Bapak

Dua puluh tahun telah berlalu. Dua puluh tahun telah kami jalani. Dua puluh tahun di dalam sebuah kehidupan yang bahkan tidak pernah muncul di dalam mimpi-mimpi terliar kami. Aku masih sulit memercayai semua ini. Lebih-lebih ketika melihat putri kami yang kini berusia tujuh tahun. Ia adalah berkah terindah dalam kebersamaan kami. Bukan perkara mudah untuk mendapatkannya. Bertahun-tahun kami berusaha. Kadang kalau aku mengingatnya, aku jadi sakit sendiri.

*

 Dua puluh tahun—kurang lebih selama itu—sejak pertama kali saya bertemu dengannya di sebuah pameran lukisan. Saya masih ingat tanggalnya: 14 Februari 1993; sebuah kebetulan yang aneh. Tapi, bukankah kebetulan hanyalah sebutan untuk momen-momen yang tidak pernah kita sangka? Jadi, sebenarnya tidak ada kebetulan karena segalanya berjalan tepat di garisnya masing-masing. Mungkin, mungkin juga tidak. Anda bisa saja menganggap ini berlebihan, hiperbolis, bombastis, tapi demikianlah kenyataannya: saat saya melihatnya, segalanya menjadi hitam putih, hanya dia dan lukisan di depannya yang berwarna-warni—sebuah lukisan cat air dengan pohon sebatang kara dikelilingi anak-anak binatang dengan mata-mata besar dan jernih. Ah, mata itu. Sepasang mata yang begitu dingin—mungkin lebih tepatnya beku, ya, beku. Ia melirikku satu kali lalu kembali mengamati lukisan itu.

 *

 Aku sedih. Teman-teman mengolokku lagi. Aku benci mereka! Bapak dan ibu guru juga diam saja. Aku benci mereka. Emang aku salah apa? Kenapa mereka selalu bikin aku nangis tiap hari? Aku tambah sedih karena aku harus pulang sendiri. Tidak ada yang menjemput aku. Aku harus pulang naik angkot. Hari ini Tuhan juga sedih. Tuhan menangis terus-menerus sejak pagi. Kenapa Tuhan sedih? Apakah Tuhan juga diolok-olok teman-temannya. Eh, salah. Tuhan kan tidak punya teman. Terus kenapa Tuhan sedih? Apakah Tuhan kesepian? Mungkin suatu saat Tuhan bisa ikut kami bermain di Timezone. Ah, senangnya. Iya, kemarin Ayah mengajakku jalan-jalan. Kami bermain di Timezone dan mengumpulkan banyak kupon. Kami menukarnya dengan sebuah boneka beruang putih besar. Aku ingin mengajaknya jalan-jalan bersama kami. Tapi, tidak bisa kata Ayah. Ah, Ayah. Kami pun memasukkannya ke mobil dulu dan melanjutkan jalan-jalan. Aku pernah bertanya kepada Ayah kenapa aku tidak punya ibu seperti anak-anak yang lain. Iya, aku tidak punya ibu. Kata Ayah aku tidak butuh ibu lalu Ayah tidak berkata apa-apa lagi. Kadang aku ingin punya ibu. Mungkin kalau aku punya ibu, teman-teman tidak akan mengolok-olokku lagi.

~Bramantio


About this entry