Sekuntum Impian tentang Perjalanan Merenungi Jantung Nusantara

Prolog

Tulisan ini berakar pada sebuah ruang dan waktu yang tidak kurang dari satu dasawarsa lalu ketika saya mengambil sebuah keputusan yang ternyata tidak semua orang bisa memahaminya. Satu tahapan kehidupan berdurasi tiga tahun telah saya lewati dan tiba saatnya untuk menapaki tahapan berikutnya pada sebuah jalan bernama sastra Indonesia. Ketika saya bercerita tentang jalan baru yang akan saya tempuh selama sekitar empat tahun kepada orang-orang di sekitar yang pada awalnya mengajukan pertanyaan tentang jalan yang saya pilih, tidak jarang saya menerima pertanyaan dan pernyataan bernada mencibir yang jika disederhanakan terdiri atas tiga unsur pokok: Ngapain belajar sastra? Sastra Indonesia pula. Nanti bakal kerja apa? Ya, sebuah trinitas yang terlepas dari rasa penasaran si empunya, mengandung jebakan mematikan yang memiliki kuasa untuk memadamkan motivasi sekaligus memperlihatkan dengan jelas segamblang ikan-ikan koi putih-jingga yang berenang di jernih air kolam tentang cara pandang masyarakat terhadap salah satu khasanah bangsanya.

Dalam sejarahnya, sastra Indonesia telah melahirkan penulis-penulis yang dengan caranya masing-masing mampu menuangkan banyak hal tentang negeri ini ke dalam cerita-cerita bernafas pendek maupun panjang, cerpen maupun novel. Meskipun mengusung hal yang sama, membaca karya mereka tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda dari membaca buku-buku berstatus ilmiah tentang keindonesiaan yang disusun berdasarkan riset bertahun-tahun. Hanya dengan duduk di ruang baca atau kursi kendaraan umum, setengah duduk setengah berbaring di kursi malas beralas busa tipis yang telah uzur, atau sambil berbaring penuh dengan kepala nyaman pada tumpukan bantal di kamar sendiri, melalui tulisan mereka, saya bisa melanglang Nusantara sepanjang pagi siang sore malam bahkan ke relung-relung tergelap yang saya pikir tidak akan saya datangi di kehidupan yang sebenarnya. Melalui sastra pula saya banyak belajar tentang sejarah dan budaya Indonesia dengan cara yang jauh lebih menyenangkan daripada yang pernah saya peroleh di bangku sekolah. Jika saya bisa memperoleh pengalaman yang demikian melalui sastra Indonesia, orang lain pun tentu kurang-lebih juga dapat mengalaminya.

Jurnalisme Sastrawi untuk Masa Depan Nusantara

Pemahaman saya tentang sastra Indonesia sejauh ini kemudian menghadirkan sebuah pertanyaan kepada diri saya sendiri berkaitan dengan sumbangsih sastra yang lebih realistis bagi Indonesia, sebuah negeri yang pada hakikatnya mahakaya mahadaya maharaya, tetapi terpuruk oleh manusia-manusianya yang sebagian memiliki tabiat mengerdilkan dirinya sendiri; sebuah negeri yang masih memegang teguh mentalitas jajahan sehingga hal-hal mancanegara selalu mendapat tempat terhormat bahkan tidak jarang serupa berhala sesembahan; sebuah negeri yang tayangan-tayangan televisinya tidak jarang menjadikan aib, konflik, politik-tidak-tahu-diri, agama, dan kemiskinan sebagai komoditas bernilai jual tinggi yang herannya memiliki penonton yang begitu antusias; sebuah negeri yang menahbiskan para koruptor sebagai selebritas yang layak untuk dijadikan tajuk utama; sebuah negeri yang masyarakatnya doyan berplesir ke negeri lain dengan mempertontonkan kebanggaan meluap-luap hampir kalap sambil seolah melalaikan tanah kelahirannya yang bahkan dalam titik nadir terendahnya pun sesungguhnya tetap memberi mereka penghidupan sekaligus menyimpan keindahan yang terpinggirkan; sebuah negeri yang orang-orangnya lambat-laun kehilangan pekertinya yang paling dasar hingga membuat mereka bahkan tidak lagi sabar menanti merah berganti hijau pada lampu lalu lintas di perempatan jalan dan main serobot dengan membabi buta mengabaikan keselamatan orang lain; sebuah negeri yang generasi mudanya begitu melek teknologi mutakhir hingga mengembangkan kemampuan semacam evolusi Darwinian bahkan revolusioner yang menjadikan mereka memiliki kemampuan berjalan tanpa melihat ke depan bahkan mengendari kendaraan bermotor beroda dua sambil mengetik pesan singkat di ponsel mereka.

