Ada Cerita yang Mungkin Dramatik di Benih Setiap Folklor

Ojok mangan brutu, nggarai pikun.” Begitulah kata embah saya pada sebuah jam makan siang sepulang sekolah dengan nasi putih, sayur sop, dan ayam goreng sebagai menunya. Pada saat itu saya menurut tanpa banyak bertanya atau memprotes karena toh saya tetap bisa makan ayam goreng dan brutu hanya bagian kecil darinya. Meskipun demikian, ada saat-saat ketika saya nekat melanggar larangan itu bukan untuk membuktikan kebenaran atau kekeliruan petuah embah, tetapi lebih pada rasa penasaran tentang rasa brutu itu sendiri yang ternyata gurih sensasional! Bagaimanapun, ada saat-saat ketika rasa yang demikian berdendang di lidah tidak menyeruak dan digantikan oleh sêngak yang memualkan karena, saya pikir waktu itu, ada kesalahan dalam mengolah brutu: digoreng kurang lama, dan membersitkan penyesalan di benak sambil membayangkan embah saya terkekeh lucu karena tanpa geligi sambil ngênyèk, “Mangkané to, lé, nèk wong tuwa ngomong, rungokno.

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya mulai belajar lebih banyak dan sangat menaruh hati pada Biologi, ingatan tentang brutu kembali menyeruak dan kali ini tidak berhenti pada sebatas nostalgia, tetapi disertai keinginan untuk mencari tahu lebih banyak tentang hal-hal di balik larangan embah saya. Melalui sebuah buku pengantar berjudul Zoologi Dasar tulisan Mukayat Djarubito Brotowidjoyo, saya mendapat informasi bahwa yang sebelumnya saya kenal dengan brutu ternyata memiliki nama bertaraf internasional: uropigeal. Secara umum, seperti yang telah diketahui oleh masyarakat dan memang kasatmata, kelenjar ini berfungsi sebagai landasan bagi bulu ekor. Pada penelusuran lebih lanjut melalui buku-buku yang saya pinjam di perpustakaan, sebuah bangunan yang hingga saat ini jarang saya sukai karena selalu menghadirkan kesan berdebu bahkan berhantu sehingga menyesakkan untuk didiami terlalu lebih-lebih sambil memusatkan perhatian pada hal-hal yang dibaca, ada informasi lain yang menyatakan bahwa uropigeal tidak sekadar berkaitan dengan bulu ekor, tetapi memiliki makna cukup penting bagi pertumbuhan anak ayam hingga mencapai usia entah sekian minggu atau sekian bulan yang sekarang saya benar-benar lupa dan terlalu malas memeriksanya kembali, memiliki kaitan dengan pro-vitamin D, dan yang menurut ahli Ornitologi mungkin juga digunakan untuk meminyaki bulu, antiparasit, dan menghasilkan efek feromonik. Yang jelas, karena pada tahun-tahun itu internet belum populer, betapa kelenjar yang berukuran tidak melebihi ujung jempol itu membawa saya merasakan sebuah petualangan yang meskipun tidak sedahsyat tokoh bercambuk di game klasik Nintendo Castlevania, tetap memiliki dampak lumayan bagi perjalanan saya di masa-masa berikutnya.

Di tengah semua itu, saya menyadari bahwa usaha saya untuk menyingkap mitos brutu semestinya memang tidak cukup hanya dengan membaca ini-itu, tetapi saya bayangkan memerlukan katakanlah uji laboratorium untuk mengetahui kandungan-kandungan kelenjar itu dan dampaknya terhadap tubuh manusia didampingi oleh pakar bidang ini. Dan tentu saja, semua itu membutuhkan biaya yang mungkin tidak sedikit dan seolah terlalu mengada-ada bagi anak ingusan seperti saya pada waktu itu. Di tengah petualangan dalam sepi itu saya pun berkenalan dengan dementia, yang pada belasan tahun berikutnya selalu membuat saya bertanya-tanya: Mungkinkah J. K. Rowling menciptakan Dementor berdasarkan kata ini? Toh Dementor memang dapat ditaklukkan oleh kemilau mantra Patronus yang memang lahir dari kenangan terindah seseorang. Ah, betapa ajaib! Kata ini membuat petualangan saya di jalan brutu berbelok sejenak ke jalan dementia yang di kanan-kirinya menyediakan ranting-ranting yang meskipun tidak serindang pepohonan di taman kota yang terawat baik, tetap menggantungkan buah-buah informasi, termasuk tentang penyebab dementia yang salah satunya adalah, seingat saya, terhambatnya pasokan darah beroksigen segar ke otak. Pada titik inilah saya mengalami eureka moment!, meskipun ketika sekarang saya mengingatnya, hal itu terkesan berlebihan, dan mungkin ada yang berujar: Boook… gitu aja dibilang eureka moment. Bagaimanapun, bagi bocah seperti saya pada waktu itu, keberhasilan mencapai titik itu benar-benar eureka moment, yang kemudian meskipun hingga hari ini belum bersifat final karena saya pun tidak melanjutkan petualangan itu, bermuara pada pemahaman: bisa jadi memang ada kaitan antara brutu dan pikun. Kepikunan terjadi karena ada sel-sel otak yang gagal beregenerasi yang mungkin juga didukung oleh pasokan oksigen ke otak melalui darah yang salurannya tersumbat oleh semacam lemak yang tidak menutup kemungkinan dihasilkan oleh brutu yang dikonsumsi secara berlebihan.

Melalui muara yang masih kabur itu, saya memperoleh pemahaman bahwa segala folklor tidak muncul sebagai sekadar omong kosong, tetapi ada hal-hal yang tersembunyi yang sebenarnya tidak terpisah dari realitas logis. Brutu yang memikunkan mungkin sebuah simpulan yang direngkuh oleh generasi sebelum embah saya atas hal-hal yang terjadi di dalam kehidupan mereka, atas pengalaman mereka tentang brutu. Pada masanya, mereka tidak memiliki sejumlah piranti yang dapat menjelaskan sebuah fenomena secara empirik, dan melalui mitos brutu nggarai pikun inilah mereka menjadi lebih mawas diri sekaligus mewariskan pengetahuan berharga bagi generasi sesudahnya yang adakalanya justru memandang sinis pada hal-hal semacam ini karena telah terlalu dalam menenggelamkan diri pada yang panca-inderawi.

~Bramantio


About this entry