Sepuluh Tahun Kemudian

Ketika membaca Genom yang kaya petualangan imajiner hampir jenaka ke semesta internal karya Matt Ridley, nama yang entah mengapa seketika mengingatkan saya pada Tom Riddle dengan horcrux-horcrux-nya, kemudian Middlesex yang begitu tekun menelusuri jejak-jejak sejarah bahkan evolusi sebuah keluarga karya Jeffrey Eugenides, ada satu hal yang melekat di dalam pikiran saya sekaligus mendatangkan sepercik geli karena menyadari bahwa sesungguhnya fakta ini sepele dan pada saat yang bersamaan begitu berjarak bahkan bisa jadi luar biasa, kurang lebih: rangkaian generasi tidak dihitung dengan satuan tahun tetapi cukup dibayangkan berupa manusia-manusia yang saling bergandengan tangan dari ujung kota ke ujung yang lain, masa seratus tahun bisa jadi hanya menampung dua hingga tiga generasi, ya, hanya dua hingga tiga generasi. Saya sepenuhnya menyadari bahwa mungkin ada di luar sana yang kemudian mengajukan pertanyaan tentang apa generasi. Menurut kamus yang ada di laptop dan ponsel saya, generasi: orang-orang yang lahir dan hidup pada masa yang sama; periode rerata yang memiliki rentang kurang-lebih tiga puluh tahun, mulai dari kelahiran seseorang, tumbuh dewasa, dan melahirkan anak-anaknya sendiri. Di luar definisi yang demikian, bolehlah saya menambahkan: sebuah generasi dibedakan dengan generasi sebelum atau sesudahnya melalui pemikirannya, pemikiran tentang apa pun: diri, manusia, dunia.

Saya lahir di awal 1980-an ketika Bumi belum seberesik sekarang, terasa jauh lebih lengang, dan mengalir tanpa gelegak berarti bersama waktu yang masih adem-ayem. Masih ranum di dalam ingatan saya ketika pada masa itu ada kewajiban tidak tertulis bernama tidur siang hingga menjelang pukul empat dan betapa sore pada masa itu bahkan memiliki kehangatan yang berbeda lebih-lebih ketika dinikmati dalam hening sendiri di halaman mungil belakang rumah tempat sebatang pohon jambu air cebol dan sepasang pohon srikaya lancir meneduhi segala yang ada di sekitarnya dari nyala lemah Matahari. Pada saat yang sama di ruang sebelah ibuk saya memasak untuk makan malam kami bertiga dengan kompor berbahan bakar minyak tanah yang meskipun mengasap sedemikian rupa tetap tidak membisikkan desahan seperti kompor berbahan bakar gas, sesekali aroma hangat lembab beras yang menuju matang menjelma nasi berkeredap bersama segar manis sayur asem klenthang disertai gurih ayam goreng yang telah diungkep sejak beberapa jam sebelumnya. Saya tidak tahu tentang pengalaman anak-anak lain pada masa itu khususnya berkaitan dengan jam-jam selepas tidur siang, tetapi setidaknya ada irama senada yang melingkupi untuk kemudian membentuk kami: lamat-lamat yang khidmat yang tidak disebabkan oleh keengganan untuk melakukan sesuatu, tetapi karena memang demikianlah adanya yang dihamparkan oleh kehidupan pada ruang dan waktu masa itu. Bangun ketika langit mulai membiru lebam, mandi, sarapan dengan telor ceplok dan kecap yang dituang dari botol beling hijau gelap, mendapat pertanyaan dari ibuk hari ini mau makan apa dan jawaban saya akan menjadi daftar belanjaan ibuk hari itu dan menjelma makanan yang saya inginkan untuk makan malam, mencium tangan bapak dan ibuk, berangkat ke sekolah dengan