terhadap materi gelap atau you-know-lah, bukan takut pada segala yang kasatmata.

Bagi sebagian orang, kesendirian mungkin menjadi salah satu isu utama sepanjang hidupnya. Bukan karena bagi mereka kesendirian mengandung arti tidak ada yang dimintai bantuan, tetapi lebih pada semacam tidak tahan dengan eksistensinya. Berdasarkan pengalaman sebagai satu-satunya anak yang dimiliki orangtua saya, kesendirian menjadikan seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk dirinya termasuk untuk berpikir tentang dirinya: konstruksi, kebutuhan, definisi rasa, impian terhoror, harapan paling gemintang, dan segala yang berkaitan dengan kedirian. Dalam kesendirian, kita bisa mengenal diri kita dengan lebih baik. Bagi orang-orang yang seluas pengalamannya terbiasa hidup dalam hari-hari hektik dengan banyak suara untuk didengar, tangan-tangan untuk digapai, dan raga-raga untuk berbagi ruang, kesendirian tentu semacam neraka personal tanpa pijar terang terik agni peluluhlantak dan hiruk-pikuk siksa brutal dengan cara-cara paling kreatif yang saking dahsyatnya bahkan tidak bisa membuat seseorang berteriak wow!, kesendirian tentu semacam ketakberdayaan penghabisan pada sepertiga terakhir menjelang fajar yang menjadi jantung malam karena saat itulah ia mencapai masa terkelamnya. Saya selalu percaya dan meyakininya bahwa hakikat manusia adalah sendiri, memiliki keluarga, teman, kekasih adalah sekadar bonus karena berapa pun banyak waktu yang dibagi bersama orang lain, pada akhirnya manusia selalu sendiri denga pikirannya, cita-citanya, kekhawatirannya. Segala suka dan duka milik seseorang yang berhasil ditebarnya untuk kemudian dirasakan juga oleh orang lain berlaku seperti halnya perpindahan energi Matahari ke benda-benda antariksa di sekitarnya termasuk Bumi: makhluk Bumi hanya merasakan sebagian energi Matahari. Betapa pun banyak seseorang berbagi cerita tentang dirinya kepada orang lain, yang paling menginsafi segala rasa tentang cerita itu adalah si pencerita. Itu pula mengapa pada saat-saat tertentu betapa tidak bijaksana membiarkan diri berujar “It’s gonna be okay” atau “Ambil hikmahnya saja” untuk orang lain yang sedang berada pada titik terendah hidupnya karena kita sesungguhnya tidak benar-benar merasakan yang ia rasakan. Bagaimanapun, hal semacam itu mungkin menjadi kebiasaan sebagian orang yang berharap orang lain akan melakukan hal yang sama dan memberikan penghiburan meskipun semu ketika mereka berada pada titik terendah hidupnya karena mereka tidak tahan dengan masalahnya sendiri, dengan dirinya sendiri.

Ketika kesendirian telah menjadi sesuatu yang berterima dengan seutuhnya, rumah tentu terasa semakin rahimiah. Yah setidaknya untuk saat ini begitulah saya menyebutnya. Rahimiah. Bagi saya, tempat teraman manusia bukanlah bunker di kedalaman Bumi atau panic room di gedung-gedung supermutakhir, tetapi rahim. Dan rumah adalah rahim kedua bagi seseorang. Manusia memang tidak bisa mengingat yang terjadi selama kurang lebih sembilan bulan ia mendekam di rahim ibunya, tetapi dari sejumlah buku tentang anatomi yang pernah saya baca, jabang bayi yang tidak kembar atau triplet atau quadruplet dan seterusnya ia tentu sendiri dan tanpa cahaya. Bisa jadi di alam bawah sadar hal itu menjadi semacam pengalaman traumatik perdana bagi manusia sehingga mereka selalu berusaha mencari kawan dan cahaya, tetapi hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa rahim adalah rumah perdana yang meskipun tidak berpenerang tetap mampu menyediakan keamanan. Hal ini sebenarnya tampak pada laku manusia yang bergelung-sedemikian-rupa-seperti-fetus ketika ia merasa terancam. Analogi yang sama saya pikir juga terjadi di rumah. Seperti halnya pertanyaan di awal tulisan ini, saya juga beberapa kali menerima semacam keluhan dan keprihatinan terselubung dalam kalimat “Lampunya mbok ya dinyalakan. Masak rumah dibiarkan gelap begitu” dari kerabat atau tamu yang langsung meletupkan kalimat “Masalah buat lo?” di pikiran saya. Tentang rumah yang gelap, saya hanya berpikir praktis: lampu memang tidak diperlukan menyala di ruangan itu dan, yah, daripada menggunakan uang untuk membayar pemakaian listrik lebih baik digunakan untuk mendukung hari-hari nge-mall saya dan membeli kebahagiaan. Formula yang berlaku pada kasus kedua ini serupa dangan yang pertama tetapi lebih sederhana: rumah gelap = you know lah.

Hingga hari ini peristiwa-peristiwa you-know-lah yang terjadi pada saya atau materi gelap yang muncul di hadapan saya tidak berkaitan dengan kesendirian di rumah gelap dan saya pun selalu berpikir: ini rumah saya dan saya tidak mengganggu siapa pun. Apabila saya membuat klasifikasi peristiwa-peristiwa you-know­-lah yang terjadi di rumah saya, beginilah hasilnya: 1. saya kangen dengan orang-orang yang telah tiada, khususnya orangtua saya; mungkin juga mereka yang kangen saya dan menyempatkan diri untuk berkunjung, hehehe; 2. saya bermasalah dan membutuhkan semangat tambahan untuk menjalani hari-hari saya, hal yang belum tentu bisa diberikan oleh yang masih hidup dan terlalu banyak bicara tetapi kosong melompong; 3. saya diberi peringatan tentang hal-hal yang dapat dikatakan tidak baik sehingga setidaknya saya memiliki semacam persiapan untuk menghadapi, menjalani, atau bahkan memutar balik keadaan; dan 4. ada yang berulah dan mengirim utusan melalui orang lain sebagai medium, dan yang terakhir ini sungguhlah najis tralala dan memperlihatkan betapa manusia seolah begitu egois dan dengan mudah melupakan formula tanam = tuai, tuai yang tidak hanya terjadi pada mereka sendiri, tetapi bisa jadi melompat ke keturunannya dan generasi sesudahnya. Terlepas dari keempat hal ini, toh materi gelap memang ada, selalu seperti itu, apa pun bentuknya, melayang-layang di sekitar kita, berbagi semesta dengan kita. Rengkuh dan terima saja.

~Bramantio