Embrio

spermart.wordpress.com

Sekurang-kurangnya satu kali dalam satu minggu aku menghabiskan satu jam di sini. Duduk di bangku kayu panjang yang bagian tengahnya melengkung dan permukaannya licin mengilap karena bertahun-tahun memadu kasih dengan pantat-pantat yang tidak pernah sama. Duduk di bawah tenda terpal biru yang selalu mengeluarkan suara khas setiap kali ditiup angin kencang atau ditimpa titik-titik air langit. Duduk sambil menikmati sepiring lontong balap dan segelas es teh manis. Lontong balap di sini tidak seperti lontong balap di warung-warung lain. Bukan rasanya, tapi taugenya. Taugenya putih dan bersih. Aku baru menyadarinya setelah beberapa kali makan di sini. Aku baru menyadarinya setelah sekian lama karena aku selalu makan di sini sambil membaca koran sore.

Sore ini tidak seperti biasanya. Warung terasa lengang, mungkin karena sore ini sedang gerimis. Hanya ada sepasang remaja berseragam SMA duduk di sudut tenda dan perempuan beruban bersama anak laki-laki tidak jauh dari mereka. Aku memilih duduk tidak jauh dari gerobak Pak Slamet, penjual lontong balap.

            “Seperti biasa, Mas?” tanya Pak Slamet dengan tekanan pada bunyi-bunyi tertentu.

            “Iya, Pak.”

Seperti biasa berarti beberapa iris lontong, potongan tahu dan lêntho yang lebih banyak daripada porsi umum, tauge dan bawang goreng yang juga lebih banyak, sedikit kecap, dan sambal petis satu sendok penuh. Seperti biasa berarti aku membayar lebih banyak daripada pembeli-pembeli lain. Seperti biasa juga berarti segelas es teh manis. Ketika Pak Slamet menyiapkan pesananku, aku mengeluarkan koran sore dari tasku dan membentangkannya memenuhi meja. Sebelum berita pertama habis kubaca Pak Slamet sudah berdiri di depanku membawa sepiring lontong balap dan segelas es teh manis. Mau tidak mau aku harus melipat koran setengah untuk memberi ruang makan soreku.

            “Terima kasih, Pak.”

Pak Slamet berjalan menjauh. Laki-laki seumuran bapakku itu selalu sama dari waktu ke waktu. Songkok hitam, baju koko putih yang dilipat sampai siku, celana hitam yang panjangnya tidak melebihi mata kaki, sandal jepit kulit hitam, dan kumis tipis tanpa janggut. Dulu aku pernah berpikir Pak Slamet tidak pernah ganti baju karena ketika aku datang ke warung ini dua hari berturut-turut, Pak Slamet memakai baju yang sama. Tapi, seiring waktu aku sadar baju-baju koko Pak Slamet memiliki ornamen yang berbeda meskipun warnanya sama-sama putih.

            “Sepi ya, Pak.”

            “Iya, Mas. Mungkin karena gerimis.”

Tadi aku juga berpikir begitu. Aku melihat sekilas ke lontong balapku. Masih saja putih. Sebenarnya aku tahu penyebab tauge ini putih, sangat tahu. Tapi, aku belum pernah membicarakannya dengan Pak Slamet. Aku mulai makan. Mataku bepindah-pindah antara lontong balap dan koran. Kecelakaan lagi. Korupsi lagi. Pembunuhan lagi. Pemerkosaan lagi. Perceraian lagi. Unjuk rasa lagi. Aku sampai pada suapan terakhir. Beberapa biji cabai mengisi kekosongan piring. Satu, dua, tiga, empat. Empat biji cabai. Oh, tidak, ada satu lagi di bawah sendok. Lima biji cabai. Masih tersisa beberapa halaman koran yang belum kubaca, selalu seperti itu. Aku melipat koran lalu memasukkannya ke tas. Aku beralih ke es teh manis. Menyesapnya satu kali lalu mengecap mencari manis. Pas. Meminumnya pelan-pelan sambil melihat gerimis melalui celah tenda yang berfungsi sebagai pintu. Perempuan beruban yang duduk membelakangiku baru saja selesai makan. Lama sekali makannya, mungkin ia tidak lagi bergigi. Ia mencabut selembar tisu lalu mengusapkannya ke bibirnya.

            “Tidak dihabiskan, le?” perempuan beruban bertanya kepada si anak.

