Generasi BB, Ledakan Bahasa Nonverbal, Eskapisme

Beberapa kali terlintas di pikiran saya ketika melihat orang-orang begitu asyik dengan sebuah dunia mini yang ternyata bermakna gigantik berbentuk sebatang ponsel bermerk BlackBerry: Sebenarnya apa yang mereka lakukan dengan BB itu hingga seolah tidak peduli dengan diri dan sekeliling mereka? Sebegitu asyikkah pembicaraan melalui BlackBerry Messenger hingga para penggunanya seolah memiliki ketahanan yang melebihi atlet dekathlon karena mampu terus beraktivitas sejak bangun di pagi hari hingga menjelang tidur malam yang bahkan mungkin bisa jadi tertunda beberapa kali dan beberapa jam? Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan piranti hipnotik buatan Research In Motion yang bermarkas di Kanada itu begitu digilai sampai-sampai tidak jarang ada yang secara tidak sadar berujar bahwa layanan BBM itu gratis padahal mereka tetap saja melakukan deposit bulanan yang tentu saja tidak terasa karena menggunakan prinsip yang berbeda dengan pembayaran layanan sms yang seketika terjadi begitu mengirim pesan singkat?

Pada akhir 2008 saya sempat memiliki BlackBerry 8320 yang saya beli bukan karena kecanggihan-kecanggihan ini-itunya, lebih-lebih layanan BBM karena… hei, pada tahun itu siapa yang akan saya ajak ber-BBM, tetapi lebih karena saya menyukai bentuknya yang unik sebagai dampak adanya keypad qwerty, trackball imut, dan fasilitas wifi. Mungkin sebagian pembaca tulisan ini akan berpikir bahkan berujar: Whaaat??? Serius loooh??? Karena saya tidak mengaktifkan layanan-penuh BlackBerry, saya pun pernah mendapat cemooh dengan nada bercanda tetapi tetap saya anggap kampret dari seorang kawan yang beberapa bulan kemudian juga membeli BlackBerry dengan versi lebih canggih dan bertanya tentang PIN BB saya: Punya BB tapi tidak mengaktifkan BBM tuh kayak punya Ferrari tapi cuma dipakai buat belanja bulanan. Bagaimanapun, hal itu tidak membuat saya mengaktifkan layanan BlackBerry saya. Lagipula, sekitar tujuh bulan kemudian, saya menggantinya dengan iPhone dan sangat sering meninggalkannya di rumah dalam keadaan mati karena saya benar-benar malas ke mana-mana membawa dua ponsel, meskipun saya tetap mengaktifkannya untuk khusus bertelepon pada jam-jam ajaib dengan teman-teman yang pertama kali saya kenal ketika kuliah di UI Depok yang menggunakan provider layanan sama dengan saya.

Tahun-tahun berlalu dan saya tetap tidak memiliki sedikit pun keinginan untuk mengaktifkan layanan-penuh BlackBerry. Di sisi lain, BlackBerry menjelma sebuah fenomena yang sepanjang ingatan saya adalah salah satu yang terdahsyat dalam sejarah umat manusia. Bagaimana tidak, anak-anak piyik berseragam putih-merah pun sudah mulai mencandu BlackBerry. Pada titik inilah terjadi pergeseran besar-besaran pada ranah kehidupan sosial karena sebagian pemakai BlackBerry entah mengapa selalu berpikir bahwa setiap orang juga memakai BlackBerry dan dengan sewenang-wenang mengganti sapaan hangat meskipun mungkin basa-basi Apa kabar? dengan PIN BB-mu berapa? Hancik! Setiap mendapat pertanyaan seperti itu, saya pun tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikir: Kalau toh saya memakai layanan-penuh BlackBerry, kamu yakin saya mau bertukar PIN BB denganmu? Atau yang lebih gimana-gitu: Penting ya BBM-an sama situ?

Pertanyaan-pertanyaan di awal tulisan ini mulai mendapat titik terang ketika saya bergabung dengan Twitter sekitar dua tahun lalu. Mungkin sebagian pembaca tulisan ini akan berpikir bahkan berujar: Yaolooo… baru Twitteran dua tahun yang lalu? Di samping ada orang-orang yang membuat pengakuan tentang asyiknya ber-BBM, yang salah satunya adalah kepraktisan dalam berniaga karena tidak perlu membuka lapak atau menawarkan secara door to door atau harus nongkrong di depan komputer yang sedang online, sedikit demi sedikit saya mulai memahami fenomena itu melalui pengenalan pola-pola yang muncul dari cari para pengguna BlackBerry, khususnya remaja dan saya tidak tahan untuk tidak menyebut mereka sebagai Generasi BB, berkomunikasi di Twitter yang langsung mengingatkan saya pada kartun-kartun Jepang.

