Andromeda

Di sebuah kota di tepi laut hidup dua perempuan yang bersahabat. Keduanya cantik. Keduanya molek. Keduanya berambut emas berombak. Keduanya berjemari lentik. Keduanya berbibir merekah. Keduanya berpayudara membuah. Keduanya bertungkai indah. Keduanya berkulit cerah. Keduanya bernama Andromeda.

Andromeda dan Andromeda saling mengenal jauh sebelum keduanya menjadi cantik dan molek, lama sebelum keduanya berjemari lentik, berbibir merekah, berpayudara membuah, dan bertungkai indah. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama membaca puisi di taman kota untuk diri mereka sendiri dan orang-orang. Pada awalnya orang-orang merasa heran dengan persahabatan keduanya karena keduanya berasal dari dunia yang berbeda. Andromeda yang satu adalah putri penguasa kota, Andromeda yang lain hanyalah putri kusir penguasa kota. Seiring waktu, orang-orang tak lagi merasa heran. Sejalan masa, kedua Andromeda semakin mirip. Yang membedakan keduanya hanyalah warna kesukaan mereka. Andromeda putri penguasa kota menyukai viridian, Andromeda putri kusir penguasa kota menyukai vermilion. Oleh karena itu, orang-orang memanggil keduanya sebagai Andromeda Viridian dan Andromeda Vermilion.

Harmoni keduanya mulai retak ketika Andromeda Vermilion merasa orang-orang berlaku tak adil. Orang-orang lebih mencintai Andromeda Viridian. Apakah karena dia lebih cantik daripada aku? Ah, tidak. Kami sama-sama cantik. Bahkan, aku lebih cantik. Ia becermin. Payudaraku lebih montok. Ia mengelus payudaranya. Pantatku juga lebih semok. Ia menepuk pantatnya. Atau, karena dia putri penguasa kota?  

Harmoni keduanya semakin retak ketika Andromeda Vermilion berusaha membuat orang-orang mencintai dirinya seperti mencintai Andromeda Viridian. Kalau bisa, mereka harus lebih mencintaiku! Berbagai cara dilakukan, berbagai jalan ditempuh. Tapi, orang-orang tetap lebih mencintai Andromeda Viridian.

Harmoni keduanya benar-benar hancur ketika Andromeda Viridian mengatakan kepada Andromeda Vermilion bahwa ia jatuh cinta pada laki-laki dari seberang laut. Ia telah mengutus sepasang merpati putih mengirim surat yang berisi ungkapan perasaannya kepada laki-laki itu. Laki-laki itu adalah Perseus, putra penguasa Pulau Pegasus. Keduanya bertemu pada jamuan makan malam yang diselenggarakan ayah Perseus. Aku juga jatuh cinta pada Perseus. Seandainya aku mengungkapkan perasaanku kepada Perseus lebih dulu pun, aku yakin Perseus tetap lebih memilih dia.

Tujuh hari kemudian kegemparan melanda kota. Untuk pertama kali dalam sejarah kota terjadi pembunuhan. Korbannya adalah penguasa kota. Juru bicara istana membuat pernyataan yang tersiar ke mana-mana: Untuk saat ini kami menyimpulkan bahwa pelakunya adalah orang dalam. Beliau terbunuh di dalam kamar beliau. Tidak semua orang diizinkan masuk ke kamar beliau, lebih-lebih ketika malam. Penjagaannya pun sangat ketat. Hanya saja, kami belum dapat memastikan pembunuh beliau. Semoga Yang Tak Pernah Tidur menerangi dan membuka jalan untuk kita semua.

Sejak saat itu pencarian petunjuk yang mengarah ke pembunuh penguasa kota terus dilakukan. Penjaga kamar penguasa kota ditanyai satu per satu. Semua ahli yang dimiliki kota dikerahkan. Ada satu ahli yang terus-menerus berjalan mengelilingi kamar penguasa kota. Ia menyentuh segala yang ada di dalam kamar. Setiap kali tangannya menyentuh sesuatu ia memejamkan sepasang matanya yang begitu dalam. Ia melihat kelebat masa silam lalu merunutnya menjadi untaian peristiwa. Ada juga ahli yang meminta izin keluarga penguasa kota untuk melepas kornea mata penguasa kota. Izin pun diberikan meskipun dengan berat hati. Ia membuka kain putih penutup tubuh mati penguasa kota. Di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Ia mendekatkan lilinnya ke sepasang mata penguasa kota. Ia membuka kelopaknya lalu mengiris korneanya dengan seutas rambut ekor Unicorn. Ia menerawangkan kornea ke lilin yang menyala. Ia mencari bayangan. Kornea orang mati selalu menyimpan hal terakhir yang dilihat empunya. Kedua ahli melihat hal yang sama: Andromeda. Hanya saja, mereka tidak melihat warna-warni karena masa lalu adalah hitam, kelabu, dan putih.

Tiga hari kemudian.

            “Aku tidak membunuh ayahku. Aku bersumpah atas nama dewa-dewa.”

            “Para penjaga mengatakan bahwa Anda adalah orang terakhir yang menemui beliau di kamar beliau malam itu,” kata.

            “Tapi, bukan berarti aku pembunuhnya,” Andromeda Viridian menggigit bibir bawahnya, “Bisa saja penyihir menyaru menjadi aku.”

            “Di kota ini tidak ada lagi penyihir sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Mereka semua telah ditenggelamkan atau digantung atau dibakar.”

            “Di kota ini juga tidak pernah terjadi pembunuhan. Apabila kini terjadi pembunuhan, bukankah segalanya menjadi mungkin?” Andromeda Viridian menatap kedua mata jaksa.

