Pada Suatu Hari ketika Selena Gomez Terbunuh oleh My Chemical Romance

Selama beberapa hari terakhir ini ada satu hal yang tidak mau pergi dari pikiran saya: lagu “Love You Like A Love Song” Selena Gomez & The Scene. Tampaknya memang ini adalah sebuah keterlambatan karena saya baru beberapa hari yang lalu mengenal lagu yang ternyata telah berusia kurang lebih satu tahun ini melalui YouTube dan mulai detik itu hingga beberapa hari kemudian ia terus-menerus menggasing. Saya pernah mengalami hal serupa dengan lagu-lagu lain, tetapi tidak lantas membuat saya bertanya-tanya lalu mencoba menyigi mengapa hal itu sampai terjadi, karena toh biasanya yang menimbulkan efek seperti itu adalah lagu-lagu Westlife. LOL. Awalnya menyenangkan karena setiap ia muncul di pikiran membuat saya merasa setidaknya setingkat lebih bahagia. Bagaimana tidak bahagia, kombinasi lirik dan irama sekaligus kelebat citra adegan pembuka dari klip videonya yang memancing senyum bahkan gelak, ya, bagian “Selena Gomez. Wow! Wow!”, semacam membentuk segugus lolipop berdiameter kurang dari sepuluh sentimeter yang tidak terlalu manis hanya dengan dua warna apa saja yang salah satunya putih melingkar-lingkar hipnotik yang meskipun cuma seharga beberapa ribu rupiah selalu menyimpan potensi dari sebatas meringankan kesuntukan karena gagal menuliskan satu kata pun yang berkelebat di dalam pikiran ke selembar kertas dengan pulpen yang tintanya tersendat-sendat nyaris habis hingga menghargai hidup meskipun sepenuhnya paham bahwa sampai kapan pun ia adalah sosok penuh pesona yang bitchy.

http://www.youtube.com/watch?v=EgT_us6AsDg

Lagu ini ringan. Bahkan sangat ringan dan mungkin bagi sebagian orang tidak dianggap ada. Bagaimanapun, kesan yang sampai pada saya di luar dugaan saya. Judulnya secara sepintas sepele, tetapi ketika saya pikir-pikir lagi ternyata tidak sesepele itu. “Mencintaimu seumpama sekuntum lagu cinta.” Ini menarik karena pada titik berikutnya muncul pertanyaan: Lagu cinta yang seperti apa? Cinta yang tahu sama tahu dan tidak membutuhkan pernyataan secara verbal? Yang begitu manis hingga cuma bisa membuat orang lain sakit gigi? Yang termehek-mehek êntèk ngamèk? Yang satu malam saja dalam gelinjang penuh peluh di atas spring bed? Yang begitu desperado dan benar-benar tidak keberatan menjadi yang kedua? Yang “putuskan saja pacaramu” atau bahkan “akan kubunuh kekasihmu”? Yang melankolis hingga semacam masokis dan nyaris bunuh diri? Dan entah berapa banyak lagi pertanyaan senada. Apa pun itu, judul ini adalah salah satu judul terbaik yang pernah saya tahu. Dalam keinosenannya, ia memiliki potensi meledakkan.

Selain judul, hal lain dari lagu ini yang paling mengena di saya adalah bait pertamanya: It’s been said and done. Every beautiful thought’s been already sung. And I guess right now here’s another one. So your melody will play on and on, with the best of ‘em. You are beautiful, like a dream come alive, incredible. A sinful, miracle, lyrical. You’ve saved my life again. And I want you to know, baby. Lagu ini memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah yang kesekian dari begitu banyak yang pernah lahir sekaligus menjadi bagian sejarah lagu cinta yang masih terus ditulis hingga masa-masa yang akan. Ia pun membuat saya tersenyum dengan mengingatkan bahwa dalam semesta lagu dan cerita cinta senantiasa ada sebersit perasaan bergelimang dosa sekaligus keajaiban yang liris yang langsung menghadirkan visualisasi nyaris sempurna adegan supercanggung dan semriwing gimana gitu dalam lembab belantara sangtuarik surgawi yang begitu seksi merona antara Adam dan Hawa pascagigitan perdana mereka pada ranum buah Pohon Pengetahuan. Uhuk! Lalu, pernyataan tentang melodi yang akan dimainkan terus-menerus pun mendapat penegasan pada refrainnya: I, I love you like a love song, baby. I, I love you like a love song, baby. I, I love you like a love song, baby. And I keep hitting re-peat-peat-peat-peat-peat-peat. Kalimat terakhir inilah yang tampaknya berhasil memberi sugesti bagi saya hingga memutarnya berhari-hari di pikiran saya.

