Barbie dalam Tiga Cerpen: Konstruksi Kecantikan dan Perempuan Artifisial/Fisikal/Ideal

Barbie tidak lagi menjadi monopoli sekaligus realisasi mini impian anak-anak. Kesan itulah yang saya peroleh ketika membaca tiga cerpen Indonesia. Sosok Barbie ternyata muncul menjadi sesuatu yang menarik dan berperan sebagai katalisator yang membangun struktur cerita dan dunia fiktif. Hal itu, diakui atau tidak, tentu memiliki relasi dengan konteks pemikiran yang melingkupi ruang dan waktu kemunculan karya. Ketiga cerpen yang saya maksud adalah “Barbie” karya Clara Ng (pernah dimuat di Koran Tempo, Minggu, 9 September 2007, dan diterbitkan kembali dalam buku kumpulan cerpen Malaikat Jatuh dan Cerita-cerita Lainnya pada 2008), “Bercinta dengan Barbie” karya Eka Kurniawan (dalam buku kumpulan cerpen Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya, 2005), dan “Barbie dan Monik” karya Teguh Winarsho (pernah dimuat di Kompas, Minggu, 17 Oktober 2004). Saya menganggap ketiga cerpen ini menarik untuk dibaca kembali karena ketiganya memiliki struktur penceritaan yang berbeda dalam menghadirkan Barbie, dua di antaranya berada di dalam arena fantastik. Sebagai konsekuensinya, ketiga cerpen ini diasumsikan memiliki pandangannya masing-masing dalam menyikapi Barbie.

Cerpen “Barbie” karya Clara Ng dibuka dengan sebuah paragraf yang diawali dengan “Ini kota luka. Kota duka jika malam tiba. Kota yang hitamnya menganga seperti langit-langit mulut naga. Kota yang sudut-sudutnya ditenun oleh bayangan kelam seperti jaring laba-laba.” Rangkaian kalimat pembuka itu yang menggabungkan kata “luka” dan “duka” dalam kalimat yang berurutan secara tidak langsung memberikan semacam peringatan kepada pembacanya tentang hal-hal yang akan muncul di dalam cerpen ini, yang tentu saja berkaitan dengan sesuatu yang mengerikan. Hal ini masih ditambah dengan munculnya “hitam” dan “bayangan” pada dua kalimat sesudahnya, yang berkonotasi dengan hal-hal buruk dan negatif.

Cerpen yang menceritakan kehidupan di sebuah toko mainan itu memiliki dua tokoh sentral yang sekaligus menjadi pusat penceritaan, yaitu Babi Abu-abu dan Barbie. Cerita dibawakan oleh narator yang berada di luar cerita yang menjalin interaksi dengan pembaca. Hal itu tampak pada bagian-bagian yang secara langsung menyebut pembaca sebagai “kau” serta sejumlah pertanyaan dan komentar tentang yang sedang terjadi pada tokoh cerita sebagai berikut, “Kau pasti mengenalnya” dan “Apakah sesungguhnya dia diselimuti cahaya rupawan ataukah ada yang salah dengan mata Babi Abu-abu?” Kalimat-kalimat itu dapat dipahami sebagau usaha narator untuk melibatkan pembaca ke dalam aktivitas berceritanya, seperti seorang jurucerita yang sedang bercerita kepada audiens, atau pendongeng yang bercerita kepada anak-anak. Munculnya narator yang seperti itu memperkuat kesan bahwa cerpen “Barbie” berada di dalam arena fantastik, sehingga peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya pun semestinya dibaca sebagai peristiwa fantastik, bukan sebagai peristiwa real. Lebih lanjut, sebagai konsekuensi hal itu dan dipadukan dengan toko mainan yang identik dengan anak-anak sebagai latar cerita, cerpen itu memunculkan asumsi tentang pesan implisit uang diusungnya, hal-hal yang muncul di permukaan memiliki kemungkinan mewakili gagasan-gagasan yang tidak sekadar berkaitan dengan boneka dan sebuah dunia bernama toko mainan. Relasi antara Babi Abu-abu dan Barbie pun perlu dipahami bukan sekadar relasi antara dua boneka, tetapi bisa jadi sebagai simbol relasi antarmanusia dan refleksi realitas. Di samping itu, melalui kalimat-kalimat yang dipakai narator  juga dapat dipahami jarak yang dibangun antara narator dengan pembaca, dan dalam hal ini cerpen “Barbie” memiliki jarak yang dekat dengan pembacanya karena secara langsung menggunakan kata ganti “kau.” Dengan adanya jarak yang seperti itu, sejak awal meskipun di satu sisi tampak sebagai cerita fantastik, di sisi lain justru memperlihatkan kedekatan dengan realitas yang diwakili pembacanya.

Babi Abu-abu adalah tokoh yang merasa terbuang karena ia tidak lagi disukai sebagai mainan dan ditinggalkan karena para pengunjung toko mainan lebih memilih Barbie: “Babi Abu-abu menatap gerombolan kanak-kanak, di tempatnya berdiri. Tiap hari dia menatap mereka yang melintas beberapa kali di sampingnya. Dia berada disebelah rak yang berisi payung mungil berwarna salem. Payung itu selalu laku, entah musim kemarau apalagi musim penghujan. Sedikit yang berhenti di depannya. Sejak bertahun-tahun, para kanak-kanak itu terlalu sibuk untuk menoleh kepada Babi Abu-abu. Mereka senang menghampiri tetangga jauhnnya yang lebih cantik dan terkenal. Barbie. Kau pasti mengenalnya. Perempuan cantik yang tubuhnya sempurna bagai dewi. Dia berada di rak yang tingginya selevel dengan bahu kanak-kanak, agar pandangan mata mereka dapat langsung terarah kepada kecantikannya. Mereka telah mengenal rambut pirangnya yang tergerai memesona, lekuk tubuhnya yang langsing semampai, serta aneka baju indah yang dikenakannya. Rak Babi Abu-abu selalu sepi dari kerubungan pembeli. Tiap hari Babi Abu-abu menatap dinding yang dicat warna-warni dari kejauhan. Terkadang dia cemburu dengan kanak-kanak perempuan itu, yang sedang menimang-nimang Barbie. Barbie selalu tersenyum jelita dengan lagaknya yang sempurna. Sepetak rak itu kian ramai didatangi beberapa orang. Babi Abu-abu semakin terpojok, menenun semesta sunyi.” Melalui kutipan itu dapat diketahui bahwa sejak awal cerita Babi Abu-abu dan Barbie diposisikan sebagai dua kubu yang berseberangan: Babi Abu-abu sebagai yang terbuang dan Barbie sebagai yang dicintai. Hal itu diperkuat dengan penyebutan warna yang mewakili keduanya: abu-abu yang identik dengan kemuraman dan secara langsung melekat pada diri Babi sebagai nama belakangnya, dan “dinding yang dicat warna-warni” sebagai tempat Barbie yang tentu saja identik dengan keceriaan dan kebahagiaan.