Si anak menggeleng.

            “Nanti ayamnya mati lho.”

Si anak terlihat binggung lalu cepat-cepat menghabiskan lontong balapnya yang ternyata tinggal dua suap dan es jeruknya yang tandas dalam sekali teguk. Lucu. Aku yakin si anak tidak punya ayam, ayam pun tentu saja tidak akan mati jika pemiliknya tidak menghabiskan makanannya. Dulu aku juga seperti itu. Perempuan beruban mencabut selembar tisu lagi dan mengusapkannya ke bibir si anak. Keduanya beranjak dari tempat duduknya, perempuan beruban membayar, lalu menggandeng si anak meninggalkan tenda bersama becak yang tampaknya selama ini menunggu. Gerimis telah sirna. Sepasang remaja berseragam SMA latah mengikuti perempuan beruban dan si anak. Mereka beranjak dari tempat duduknya, salah satunya membayar, lalu mereka pun meninggalkan tenda, tidak sambil bergandengan. Kini aku pembeli tunggal. Pak Slamet berjalan ke sudut tenda sambil membawa nampan dan lap. Pak Slamet menumpuk piring lalu meletakkannya di nampan, meraih kedua gelas pada pegangannya dengan sekali gerak, dan mengakhirinya dengan mengelap permukaan meja. Pak Slamet melakukan hal yang sama pada meja perempuan beruban dan si anak. Pak Slamet melirikku sekilas dan tersenyum. Aku menyampirkan tasku ke bahu kanan lalu mengambil piring dan gelasku untuk kubawa ke gerobak. Aku mengeluarkan uang dari saku kemeja. Uang pas.

            “Terima kasih, Pak.”

            “Sama-sama, Mas.”

Aku ragu sesaat antara melangkah meninggalkan tenda atau membuka pembicaraan dengan Pak Slamet. Aku melihat Pak Slamet yang sedang mencuci kelima piring dan gelas. Aroma lemon menyeruak menyatu dengan udara dingin.

            “Saya boleh tanya, Pak?”

            “Silakan saja, Mas,” sambil menyelesaikan cuciannya.

            “Saya heran dengan tauge Pak Slamet.”

Pak Slamet melihat sekilas ke arahku lalu mengangkat cuciannya untuk dilap.

            “Ada apa dengan tauge saya?” ada sebersit kecemasan di wajahnya.

            “Putih.”

            “Ooo, itu. Saya kira….” tampak lega.

            “Kok bisa begitu, Pak?”

            “Sebelum dimasak, ekornya dibersihkan, dipêthili dulu. Kulit kepalanya juga.”

            “Kalau itu saya tahu. Yang membuat saya heran, kok sempat-sempatnya membersihkan ekor dan kulit kepala tauge yang sebanyak itu.”

            “Ya harus sempat, Mas. Saya ini kan hidup dari orang-orang yang membeli lontong balap saya. Gak ilok, tidak sopan kalau saya tidak berusaha memberikan yang terbaik meskipun untuk urusan rasa memang tidak ada yang istimewa,” katanya sambil menumpuk piring-piring dan menjajar gelas-gelas yang telah dilap, “Kok jadi ngaplo, Mas?”

            “Tidak apa-apa, Pak.”

            “Mas boleh datang ke rumah kalau mau lihat.”

            “Kapan, Pak?”

            “Nanti malam juga boleh.”

            “Malam? Kok tidak pagi-pagi?”

            “Masaknya memang pagi, tapi membersihkannya malam lalu dimasukkan kulkas.”

            “Kalau begitu, saya nanti ke rumah Pak Slamet setelah sholat Isya. Di gang itu, kan?,” tanyaku sambil menunjuk gang yang tidak jauh dari warung Pak Slamet. Aku tahu karena Pak Slamet pernah mengatakannya. Tahu sekadar tahu karena aku belum pernah datang ke rumahnya.

            “Masih ingat saja. Iya, di gang itu, nomor lima.”

Selepas Isya. Aku berjalan memasuki gang sempit ke arah rumah Pak Slamet. Hanya ada sebuah lampu neon dua puluh watt yang menerangi gang pendek itu. Di kanan kirinya terdapat got kecil yang juga pendek yang menyeruakkan bau samar tidak sedap. Rumah-rumah berjajar rapat. Rumah nomor lima terletak di ujung gang yang ternyata buntu. Aku tidak perlu mengetuk pintu karena Pak Slamet telah melihatku begitu aku sampai di depan rumahnya. Pak Slamet mempersilakan aku masuk.

