Penyihir Sejati Tidak Butuh Tongkat

Belasan tahun telah berlalu dan minat saya pada hal-hal sihiriah tidak sedikit pun menunjukkan penurunan bahkan semakin hari semakin mengental. Menekuri dedaunan teh yang seolah tumpang tindih suka-suka tetapi sesungguhnya mengabarkan sesuatu di dasar gelas dalam rangka taseografi atau mendapati sejumlah Arkana mayor tercabut baik tegak asali maupun terbalik seperti bayangan di cermin dari tumpukan kartu Tarot adalah dua di antara banyak hal menyenangkan di dunia ini, belum lagi ketika terbangun pada jam rawan yaitu pukul dua dini hari dan menyadari ada pesan terselubung di dalam mimpi yang senantiasa lebih lama daripada durasi tidur atau menemui entah-apa-sebenarnya yang berkeredap sesaat lalu pergi entah ke mana. Agama yang hingga hari ini saya anut sebatas kemampuan dan keikhlasan saya memang menghadirkan larangan berkaitan dengan hal itu, tetapi whatever lah yah, toh jika dicermati lebih jauh, pada hakikatnya ada aroma sihir pada banyak hal. Pada sebutir telur yang menjelma makhluk-makhluk cupu miniatur induknya, pada batu yang begitu diam meskipun dirinya rompal atau dipecah-belah dengan amer, pada secangkir teh tawar encer yang menenangkan ketika diminum sebelum meringkuk di balik hangat selimut pada malam yang menggigil, pada aliran air yang jatuh berderai dari shower dan untuk sesaat membuat siapa pun yang berada di bawahnya tertabiri dari kemelut dunia dan melupakan segala yang mendatangkan keluh-kesah, pada tanah basah sehabis hujan yang melepas aroma yang mungkin tidak pernah berubah sejak masa-masa perdana usia benua-benua Bumi, pada udara pagi tanpa bau manusiawi dan mekanika yang membelai wajah dan menghadirkan sebersit perasaan bahagia, juga pada kedekatan antara dua orang yang belum lama saling mengenal tetapi seolah telah bersama sepanjang masa.

Sebelum mengenal para penyihir brondong di serial Harry Potter, warlock panjang umur Magnus Bane di trilogi The Infernal Devices dan heksalogi The Mortal Instruments, Gandalf dan Saruman di The Lord of The Rings, hmmm… Galadriel juga termasuk penyihir deh meskipun ia dari ras elf, bahkan lebih sakti daripada ras wizard, trio dari serial televisi Charmed, serta Merlin di legenda Arthurian, seingat saya penyihir tertua yang saya kenal adalah Nirmala, Juwita, dan Si Sirik dari dua komik pendek yang hadir secara rutin di majalah bocah Bobo yang menjadi bagian tahun-tahun pertama usia saya. Dengan visualisasi yang sederhana hanya dengan efek serupa bintang-bintang kerdil di ujung tongkatnya, Nirmala yang tampil jambon eteriah, Juwita hijau dengan mantra Abdrakadabra, dan Si Sirik ungu dengan mantra Alakazam! yang sesungguhnya mungkin Masakalaaah! karena saking siriknya pada siapa pun yang memperoleh kebaikan sukses besar menginsepsi saya dengan gagasan akan sebuah dunia yang tidak sama dengan dunia yang saya tinggali tetapi sekaligus tidak sepenuhnya terpisah, bahkan bisa dibilang tidak mungkin dipisahkan.

Semestinya tulisan ini lahir tahun lalu tidak lama setelah saya selesai menonton semacam duel tidak langsung antara Snow White di filmnya masing-masing: Mirror Mirror dan Snow White and The Huntsman. Tahun itu menjadi salah satu tahun yang menyediakan kemungkinan paling menarik sepanjang perjalanan-nonton-film saya karena Mirror Mirror yang disutradarai oleh Tarsem Singh yang The Cell dan The Fall-nya yang visualisasinya sangat memanjakan mata termasuk film yang paling saya cintai muncul berdekatan dengan Snow White and The Huntsman yang trailer-nya membuat saya memutarnya berkali-kali karena begitu memesona khususnya pada scenescene yang menghadirkan Charlize Theron.