Tiga hari kemudian.

            “Saya tidak membunuh beliau.”

            “Para penjaga mengatakan Andromeda Viridian adalah orang terakhir yang menemui beliau di kamar beliau malam itu. Tapi, bisa juga seseorang yang sangat mirip Andromeda Viridian,” jaksa membiarkan kata-katanya mengambang di udara, “Dan Anda sangat mirip Andromeda Viridian.”

            “Saya tidak membunuh beliau,” katanya sambil meneteskan airmata, “Mungkin….”

            “Mungkin apa?”

            “Andromeda Viridian memang membunuh beliau.”

            “Apa yang menjadi dasar Anda berkata demikian?”

            “Karena….” Maafkan aku. Aku hanya ingin mereka mencintaiku seperti mereka mencintaimu. “Begini. Sehari sebelum pembunuhan terjadi, Andromeda Viridian mengatakan beliau tidak menyetujui jalinan cintanya dengan Perseus. Ia sudah berusaha meyakinkan beliau, tapi beliau tetap teguh pada pendirian beliau.”

Setelah rehat sejenak, jaksa memanggil Andromeda Viridian.

            “Benarkah beliau tidak menyetujui jalinan cinta Anda dengan Perseus?”

            “Benar,” kata Andromeda Viridian mantap.

Tiga hari kemudian. Persidangan telah usai. Keputusan ada di tangan seluruh rakyat kota yang memenuhi alun-alun depan istana.

            “Kalian telah mendengar kesaksian Andromeda Viridian dan Andromeda Vermilion. Sekarang saatnya kalian memutuskan,” jaksa selalu menikmati menjadi pusat perhatian, lebih-lebih pada hari itu, “Siapa yang bersalah? Siapa yang akan menerima hukuman? Andromeda Viridian atau Andromeda Vermilion?”

            “Andromeda Viridian!!!” mereka serentak berseru.

Andromeda Vermilion langsung memeluk Andromeda Viridian yang tak kuasa menolak pelukan itu. Akhirnya, setelah tiga puluh tiga tahun, mereka lebih mencintaiku.

Laki-laki bertubuh tinggi besar memasang belenggu di pergelangan tangan dan kaki Andromeda Viridian yang rantainya menjuntai panjang menyapu lantai. Ia berdiri menatap orang-orang yang pernah mencintainya yang menatapnya dengan penuh kebencian. Aku bukan pembunuh. Ia melangkah menuruni tangga marmer yang terasa dingin di telapak kakinya yang telanjang. Suara gemerincing rantai yang terseret terus membahana sepanjang perjalanannya menuju laut. Inikah jalan kematianku?

Andromeda Viridian dibelenggu di sebongkah batu besar. Kedua tangannya terentang searah rantai yang melilit batu dan tungkai indahnya menjulur ke bawah diciumi air laut. Ia akan menjadi mangsa Draco Sang Naga Laut. Kedatangannya diawali dengan munculnya gelembung-gelembung di tengah laut. Makhluk itu menyeruak meliuk dari kedalaman laut. Mata merahnya seolah mengandung bara ribuan tahun. Sirip serupa layar besar berduri mencuat di punggungnya. Sisik violetnya berkilau tertimpa sinar matahari. Satu kali ia membuka mulutnya yang dipenuhi geligi runcing dan melengking nyaring memecah angkasa. Orang-orang ternganga melihatnya. Mereka merasa takut, tapi tak beranjak dari tempat mereka berdiri. Draco mendengus lalu bergerak membelah air mendekati Andromeda Viridian. Ketika jarak keduanya tersisa satu lemparan tombak, datanglah Perseus terbang bersama Pegasus. Ia menebas putus rantai belenggu Andromeda Viridian dengan pedang bertangkai panjang lalu membawanya mengangkasa. Draco yang merasa kecewa langsung bergerak menaga buta menuju kerumunan orang-orang yang masih ternganga. Mereka tak kuasa mengambil langkah seribu. Mereka menjadi korban amukan kekecewaan Draco.

Di antara mega-mega,

            “Turunkan aku, Perseus! Turunkan aku!”

            “Kau cari mati?!”

            “Itu lebih baik daripada melihat mereka mati! Turunkan aku! Naga itu hanya mengincarku!”

Perseus berpikir keras. Ia tak ingin kehilangan kekasihnya. Ia memacu Pegasus menukik kembali ke bumi.

            “Lepas kainmu!”

            “Kau gila?!”

            “Lakukan saja!”

Andromeda Viridian melepas kain yang melilit tubuhnya lalu menyerahkannya kepada Perseus. Pegasus terbang rendah mendatar permukaan bumi. Perseus memusatkan perhatiannya pada Andromeda Vermilion yang berlari menjauhi laut.

            “Apa yang akan kaulakukan?!”

            “Dialah pembunuh ayahmu! Aku yakin!”

Perseus melempar kain viridian. Kain itu melayang lalu jatuh tepat menutupi tubuh Andromeda Vermilion. Ia mencoba membebaskan diri dari belitan kain. Saat itulah Draco melihat Andromeda Vermilion berdiri mematung berselimut kain viridian. Bagi Draco, Andromeda Vermilion adalah Andromeda Viridian. Draco pun melahapnya lalu kembali ke kedalaman laut.

Kisah Andromeda Viridian dan Perseus tidak berakhir bahagia-selama-lamanya. Bagaimana pun, mereka telah menjadi pembunuh dengan cara mereka sendiri. Titah pun turun ke bumi. Andromeda Viridian menjelma gugusan bintang mahabesar dan Perseus hanya bisa memandanginya ketika Helios tak lagi mengembara bersama keretanya di langit biru.

~Bramantio


About this entry