Stiletto Heels dan Cardigan di Tengah Teror

Beberapa hari telah berlalu sejak Iron Man 3 tayang perdana di Indonesia, seminggu lebih awal daripada di tanah kelahirannya, dan saya belum juga beranjak dari ruang-ruang harian saya untuk memasuki ruang bioskop lengkap dengan sekardus tanggung brondong kadang asin seratus persen kadang asin dan manis dengan proporsi yang saya yakin tidak pernah sempurna 50:50, sekotak kentang goreng yang menurut saya cukup khas karena potongannya yang lebih gemuk daripada produk gerai-gerai lain dan rasanya yang asin bersahaja mirip racikan Wendy’s, dan sebotol air mineral ukuran kecil untuk memperkecil kemungkinan ke toilet di tengah berlangsungnya film. Dari trailer­-nya saya membayangkan film ini seolah mengikuti jejak The Dark Knight Rises yang sendu, menggelap hingga semacam depresif, menghadirkan villain destruktif dengan teror yang filosofis, atau dengan kata lain: Nolanesque. Meskipun mirip dan sosok manusia besi yang mendadak muncul di tengah-tengah peraduan Tony Stark dan Pepper Potts tetap menimbulkan pertanyaan yang mungkin tidak akan muncul di pikiran para fanboy Iron Man yang tentu saja begitu memahami semesta Iron Man, efek yang ditimbulkan trailer ini pada saya tidak sama dengan yang ditimbulkan trailer TDKR: kesunyian peristiwa pembajakan pesawat terbang, lagu kebangsaan Amerika Serikat yang dilantunkan bocah laki-laki dengan suara inosennya, Gotham yang terisolasi, bagian tengah lapangan yang ambruk seambruk-ambruknya, dan tuturan enigmatik Anne Hathaway “You should be as afraid of him as I am” merupakan teror tersendiri dan berhasil meruntuhkan benteng bernama kesabaran untuk segera menontonnya. Bagaimanapun, saya memang tidak bertujuan membicarakan trailer Iron Man 3 secara keseluruhan semacam trailer review yang sering saya temui di channel YouTube Jeremy Jahns dan Chris Stuckmann, tetapi lebih pada salah satu hal di dalamnya. Jika ditanya tentang hal yang paling mengesankan dari trailer ini, dengan setengah ngakak saya akan menjawab: stiletto heels Pepper Potts. Wooottt? Demi apa coba?! Ok, stiletto heels yang dipakai oleh Selina Kyle ketika berkostum Catwoman memang lebih mematikan, secara harfiah tentu saja, karena benar-benar stiletto yang terbuat dari metal kokoh mengilap dengan sisi luar tajam dan sisi dalam bergerigi, tetapi hal itu baru saya ketahui kemudian setelah menonton filmnya lalu diperkaya behind the scene-nya, dan kesan yang ditimbulkannya pun berbeda dari betapa hal-hal girlie semacam itu dipakai oleh Pepper Potts yang bukan heroine atau femme fatale tetapi justru muncul di tengah ledakan akibat roket yang menghantam kediaman Tony Stark, alih-alih bersosialita bersama geng Sex and the City atau The Devil Wears Prada. Apakah mereka Brian Atwood, Christian Louboutin, Jimmy Choo, atau yang lain? Apa pun, kehadiran mereka telah menimbulkan kontras pada tampilan di layar dan menghadirkan sesuatu yang janggal tetapi berterima, seperti halnya yang pernah dihadirkan oleh wardrobe serial Nikita yang memang mengusung tagline looks do kill”.

Kesan serupa ternyata juga pernah saya peroleh dari film Skyfall. Tidak, ini sama sekali tidak berhubungan dengan Severine yang bagi saya tampak biasa saja lebih-lebih ketika mengingat Vesper Lynd di Casino Royale, tetapi Quartermaster. Karena Q inilah beberapa minggu kemudian pascanonton film itu saya sempat menemani sepupu saya berkeliling Tunjungan Plaza untuk mencarinya hingga hampir dua jam dan diakhiri dengan kegagalan meskipun ada satu yang seingat saya di The Executive yang mirip, hanya saja warnanya berbeda beberapa tone lebih cerah dengan bagian depan berupa kancing bundar gepeng, bukan zipper. Yoa! Cardigan berwarna chocolate sekaligus sepintas dengan pencahayaan tertentu tampak dark orange berhasil meletup di sejumlah scene Skyfall. Seperti halnya stiletto heels Pepper Potts, ada kesan asing yang menguar tanpa bisa dibendung dari cardigan ini di tengah-tengah banyak hal yang berkaitan dengan aksi baku hantam dan terorisme saiber. Cardigan ini pun tidak lantas membuat Q serta-merta tampak geeky karena toh pada kemunculan perdananya di Galeri Nasional London Q mengenakan anorak hitam bertudung. Cardigan Q seolah sekadar di sana. Hadir. Eksis.

~Bramantio