Meskipun sama-sama menjadikan Snow White sebagai sentra cerita, kedua film yang lahir dari benih yang sama ini menempuh dua jalur yang berbeda, Mirror Mirror meletupkan irama komedi dan terkesan ringan, sedangkan Snow White and The Huntsman mantap berderap pada ranah drama aksi. Selepas menonton Snow White and The Huntsman yang muncul belakangan, saya mencari sejumlah ulasan dan mereka secara umum menganggap ia lebih baik daripada Mirror Mirror. Saya pikir memang demikianlah pada awalnya apabila saya harus membandingkan kedua film ini. Snow White and The Huntsman terasa mengalir lancar tanpa gangguan berarti karena meskipun ada sejumlah pelintiran dan tidak sepenuhnya sama dengan yang selama ini saya bayangkan, cerita dihadirkan dengan cara yang familiar. Sebaliknya, di luar visualisasinya yang masyaoloh, Mirror Mirror sempat membuat saya menjengit di sana-sini akibat sejumlah belokan tajam dan turunan curam yang berbeda dari versi kompilasi Grimm bersaudara. Bagaimanapun, kedua film yang semestinya berpusat pada Snow White ini ternyata seolah membuat kesepakatan satu sama lain: menggeser pusat cerita ke si Ratu.

Ravenna di Snow White and The Huntsman secara telak melibas Snow White bahkan seolah tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga. Yaeyalaaah, Charlize Theron gitu lho: suaranya, ekspresinya, gesturnya, dan wardrobe-nya berkolaborasi membentuk sosok antagonis yang justru lebih dicintai daripada protagonisnya, maap yah K-Stew. Ravenna tidak sekadar sebagai sexy naugthy desperate biyatch yang membabi buta dan haus perhatian, tetapi ia memiliki sejarah kelabu yang sekaligus menjelaskan motivasinya melakukan hal-hal yang dilakukannya. Adegan-adegan tentang masa lalunya sempat membawa film ini ke dimensi yang berbeda, memberi bobot emosional yang semestinya mungkin menjadi milik Snow White, sekaligus katakanlah memberi fondasi yang mantap bagi aksi-aksi pada tahap kedua dan ketiga. Peristiwa Ravenna mengucap “Mirror mirror on the wall, who’s the fairest of them all” yang beberapa saat kemudian memunculkan si Cermin dalam wujud serupa raksa a la T-1000 di Terminator 2: Judgment Day yang pada akhirnya menyempurna menjadi sosok berjubah seperti geng Ring Wraith alias Nazgul versi emas, adalah yang terbaik dari fim ini. Ok, ok, transisi dari The Dark Forest yang kelam dan kripi menuju hijaunya The Sanctuary dengan menjangan putihnya yang grande dan terbentuk dari entah berapa banyak kupu-kupu memang membuat saya mlongo, perubahan Ravenna ke dan dari kawanan gagak juga keren meskipun langsung mengingatkan saya pada salah satu adegan di klip video “Frozen Madonna yang begitu fenomenal pada masa itu, tetapi menghadirkan si Cermin dalam kerangka antropomorfisme sungguh di luar dugaan, lebih-lebih ketika ada penjelasan tidak langsung bahwa hanya Ravenna yang bisa melihat sosok itu. Sinting.