Candu bernama “Love You Like A Love Song” ini pun menimbulkan dampak yang lebih fatal ketika saya menemukan cover atas dirinya yang dilantunkan Sami.

http://www.youtube.com/watch?v=BCZxDoaXIHE

Tanpa menurunkan tempo hingga jauh lebih lambat, lagu ini menjelma lebih tulus dan membelokkan keriangan yang berbinar-binar akan perasaan mencinta menjadi keharuan yang merenggut akan kedalaman mencinta. Dengan vokalnya yang bagi telinga saya terdengar bersahaja tanpa banyak ornamentasi diiringi musik nonelektrik, Sami menyelimutkan sesuatu yang lain sehingga lagu ini tidak lagi seringan bentuk awalnya. Versi Sami membuat saya merasa… seperti… jatuh cinta berkali-kali. Aiiih… matèèèk.

Ketika sebuah lagu menggasing berhari-hari di pikiran, ia pun berubah dari menghibur menjadi menghantui, dan demikianlah “Love You Like A Love Song” hingga kemarin malam saya memutuskan menyimak kembali album The Black Parade My Chemical Romance. Pengakuan: saya bukan penggemar musik keras yang menghentak telak gendang telinga, tetapi saya menyukai My Chemical Romance, seperti halnya saya menyukai Linkin Park yang pada kali pertama membuat saya bertanya-tanya: kok bisa saya menyukai musik memekakkan mereka. Bagi saya, album ini istimewa bukan sekadar dalam hal ketiga belas lagu plus satu lagu tanpa judul yang seolah berkedudukan sebagai semacam encore yang seluruhnya menguarkan aura kelam memilukan, tetapi juga dalam kemasannya khususnya ilustrasi yang luar biasa tentang sebuah “parade hitam” pada sampul. Favorit saya, tentu saja, adalah “Welcome to the Black Parade”.

http://www.youtube.com/watch?v=9C76Rv-3L-4

Terlepas dari rangkaian kalimat pertamanya yang selalu mengingatkan saya akan lagu bocah “Naik Delman”, ya, bagian “Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota,” lagu ini bagi saya semacam drama tiga babak dengan pembagian yang begitu kasatmata. Ada irama yang berbeda pada ketiganya yang di satu sisi memiliki kemungkinan menonjolkan diri bahkan saling membunuh, tetapi di sisi lain membentuk gugusan yang mengarah pada akhir yang klimatik tidak dalam pengertian benturan pamungkas yang begitu menghancur-leburkan apa-apa, tetapi penghabisan yang berlarat-larat menyesakkan. Babak pertama: pelan, sabar, pesan bapak kepada anaknya, denting ngilu dan keredap perkusi yang memberi peringatan akan horor: When I was a young boy, my father took me into the city. To see a marching band. He said, “Son when you grow up, would you be the saviour of the broken, the beaten and the damned?” He said “Will you defeat them, your demons, and all the non-believers, the plans that they have made? Because one day I’ll leave you a phantom to lead you in the summer to join The Black Parade.” Babak kedua: gegas, bersemangat, teriakan pernyataan untuk meyakinkan: Sometimes I get the feeling she’s watching over me. And other times I feel like I should go. And through it all, the rise and fall, the bodies in the streets. And when you’re gone we want you all to know. We’ll carry on. We’ll carry on. And though you’re dead and gone, believe me your memory will carry on. We’ll carry on. And in my heart I can’t contain it. The anthem won’t explain it. A world that sends you reeling from decimated dreams. Your misery and hate will kill us all. So paint it black and take it back. Let’s shout it loud and clear. Defiant to the end we hear the call. To carry on. We’ll carry on. And though you’re dead and gone, believe me your memory will carry on. We’ll carry on. And though you’re broken and defeated. Your weary widow marches. Babak ketiga: melambat dengan tempo di antara babak pertama dan kedua, titik temu masa lalu bersama bapak dan masa kini dengan segala kegetirannya, juga kesadaran akan diri sendiri: Do or die, you’ll never make me. Because the world will never take my heart. Go and try, you’ll never break me. We want it all, we wanna play this part. I won’t explain or say I’m sorry. I’m unashamed, I’m gonna show my scar. Give a cheer for all the broken. Listen here, because it’s who we are. I’m just a man, I’m not a hero. Just a boy, who had to sing this song. I’m just a man, I’m not a hero. I! don’t! care! Dan cahaya pun menemukan terangnya yang paling gemilang ketika ditelan kegelapan.

Maka, setelah berhari-hari Selena Gomez & The Scene dengan mantra “Love You Like A Love Song” menjadi jawara panggung fiktif dengan jadwal show suka-suka di dalam pikiran saya, pada malam Jumat ia tumbang oleh My Chemical Romance dengan rapalan “Welcome to the Black Parade”.

I love you like a love song, baby. However, I’m just a man, I’m not a hero.

~Bramantio


About this entry