Kemunculan anak-anak sebagai pihak yang memberi nilai kepada Babi Abu-abu dan Barbie dapat dibaca sebagai bentuk penilalaian yang jujur. Dengan bekal pemahaman yang masih minimal tentang kehidupan, anak-anak di dalam cerpen ini telah membentuk nilainya sendiri tentang yang buruk dan yang baik. Yang buruk dan yang baik di sini pun tampak sekadar berkaitan dengan standar-standar fisikal. Barbie dianggap lebih baik daripada Babi Abu-abu hanya berdasarkan “rambut pirangnya yang tergerai memesona, lekuk tubuhnya yang langsing semampai, serta aneka baju indah yang dikenakannya.” Berkaitan dengan standar fisikal itu, yang dianggap baik pun adalah “rambut pirang,” “tubuh langsing semampai,” dan “aneka baju indah,” yang tampak sangat Barat. Kondisi yang menempatkan standar Barat sebagai yang positif sesungguhnya telah tampak sejak awal cerita: “Jika siang, di dalamnya penuh bocah-bocah yang berlarian, dikejar-kejar oleh perempuan kampungan. Para pembantu dan pengasuh. Bocah mengenakan baju berharga gaji pak satpam. Atau bocah yang tasnya bermerek, impor asli bukan barang tembakan.” Kemunculan “perempuan kampungan” untuk menyebut “para pembantu dan pengasuh” pada bagian itu tampak memunculkan penilaian atas perempuan yang berprofesi sebagai pembantu dan pengasuh. Mereka dengan mudah dianggap sebagai perempuan kampungan yang tentu saja tidak sekadar sebutan bagi perempuan yang berasal dari kampung, tetapi juga mewakili hal-hal yang bernilai rendah bahkan negatif. Hal itu berbeda dengan Barbie yang meskipun tidak diketahui profesinya, tetap dianggap memiliki nilai tinggi. Pengagungan standar Barat juga tampak pada kalimat-kalimat terakhir bagian itu: “Atau bocah yang tasnya bermerek, impor asli bukan barang tembakan,” yang secara jelas memperlihatkan betapa Barat menjadi standar, khususnya standar dalam hal-hal fisikal.

Sekuen perkenalan kedua tokoh sentral itu disusul dengan gambaran toko mainan ketika malam tiba, “Kereta api kembali bergerak penuh semangat. Boneka cantik mulai berdandan, menggoda selusin tentara plastik. Para binatang berbulu berebutan menelan pil berwarna-warni, teler lalu mabuk. Ada pesta pora seks di ujung sana. Ini kota gila. Kota bahaya, kota penuh goda.” Kutipan itu tampak melengkapi bagian sebelumnya tentang hal-hal fisikal. Frasa “pesta pora seks” memberi semacam penegasan bahwa di toko mainan itu, di “kota gila,” yang fisikal dan seksual menjadi sebuah nilai yang dipegang teguh penghuninya. Para boneka cantik berdandan di malam hari hanya untuk menggoda para tentara plastik, untuk kemudian melakukan pesta seks. Dengan kata lain, para perempuan kota itu, secantik apa pun mereka, tidak mempercantik diri untuk diri sendiri, mereka mempercantik diri hanya untuk lelaki.

Meskipun begitu, Barbie sebagai sosok yang cantik dan dianggap sempurna ternyata merasa bosan dengan kondisinya. Ia pun menemui Babi Abu-abu dan berkeluh kesah kepadanya: “Aku bosan.” Dari jauh terdengar gonggongan anjing. Jam mendetik teratur maju. Babi Abu-abu membuka mata, terkejut. Dalam keremangan, dia melihat sang pemilik suara itu dalam wujud yang sempurna. Barbie. Dia melongok menatap mata Babi Abu-abu yang setengah terpejam. Babi Abu-abu bertanya dalam hati, bagaimana mungkin Barbie bosan? Dia mempunyai segala yang diinginkan oleh setiap mainan di kota ini. Cantik. Populer. Kaya raya. Dipuja.” Melalui kutipan itu dapat diketahui bahwa kebosanan Barbie menjadi hal yang mengherankan bagi Babi Abu-abu. Dalam pernyataan Babi Abu-abu terdapat penegasan tentang cara kota itu menilai seseorang, yaitu berkaitan dengan fisik dan materi, bukan sifat dan perilaku, dan hal-hal itulah “yang diinginkan oleh setiap mainan di kota ini.” Pada kutipan itu terdapat juga “gonggongan anjing” yang memunculkan tanda tanya tersendiri. Di dalam konvensi cerita fiksi maupun kehidupan real, gonggongan anjing tidak sekadar dipahami sebagai perilaku alami binatang itu, tetapi juga berkaitan dengan ha-hal yang menyiratkan ancaman, bahaya, suasana mencekam, dan misterius. Seperti telah diketahui, di dalam cerpen ini gonggongan anjing terjadi pada malam hari, dan hal itu semakin memperkuat kesan ancaman, bahaya, suasanan mencekam, dan misterius. Dengan membaca seluruh rangkaian peristiwa pada kutipan itu, dapat dipahami bahwa pertemuan Babi Abu-abu dan Barbie adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya positif karena ada nuansa gelap yang melingkupunya. Kesan itu diperkuat oleh peristiwa berikut:

“Temani aku.”

Ditatapnya Barbie yang sedang tersenyum molek kepadanya. Temani aku? Sesungguhnya Babi Abu-abu jarang mendapat sapa. Dari Barbie, apalagi tetangga. “Temani ke mana?”

“Melihat bulan.”

Kemunculan “bulan” pada peristiwa itu memperkuat kesan misterius pada bagian sebelumnya. Lebih lanjut, penjelasan tentang Babi Abu-abu yang jarang mendapat sapa, baik dari Barbie maupun tetangganya, dapat dipahami sebagai kondisi kota itu bahwa segala sesuatu yang secara fisik tidak cantik atau indah dianggap sebagai sesuatu yang tidak baik pula sehingga dijauhi. Bagian itu memperkuat adanya standar penilaian yang lebih mengutamakan hal-hal fisikal yang terdapat pada bagian sebelumnya.