becak langganan, bermain patung-patungan atau lompat tali karet atau gobaksodor atau benteng-bentengan atau bekel ketika jam istirahat, kembali ke rumah dengan ibuk yang selalu memberi sambutan dengan sebelah tangan untuk saya cium, menemani ibuk membuat kue sekaligus iseng ikut-ikutan mencipta icing pada permukaan tart dengan contong kertas minyak berujung kerucut seng dengan lobang pipih maupun bulat bergerigi aneka rupa, tidur siang tanpa pernah dipaksa atau bahkan diseret, bermain pathil lele atau kopral atau engkle bersama tetangga sebaya, mendengar derum sepeda motor bapak yang diakhiri dengan satu dua bunyi klakson begitu sampai di depan pintu samping rumah, ngobrol ke sana-ke mari, mandi kedua, mengerjakan PR, makan malam dengan menu yang tidak pernah melebihi empat jenis termasuk nasi dan porsi yang hanya cukup untuk mengisi perut dua orang dewasa dan satu orang bocah, ngaji, kruntelan di tikar pandan yang senantiasa menguarkan aroma sejuk dedaunan perdu di depan televisi yang menyajikan penggalan-penggalan dunia dengan medium antena indoor yang menyerupai sepasang jari membentuk victory dengan sudut dan kemiringan berubah-ubah sesuai cuaca, berlatih menulis tegak bersambung di buku bergaris-garis tipis yang dikenal sebagai buku halus, belajar menggunakan pensil untuk menghasilkan bentuk dan bayangan disusul mengencerkan dan mencampur cat air Guitar dengan kuas Pagoda berukuran dua hingga enam yang adakalanya justru melumat kertas gambar karena saking encernya, bermain bongkar-pasang Lego dengan tidak mematuhi bentuk-bentuk contoh pada brosur, berpetualang menyakiskan anakonda meremukkan kaiman dan arapaima melayang-layang berbagi ruang dengan piranha di belantara Amazon atau kawanan kucing besar di taman firdaus Serenggeti atau paus bungkuk penjelajah mahalautan mistik Pasifik atau pinguin-pinguin lucu tahan banting di padang ekstrem Antartika melalui membaca satu lusin serial Biologi dan Ekologi, membaca komik Ramayana dan Mahabharata karya R. A. Kosasih juga Si Buta dari Goa Hantu dan Reo Manusia Serigala karya Ganes T. H., mengamati bapak yang dengan gerakan-gerakan enteng menggambar pada kardus bekas lalu memotongnya menggunakan pemes mengikuti lekuk menghasilkan sepasang sayap Jatayu untuk melengkapi fantasi saya, menyimak “A Shoulder to Cry On” Tommy Page atau “Lost in Your Eyes” Debbie Gibson atau “If Love is Blind” Tiffany di tape recorder yang adakalanya menjebak dan mengusutkan pita kaset sambil membuka-buka kamus untuk mencari tahu arti, berdoa menjelang tidur dengan menatap langit-langit kamar sambil membayangkan tuhan memandang sendu dan tersenyum syahdu tanpa menampakkan giginya, dan menghabiskan sisa malam tanpa kekhawatiran apa pun tentang hari esok, seandainya ada keresahan tentu tidak lebih daripada semacam jangan-jangan saya akan bermimpi buruk seperti satu dua malam sebelumnya. Segalanya tampak biasa bahkan terlalu biasa lebih-lebih jika dibandingkan dengan yang menjalar, melilit, dan mengakar pada hari-hari generasi yang membumi belasan tahun kemudian. Bagaimanapun, rangkaian hari-hari yang demikianlah dengan caranya yang tanpa ledakan berhasil memberi saya pijakan kokoh untuk menghidupi masa-masa sesudahnya.

