Tentang Rasa yang Belum Usai

X: Keraguan ini. Tentang hal-hal sepele, tetapi mendatangkan hampir siksa. Antara melanjutkan membaca novel ini, membaca yang lain, menulis lagi, atau makan malam.

Y: Nulis yang lain saja. Yang jambon-jambon arumanis gitu lhooo….

X: Yang manis? Nulis kisahmu bersamanya?

Y: Ah, kamuuu…. (Nyengir)

X: Dan lihatlah… pipimu meronaaah. Hahaha. Mungkin nun jauh entah di mana, ia pun merasakan jantungnya melewatkan satu detakan. Mencelos tiba-tiba. Mini heart-attack.

Y: Oalaaah…. Maka, cepatlah datang sajaaa….

X: Ia geragapan. Mencari pegangan. Juga sandaran. Duduk terpekur. Menatap langit-langit. Menerawang menembus kaca buram jendela ke taman dengan pohon-pohon membeku. Mengatur nafas. Mengusap keringat di dahi yang sebenarny tidak ada. Mengingat tahun-tahun yang telah berlalu. Hari-hari panjang yang tidak menyisakan apa-apa selain nostalgia dan melankolia. Merenung di luar kemauannya. Dan menyimpulkan: Ada urusan yang belum selesai antara aku dan dia dari masa laluku.

Y: Owh….

X: Matanya mengerjap. Terasa panas. Ketika airmata mendesak ingin mengalir lepas untuk kemudian membumi, tetapi tertahan arogansi. Batinnya: Ini tidak benar. Benar-benar tidak benar. Sampai kapan aku akan sanggup menanggung ini semua? Oh!

Y: Uuuh…. Dahsyat!

X: Gumamnya: Dosakah aku karena dicintaimu? Huhuhu….

Y: (Terkikik)

X: Pungkasnya: Kekasih singgah sesaat, kekasih pergi berlari, tetapi cinta pada pandangan pertama… selalu di hati.

Y: ….

X: Dan seekor kucing hitam legam inosen mencaplok lidahmu!

 

~Bramantio


About this entry