Rangkaian peristiwa dengan bingkai suasana kelam itu dapat dipahami sebagai kesepian yang dialami Babi Abu-abu dan Barbie. Babi Abu-abu merasa kesepian karena ia tidak memiliki teman atau jarang mendapat sapa dari mainan lain, sedangkan Barbie merasa kesepian karena ia bosan dengan hal-hal di sekitarnya. Kondisi itu mengantarkan mereka berdua pada pertemuan melihat bulan yang bermuara pada hubungan seks: Ada seulas senyum Barbie. Napasnya terbang ke pipi Babi Abu-abu. Lembut dan indah. Lidah Barbie masuk, jauh ke dalam rongga mulut Babi Abu-abu. Dia mengulumnya. Rasanya hangat dan menggoda. Babi Abu-abu merasa takut, tapi dia tidak ingin berhenti. Dia mendesakkan seluruh kelelakiannya, lebih jauh lagi. Lebih intim lagi. Barbie menjerit keras penuh kenikmatan. Malam berakhir penuh peluh serta desah lelah. Purnama memenuhi putaran karma.” Jika dibaca lebih cermat, adegan seks antara Babi Abu-abu dan Barbie tampak menegaskan sikap para perempuan di kota itu pada bagian sebelumnya. Sejumlah kalimat di dalam kutipan itu, meskipun juga menggambarkan antusiasme Babi Abu-abu, memperlihatkan bahwa Barbielah yang tampak lebih menikmati hubungan seks mereka. Lebih lanjut, sebagai perempuan ternyata Barbie tidak segan berhubungan seks dengan Babi Abu-abu yang jelas-jelas adalah babi. Pada bagian itu, Barbie yang pada awalnya tampak berkonotasi positif, semacam standar penilaian tentang yang baik, mengalami pergeseran. Hal itu diperkuat dengan bagian berikutnya yang menyatakan bahwa hubungan seks bagi Barbie ternyata bukan sesuatu yang istimewa, hubungan seks sama sekali tidak melibatkan perasaan dan seolah tidak lebih daripada pengisi waktu membunuh kebosanan:

“Kapan ketemu lagi?”

“Kapan-kapan.”

“Besok malam?”

“Nggak kepengen.”

“Lusa?”

“Belum mood.”

“Tiga hari la…” Barbie melompat dari jendela. Dia melambai dan mengedipkan mata. Babi Abu-abu terpaku tak berdaya. Barbie berputar gemulai, menghilang ditelan keriuhan kota.

Melalui kutipan itu jelas adanya bahwa Barbie tidak mau memberi kepastian kepada Babi Abu-abu tentang kapan mereka bisa bertemu lagi. Melalui jawaban-jawabannya dapat dipahami bahwa Barbie sesungguhnya tidak mau bertemu lagi dengan Babi Abu-abu. Hal itu terbukti benar ketika pada suatu malam Babi Abu-abu melihat Barbie bersama lelaki lain:

Dua siluet yang berbeda mendekat, salin memilin sehingga terlihat menjadi satu. Babi Abu-abu nyaris roboh, tidak memercayai pandangannya. Barbie di sana, sedang memagut laki-laki lain penuh gairah. Laki-laki tinggi besar berotot sempurna. Sekelebat diam menyusup. Diam yang menyesakkan dada. Seluruh sendi Babi Abu-abu lemas, lalu amarah meledak, menghanguskan setiap butir darah. Dia mengepalkan tinju lalu menyerbu masuk.

“Bajingan!” umpatnya. Dengan cepat disentakkan bahu lelaki besar itu. Lelaki itu terkejut.

Barbie membelalak tak percaya. “Apa-apaan ini?!” bentaknya keras, menggapai kain untuk menutupi tubuh.

“Lelaki bangsat! Biadab! Mesum!”

Berbie terduduk di ranjang. Rambutnya acak-acakan.

“Siapa dia? Usir dia keluar, Sayang!”

Barbie melompat berdiri. Dia meradang. Kedua tangannya bertumpu di panggul. “Sialan kau!” jeritnya melengking kepada Babi Abu-abu. “Kau yang seharusnya keluar dari kamar ini, bukan dia!”

Babi Abu-abu terpaku. Barbie tidak pernah berteriak seperti itu. Barbie tidak pernah sekeji itu.

“Kau…” desahnya tidak percaya, “…mengusirku… pergi?”

“Karena kau gila.”

“Aku pacarmu, dan kau suruh aku keluar?”

“Dasar sakit! Emangnya sejak kapan kita pacaran?”

“Sejak kita bersama.”

“Ngimpi aja!”

“Aku sayang kamu.”

[…]

Babi abu-abu melangkah masuk. “Aku mencintaimu, Barbie.”

Barbie mendelik, mengobarkan bara kebencian yang bergemuruh. Kesabarannya telah membubung lenyap. Dengan kasar dia mengambil majalah lalu melemparkan majalah itu ke arah Babi Abu-abu sekuat tenaga.

“Cinta? Cuih!” jeritnya melengking.

Babi Abu-abu mengelak. Majalah terbang menabrak dinding. “Aku…”

“KELUAR!!! DASAR BABI GILA!!!”

Peristiwa pada kutipan itu memperlihatkan bahwa Barbie sesungguhnya tidak pernah menganggap istimewa percintaan mereka pada malam sebelumnya. Lebih lanjut, terlepas dari Babi Abu-abu yang berharap terlalu besar pada Barbie untuk menjadi kekasihnya, Barbie tampaknya memang tidak menganggap Babi Abu-abu sebagai sosok yang pernah dikenalnya. Barbie pun menganggap cinta sebagai sesuatu yang menggelikan bahkan memuakkan. Hal-hal fisikal sekali lagi menjadi yang terpenting di dalam dunia Barbie. Hal itu diperkuat dengan munculnya “laki-laki tinggi besar berotot sempurna” sebagai teman bercinta Barbie. Fisik tinggi besar dan berotot sempurna merupakan fisik ideal bagi lelaki pada umumnya, dan dengan dipertemukannya hal itu dengan Barbie sebagai pemilik fisik ideal bagi perempuan, semakin nyatalah kedudukan keindahan fisikal sebagai hal terpenting. Kondisi yang seperti itu dan perasaan disia-siakan menjadikan Babi Abu-abu naik pitam: “Terkutuklah kamu, hai perempuan jalang! Bangsaaaaat!!!” Amarah Babi Abu-abu pun bermuara pada peristiwa mengerikan:

Hari Sabtu dan Minggu. Sudah dua hari toko mainan itu tutup. Disegel oleh garis kuning polisi. Beberapa keluarga yang datang membawa sepasukan anak-anak dan pengasuhnya terkecoh. Mereka bergerombol sambil bertanya-tanya apa yang terjadi. Ada pengumuman yang tertempel di sehelai kertas pada pintu tergembok.

“Ada apa sih?”

“Ada pembunuhan di toko mainan.”

“Hah! Pembunuhan apa?”

“Mayat dimutilasi.”

“Mutilasi?!”

“Mayat perempuan. Kepalanya ditaruh di antara bola-bola pantai. Kedua tangannya diletakkan di rak tongkat baseball. Sisa badannya tergeletak di tengah lantai, bertebaran. Paha, panggul, dan perut. Diperkosa lalu dibunuh. Atau dibunuh lalu diperkosa. Entahlah.”

Seorang ibu menutup telinga anaknya dengan tangannya.

“Sungguh mengenaskan!”

“Padahal perempuan itu cantik sekali.”

“Polisi sudah menemukan pembunuhnya?”

“Penyelidikan belum tuntas. Katanya, mungkin pembunuhnya orang sakit jiwa yang mengaku-aku pacarnya. Sekarang orang itu menghilang.”

“Benar-benar gila.”

“Ini zaman edan.”

