Pagi Telor Ceplok

Pagi ini saya terbangun dari tidur tanpa mimpi dan tanpa ngêlilir dengan sekuntum pemikiran dalam segugus kata-kata: pagi telor ceplok. Bagaimanapun, ini bukan cerita tentang lelaki yang memutuskan mengisi paginya dengan menyiapkan satu-dua telor ceplok yang digoreng kering hingga pinggirannya meremang cokelat keemasan krispi untuk sarapannya melengkapi beberapa tangkup roti whole wheat yang direkatkan oleh margarin atau diberi potongan keju untuk kemudian dipanaskan dalam oven toaster hingga kejunya meleleh di satu waktu, atau beberapa sosis gemuk Kanzler yang digoreng dengan kematangan penuh di waktu yang lain, atau Indomie goreng jumbo rasa ayam panggang di waktu yang lain lagi.

Sepanjang ingatan saya sejak pertama kali mengenal telor ceplok, saya selalu menganggapnya istimewa. Bagaimana tidak istimewa, wujudnya yang kuning-putih sederhana mampu menarik perhatian saya setiap tersaji di meja makan meskipun dikelilingi oleh sajian-sajian lain yang lebih boros warna dan mengesankan lebih mahal, mampu menguarkan aroma gurih hangat yang tidak berlebihan meskipun hanya dibumbui sejumput garam, dan begitu memiliki daya adaptasi luar biasa karena mampu menyatu dengan banyak makanan dengan tetap mempertahankan jatidirinya sekaligus tanpa merusak bahkan membunuh citarasa makanan lain dan justru memperkaya mereka.

Telor pun selalu mengingatkan saya pada salah satu cerita wayang purwa yang pernah dituturkan bapak saya pada suatu hari di sela-sela saya menekuri komik-komik wayang sekaligus mengagumi pewarnaannya yang menggunakan cat air. Dari sebutir telor, Sang Hyang Tunggal menciptakan tiga sosok: kulitnya menjelma Antaga yang kemudian dikenal sebagai Togog, putihnya menjelma Ismaya yang kemudian dikenal sebagai Semar, dan Manikmaya yang kemudian dikenal sebagai Bathara Guru. Selama bapak saya bertutur, fantasi saya bergerak ke sana-ke mari nyaris liar, semacam: gw bener-bener harus ngomong wow! Ini adalah salah satu fragmen terbaik yang saya kenal dari cerita panjang lintasgenerasi pewayangan, di samping fragmen Laksmana yang merajah tanah di sekeliling Shinta untuk melindunginya dari apa dan siapa pun selama ia meninggalkannya menyusul Rama berburu kijang kencana, fragmen jalan hidup Bhisma yang dalam relasinya dengan sang ayahandanya mencapai ketulusan luar biasa dalam memahami makna hakiki bakti dan kebahagiaan hingga pada akhirnya mati tertembus puluhan anak panah, dan fragmen khotbah di atas bukit tentang kejadian, semesta, kelahiran, kehidupan, kematian, dan perputaran Roda oleh Krishna kepada Arjuna pra-Bharatayudha, sebuah diskusi teologis dan filosofis yang dikenal sebagai Bhagavad Gita.

Jadi, pagi telor ceplok adalah pagi biasa nyaris datar yang kaya makna potensial. Dan tidak perlu heran jika suatu hari nanti saya sesekali menggunakan analogi ini untuk menyebut selain pagi: manusia telor ceplok.

~Bramantio


About this entry