Pikiran saya pun melayang mencari-cari untuk kemudian mendarat pada sebuah pasangan kata bernama jurnalisme sastrawi. Lalu hadirlah impian sederhana itu: para sastrawan Indonesia mengikhlaskan sebagian waktu dan energinya untuk memotret Nusantara melalui kata-kata. Tidak, kali ini tidak dengan tokoh-tokoh rekaan berbumbu konflik yang menggelisahkan, menegangkan, hingga menyesakkan, tetapi cukup dengan menghadirkan kembali ruang dan waktu lengkap dengan segala rasa dan nuansa di dalamnya yang di kemudian hari membentuk sebuah mozaik bernama ensiklopedi Indonesia dalam pengertian harfiah atau sebuah serial Nusantara. Betapa mengesankan seandainya Ragdi F. Daye menulis tentang gurih liris rendang yang menguarkan aroma surgawi, atau sensasi sambal ijo, balado, juga sampadeh pada sepiring nasi yang masih mengepul hangat pada pagi dengan selarik halimun di sekitar Jam Gadang atau tempat-tempat lain di Tanah Minang; Benny Arnas menuturkan kembali hal-hal yang nyaris rahasia bahkan serupa mimpi di malam kelam bagi banyak orang tetapi menjadi keseharian masyarakat Lubuklinggau atau kisah suatu hari yang cerah yang terpantul pada tenang aliran Musi dan Jembatan Amperanya yang ikonik di Sumatera Selatan; Mashuri menghadirkan ulang pertunjukan ludruk, reog dan jaran kepang-nya, serta kesenian gandrung bukan sekadar sebagai produk budaya, tetapi sebagai sosok-sosok yang memiliki sejarah panjang, kemampuan adaptasi melewati masa demi masa, dan jiwa-yang-hidup di Jawa Timur; Oka Rusmini melukiskan hijau Ubud dan gemericik air yang meneduhkan, rancak tari Kecak yang pada momen-momen tertentu mendatangkan miris dan meremangkan tengkuk, hening khusyuk di pura-pura dengan aroma kembang dan larik-larik asap sesaji serupa roh yang melayang damai, senja yang senantiasa menyimpan keindahan di dalam kemuramannya ditingkahi gelegak ombak mencium pantai milik Kuta, dan bagaimana Bali menjadi arena tempat tradisionalitas dan modernitas bersinggungan tanpa saling menggilas dan meniadakan. Mozaik tulisan para sastrawan ini tidak berhenti pada tujuan jangka pendek sebagai media memperkenalkan kembali Indonesia ke saentero Bumi, tetapi juga dalam rangka mempersiapkan sebuah warisan bagi generasi mendatang: tentang Nusantara, tentang cara pandang sebuah generasi terhadap negeri dan bangsanya, dan tentang bahasa Indonesia.

Nusantara saya bayangkan sebagai raga dengan banyak jantung yang berdenyut bersamaan meskipun tidak dengan irama yang sama. Jantung-jantung ini pun tidak seragam melainkan memiliki kekhasannya masing-masing meskipun tidak berarti benar-benar berbeda. Melalui jurnalisme sastrawi, jantung demi jantung Nusantara akan dieksplorasi dengan cara yang tidak dapat diakomodasi oleh jurnalisme konvensional atau penelitian etnografis. Para sastrawan tidak sekadar memberi perhatian pada detail atas ruang-ruang besar, kecil, bahkan mikro yang tergelar di sepenggal Khatulistiwa ini, tetapi juga menggunakan bola mata berlensa estetika tingkat tinggi yang dapat menangkap keindahan yang subtil pada sebatang kretek yang baru dilinting untuk disulut dengan api mungil di ujung korek yang kemudian meretih perlahan seiring hisapan penuh ketakziman; keagungan-yang-membumi candi-candi purba yang tidak lagi utuh sebagai jejak sejarah panjang anak negeri sekaligus kesetiaan tanpa pamrih selama ratusan tahun terhadap ibu pertiwi; gerak canting menyelam sesaat dalam hening bening pada cairan malam untuk kemudian mengguratkan titik, garis, dan kurva pada selembar kain bakal batik; aneka herba dengan takaran pas yang dicemplungkan ke lumpang untuk kemudiang ditumbuk dengan alu hingga lumat menjelma jamu kecantikan atau kesehatan dan ramuan untuk lulur perawatan kulit; putaran yang semakin lama semakin lambat gasing bambu dengan sebuah celah membujur seukuran dua ruas jari yang menghasilkan dengung pilu menghipnotis; religiusitas yang bersahaja pada nasi kuning berwujud tumpeng lengkap dengan lauk-pauk pada sebuah tampi besar yang dikeliling oleh para lelaki bersongkok dan bersarung; dan kemistisan-yang-menahan-diri-seorang-pertapa pada liuk gemulai para penari Bedaya diiringi harmoni tetabuhan gamelan yang melenakan di ruang-ruang tertutup keraton. Dengan begitu, segala keindahan yang subtil ini pun nantinya menjelma sangtuari-sangtuari renungan yang senantiasa terbuka bagi bangsa Indonesia yang berkenan melapangkan kalbu dan pikirannya akan hal-hal di sekitarnya sekaligus menjadi jangkar yang memberi peluang bagi bangsa ini untuk tetap menjejakkan kaki pada keindonesiaan.

Epilog

Ensiklopedi Indonesia atau serial Nusantara ini kelak menjadi salah satu pintu gerbang untuk mengenal negeri ini. Perkenalan perdana ini pun tentu akan meninggalkan kesan tersendiri karena tidak sekadar berupa data-data kaku bahkan mati beku, tetapi berupa sebuah pengalaman yang sarat citra visual, audio, aroma, rasa, dan rabaan. Nusantara hadir dalam representasinya yang paling menggugah. Para pembaca diajak berwisata imajinatif melalui halaman demi halaman buku maupun berkas digital: merasakan lembab khatulistiwa dengan mataharinya yang bersinar sepanjang tahun bahkan ketika kelabu mendung bermuatan halilintar menabirinya, mengenal warna-warni budaya dengan keintiman yang hampir nyata, mengecap kulinari dengan meminjam lidah para sastrawan tanpa disertai kewajiban mengembalikannya, yang bermuara pada bangkitnya rasa penasaran untuk mencoba dan mengalami semua itu secara langsung dengan menjelajahi atau berkunjung ke Indonesia. Akan lebih luar biasa apabila ensiklopedi ini menjadi cinderamata kenegaraan yang kemudian menyeberangi samudera dan zona waktu untuk bersemayam di rumah-rumah baru mereka bernama perpustakaan negeri-negeri lain. Pada akhirnya, ini semua memang sekadar impian, tetapi bukan tidak mungkin untuk diwujudkan suatu hari nanti.

~Bramantio