Melalui kutipan itu dan berdasarkan rangkaian peristiwa sebelumnya, meskipun tidak ada penyebutan nama, dapat diketahui bahwa perempuan yang menjadi korban mutilasi adalah Barbie, sedangkan pelaku pembunuhan dan mutilasi adalah Babi Abu-abu. Motivasi pembunuhan itu adalah perasaan disia-siakan sebagai akibat perlakuan Barbie padanya. Di satu sisi, Barbie sebagai pemilik kecantikan dan fisik yang dianggap ideal telah memandang rendah Babi Abu-abu tidak memiliki fisik yang dianggap ideal seperti lelaki tinggi besar berotot sempurna. Di sisi lain, Babi Abu-abu pun sesungguhnya juga menganggap rendah Barbie, karena meskipun ia mencintainya, Barbie bagi Babi Abu-abu tampak tidak lebih daripada objek untuk dimiliki, sehingga ketika ia tidak dapat memilikinya, Barbie harus mati.

Akhir cerita yang demikian memperlihatkan bagaimana cerpen ini memandang Barbie. Meskipun pada awalnya Barbie ditempatkan sebagai hal yang tampak positif, melalui cara anak-anak memandang Barbie yang berbeda dengan cara mereka memandang Babi Abu-abu, posisi Barbie lambat-laun digeser sedemikian rupa hingga menjadi sesuatu yang tidak berharga. Ada semacam kritik atas Barbie sebagai realisasi kecantikan dan perempuan ideal dengan standar Barat. Kematian Barbie dengan cara mengenaskan pada cerpen itu dapat dibaca sebagai kematian atas simbol kecantikan dan perempuan ideal, dan hal-hal fisikal tidak akan berumur panjang.

Lebih lanjut, kalimat “Ini zaman edan” yang dilontarkan oleh salah satu pengunjung tampak mengacu pada konteks kekinian yang penuh peristiwa-peristiwa yang tampak absurd dan jauh dari yang terbayangkan sebelumnya. Hal itu diperkuat dengan bagian berikutnya: “Daun-daun runduk dalam bisu, seperti sedang memikirkan segala peristiwa dunia.” Rangkaian kalimat penutup cerpen “Barbie” memberi semacam penegasan tentang realitas yang seperti itu: “Ini kota luka. Kota duka. Kota yang hitamnya menganga seperti langit-langit mulut naga. Kota yang sudut-sudutnya ditenun oleh bayangan kelam seperti jaring laba-laba. Kau lihat malam telah turun di kota ini? Ini kota yang berongga. Kota bergelimang dosa. Tanpa nama, tanpa makna, tanka kata.”

Arena cerita fantastik yang digunakan cerpen “Barbie” tampak tepat untuk menggambarkan segala peristiwa dunia yang absurd. Kemunculan tokoh Barbie dan Babi Abu-abu yang bunyinya secara sepintas memiliki kemiripan, Barbie Babi, Babi Barbie, juga menjadi penanda atas karut-marutnya dunia dan pola pemikiran berkaitan dengan nilai, khususnya nilai kecantikan dan perempuan, yang tampak sekadar fisikal dan seksual.

Beralih ke cerpen “Bercinta dengan Berbie” karya Eka Kurniawan. Cerpen ini diceritakan oleh narator di luar cerita dengan tokoh lelaki sebagai pusat penceritaan. Sebagai narator yang berada di luar cerita, narator cerpen ini bertindak sebagai yang mahamengetahui tindakan dan pikiran tokoh sehingga peristiwa-peristiwa pun terjadi apa adanya, tidak muncul komentar-komentar yang cenderung memperlihatkan subjektivitas. Teknik seperti itu mampu mendukung seluruh cerpen yang meskipun ada di dalam arena fantastik, tetap memiliki lapisan lain yang berkaitan dengan realitas masyarakat.

“Bercinta dengan Barbie” menceritakan sepenggal kehidupan seorang lelaki yang memiliki hubungan khusus dengan boneka Barbie. Cerpen itu diawali dengan rangkaian kalimat yang menandai sekaligus memberi pijakan kepada pembacanya dalam menempatkan cerpen ini sebagai cerita fantastik: “Suatu malam ia berhasil menemukan mantra yang sanggup membuat boneka Barbie anaknya tumbuh membesar dan hidup. Mantra itu ia temukan dari sejilid buku tua yang dicarinya di ruang-ruang gelap perpustakaan kota, di mana buku-buku sihir lama disembunyikan petugas karena pengaruhnya yang cukup berbahaya. Ia telah mengabaikan risiko ditangkap karena membaca buku sihir.” Melalui kutipan itu, selain memperoleh pijakan awal tentang cerita yang akan dihadapi, di dalam pikiran pembaca juga akan muncul asumsi tentang yang akan terjadi pada Barbie. Penjelasan yang diberikan tentang pengaruh berbahaya buku sihir yang digunakan si lelaki itu juga memberikan semacam bocoran tentang bagaimana cerita itu akan berjalan dan bagaimana akhir ceritanya, yang sedikit-banyak tentu berkaitan dengan sesuatu yang buruk.

Barbie di dalam cerpen itu dihidupkan tidak sakadar untuk dihidupkan, tetapi berkaitan erat dengan sosoknya sebagai perempuan yang dianggap ideal, termasuk dalam hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas. Asumsi seperti itu pada bagian berikutnya memperoleh pijakan yang semakin mantap: “Semua itu disebabkan rasa putus asanya melihat tubuh istrinya mendadak berkembang liar menjadi satu sosok monster penuh bobot yang tak menyisakan apa pun bagi nafsu berahinya: dagunya berlipat dua, dadanya melorot, perutnya lembek, dan pahanya bahkan menyerupai bantal berisi kapuk tua. Sejak tanpa sengaja ia melihat tubuh boneka anaknya, si Barbie berambut pirang, dengan leher jenjang, dadanya bulat padat mencuat kembar, dan betisnya begitu liat menggoda, tubuh ramping itu memberinya gagasan untuk menemukan satu mantra sihir yang bisa membuat sosok boneka tumbuh membesar dan hidup sebagai manusia.” Yang menjadi motivasi si lelaki menghidupkan boneka Barbie adalah keputusasaannya melihat fisik istrinya. Seperti halnya pada cerpen “Barbie” karya Clara Ng, cerpen ini menempatkan Barbie sebagai perwujudan kecantikan dan perempuan ideal, meskipun ia sesungguhnya tidak lebih daripada boneka atau benda artifisial. Fisik alami perempuan, dalam hal ini diwakili istri si lelaki, yang berubah dan berkembang sedemikian rupa dianggap sebagai monster. Lebih parah lagi, si istri dianggap sebagai monster tidak sekadar berkaitan dengan bentuk dan bobot tubuhnya, tetapi juga dalam kaitannya dengan memuaskan nafsu berahi si lelaki. Melalui bagian kecil cerpen itu, tampak jelas bagaimana posisi si istri dan Barbie, manusia dan boneka, yang pada hakikatnya memang berbeda tetapi dianggap setara oleh si lelaki dan dibandingkan dalam hal kecantikannya, bahkan Barbie sebagai boneka memiliki posisi lebih tinggi daripada si istri. Barbie dianggap lebih baik karena ia adalah sosok yang dibuat berdasarkan gambaran ideal perempuan bagi lelaki. Barbie tetap dianggap lebih baik meskipun ia artifisial.

