Mungkin Kita Sedang Menunggu Liyan Mesianik

Tepat satu minggu yang lalu saya menonton Oz: The Great and Powerful. Dan tentu bukan suatu kebetulan apalagi kebetulan yang diada-adakan ketika pada hari peringatan Paskah ini saya menulis tentang hal-hal yang bisa dikatakan terinsipirasi oleh hal-hal Alkitabiah meskipun tidak memiliki kaitan langsung dengannya.

Secara umum, Oz cukup menghibur dalam pengertian saya bisa menikmatinya sekaligus merasakan ada yang kurang pas dan kurang greget pada bagian-bagian tertentu film ini. Ketika pertama kali menonton trailer-nya beberapa bulan yang lalu, berdasarkan komposisi warna dan kehadiran makhluk-makhluk fantastiknya, saya pikir film ini akan menyerupai Alice in Wonderland yang hingga hari ini menjadi salah satu yang sering saya gunakan di kelas-kelas perkuliahan sebagai medium dalam menyampaikan materi tentang cerita fantastik. Tetapi, hal itu sedikit demi sedikit mulai memudar ketika muncul sebuah featurette yang memperlihatkan gelembung-gelembung beterbangan dan bertamasya di sebuah dunia yang kaya warna beberapa minggu setelah saya menyaksikan trailer-nya. Dan memang demikianlah adanya film ini, berkerabat lebih dekat dengan featurette-nya daripada trailer-nya. Bagaimanapun, tetap ada sejumlah hal yang menarik perhatian sekaligus perlu dicatat dari film ini. Fragmen yang menceritakan gadis porselen dan dunianya serta pertemuannya dengan Oz saya pikir menjadi yang terbaik dari film ini karena menghadirkan nuansa dramatis yang membuat ngilu nyaris mencelos sekaligus menjadi titik tempat cerita mulai berkelok meskipun tidak terlalu tajam. Hal lain tentu saja berkaitan dengan muara film ini yang mau tidak mau membuat saya tersenyum, bukan karena saya senang menyaksikannya, tetapi lebih seperti: bisaaa aja!

Film yang menceritakan sebuah dunia yang karut-marut oleh kuasa kegelapan dan mengharapkan kehadiran Juruselamat ini pun sedikit demi sedikit kembali mengingatkan saya akan Alice in Wonderland. Tokoh sentral yang sekaligus secara gamblang terpampang sebagai bagian judul sama-sama mengalami perjalanan antardunia tanpa mereka harapkan untuk kemudian menjelma pahlawan bagi dunia yang merenggut mereka. Oz dan Alice dengan caranya masing-masing dengan dibantu oleh para habitan orisinal menjalani proses pengenalan diri sekaligus kemampuan hakiki mereka untuk kemudian bertempur melawan Helena Bonham Carter dan Rachel Weisz. Harus saya akui, saya lebih menyukai pertempuran di Alice in Wonderland, tentu saja karena ada Jabberwocky!

Sebelum fim mencapai credit title, selain Alice in Wonderland, ada teks lain yang terus-menerus berkesiut semakin lama semakin mantap di pikiran saya: Magic Knight Rayearth, dan saya yakin banyak teks di luar sana yang memiliki nada-nada serupa dengan Oz. Baik Oz, Alice, maupun Magic Knight mengusung premis sama sebagai motor cerita: Juruselamat datang dari dunia lain, atau dengan kata lain: Juruselamat adalah liyan. Menarik.

Dalam perspektif pascakolonial (halah!), liyan adalah sosok-sosok yang berada di luar lingkaran bahkan di luar lingkaran terluar self dan tentu saja dianggap tidak sederajat dalam pengertian lebih rendah dan lebih buruk bahkan sama sekali tidak ada. Meskipun demikian, liyan pun ternyata bisa jadi juga meliyankan self dengan berpikir: Eh, denger baek-baek ya! Gw emang kayak gini. Gw emang ajaib. Terus, masalah buat lo?

Namun, dalam kedua film dan satu anime ini, liyanlah yang justru menjadi kunci keberlanjutan eksistensi self. Bahkan, di dalam Magic Knigt, self sengaja mengundang liyan untuk datang ke Cephiro secara paksa dan terlibat di dalam kemelut dunia itu hanya berdasarkan potongan-potongan informasi yang tidak utuh tanpa mengetahui akar permasalahan sebenarnya. Jika setiap fiksi adalah refleksi, Oz, Alice, dan Magic Knight juga demikian, atau setidaknya ia adalah realisasi taksadar tentang keterbatasan self yang diakui atau tidak pada saat-saat tertentu membutuhkan liyan yang bahkan terpisah bukan dalam hitungan jarak kilometer, jam, atau kasta, tetapi dunia, untuk menyelamatkannya atau setidaknya menemaninya menghadapi masalahnya dan menjalani nerakanya.

Mungkin yang tampak sekilas dari yang demikian adalah dependensi. Padahal, bagi saya, dependensi atau independensi bukanlah isu sentral di sini. Yang kemudian menjadi materi renungan saya selepas menonton ketiganya adalah: ini tentang pengakuan akan ketidakberdayaan, akan kemanusiawian, yang bermuara pada kerendahhatian bahwa tidak selamanya seseorang memiliki energi sebesar jagad raya untuk menjalani samsara sekaligus mendapat pencerahan untuk kesekian kalinya bahwa suatu ketika ia mungkin membutuhkan belas kasih orang-orang dari masa lalunya yang telah dibuatnya terbanting hingga berkeping-keping.

Oz: The Great and Powerful, Alice in Wonderland, dan Magic Knight Rayearth pada akhirnya mengembalikan pijakan saya pada Bumi bernama Indonesia Raya yang mungkin juga sedang menunggu kedatangan Juruselamat. Ratu Adil, kata kitab-kitab lama. Liyan Mesianik.

~Bramantio