Pada pertengahan dasawarsa pertama tahun 2000, semakin kental di dalam benak saya bahwa meskipun perubahan adalah sebuah keniscayaan mengingat senantiasa ada dinamika pada setiap manusia, ternyata ada jarak yang terasa jauh antara generasi saya dengan generasi-generasi yang hadir berikutnya. Hal ini tidak serta-merta berkaitan dengan hal-hal besar, tetapi justru tentang yang remeh-temeh yang pada awalnya saya pahami sebagai pengetahuan awam dan nilai yang menjadi bagian inti setiap orang yang bisa dipelajari tanpa perlu mengikuti kelas-kelas khusus. Ternyata, saya keliru, keliru dalam tataran yang tidak sekadar semacam goresan ranting tumpul pada permukaan kulit yang bekasnya langsung hilang dalam satu kali usap, tetapi minimal semacam luka tipis perih semriwing pada pangkal antarjari yang disebabkan secarik kertas, papercut dengan intensitas serupa yang pernah dikumandangan oleh Chester Bennington bersama Linkin Park, hingga semacam ngilu selama berhari-hari pascabenturan dengan anak-anak tangga, siku lemari, ujung tumpul lempengan meja, atau kaki kursi yang diam-diam mematikan.

Bagi saya, generasi yang hadir satu dasawarsa kemudian setelah seekor bangau sunyi mengirim saya dalam wujud jabang bayi inosen kepada bapak dan ibu saya adalah generasi yang luar biasa. Mereka seolah mengalami akselerasi berkali-kali lipat daripada saya pada masa itu untuk mencapai sebuah tahapan bernama remaja dan dewasa. Otak mereka bekerja dengan prosesor yang lebih digdaya daripada yang saya miliki sehingga bisa mempelajari dan mengakomodasi banyak hal yang bahkan saling tumpang-tindih dan bertumbukan tanpa mengalami konsleting lalu terbakar habis. Bibir dan lidah mereka begitu fasih mengujarkan banyak kosakata yang secara tidak langsung memperlihatkan betapa mereka adalah penguasa pengetahuan yang mumpuni dan teknokrat yang mengalami revolusi bahkan tanpa mereka sadari baik titik awalnya, prosesnya, maupun tujuan yang akan mereka capai. Generasi mereka semacam air bah yang melahap dan mengaduk apa pun dengan energi yang dipaksa untuk terus mengada tanpa mempertimbangkan kemanusiaan yang tentu membutuhkan rehat meskipun itu hanya menyesap segar mendamaikan segelas es teh tawar, sekuntum es krim vanilla lembut berbalut cokelat padat pada sebatang kayu tipis yang tidak melebihi sejengkal, atau menekuri langit malam yang menghadirkan kelap-kelip yang bersumber dari matahari-matahari lain berjarak entah berapa tahun cahaya dari atap rumah mereka.

Yang demikian saya pikir bukan tentang benar dan salah atau baik dan buruk, tetapi mau tidak mau menjadikan kepekaan sebagian di antara mereka atas hal-hal di sekeliling termasuk manusia luruh bersama Pentiumisasi banyak hal. Ada yang terputus bahkan sengaja ditiadakan seperti penghapusan kamar gelap klaustrofobik tempat menjelmakan citra film menjadi foto pada bagan alir proses produksi foto pada zaman kamera digital ini yang secara sepintas tampak tidak problematik, tetapi sesungguhnya ada jiwa yang menguap bahkan tanpa disadari oleh si pemilik: kesabaran, kejelian, kesiapan atas kemungkinan mengalami kegagalan, ketahanan terhadap kesendirian dan keheningan, serta tentu saja kerendahhatian.

Arogansi sedikit demi sedikit menyelinap di relung-relung batin generasi mereka untuk mendekam lalu menggumpal semakin banyak hingga pada suatu ketika meledak dalam gugusan-gugusan kata: Hah?! Ngapain?! Itu kan bukan tugas gw. Lagian, apa gunanya ada mas-mas dan mbak-mbak cleaning service! dan Pak, gi dmn? Di kampus ga? Aq perlu konsul nih. Bls. Dua gugusan ini pada awalnya semacam tonjokan telak bagi saya, saya menyebutnya momen hancik!, tetapi kemudian membuka pemahaman saya bahwa betapa sepuluh tahun adalah waktu yang lebih daripada cukup bagi semesta untuk menyambut kelahiran sebuah generasi baru dengan karakteristik inti yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Gugusan pertama memang hanya hadir di dalam pikiran saya berdasarkan yang saya temui setiap pagi selama beberapa tahun terakhir ini dalam perjalanan pendek dari gerbang kampus menuju ruang dosen departemen: sampah bertebaran di sejumlah titik yang menjadi tempat khusus yang sengaja disediakan bagi mahasiswa untuk bersosialisasi dengan kawan-kawannya, bukan sekadar puntung rokok seujung jari kelingking yang bisa saja tersamar di permukaan tanah atau tersapu ke sudut yang tidak terjangkau mata, tetapi plastik pembungkus makanan baik yang transparan dan direkatkan dengan jepretan maupun yang tampak berkilau dirancang khusus dengan warna-warni untuk menarik perhatian, gelas dan botol plastik air mineral atau teh atau kopi fensi yang isinya telah tandas, kotak kertas tanpa penutup yang pernah menjadi wadah jamur krispi atau krispi-krispi lain berlumur mayones atau saos tomat atau saos sambal yang telah dilahap mungkin dua belas jam sebelumnya, dan tentu saja tisu-tisu kumal yang mungkin telah memenuhi tugasnya sebagai penghapus cemong bekas minuman atau makanan di bibir atau penyerap keringat di dahi atau penampung ingus. Dan itu semua terjadi tidak sampai satu meter dari tempat-tempat sampah. Keterlaluan. Gugusan kedua benar-benar saya alami dan saya selalu berpikir bahwa seandainya ada yang tersentil pada benak saya, ini bukan tentang bagaimana menghormati, tetapi lebih tentang kesantunan standar dan bersikap adil.

