Jangan Ada Zombie di Antara Kita

WarningZombie. Kata yang mendadak popular semenjak awal tahun 2000-an, walau kata ini sebenarnya sudah ada sejak ratusan tahun sebelumnya. Adalah  video game dan film-film kontemporer yang berperan besar dalam mempopulerkan kata ini. Baik video game dan film-film yang mengangkat tema zombie banyak berspekulasi mengenai akhir peradaban umat manusia, yang salah satunya adalah melalui wabah (virus). Dalam ruang imajinasi yang tak terbatas (berkelindan dengan perkembangan sains), dibayangkan bahwa pada satu waktu, peradaban manusia akan tiba pada masa dimana rekayasa genetik dan virus menjadi sesuatu yang lumrah. Lumrah dalam arti ia semakin mudah diakses dan digunakan untuk ragam kepentingan, mulai dari sekedar eksperimen, tujuan medis, hingga tujuan peperangan. Akibat dari penyebaran virus dan rekayasa genetik inilah manusia kemudian mengindap ragam penyakit menular yang mengubah dirinya menjadi pemangsa sadis yang dapat menular. Manusia-manusia inilah yang kemudian disebut sebagai zombie.

Zombie atau zombi sebenarnya adalah sebutan untuk mayat hidup dalam sistem kepercayaan Voodoo orang Kreol dan Afrika-Karibia. Menurut Wikipedia, Zombi adalah manusia yang jiwanya sudah dicuri lewat cara supranatural atau perdukunan, dan dipekerjakan sebagai budak yang mengabdi pada “majikan zombi” di perkebunan terpencil. Sedangkan zombie versi Eropa pada abad pertengahan (walau mereka tidak menyebutnya zombie)  di percaya sebagai arwah dari orang meninggal yang bisa kembali ke bumi dan menghantui orang hidup.

Dalam Encyclopedia of Things that Never Were, zombie dijelaskan sebagai mayat yang bangun dari kubur (terutama di Perancis) dimana ia biasanya datang untuk membunuh orang-orang demi membalas dendam. Sewaktu malam tiba, di makam-makam berkeliaran zombi berbentuk kerangka manusia atau mayat yang sudah kurus dan lemah. Lalu pada Mitologi Norse (Skandinavia) mengenal makhluk bernama Draugr yang dipercaya sebagai mayat ksatria yang bangun dari kubur untuk menyerang orang yang masih hidup. Versi zombi yang lebih menakutkan dan suka memakan manusia sebagaimana dibayangkan dalam spekulasi akhir peradaban manusia agaknya mengalami modifikasi dari pengertian asalnya. Kalau zombie voodoo tercipta lewat klenik, maka zombie (fiksi) kontemporer tercipta lewat sains.

Ide zombie fiksi inilah yang ditangkap dengan bombastis lewat banyak film-film dan permainan video/computer yang mengusung genre action-adventure- thriller (Resident Evil, Left4Dead) hingga yang bernuasa drama (The Quarantine, 28 Days Later) bahkan komedi (Shaun of the Dead). Pada umumnya film-film ini kompak untuk menyepakati bahwa zombie versi mereka adalah mahluk yang telah mati dan hidup kembali dan yang tertinggal hanya insting alamiahnya untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya, yaitu makan. Zombie-zombie ini juga digambarkan bersifat menular dalam arti siapapun yang terkena virus yang mereka bawa akan menjadi sama (semacam rabies).

Beberapa karakteristik zombie-zombie tersebut adalah:

  1. Mati jiwanya: artinya disini zombie-zombie tersebut tak lebih dari seonggok tubuh yang hanya mengejar pemenuhan diri pada tingkat yang paling dasar (jasmaniah).
  2. Bergerombol kemana-mana dalam upaya mencari mangsa dan mematikan kehidupan yang lain.
  3. Menular, menyebar dengan amat cepat, mematikan, dan mengancam kemanusiaan.

Visualisasi dan cerita-cerita zombie ini bisa jadi memang terlampau  didramatisir. Namun kalau mau ditelisik lebih jauh, ada sesuatu yang menarik sebagai pesan terselebung dalam kisah-kisah zombie tersebut. Begini tafsir saya:

