Perahu Kertas Manis yang Melaju Melawan Arusnya Sendiri

Pra-skriptum: Tulisan ini membocorkan cerita-hingga-bagian-akhir.

Dua belas jam lebih telah berlalu sejak lagu “Perahu Kertas” yang dilantunkan Maudy Ayunda dengan suara empuk agak manja bocah menyelinap ke dalam pikiran saya dan hingga saya mengetik ini ia terus-menerus mengada-meniada kadang lantang kadang tenang. Saya pertama kali mengenal lagu ini melalui Youtube pada suatu pagi yang begitu biasa menjelang kelas perdana beberapa hari sebelum saya menonton film Perahu Kertas bagian pertama dan betapa lagu ini dengan caranya yang tidak bisa sepenuhnya saya uraikan dengan kata-kata seperti halnya banyak hal lain di dunia ini menggugah perasaan sayang yang menggenang lengang.

Hal senada juga saya rasakan ketika membaca novel Perahu Kertas yang dengan lancar dan ringan menghadirkan dua remaja bernama Keenan dengan bara idealisme teredam yang diam-diam harus berbaku-hantam dengan idealisme si bapak yang bertemu untuk kemudian belajar bersama tentang menjadi dewasa dengan Kugy yang kocak delusional dengan radar Neptunusnya hingga menginsafi dan merealisasikan mimpinya menjadi pendongeng. Novel dengan sampul hijau telaga dan kuning ceplok setengah matang bernuansa inosen ceria ini berhasil saya selesaikan tanpa banyak mengerutkan dahi dan tanpa perlu berpindah ke lain hari. Saya menyayangi Keenan dan Kugy karena meskipun dengan cengengesan mereka tetap menapak semakin mantap di jalan yang bagi saya memang telah disiapkan untuk mereka. Namun, oh betapa rasa sayang saya perlahan memudar ketika menjumpai bahwa Kugy dan Keenan menjelma sepasang pengkhianat yang seolah membenarkan tindakannnya dengan mengatasnamakan cinta. Setelah saya pikir lagi, mungkin Kugy dan Keenan tidak berniat melakukan itu, melainkan dalangnyalah yang entah mengapa meskipun memang saya memahami sepenuhnya bahwa sesungguhnya tidak mungkin memuaskan semua orang, ia lebih memilih untuk memuaskan orang lain yang justru lebih menyukai dimanjakan dengan gula-gula yang lumer lalu lenyap ditelan masa, bukan ikhlas menerima pukulan yang membelalakkan mata bahwa hidup tidak selalu tentang happy ending dalam perspektif fairy tale pada umumnya.

Harus saya akui, ketika cerita Perahu Kertas sebenarnya mencapai titik yang memisahkan Keenan dan Kugy, saya memang sempat mengkhawatirkan bagaimana seandainya mereka berdua tidak bahagia di akhir cerita. Tetapi, kekhawatiran itu ternyata tidak bertahan lama ketika Luhde dan Remy melangkah memasuki cerita dan menjadi semacam fase berikutnya dari proses menuju ke kedewasaan. Tidak seperti cerita-cerita lain yang memasang klise uzur yang kemudian dicetak oleh pembaca sebagai sebersit ketidaksukaan kepada tokoh-tokoh baru yang seolah mengganggu jalinan kasih tokoh sentral, kehadiran Luhde dan Remy justru membuat saya semakin menyayangi Keenan dan Kugy karena membayangkan betapa tidak mudah bagi remaja seusia mereka menghadapi situasi serba-antara, antara bertahan dengan nostalgia atau merengkuh untuk kemudian mendekap erat-erat kesempatan yang nyata-nyata disediakan di hadapan mereka oleh semesta, antara tetap bersama sosok ideal yang mereka yakini bahwa dengannya mereka akan bahagia meskipun dalam hati saja atau belajar mencintai sosok yang tulus mendampingi mereka dalam masa-masa terkelam hidup dan memberi mereka possibility of happiness yang bukan sekadar angan di awang, antara berjuang mati-matian memperbaiki kembali ikatan yang telah merapuh nyaris putus sempurna atau ikhlas melepas dan ikhlas menerima. Hanya saja, Keenan dan Kugy menjatuhkan pilihan pada yang pertama dan mengorbankan Luhde dan Remy. Hal ini semakin terasa tidak benar ketika di filmnya sosok Remy di akhir cerita tampak begitu mudah mengalihkan perasaanya kepada orang lain selepas hubungannya dengan Kugy berakhir dan betapa hal ini seolah semacam usaha pembelaan diri si dalang yang mungkin ingin mengatakan: Malaikat juga tahu, Remy tidak semalaikati itu kok. Yeah… what-e-verrr! Saya bahkan langsung memeriksa kembali di novelnya begitu kembali ke rumah setelah menonton filmnya dan gagal menemukan bagian tentang Remy yang begitu.

Meskipun rasa sayang kepada Keenan dan Kugy tidak benar-benar sirna, rangkaian peristiwa yang menempatkan Luhde dan Remy sebagai keset bahkan tumbal kebahagiaan mereka membuat saya memikirkan kembali motivasi si dalang mencipta dunia yang sebenarnya manis bernama Perahu Kertas ini. Saya pun memaknai ulang novel ini sebagai cerita tentang kelapangan kalbu Luhde dan Remy, bukan cerita tentang jatuh-bangun Keenan dan Kugy meraih cita dan cinta.

~Bramantio


About this entry