Lebih lanjut, kesan yang tampak bahwa Barbie di dalam cerpen tidak lebih daripada objek pelampiasan nafsur secara jelas muncul pada bagian berikut: Seorang gadis dengan kecantikan seamacam itu berada di atas tempat tidur dalam keadaan menyerah sepenuhnya adalah anugerah bagi lelaki mana pun, terutama jika ia memiliki seorang istri yang mulai terasa menyebalkan. Malam itu ia bercinta dengan si cantik Barbie dalam suatu permainan cinta terindah yang pernah dialaminya […] Di akhir percintaan yang edan-edanan itu […] si lelaki berkata kepada si cantik Barbie dengan selera humornya yang tiba-tiba melimpah didorong rasa terima kasih atas keindahan hidup: “Kau gadis cantik yang sempurna, terima kasih untuk siapa pun di pabrik plastik yang membuatmu, mereka sung-sungguh punya selera seksual yang memadai.” Pernyataan si lelaki di akhir kutipan itu semakin memperkuat posisi Barbie sebagai objek seksual. Si lelaki menganggap bahwa Barbie diciptakan tidak sebatas sebagai boneka yang menjadi teman bermain bagi anak-anak perempuan, tetapi lebih daripada itu yaitu sebagai realisasi atas selera seksual yang memadai. Dengan begitu, keindahan fisik Barbie seolah tidak dirancang untuk kepuasan Barbie sendiri sebagai perempuan, tetapi lebih pada tujuan untuk memuaskan hasrat lelaki pada umumnya. Hal itu senada dengan yang muncul pada cerpen “Barbie.”

Si lelaki di dalam cerpen pun tidak merasa puas dengan memiliki sosok Barbie yang hidup dan bisa diajaknya berhubungan seks. Ia pun berbagi Barbie dengan lelaki-lelaki lain: “Ia tahu dengan pasti banyak lelaki menderita di zaman modern karena istri-istri mereka mulai tak peduli dengan tubuhnya. Naluri bisnisnya muncul seketika. Ia segera pergi ke toko dan membeli beberapa sosok boneka Barbie […] Boneka-boneka itu semuanya ia sihir, dan sejenak setelah mereka menjelma menjadi [sic!] sosok-sosok gadis menggairahkan, ia segera membuka tempat pelacuran dengan nama toko yang cukup provokatif: “Bercinta dengan Barbie.”” Melalui kutipan itu dapat diketahui bahwa menurut si lelaki, yang dapat dianggap mewakili lelaki pada umumnya, banyak lelaki menderita karena fisik istri mereka. Fisik alami perempuan yang menjadi istri mereka dianggap sebagai sesuatu yang buruk dan bisa berpengaruh buruk pada kehidupan mereka. Perempuan  lagi-lagi dianilai berdasarkan fisiknya, dan perempuan bernilai tinggi jika ia memiliki fisik seperti Barbie. Selain itu, pada kutipan itu juga tampak bahwa Barbie, yang dapat dianggap mewakili perempuan pada umumnya, dianggap tidak lebih daripada komoditas yang dapat diperdagangkan, dihargai dengan materi berdasarkan kemampuan mereka melayani dan memuaskan lelaki, tidak lagi dilihat berdasarkan kepribadian dan sikapnya. Hal itu semakin nyata pada bagian berikutnya: “Pada hari pembukaan, seribu seratus dua puluh tujuh lelaki berbaris antri di depan toko untuk mencoba tidur satu atau dua jam bersama gadis-gadis cantik bertubuh indah miliknya. Sebagian terbesar adalah suami-suami yang bosan dengan tubuh istrinya sebagaimana ia duga, dan sebagian kecil adalah duda-duda kesepian serta para lajang yang tak memiliki keberanian merayu teman kencannya naik ke atas tempat tidur. Tokonya sama sekali tak mengecewakan, di sana semua lelaki yang telah memperoleh kesempatan untuk bercinta dengan si cantik Barbie atau teman-temannya berkata bahwa itu adalah petualangan cinta paling dahsyat yang dianugerahkan pabrik boneka untuk manusia. Ucapan mereka bukan omong-kosong, karena begitu mereka keluar kamar sambil menutup resleting celananya, mereka segera berdiri lagi di barusan terakhir, antri menunggu kesempatan berikutnya.” Pada bagian itu tampak bahwa para istri dan perempuan pada umumnya di dalam kehidupan lelaki seolah tidak ada bedanya dengan barang atau materi, mereka ada untuk dimiliki, dipakai, lalu bisa ditinggalkan atau dibuang ketika lelaki bosan. Kebosanan di sini pun tampak bukan karena perempuan berubah menjadi sosok membosankan, tetapi lebih pada suatu kondisi ketidakpuasan para lelaki melihat perubahan fisik istri mereka. Di samping itu, dengan memunculkan duda-duda kesepian, cerpen ini juga menghadirkan gambaran yang memperlihatkan bahwa perempuan hanyalah pelengkap kehidupan lelaki yang kesepian, lelaki dan perempuan seolah tidak saling menemani, tetapi hanya perempuanlah yang memiliki kewajiban moril menemani laki-laki, termasuk dalam urusan tempat tidur.

Meskipun pada awalnya bisnis si lelaki tampak menguntungkan, Bercinta dengan Barbie pada akhirnya mendapat reaksi tajam dari para perempuan istri para lelaki pemakai jasa gadis-gadis Barbie: “Namun sebagaimana revolusi apa pun di setiap penjuru dunia, revolusi selalu menghadapi penentangnya yang paling gigih. “Bercinta dengan Barbie” dikutuk habis-habisan oleh para istri yang mulai tak disentuh oleh suami-suami mereka. Mereka datang berbondong-bondong menyeret para suami itu, melempari toko pelacurannya dengan apel-apel busuk. Bahkan pembunuhan-pembunuhan gadis Barbie yang disembunyikan suami-suami mereka di tempat-tempat tersembunyi mulai muncul di koran dan di desas-desus. Lelaki itu pulang ke rumah untuk menengok Barbie cantiknya sendiri, merindukannya tengah telanjang di atas tempat tidur. Namun ia menemukannya, telah mati ditusuk istrinya yang gembrot menggunakan pisau dapur.” Kutipan itu semakin memperkuat posisi Barbie dan perempuan sebagai materi belaka. Bukan hanya lelaki yang menganggap demikian, para perempuan pun ternyata menganggap Barbie sebagai materi. Hal itu tampak pada peristiwa pembunuhan gadis-gadis Barbie yang dilakukan para istri yang cemburu dan marah atas perilaku suami mereka, para istri seolah tidak lagi menghargai kehidupan gadis-gadis Barbie. Gadis-gadis Barbie memang berasal dari boneka mati, tetapi pada saat itu mereka hidup dan tentu saja dapat dianggap mampu merasakan hal-hal yang terjadi pada mereka. Perempuan pun semakin terpuruk dalam keterpurannya. Lebih lanjut, di sisi lain, peristiwa pembunuhan perempuan-perempuan Barbie dapat dianggap sebagai peristiwa pembunuhan atas idealisasi kecantikan dan perempuan, seperti yang juga terdapat pada cerpen “Barbie”: Barbie sebagai simbol kecantikan dan perempuan ideal terbantai habis oleh para istri sebagai simbol kecantikan dan perempuan real.

