Sanctum Sanctorum

Sejak pertemuan pertama kami di sebuah ruangan berpenerang cahaya putih keruh dengan suhu yang beberapa derajat lebih rendah daripada suhu di luarnya sehingga hampir menghadirkan ilusi berkabut meskipun tidak disertai kesan horor, ia yang berada di antara rekan-rekannya yang mungkin di mata orang lain tampak lebih menggugah langsung menarik perhatian saya untuk kemudian senantiasa melirik ke arahnya tidak dalam pengertian curi-curi pandang pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Sebelum hadir secara nyata di hadapan saya disertai kesan seperti itu, saya pernah beberapa kali mendengar tentangnya bahkan melihatnya melalui medium-medium beragam. Pada saat itu, ada sebersit penasaran di benak saya untuk mengenalnya lebih jauh, tetapi selalu saja ada hal-hal yang dengan caranya masing-masing menunda kami untuk benar-benar menautkan diri satu sama lain seolah lukisan Michelangelo di langit-langit Kapel Sistine yang membekukan momen nyaris bertemu ujung jemari antara Bapak dan Adam dalam Creation of Adam. Bagaimanapun, tentu saja ini bukan cerita yang memiliki nuansa ilahiah dan semengagumkan lukisan-lukisan salah satu Renaissance Man yang seketika selalu mengingatkan saya pada Leonardo da Vinci Sang Seniman Profetik yang serupa Nostradamus itu, melainkan hanya tentang saya dan novel serial Assassin’s Creed karya Oliver Bowden. Seandainya paragraf ini adalah fragmen sebuah anime, mungkin sudah ada tokoh yang terjengkang alias mengalami momen gubrak! dan membuat penontonnya tertawa ngempet hingga ngakak oleh penderitaan si tokoh malang itu.

Pada suatu kesempatan, saya pun membeli tidak hanya satu atau satu per satu, tetapi skaligus keempat novel Assassin’s Creed dengan keyakinan penuh bahwa novel ini tidak akan mengecewakan saya, saya pun sebenarnya tidak ingin mengulang keraguan atas novel serial The Infernal Devices karya Cassandra Clare yang waktu itu hanya saya beli seri pertamanya yaitu Clockwork Angel yang begitu saya baca langsung membuat saya kehausan dan menginginkan lebih banyak asupan cerita sehingga keesokan harinya meskipun belum menamatkan buku pertamanya saya langsung kembali ke toko buku untuk membeli Clockwork Prince dan hingga hari ini setia menanti kehadiran pamungkasnya Clockwork Princess. Dan beruntunglah saya ketika menjumpai bahwa yang saya yakini benar adanya: Assassin’s Creed sangat menyenangkan untuk dibaca.

Saat ini saya baru menyelesaikan satu setengah buku dan menjumpai banyak hal serupa ensiklopedia tentang Italia dan relasinya dengan wilayah-wilayah lain di sekelilingnya pada sekitar Tahun Tuhan 1500. Ceritanya mau tidak mau membuat saya teringat akan suatu masa ketika begitu menikmati membaca komik silat petualangan Si Buta dari Goa Hantu beserta manusia-manusia sakti lainnya sambil membayangkan betapa menyenangkan apabila memiliki tingkat olah kanuragan seperti jagoan-jagoan itu termasuk kemampuan untuk tidak tunduk pada gravitasi yang bahkan jauh melebihi para ballerina kelas wahid. Serial yang menyertakan semacam glosarium di setiap akhir cerita ini dengan caranya yang tidak memaksakan diri dan tanpa disertai catatan kaki yang terkadang justru mengganggu laju pembacaan memasukkan sejumlah kata dan ungkapan dari bahasa Italia dan Latin. Sejauh ini, yang paling melekat di pikiran saya adalah: sanctum sanctorum.

Ketertarikan saya akan frasa ini pada saat membaca Assassin’s Creed pertama-tama karena bentuknya yang menggabungkan sanctum dan sanctorum, dua kata yang hanya dibedakan oleh or, yang dalam jangkauan awal pemahaman saya tentu memiliki kaitan dengan sancti yang berarti suci dan sanctuary yang berarti tempat atau ruang rahimiah. Saya kemudian menelusuri melalui Wikipedia dan menemukan bahwa sanctum sanctorum mengacu pada ruang terdalam pada sebuah kuil atau Holy of Holies dan kurang lebih senada dengan yang saya pahami di awal tadi.

Yang lebih menarik tentang sanctum sanctorum di Assassin’s Creed adalah penyikapannya atas frasa ini yang tidak sekadar berkaitan dengan ruang-ruang ibadah, tetapi lebih diarahkan pada hal-hal personal yang tidak selalu bertatap muka dan berpelukan mesra dengan ritual-ritual apa pun. Sanctum sanctorum versi Assassin’s Creed seolah menyatakan bahwa keyakinan pada dasarnya bukan tentang bangunan batu dan kayu, ini saya kutip dari salah satu dialog di film Stigmata yang membuat saya tercengang ketika menontonnya pertama kali, tetapi merupakan realisasi atas laku sendiri-dalam-keheningan, semacam tapabrata yang tidak pula selalu paralel dengan menjauh dari keramaian dunia secara badaniah dan menetap di suatu tempat yang terisolasi bahkan dari bidadari-bidadari penggoda. Bagi saya, sanctum sanctorum senada dengan ungkapan your body is your temple. Dengan begitu, betapa pun hiruk-pikuk dunia menerjang indera dan badan wadag, selama seseorang mampu bertahan di dalam keheningan dan kembali ke keheningan rahimiah di dalam dirinya sendiri, ia akan baik-baik saja. Semoga.

~Bramantio