Saya menyukai kartun-kartun Jepang, khususnya yang memang pernah saya tonton pada suatu masa ketika stasiun-stasiun televisi masih pro anak-anak dengan menayangkan kartun secara nonstop mulai selepas pukul 07.00 hingga 11.00 setiap Minggu, lebih khusus lagi kartun yang lahir dari Clamp seperti Cardcaptor Sakura, Magic Knight Rayearth, dan RG Veda. Selain komposisi gambar dan cerita-cerita ajaib fantastik, salah satu hal yang membuat saya lebih menyukai kartun Jepang daripada katakanlah kartun Amerika Serikat adalah kekayaan ekspresinya: adegan gubrak! yang secara kocak digambarkan ketika si tokoh merasa tertipu dengan terjengkang, setetes air kecil atau besar yang mendadak muncul di sisi kepala si tokoh ketika mereka merasa capek deeeh disertai mata kiyêp, mata membesar dan berbinar bintang-bintang ketika si tokoh melihat atau menemukan sesuatu yang diidamkannya, dan tentu saja api-api putih yang menari-nari atau berkeliling di sekitar ketika si tokoh membayangkan dirinya akan menjumpai makhluk-makhluk halus. Ekspresi-ekspresi melalui tanda-tanda pendukung bahasa verbal seperti inilah yang banyak saya jumpai pada unggahan-unggahan mereka di media sosial khususnya Twitter.

Setidaknya ada dua tanda yang tidak jarang mengiringi pernyataan verbal mereka dan memiliki fungsinya masing-masing: tanda * untuk menyatakan aktivitas penyerta ujaran dan tanda # untuk menyatakan semacam topik utama pembicaraan atau yang berkebalikan dari isi ujaran. Kedua tanda yang masih memperlihatkan bahasa verbal ini ternyata didukung oleh tanda ketiga yang dikenal dengan sebutan emoticon. Anggap saja dikutip dari Twitter: (1) Udah buru-buru berangkat pagi buta sampe baju kebalik-balik, eh nyampe kampus dong dosennya nggak ada. +___+’ *garukgarukaspal, (2) Ternyata… dia udah taken. *mblayunangkakus *mbrebesmili, (3) Mblo-jomblo, ini malam Minggu lhooo… #kalem #nomention, (4) Teman kos di kamar sebelah mudik, yang sebelah lagi barusan dijemput cowoknya. Pacar, mana pacar! #tweetpenting *ngemilitisu, (5) Enak kali ya pas malam Minggu gini ada yang ngajakin nonton. Nonton apa aja deh! #kode

Di luar tanda-tanda yang dapat ditulis dengan menggunakan ponsel apa pun, ternyata ada tanda-tanda yang tampaknya hanya bisa diakomodasi oleh BlackBerry. Tanda-tanda ini termasuk kategori emoticon, tetapi strukturnya lebih kompleks karena tidak sekadar tersusun atas dua hingga tanda baca, melebih yang bisa dicapai oleh Yahoo! Messenger dan yang sederajat: wajah kesal yang ngêplak wajah lain dengan semacam pemukul, wajah marah yang menembak wajah lain dengan senapan berlaras panjang, wajah penuh harap sambil menangkupkan kurva-kurva seperti sepasang tangan, wajah yang mencium wajah lain yang entah tampak bahagia atau kegelian atau berharap lebih, wajah bitchy yang sok cuek dengan bentuk mulut serupa V terbalik, dan entah apa lagi.

Simpulan: Generasi BlackBerry memiliki daya tahan luar biasa dalam penggunaan BlackBerry tidak sekadar disebabkan oleh kemampuan BlackBerry dalam mengakomodasi kebutuhan mereka akan komunikasi dan informasi. Lebih daripada itu, BlackBerry menawarkan kemungkinan-kemungkinan untuk menjadikan komunikasi mereka lebih kaya karena memiliki emoticon-emoticon yang dapat mendukung mereka dalam mengekspresikan pemikiran dan perasaan mereka secara lebih leluasa. Selain itu, emoticon-emoticon ini, terlepas dari status mereka yang oleh sebagian orang mungkin dianggap kurang bahkan tidak penting, ternyata mampu mengarahkan bahkan mengubah secara signifikan kualitas ujaran. Maksud saya, ujaran yang semestinya bernada kesah atau marah, ketika disertai emoticon ngêplak akan tampak lucu, atau ujaran yang semestinya bernada khusyuk berlinang airmata, ketika disertai emoticon bermunajat akan tampak komedik. Jadi, di samping menjadikan Generasi BB mudah mengobral problematika personal dan galau oleh hal-hal sepele, BlackBerry adalah semacam eskapisme karena mampu mengalihkan mereka dari realitas yang mungkin tidak tertanggungkan meskipun hanya sesaat dan mengubah yang melankolik tragik menjadi komedik lunatik.

Saran: Perlu penelitian khusus dengan data dan referensi valid untuk memperoleh gambaran lebih baik tentang “Generasi BB dan Ledakan Bahasa Nonverbal”. #ngok #aminarmani

Harapan: Semoga para remaja Generasi BB tidak mengalami penurunan kualitas bahkan kehilangan kemampuan berbahasa verbal, meskipun tanda-tanda ke arah ini mulai tampak dan menjadi fenomena. *tersenyummiris *sambilmikirmausarapanapa

Trivia: Baru saya sadari: kartu ponsel yang menghidupi BlackBerry saya berada pada masa tenggang sehingga untuk sementara tidak bisa menelepon teman-teman UI. #pentinggakpenting

~Bramantio

Advertisements