Peristiwa pembunuhan massal yang terjadi pada gadis-gadis Barbie ternyata tidak membuat si lelaki menghentikan aktivitasnya untuk memberikan kepuasan kepada orang-orang secara seksual dengan jasa para boneka: “Setelah memikirkannya selama tujuh hari tujuh malam, saat itu semua Barbie cantiknya baik yang dijual maupun dijadikan gadis-gadis penghibur di tokonya sudah mati dibunuh perempuan-perempuan marah, ia menemukan pemecahannya yang paling brilian. Ia merasa dirinya begitu jenius, dan merasa yakin bahwa ia orang paling berjasa untuk memecahkan salah satu masalah paling mendasar dari manusia-manusia modern: hampir semua lelaki hanya ingin bercinta dengan gadis penggairah sebagaimana gadis-gadis Barbie cantiknya, dan semua perempuan merasa repot dan putus asa harus mempertahankan tubuhnya dalam bentuk yang begitu minimal tapi mereka tetap ingin bercinta dan membutuhkan lelaki. Merasa gagasan cemerlangnya tak bisa ditunda lebih lama, ia segera pergi ke toko membeli banyak boneka. Kali ini ia tak hanya membeli si cantik Barbie dengan teman-temannya yang menggoda, namun juga membeli boneka-boneka pria yang oleh pabrik diberi nama Ken. Ia membacakan mantra itu kembali dan mengubah semua bonekanya menjadi sosok-sosok yang hidup. Bisnisnya berputar lagi, bahkan lebih menggairahkan. Ia membagi tempat pelacurannya menjadi dua, untuk lelaki yang ingin bercinta dengan gadis-gadis Barbie […] dan satu lagi diperuntukkan untuk perempuan-perempuan yang berbagi ranjang bersama Ken.” Rangkaian peristiwa itu lagi-lagi berkaitan dengan realitas yang menampilkan kesan bahwa yang terpenting di dalam kehidupan manusia adalah berhubungan seks dengan sosok-sosok yang menurut mereka ideal dan menggairahkan, bukan sosok-sosok suami atau istri mereka. Pada bagian itu juga terjadi pergeseran bahwa bukan hanya lelaki yang memiliki hasrat bercinta dengan Barbie sebagai perempuan berfisik ideal, tetapi para perempuan pun memiliki birahi untuk berbagi ranjang dengan Ken sebagai lelaki berfisik ideal, Ken dalam realitasnya diciptakan sebagai pasangan Barbie sehingga ia memiliki fisik setara dengan Barbie.

Aktivitas si lelaki dalam berbisnis jasa pelayanan seks para manusia boneka itu dipahaminya sebagai hal yang luhur: “Gagasan tersebut tampak berjalan sangat memuaskan. Dari rumah ke rumah ia menyaksikan keluarga-keluarga yang berbahagia. Suami duduk di beranda menikmati teh bersama seorang Barbie, sementara istrinya berbaring di kolam renang bersama si Ken. Anak-anak berlari-lari di antara mereka. Tawa ceria terlempar dari mulut mereka semua. Ia senang telah membuat dunia menjadi tempat yang lebih indah.” Kutipan itu memperlihatkan bahwa keharmonisan dan kebahagiaan keluarga ternyata tidak datang dari dalam keluarga itu sendiri, tetapi ditopang sosok-sosok eksternal yang dalam hal ini adalah manusia boneka Barbie dan Ken sebagai pemuas hasrat seksual para suami dan istri. Hal itu sekaligus memperlihatkan bahwa seksualitas menjadi hal signifikan dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis. Meskipun begitu, gagasan si lelaki ternyata tidak selamanya dapat berjalan baik: “Masalah baru muncul satu bulan kemudian […] Keluhan-keluhan berdatangan ke tokonya […] “Tadi malam aku melihat Kenku yang tampan bercinta dengan Barbie, lalu pagi ini keduanya pergi entah ke mana” […] “Barbieku yang cantik jatuh cinta kepada Ken milik istriku. Satu malam kami memergoki mereka bercinta di gudang. Sekarang mereka kabur dan berencana menikah.” Perilaku Barbie dan Ken yang seperti itu pada awalnya tampak sebagai pesan yang diusung oleh cerpen ini berkaitan dengan kembali ke realitas dan berpikir realistis. Barbie dan Ken adalah sosok-sosok ideal yang artifisial, kecantikan dan keindahan mereka sepenuhnya bersifat fisikal dan sama sekali tidak berkaitan dengan aspek kepribadian atau pun moral. Dengan kegagalan kedua yang dialami si lelaki dalam mempertahankan kelangsungan bisnisnya, cerita tampak bergerak ke arah usaha untuk tidak lagi menilai manusia hanya berdasarkan fisiknya. Hal itu semakin tampak pada bagian berikut: “Ia tak punya jalan keluar bagi orang-orang malang itu. Dengan putus asa ia menutup tokonya, memecat seluruh karyawan, dan dengan sekali mengucapkan mantra ia mengembalikan seluruh boneka hidup itu kembali menjadi boneka. Semua sudah berakhir, katanya kepada para pelanggan. “Hadapilah kenyataan, tidurlah dengan istrik-istri gembrot kalian,” ia berkata kepada para pelanggan lelaki. Kepada para pelanggan perempuan ia berkata lain: “Hadapilah kenyataan, bercintalah dengan suami-suami kalian, meski tombak mereka tak juga mau bangun.” Pada kutipan itu, meskipun si lelaki menyatakan “hadapilah kenyataan,” pernyataannya tampak tidak tulus dan seolah masih memendam kekesalah atas kegagalannya. Ia menghimbau para pelanggan kembali ke realitas dan melupakan manusia-manusia boneka rupawan, tetapi diikuti dengan menyebut “istri gembrot” dan “meski tombak mereka tak juga mau bangun.” Arah yang dibangun untuk kembali ke realitas dan menerima para suami dan istri apa adanya pun kembali berbelok dengan munculnya peristiwa di muara cerita: “Ide buruknya seketika muncul, jahat dan tanpa ampun. Ia membacakan mantara itu dan mengubah istrinya menjadi boneka. Ia mengambil boneka-berwujud-istrinya itu dan memberikannya kepada si anak. Jangan menangis, Sayang, ini bonekamu. Si anak segera menerima boneka itu namun segera membantingnya ke lantai dan menjerit. Gak mau, ini boneka buruk muka, aku mau Barbieku. Sore itu ia berjalan penuh kebahagiaan ditemani si Barbie cantik sambil menggendong anaknya menuju toko boneka. Boneka sang istrik ia buang ke tong sampah sambil berkata, “Bahkan anak-anak pun tak menyukainya.” Pada kutipan itu tampak bagaimana si lelaki tidak kuasa memenuhi kata-katanya sendiri untuk kembali ke realitas. Ia tetap menganggap bahwa fisik ideal Barbie jauh lebih berharga dibandingkan istrinya. Ia pun menyihir istrinya menjadi boneka dan memberikannya kepada anaknya untuk kemudian dibanting dengan alasan “boneka buruk muka.” Si istri pun, perempuan yang sesungguhnya, berakhir di tong sampah. Bahkan di akhir cerita hidupnya pun, perempuan tidak mati lalu dikubur, tetapi serupa barang bekas yang rusak dan menjadi konsumsi tong sampah untuk kemudian digantikan oleh perempuan Barbie.