            “Ini istri dan anak-anak saya.”

Istri Pak Slamet begitu subur. Anak pertamanya perempuan dengan rambut dikepang. Manis. Beberapa jerawat mungil ada di wajahnya. Anak keduanya laki-laki beralis tebal. Satu gigi seri bagian bawahnya tanggal. Kami lesehan di atas tikar pandan yang berlubang kecil di beberapa bagian, di depan televisi yang menanyangkan sinetron yang aku tidak tahu judulnya. Malang sekali nasib sinetron itu, tidak seorang pun menontonnya. Ia hanyalah pengisi keheningan. Anak perempuan Pak Slamet menghilang sejenak ke bagian belakang rumah.

            “Ya begini ini, Mas, kalau malam,” kata Pak Slamet.

Aku hanya mengangguk. Aku melihat beberapa kantong plastik berisi tauge. Ada sebuah baskom plastik besar di tengah-tengah yang digunakan untuk menampung tauge yang telah dibersihkan. Anak perempuan Pak Slamet muncul dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat dua gelas teh.

            “Ayo diminum, Mas,” kata Pak Slamet.

            “Terima kasih.”

Setelah menyajikan, anak perempuan Pak Slamet meletakkan nampan di bawah meja televisi lalu kembali ke tugas awalnya. Sambil berbicara tidak tentu arah dengan Pak Slamet, aku melihat tiga orang di depanku yang sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Mereka memiliki cara yang berbeda dalam membersihkan tauge. Istri Pak Slamet membersihkan ekor tauge dengan memetiknya ke arah dalam, bertumpu pada ujung telunjuknya. Anak perempuan Pak Slamet menggunakan kuku ibu jarinya untuk memotong ekor tauge sehingga arah petikannya ke luar. Untuk bagian kepala, keduanya membersihkan kulitnya dengan mengelupasnya perlahan. Tidak seperti ibu dan kakaknya, anak laki-laki Pak Slamet tidak menggunakan jemarinya, tapi memakai pisau dan telenan. Ia menjajar tauge satu per satu di atas telenan, menahannya dengan tangan kiri, dan memotong ekornya. Hasilnya memang langsung banyak, tapi aku pikir kalau dijumlah dengan waktu yang diperlukan untuk menjajar tauge, hasilnya tidak jauh berbeda dengan ibu dan kakaknya. Aku bergidik sesaat ketika melihat caranya menangani bagian kepala tauge. Ia tidak mengelupas kulitnya perlahan, tapi langsung memenggalnya. Tauge-tauge yang dihasilkannya kebanyakan tanpa kepala.

            “Ada apa, Mas?” tanya Pak Slamet, mungkin merasa heran dengan caraku melihat istri dan kedua anaknya.

            “Menarik sekali, Pak.”

            “Membersihkan tauge?”

Aku mengangguk.

            “Dulu memang cuma saya dan istri saya yang melakukannya. Lalu, anak-anak mulai ikut membantu. Saya bersyukur.”

            “Karena Pak Slamet punya lebih banyak waktu untuk istirahat?”

            “Begitulah, tapi bukan itu yang paling penting.”

Aku diam saja sambil memandangnya.

            “Begini, Mas. Untuk membersihkan ekor dan kulit kepala tauge satu kantong plastik ukuran satu kilo, satu orang memerlukan kira-kira satu jam. Kalau dipikir-pikir memang seperti kurang pekerjaan saja. Memungut satu per satu, membersihkan bagian ekor terlebih dulu, lalu memutarnya untuk mengelupas kulit kepala yang mungkin masih menempel. Benar-benar buang-buang waktu. Tapi, sebenarnya, itu semua melatih kesabaran.”

            “Begitu.”

            “Lagipula, tauge sebenarnya kan juga anak-anak. Jangan sampai anak-anak dibiarkan kotor.”

Tauge sebenarnya anak-anak. Jadi, selama ini setiap aku datang ke warung Pak Slamet… Melihat anak laki-laki Pak Slamet memenggal kepala-kepala tauge tadi membuatku bergidik sesaat. Mendengar kata-kata Pak Slamet tentang tauge sebenarnya anak-anak membuatku merinding yang entah sampai kapan aku bisa melupakan rasanya.

~Bramantio


About this entry