Kedua gugusan ini pun bermuara pada pertanyaan: sebenarnya apa yang telah dan sedang terjadi pada generasi mereka? Sebuah generasi yang mendapat dan memiliki begitu banyak hal, tetapi sekaligus kehilangan sebagian diri mereka dalam Labirin yang mereka sendiri mungkin tidak menyadari sedang berada di dalamnya. Bukan perkara mudah untuk menjawab pertanyaan tadi bahkan mungkin tidak akan terjawab karena memang ada banyak aspek dan matra yang membentuk dan memantapkan fenomena ini. Seandainya saya berpikir secara acak, bisa jadi menghasilkan yang berikut ini: materi pelajaran dasar yang begitu beragam dan harus dikuasai secara merata dengan kualitas sebaik-baiknya oleh semua anak tanpa peduli bahwa setiap manusia memiliki minat, bakat, dan kecerdasannya masing-masing, anak seolah dikondisikan bahkan dipaksa melampaui usia dan porsinya dalam banyak hal, play group yang dianggap sebuah rancangan imakulata untuk memacu perkembangan psikomotor dan kecerdasan emosional anak justru menjadi semacam tongkat Musa yang membelah keintiman anak dan orangtuanya tetapi tidak disertai niat menyatukannya lagi, tidak diberlakukannya prinsip reward and punishment bagi anak sehingga mereka cenderung tidak menghargai usaha dan menjadi sosok manja, perkembangan teknologi yang menyeret bahkan menenggelamkan anak ke aliran Sungai Mekanik Robotik dengan monster-monster Nirnurani dan Antinurani yang siap mengambil alih raga mereka seperti parasit cantik penumpang gelap yang menyerap saripati lalu lambat-laun membunuh si pemilik asali. Di sisi lain: orangtua yang terlalu sibuk merengkuh materi dengan alasan itu dilakukannya untuk kepentingan anak sehingga kebersamaan dengan anak pun berkurang padahal seringkali yang dibutuhkan anak bukan kesenangan-kesenangan banal tetapi sosok-sosok yang sepenuhnya mereka tahu senantiasa hadir menemani dengan hanya duduk dalam diam sambil membaca koran di sampingnya yang sedang menghabiskan setangkup roti berlabur margarin dan bertabur meses, memeluknya dan meletupkan kembali semangatnya usai mendapat nilai buruk di sekolah atau dipecundangi dalam suatu perlombaan, menceritakan apa pun yang tidak selalu dongeng-dongeng dari masa lalu setiap menjelang tidurnya, orangtua yang mungkin sebenarnya tidak siap menjadi orangtua dan menganggap kelahiran anak sebatas keniscayaan yang wajar sebagai dampak perkawinan sepasang manusia subur sehingga bukan masalah seandainya anak diasuh oleh kakek-neneknya atau orang yang sama sekali asing yang hanya paham tentang membesarkan tetapi tidak sepenuhnya menumbuhkan, orangtua egois yang tidak mau mendengar keinginan atau harapan atau impian anak, membandingkan anak mereka dengan anak orang lain yang sejatinya memang unik pada dirinya masing-masing, dengan mudahnya memojokkan anak dengan sebutan mbalelo atau anak durhaka ketika anak memiliki pemikiran atau pilihan hidupnya sendiri.

Yang demikian memang tidak hanya muncul pada generasi sepuluh tahun kemudian tetapi setidaknya inilah yang semakin kerap saya lihat dan rasakan. Di sisi lain, mungkin saja justru karakteristik seperti inilah yang menjadikan generasi mereka dapat bertahan hidup pada masa seperti sekarang ini. Dari Ridley dan Eugenides saya bisa membayangkan bahwa setiap sifat memiliki gennya sendiri. Mungkin, generasi mereka memiliki sederet gen: enaknya ngapain yaaa… ada yang bisa kasih saran gaaak?; suka-suka gw dooong…; kalo gw gak nyalain lampu sepeda motor ketika malam… masalah bwt lo?; so what kalo gw markir sepeda motor di tempat bertanda dilarang parkir?; yang penting happy; lo gak setia kawan banget sih!; lo nggak level sama gw; paling yang lain juga bakal datang telat; dia pasti bisa maklum so santai ajalah; gw harus bisa ngetik di ponsel sambil nyetir… harus!; ish… gitu aja udah sok… mending gw ke mana-mana; gw galau maka gw eksis; gw narsis maka gw eksis; ugh… kok bisa sih dia jadian sama orang kayak gitu… najis deeeh; sini deh… gw kasitau… gaya lo tuh… gak banget!; peduli setan… nggebet jalan terus meski dia udah punya partner in love; mending langsung nanya sebelum bener-bener baca; bodo amat sama copy-paste… toh yang penting kerjaan gw kelar kan yaaa; males banget deh di rumah sendirian… apalagi pas malam Minggu gini; hepi besday yaaa… ditunggu traktirannya; huft… tralalaaa… trililiii… alayhumgambreng!

Semoga Minotaur tidak bangkit dari kematiannya setelah ditumpas Theseus dan kembali menghantui Labirin. Semoga Ariadne berkenan mengurai benang yang sudah lama digulungnya.

~Bramantio