Terakhir, cerpen “Barbie dan Monik” karya Teguh Winarsho. Cerita dibuka dengan rangkaian peristiwa tentang seorang perempuan bernama Lasmi yang gelisah memikirkan Puput anaknya yang sedang sakit, dan pada saat itu ia juga membutuhkan uang untuk biaya pengobatan: “Hari ini Lasmi perlu uang. Puput anak semata wayangnya yang baru masuk TK, sudah empat hari sakit […] Lasmi sudah berusaha membawa Puput ke Puskesmas, tapi sakit Puput justru bertambah parah. Kini Lasmi bermaksud membawa Puput ke dokter. Lasmi tahu, biaya dokter tidak murah.” Cerpen ini berbeda dengan “Barbie” dan “Bercinta dengan Barbie” karena ia sepenuhnya ada di dalam arena realisme. Cerpen ini diceritakan oleh narator di luar cerita dengan Lasmi dan Mantosam sebagai fokus penceritaan yang muncul bergantian. Pergantian fokus ini berdampak pada pembentukan suasanan di sekeliling Puput yang sakit, yang dilihat melalui perspektif Lasmi sebagai ibu yang mengkhawatirkannya, dan Mantosam yang tidak terlalu peduli dan justru asyik dengan urusannya sendiri. Dengan bergerak di dalam arena realisme cerpen ini juga tampak lebih tegas dalam menghadirkan ironi, khususnya di dalam kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah.

Kegelisahan Lasmi berkaitan dengan keterbatasan dana untuk pengobatan anaknya semakin menjadi-jadi ketika ia teringat akan Mantosam yang tak kunjung pulang memenuhi janji: “Lasmi mengedar pandang ke sekeliling. Tampak suasanan pasar semakin ramai. Tapi tiba-tiba Lasmi gelisah, teringat Mantosam yang sudah dua malam tidak pulang. Ketika pergi Mantosam berjanji akan membelikan boneka Barbie untuk Puput. Tapi hingga tadi pagi Mantosam belum pulang. Puput kerap mengigau menanyakan boneka Barbienya.” Pada bagian itu boneka Barbie tampak sekadar disebut sebagai boneka, bukan sebagai sesuatu yang memiliki fungsi lain di dalam cerita seperti pada dua cerpen sebelumnya. Meskipun begitu, pada bagian-bagian berikutnya posisi Barbie berubah. Hal itu mulai tampak pada bagian berikut: “Aroma alkohol mengendap dalam kamar lima kali empat meter. Puntung rokok, botol minuman, gelas, dan kartu domino berserak di sana-sini. Laki-laki itu, Mantosam menggosok-gosok mata baru bangun tidur. Jengah, menggerak-gerakkan tubuhnya yang terasa pegal Mantosam melirik perempuan di sebelahnya. Serta-merta mata Mantosam yang kuyu menyala. Perempuan itu, Monik, selimutnya tersingkap hingga pahanya yang putih menantang Mantosam. Berkali-kali Mantosam menelan ludah, tak kuat menahan hasrat. Mantosam buru-melihat uang di dompet. Tersenyum. Uangnya masih cukup untuk bersenang-senang. Mantosam segera membangunkan Monik […] Sumpah serapah hampir muntah dari mulut Monik jika Mantosam tidak segera mengeluarkan lembar-lembar uang dari dompet dikipas-kipaskan di depan wajah Monik.” Pada bagian sebelumnya telah diketahui bahwa Mantosam adalah suami Lasmi dan ayah Puput, tetapi pada kutipan itu muncul fakta bahwa Mantosam memiliki hubungan dengan perempuan lain bernama Monik. Seperti halnya yang terjadi pada tokoh lelaki di dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie,” kemunculan peristiwa-peristiwa yang saling memperkuat dan memunculkan asumsi awal seperti itu akan mengarahkan pembaca pada pemahaman bahwa Barbie di dalam cerpen itu mememiliki kedudukan yang lebih daripada sekadar boneka mainan. Berkaitan dengan hal itu, Barbie di dalam cerpen itu dapat dianggap memiliki dua wujud, yaitu boneka sebenarnya yang diidam-idamkan Puput dan Monik sebagai Barbie mainan Mantosam. Fakta cerita seperti itu semakin mempertajam ironi yang dihadirkan, mengingat di tempat yang berbeda dan tanpa sepengatahuan Mantosam, Lasmi sedang berjuang menyelamatkan nyawa anaknya dan harus menghadapi birokrasi rumah sakit yang seolah semakin mempersulit kehidupan orang-orang yang mendapat musibah. Mantosam pun pada akhirnya mengetahui yang sebenarnya terjadi pada anaknya, dan menyadari kelalaiannya sebagai seorang ayang yang telah menjanjikan boneka Barbie untuk Puput: “Mantosam kaget mendengar kabar dari tetangga sebelah bahwa Puput dirawat di rumah sakit. Saat itulah Mantosam baru ingat jika beberapa hari ini Puput sakit. Tapi Mantosam tidak menduga kalau akhirnya Puput masuk rumah sakit. Mantosam tiba-tiba merasa bersalah. Perasaan bersalah itu kian menusuk ketika ingat dalam sakitnya Puput merengek-rengek minta dibelikan boneka Barbie. Tapi Mantosam lupa, belum sempat membelikan boneka Barbie. Untuk menebus kesalahannya, kini Mantosam beli boneka Barbie kesukaan Puput. Sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang lengang, boneka cantik itu ditimang-timang. Berkali-kali Mantosam tersenyum membayangkan kegembiraan Puput menerima boneka Barbie itu. Mata Puput yang bulat pasti akan mengerjap-ngerjap. Bibir mungilnya tersenyum manis […] Tapi tiba-tiba Mantosam gugup, merunduk, sembari menyembunyikan boneka Barbienya. Tampak di atas meja noneka Barbie cantik ukuran besar. Mantosam tahu siapa yang membawa boneka Barbie itu. Darah Mantosam kembali berdesir. Tapi selain menunduk, Mantosam nyaris tak memiliki ruang untuk melepas pandang matanya di kamar yang mulai terasa panas itu. Mantosam tiba-tiba teringat Monik, boneka Barbie besarnya yang juga tak kalah cantik….” Kedatangan Mantosam di rumah sakit menghadirkan perasaan yang bertolak belakang. Di satu sisi, ia tampak sebagai sosok ayah yang bertanggung jawab karena meskipun terlambat ia pada akhirnya bisa memenuhi janjinya membelikan Puput boneka Barbie. Di sisi lain, ia tidak lebih daripada lelaki hidung belang yang dengan begitu saja membagi hati untuk perempuan lain bernama Monik.