Coba tengok sekeliling kita, bukankah tidak jarang dapat ditemui manusia-manusia yang semata-mata hidup demi tubuhnya, dan abai dengan jiwanya.  Walau sebenarnya ia hidup namun hidupnya tak lebih daripada sekedar pemuasan dan pemenuhan raga semata, jiwanya nyaris atau bahkan telah mati. Demi memuaskan kebutuhan jasmaninya semata, manusia bisa saja memberangus manusia lainya tanpa tendeng aling-aling. Saling sikut saling gigit hingga pada akhirnya orang lain pun tertular dan jadi sama dengan mereka. Tak jarang pula kita menyaksikan manusia yang menyakiti sesamanya demi kepuasan-kepuasan dan dorongan primintif instingtual. Saya mengatakannya sebagai primitif instingtual karena memang dorongan untuk memenuhi kebutuhan tubuh adalah dorongan yang murni bersifat dasar sedari dulunya, atau dengan kata lain sudah darisananya, dan pada area ini binatang pun memilikinya. Parahnya kadangkala dorongan ini menjadi tak pernah usai, tak pernah ada kata cukup, terus dan terus, hingga tak tau lagi dimana arti kata cukup itu. Disini yang diabaikan adalah apa yang khas pula dimiliki oleh manusia; yakni jiwanya, dimana fakultas akal budi bersemayam didalamnya. Area inilah yang kemudian menghasilkan kata adab, lawan kata dari biadab, yakni lewat akal budi yang bekerja baik dalam memberi makna terdapat seluruh dimensi kehidupan. Antara jiwa dan tubuh memang tidak dapat dipisahkan, keduanya saling membutuhkan dan juga saling mengandaikan. Lewat kerja akal budi manusia dapat mengelola seluruh pengalaman tubuhnya serta mengupayakan pemenuhannya secara lebih “manusiawi”, pada titik inilah kita menyebutnya sebagai peradaban.

Memang kita sering mendengar kalau dalam tubuh yang sehat terdapat pula jiwa yang kuat, namun pernyataan ini tidak sepenuhnya benar dengan sendirinya, karena jiwa yang kuat mesti diupayakan bukan semata-mata lewat olahraga, namun juga lewat refleksi, analisa, latihan berpikir dan pertimbangan, serta memberi makna terhadap banyak hal dalam kekayaan dan keluasan hidup manusia. Dalam jiwa yang kuatlah terdapat pemikiran yang jernih dan dalam pemikiran yang jernih terdapat tindakan-tindakan yang positif. Dengan tindakan yang positif inilah akan mampu membuat diri kita, keluarga, lingkungan, hingga akhirnya masyarakat kita dapat lebih maju dan beradab.

Zombie-zombie yang semata-mata mengejar pemenuhan dirinya dan rela menyakiti orang lain dalam mencapainya, sudah abai dalam memberi makna terhadap kehadiran orang lain dalam hidupnya. Kepekaan jiwanya bisa jadi telah mati. Situasi ini sering kali tanpa disadari sebenarnya mampu menular, sama seperti penyakit. Ketika kita pernah disakiti maka mesti terbesit dalam diri kita untuk membalas atau memperlakukan orang lain sama sebagaimana kita diperlakukan, seberapa sering kita mendengar ungakapan ini, ”dulu saya juga diperlakukan seperti ini” atau “baru rasa dia apa yang saya rasakan dulu”. Lambat laun (tanpa pernah lagi melatih jiwanya agar tetap sehat, sebagai antivirus) manusia dapat jatuh sama sebagaimana orang yang pernah menggigitnya (menyakitinya), dan justru malah menyakiti orang lain disekelilingnya. Pada akhirnya situasi ini akan berhujung pada keadaan dimana semua manusia mengidap penyakit yang sama, yakni kebencian, dan tanpa pandang bulu hanya mengutamakan kepentingan dirinya atau kelompok(zombie)nya. Disini yang dapat menjadi antibodi bagi jiwa yang sehat adalah suatu katakunci yang mungkin mudah untuk diucapkan namun sukar untuk dipraktekkan, yakni memaafkan dan berdamai. Yah.. memaafkan dan secara terus menerus berupaya mewujudkan kedamaian antara sesama manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya merupakan kerja akal pikiran manusia bersama demi mematikan virus yang menular itu. Dengan cara itulah kita tidak berubah menjadi seperti zombie.

Sama halnya dengan zombie dalam cerita-cerita fiksi, zombie disekeliling kita juga seringkali bergerombol (berkerumun). Tidak dapat dipungkiri kalau manusia adalah mahluk yang sosial, dorongan sosialnya ini yang kemudian memaksa manusia untuk berkumpul dengan sesama manusia lainnya. Namun perlu disadari pula bahwa kebutuhan sosial manusia berbeda dengan larut dalam kerumunan dan semata-mata bergerombol. Yang perlu diwaspadai disini adalah suatu keadaan dimana manusia kehilangan akal pikiran jernihnya untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Dengan kata lain, praktek yang dilakukan secara bersama-sama itu mesti dikritisi, diperiksa ulang, sesuatu hal yang mesti dilakukan oleh pribadi (individu) lepas pribadi. Kalau banyak orang melakukan praktek korupsi misalnya, apakah memang anda harus ikut melakukan hal tersebut, atau hanya karena banyak orang mengunakan cara-cara manipulatif dalam mencapai suatu tujuan, maka kita harus turut melakukan hal yang sama? Dalam situasi lain misalnya, ditengah kerumunan massa yang sedang mengamuk dan mengobarkan kebencian, lalu ada seruan untuk menyerbu dan menghancurkan, atas alasan apapun yang dibangun, apakah anda akan serta-merta melakukannya? Kalau jawabnya adalah iya, waspadalah.. mungkin saja anda telah berubah menjadi zombie.

~ Yesaya


About this entry