Berbeda dengan Ravenna yang sejak awal kemunculannya memang tampak kewl, gelap, dan sekseeeh dengan tagline Beauty is my power” yang kombinasi ketiganya menghasilkan sosok supersadis, Clemetianna yang dimainkan Julia Roberts di Mirror Mirror tampil jenaka dan rese abis. Bagaimanapun, tetap ada lapisan di baliknya yang meletupkan kesan kekanakan, bukan kekanakan yang menggemaskan dan mengundang jemari untuk mencubit pipi tembamnya, tetapi kekanakan yang mengerikan, kaplokable, dan jedotjedotable, senada dengan bocah The Omen, The Ring, atau bocah-bocah setaniah lainnya. Dengan entengnya ia bisa berkomentar singkat, inosen, namun mengajak bermain cloak and dagger, menghunus kadaver di balik pashmina. Hal ini pulalah yang di kemudian hari membuat saya merevisi konstruksi tentang siapa di antara keduanya yang lebih jahanam.

Lebih lanjut, pada departemen sihir, Evil Queen versi Clemetianna pun tampak autentik. Si Cermin yang mewujud sosok berjubah di Snow White and The Huntsman, di Mirror Mirror muncul sebagai dunia di dalam cermin yang bisa didatangi Celementinna kapan pun ia membutuhkan saran dan bantuan sihir dari Clemetianna lain di dalamnya. Scene Clemetianna mengucap “Mirror mirror on the wall” yang disusul dengan ia melangkah memasuki cermin dan muncul di perairan gelap dengan bangunan primitif di atas geladak benar-benar fantastis, lagi-lagi si Cermin tidak sekadar bayangan si Ratu, tetapi entitas lain. Yah, dunia di dalam cermin memang bukan sepenuhnya baru pada sejumlah teks yang saya baca atau tonton, salah satu yang paling mengesankan adalah pada rangkaian scene pertarungan pamungkas pada film The Craft, tetapi menggabungkan konsep ini dengan cerita Snow White adalah hal yang menyegarkan dan membuat saya tergelak senang ketika menyaksikannya untuk kali pertama. Interaksi antara Clemetianna self dengan Clemetianna the other menarik, mereka berdebat, melempar sindiran, memberi bantuan, dalam diam, dalam hening, semacam pergulatan batin yang tiada henti pada diri setiap manusia dari hari ke hari. Muara Mirror Mirror yang pada awalnya tampak biasa jika dibandingkan dengan muara Snow White and The Huntsman pun menjadi istimewa ketika fokus ditujukan pada sihir yang dilancarkan Clemetianna the other. Pertempuran Snow White dan pasukannya di kastil Ravenna memang keras, khususnya ketika si Cermin ambyar morat-marit dan menjelma sosok gelap yang menggempur pihak lawan dengan gerakan cepat, brutal, dan seolah tanpa menarik nafas. Akan tetapi, scene Clemetianna the other dengan mimik muka dingin menjatuhkan marionette pertama lalu menariknya bangkit dengan benang-benang hingga bergerak patah-patah tidak manusiawi yang berdampak pada kemunculan marionette raksasa yang tanpa babibu menyerang Snow White dan kawan-kawan di rumah tujuh kurcaci menjadi pengalaman visual yang luar biasa. Belum lagi ketika ia menjatuhkan marionette kedua untuk melengkapi yang pertama sehingga kedua tangannya bergerak semacam mengendalikan remote control yang berkaitan langsung dengan hidup-mati si protagonis. Spukiiiii….

Pada akhirnya, selain tentang pergeseran fokus cerita, serta Snow White yang bisa bertarung dan tidak sekadar mengandalkan Prince Charming, Mirror Mirror dan Snow White and The Huntsman menyepakati satu hal lagi: tidak ada cahaya mengembang dari ujung tongkat, tidak ada kilat yang menyambar-nyambar atau api yang melahap apa pun yang dilaluinya atau air yang menerjang segala yang dibidik oleh tongkat, tidak ada asap putih cemerlang yang bergerak lesat ke sana-ke mari berwujud fauna Patronus yang dibangkitkan oleh tongkat dan didahului dengan melantangkan mantra seperti di Harry Potter, karena sihir Ravenna dan Clementianna adalah sihir purba, dan penyihir sejati, tentu saja, tidak butuh tongkat.

#fridaythe13 #witchcraft

~Bramantio