Sejalan dengan hal itu, kedudukan Barbie di dalam cerpen itu tampak kontradiktif. Di satu sisi, ia adalah semacam kebaikan yang bersemayam di dalam wujud boneka mati, yang kehadirannya dapat mendatangkan kegembiraan dan meringkankan penderitaan seorang anak bernama Puput. Di sisi lain, ia adalah metafora dari sosok perempuan yang kehadirannya tidak lebih daripada sebentuk fisik yang berfungsi sebagai pemuas hasrat seksual, semacam barang yang dinilai hanya berdasarkan kegunaannya, bukan berdasarkan hakikatnya sebagai manusia. Sikap kikuk Mantosam yang batal menyerahkan boneka Barbie yang dibelinya untuk Puput karena melihat boneka Barbie yang lebih besar pun dapat dibaca sebagai sebuah cara menilai sesuatu hanya berdasarkan kuantitas dan bentuk luarnya, atau dengan kata lain berdasarkan fisiknya. Terlepas dari perasaan bersalahnya karena sempat melalaikan anak dan istrinya, bagi Mantosam yang lebih penting adalah besar-kecilnya pemberian, bukan makna pemberian itu sendiri yang bisa mendatangkan seulas senyum pada bibir anaknya.

Sebagai salah satu ikon budaya populer, boneka Barbie memiliki jangkauan luas. Barbie tidak hanya berkedudukan sebagai sebuah komoditas, baik sebagai boneka itu sendiri maupun menyatu dengan produk-produk lain. Barbie telah menjelma sosok yang mewarnai kehidupan manusia selama kurang lebih setengah abad terakhir. Boneka perempuan berambut pirang dan sejumlah boneka lain yang berstatus teman Barbie adalah produk Mattel Inc. yang telah mendedahkan sejumlah konsep tentang perempuan ideal, khususnya secara fisik. Kemunculan Barbie di dalam sejarah dunia telah memengaruhi pembentukan gambaran tentang perempuan ideal: berwajah cantik, bertubuh semampai, berambut pirang, berpakaian bagus dengan model mutakhir.

Cerpen “Barbie” karya Clara Ng, “Bercinta dengan Barbie” karya Eka Kurniawan, dan “Barbie dan Monik” karya Teguh Winarsho memiliki caranya masing-masing dalam menghadirkan Barbie. Ketiganya juga bergerak pada arena subgenre prosa yang berbeda, “Barbie” dan “Bercinta dengan Barbie” berupa cerita fantastik, sedangkan “Barbie dan Monik” berupa cerita realis. Meskipun begitu, ketiga cerpen itu ternyata menghadirkan sejumlah motif yang sama, yaitu Barbie, seksualitas, kesempurnaan fisik, komoditas, dan dunia anak-anak.

Barbie di dalam cerpen-cerpen itu secara fisik hadir seperti wujud Barbie yang sebenarnya, yang memiliki kesempurnaan yang bahkan tidak mungkin disamai oleh perempuan mana pun. Barbie tidak lebih daripada perwujudan kecantikan dan perempuan artifisial karena ia adalah boneka. Barbie pun hadir sebagai simbol seksualitas sekaligus komoditas. Seksualitas Barbie bukanlah seksualitas yang apa adanya, tetapi seksualitas yang sepenuhnya diasosiasikan dengan pemenuhan hasrat para lelaki: bukan Barbie yang memperoleh kepuasan seksual dari berhubungan seks, tetapi lelakilah yang mendapatkannya. Seksualitas Barbie pun adalah seksualitas yang bernilai jual, sebuah komoditas, sesuatu yang ada atau tidak adanya tergantung pada permintaan pasar. Dunia anak-anak yang pada kenyataannya memang dunia yang mendukung atau bahkan menjadi latar belakang terciptanya Barbie muncul di dalam ketiga cerpen itu dengan intensitas yang berbeda. Pada “Barbie” dunia anak-anak diwujudkan dalam bentuk toko mainan tempat Barbie dan Babi Abu-abu hidup dan saling berinteraksi, pada “Bercinta dengan Barbie” dunia anak-anak muncul dalam wujud tokoh anak si lelaki yang darinya ia mengawali obsesinya memiliki Barbie hidup, dan pada “Barbie dan Monik” dunia anak-anak dihadirkan melalui sosok Puput yang menjadi pusat perhatian Lasmi sebagi ibunya, dan menginginkan sebuah boneka Barbie dari ayahnya. Dunia anak-anak di sini tampak tidak memiliki peran besar dalam membangun cerita dan makna di baliknya. Dunia anak-anak hanya dijadikan semacam latar belakang bagi Barbie dan para orang dewasa untuk bermain-main dengan kecantikan artifisial, fisikal, dan ideal. Keluguan anak-anak dalam menilai sesuatu pun tampak cemar di dalam cerpen-cerpen itu. Anak-anak mulai membuat standar tentang yang baik dan yang buruk berdasarkan standar yang lebih besar yang secara tidak disadari telah didedahkan ke dalam pikiran mereka. Sejak dini anak-anak telah belajar menilai melalui aspek-aspek fisikal yang kasatmata.

Ketiga cerpen yang sama-sama hadir pada dasawarsa pertama 2000-an, berdasarkan caranya masing-masng dalam menghadirkan Barbie, dapat dianggap sebagai representasi kondisi sosial budaya masanya. Sudah bukan menjadi rahasia bahwa para perempuan tampak begitu memuja kecantikan dan keindahan fisikal, dan para lelaki menilai perempuan pertama-tama dari penampilan luarnya. Kecantikan dan perempuan yang dianggap ideal cenderung dinilai pertama-tama dari segi fisik dan menggunakan standar Barat, dengan kata lain kecantikan dan perempuan ideal adalah yang seperti Barbie. Ketiga cerpen itu dapat dianggap sebagai kritik atas kondisi yang seperti itu, baik dihadirkan secara terbuka maupun melalui simbol-simbol dan ironi, melalui sosok Barbie yang tidak sekadar hadir sebagai ikon budaya populer, tetapi telah menjelma salah satu ideologi tentang manusia dan kemanusiaan.

~Bramantio