Pagi Itu Bumi Belum Bulat

Tidak kurang dari dua puluh lima tahun yang lalu Minggu pagi adalah salah sebuah pengalaman yang hingga bertahun-tahun kemudian berhasil mengakar dalam-dalam di hamparan padang belantara ingatan saya. Setiap Minggu pagi selepas subuh saya selalu diajak bapak dan ibuk saya untuk berjalan-jalan atau bersepeda dengan rute yang berbeda tetapi tidak variatif karena hanya ada dua.

Ada kalanya kami berjalan-jalan atau bersepeda ke arah barat menyusuri Jalan Dharmahusada menuju arah Stasiun Gubeng yang masih berpintu masuk hanya di sisi barat lalu menyeberangi beberapa lajur rel kereta api yang mungkin berusia tidak jauh berbeda dari negara Indonesia melalui semacam flyover yang oleh orang-orang disebut viaduk yang pagarnya selalu membuat saya berpikir ini aneh. Kami selalu berhenti sesaat di area yang kami kira-kira sebagai titik tengah jalan itu untuk mengamati kereta yang sedang parkir memuntahkan atau menelan orang-orang atau baru tiba dengan gemuruh yang semakin lama semakin halus atau akan pergi dengan jesjes tertahan lalu semakin cepat. Perjalanan pun berlanjut ke arah Kayoon untuk masuk-keluar toko-toko tanaman di sepanjang tepian Kali Mas meskipun kami tidak membeli apa-apa karena tidak mau direpotkan dengan bawaan yang tentu akan membebani keriangan kami melenggang kangkung. Kayoon selalu menyenangkan untuk didatangi bahkan hingga bertahun-tahun kemudian ketika saya begitu tertarik dengan Biologi dasar dan pernah dibuat mupeng sangat untuk memiliki tanaman paku ekor kuda alias Equistenum blablabla yang tergolong arkhaik yang tentu saja tidak pernah terwujud dan harus puas dengan paku sarang burung alias Asplenium nidus dan paku tanduk rusa alias simbar mênjangan alias Platycerium bifurcatum dan betapa keduanya saat itu menjadi tanaman terbaik yang kami miliki di samping anggrek-anggrek indigo bukan Phalaenopsis yang semakin tua semakin enggan berbunga dan sebuah bonsai beringin yang meliuk lumayan seksi. Kayoon juga menarik karena ia seolah menyediakan semesta mini yang kedap kebisingin dan selalu terasa berembun tanpa membuat terkesan menyesakkan lebih-lebih horor serta beberapa kolam dan akuarium di beberapa toko dengan ikan-ikan yang tidak pernah lebih besar daripada telapak tangan dengan warna-warna api mulai kuning puyèh sampai marun murung atau gradasi biru dan hijau yang sebenarnya terlalu sireniak untuk tidak dibawa pulang tetapi tentu saja tidak pernah terjadi karena berdasarkan pengalaman bahkan sejak bocah seolah kedua tangan saya terlalu panas dan bersifat letal untuk memelihara apa pun karena mereka memiliki kecenderungan untuk mati entah karena bunuh diri secara diam-diam dengan cara yang tidak saya ketahui atau usianya yang tiba-tiba melaju lebih cepat berkali-kali lipat daripada yang semestinya sehingga menua setua-tuanya atau memang saya telantarkan begitu saja kecuali kura-kura yang cool dan memang ditakdirkan berumur awet. Selepas Kayoon, kami semakin ke barat menuju toko roti dan keik legendaris Granada yang darinya ibuk saya termotivasi untuk kursus membuat roti dan keik plus segala printilan ornamentasi dan icing-nya supaya bisa membuatkan saya roti atau keik apa pun yang saya inginkan. Cinta deh sama ibuk. Cinta bapak juga, tentu saja.

Di lain waktu kami berjalan-jalan atau bersepeda ke arah timur menyusuri Jalan Dharmahusada hingga ujung yang berhimpitan dengan Jalan Mojoarum untuk kemudian berbelok sembilan puluh derajat ke arah selatan ke wilayah perumahan yang tiap-tiapnya sebesar alayhumgambreng hingga jalan menekuk sembilan puluh derajat ke timur lagi dan berujung di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Kelak di kemudian hari perjalanan bersepeda kami semakin jauh ke arah perumahan Laguna View yang masih sepi yang belasan tahun kemudian berevolusi menjadi Pakuwon City. Di antara dua belokan jalan tadilah saya mengalami momen yang hingga kini terasa gimana gitu. Pada saat itu area perumahan Galaxy belum sepadat sekarang. Beberapa bagian di sebelah timur jalan masih dibatasi dengan seng-seng bergelombang setinggi dua tiga meter yang menyembunyikan apa pun di baliknya yang sebenarnya jika dipikir lagi sekarang tentu tidak lebih daripada tanah kosong yang kemudian dipenuhi ilalang berdaun lancir sarang dan persembunyian fauna entah apa saja. Bagaimanapun, yang terlintas di pikiran saya saat itu tentang area gelap di balik seng adalah ujung atau setidaknya tepi dunia. Citra yang demikian semakin kuat dengan adanya Matahari yang selalu muncul dari balik seng seolah sebelumnya benar-benar tenggelam secara harfiah. Saya pun tidak kuasa untuk tidak berpikir seandainya pembatas itu terkuak, saya akan melihat jurang yang menganga dengan kedalaman yang entah berapa, tetapi yang jelas kalau saya terjatuh, saya tentu tidak akan bisa memanjat naik, bapak dan ibuk saya pun tidak akan mampu menolong saya meskipun mereka manusia-manusia baik yang dalam imajinasi saya saat itu selalu dikelilingi malaikat-malaikat bersayap. Tentu saja semua itu meledak begitu saja di dalam pikiran saya karena saya belum bekenalan dengan buku-buku yang darinya saya mengetahui bahwa Bumi bulat. Yah, apa pun yang terjadi di kemudian hari, bagi saya, pada pagi itu Bumi belum bulat.

~Bramantio


About this entry