Lautan

artfire.com

artfire.com

Ada sesuatu yang magis dari lautan. Entah mengapa, kesan ini begitu terasa ketika kapal yang ia tumpangi  menembus pekatnya kegelapan lautan. Semilir angin berhembus kala cuaca sementara menjadi sahabat yang memberikan keteduhan. Rasa magis itu entah bagaimana berbalut sempurna dengan ketenangan. Inikah yang disebut sebagai damai itu? Walau kadang badai datang ditengah laut, namun para pelaut pun tau; bahwa setelah badai lautanpun akan tenang. Jiwa yang resah dan gelisah, menjadi reda seketika. Ditengah perjalanannya ia pun tau bahwa dirinya sedang menuju pada sesuatu. Sesuatu yang terus menerus memanggilnya dari kejauhan.

Beberapa saat sebelum ia mengarungi lautan, ia baru saja bertemu dengan beberapa orang sahabat. Mereka bercerita mengenai banyak hal, bertukar kisah handai taulan yang saling dikenal, dan memang ternyata dunia selebar daun kelor, demikian kata pepatah. Memang hidup ini seringkali tidak disadari memiliki hubungan antara satu manusia dengan lainnya, sebut saja, takdir interkonektivitas. Pertemuan mereka juga memperluas cakrawala hidup dan tujuan dalam dirinya. Mungkinkah memang ini alasan mengapa jalan hidup mempertemukan mereka, seperti ada ungkapan; there is a reason for everything. Ini bukan bentuk rasionalisasi, melainkan alasan itu  memang selalu ada disana, menunggu untuk diungkap.

Lantas ia teringat akan seseorang dalam hidupnya pernah berujar; pengenalan diri atau refleksi itu, amat tergantung dari suasana hati orang tersebut. Jika suasana hati kita sedang baik maka luaran refleksi itu pun akan positif, dan itu juga berlaku sebaliknya. Pertanyaannya kemudian adalah; apakah yang mampu mempengaruhi suasana hati manusia. Mungkin saja pada titik ini antara faktor dalam dan faktor luar mesti berlindan dengan sempurna, ketika kebebasan dan determinasi itu berjabat tangan.

Ditengah perjalanan menyusuri lautan malam  itu, ia pun kembali termenung. Apa yang sedang menanti diujung sana? Dalam dirinya ia terus menyakinkan untuk tetap setia pada apa yang sedang diarungi. Terus menabur gagasan, menabur harapan. Memberikan semua yang ada pada dirinya.

Sisa malam itu ternyata tak lagi pekat. Lepas dari kerumunan awan, bulan yang bersinar terang mengiringi perjalanannya. Taburan gugusan bintang mulai nampak berkilau dengan indah. Mulai nampak pulalah banyak wajah yang kian jelas, dan dalam perjumpaan dengan yang lain itulah ia menemui dirinya.

 ~ Yesaya


About this entry